Prahlada: Kombinasi Ayah Buas dan Ibu Saleh, Menjadi Pengabdi Gusti #SrimadBhagavatam

Pendidikan yang tepat bagi putra Hiranyakasipu

Sesungguhnya “benih” jiwa adalah murni, suci, dan memuat “programming” dasar yang sama. Kemungkinan yang sama. Potensi yang sama. Analogi ini mesti dipahami secara cerdas. Ayat ini sama sekali tidak berpretensi bahwa benih “seorang ayah” selalu baik. Dan jika seorang anak lahir menjadi Kaurava, maka seluruh kesalahannya adalah di pihak ibu yang melahirkan. Tidak, tidak demikian.

Ayat ini menjelaskan sesuatu yang sangat ilmiah — bahwasanya seluruh programming dasar ada di dalam benih seorang ayah — ini tidak dapat diubah. Ketika benih itu membuahi indung telur seorang ibu, maka hasilnya adalah “programming dasar” ayah plus energi ibu. Kromosom X dari ibu mengandung energi penggerak; dan kromosom Y dari ayah mengandung berbagai informasi. BG 14:4

Demikian, setiap anak yang lahir mewarisi Sifat, Informasi, dan Potensi yang terdapat dalam benih. Tidak pula berarti benih seorang pembunuh “sudah pasti” melahirkan seorang pembunuh. Tidak. Jangan lupa, anak yang lahir tidak hanya rnewarisi salah satu sifat dari benih ayahnya –misalnya, kecenderungan untuk membunuh. Ia juga mewarisi segala informasi yang lain. Ia pun mewarisi potensi-potensi yang tidak terbatas. Sebab itu pendidikan yang tepat dan baik dapat menggali dan memunculkan potensi terbaik. Penjelasan Bhagavad Gita 14:4 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Hiranyakasipu mempunyai empat orang putra. Dikisahkan bahwa Kayadhu, istri Hiranyakasipu adalah istri yang saleh. Dia memahami karakter yang tidak baik dari suaminya. Akan tetapi Kayadhu menganggap bahwa hal itu terjadi  karena potensi kebaikan Hiranyakasipu di-“off”-kan tertutup dendam dan keserakahan. Kayadhu berdoa agar dalam diri putra keempatnya potensi kebaikan dari ayahnya yang “on”. Oleh karena itu dia betul-betul menjaga kesalehan ketika dia mulai hamil anak keempat. Kayadhu hanya makan makanan baik, hanya melakukan tindakan yang baik, dan selalu berdoa dan memberi persembahan yang baik. Kayadhu punya kemauan yang keras. Dia punya pengetahuan berasal dari intelijensia bahwa bayi dalam kandungan akan terpengaruh tindakan ibunya. Bukan hanya jenis makanan yang dikonsumsi ibunya, akan tetapi pikiran, ucapan, dan tindakan ibunya akan menjadi pelajaran awal yang akan mewarnai  bayi yang dikandungnya.

Dikisahkan bahwa sewaktu Hiranyakasipu bertapa, Indra datang ke kerajaan para Asura dan membunuh banyak anak-anak asura. Lebih baik dibunuh selagi anak-anak sebelum dewasa dan berbuat kejahatan, mengacaukan dunia. Melihat Kayadhu hamil, maka dia disandera Indra di kediaman para dewa. Indra bermaksud menunggui kelahiran putra Hiranyakasipu, kemudian anaknya akan dibunuh dan ibunya akan dikembalikan ke kerajaan asura setelah melahirkan putra tersebut.

Kayadhu begitu yakin pada kebijaksanaan Gusti Pangeran. Dan, datanglah Rishi Narada menjelaskan kepada Indra bahwa calon putra Kayadhu adalah wujud Ilahi yang akan menyelesaikan urusan ayahnya. Indra patuh pada sang rishi, dan Kayadhu diminta tinggal di tempat Narada sampai Hiranyakasipu selesai bertapa. Setiap hari Kayadhu yang lagi hamil selalu mendengarkan nyanyian Ilahi yang didendangkan Rishi Narada dengan alat musik vina-nya. Jadi sejak dalam kandungan sang janin telah mendengarkan nyanyian pujian ilahi yang dilakukan Rishi Narada.

Kedekatan dengan seorang Master, dan keterbukaan diri seorang ibu yang hamil, membuka pintu rahmat. Dan, lahirlah Prahlada yang sudah bijak sejak masih dalam kandungan. “Blessing in disguise”, penyanderaan Indra justru membawa berkah. Di awal-awal kelahiran Prahrada pada saat otaknya berkembang sangat pesat, pengaruh seorang Master seperti Rishi Narada adalah sangat besar.

 

Prahlada tidak sepaham dengan pendirian Hiranyakasipu, ayahandanya

SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA. Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”. Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”.

Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda.

Umumnya Daiva atau Sura dikaitkan dengan kemuliaan, dan Daitya atau Asura dengan ketidakmuliaan. Dari perspektif kita, dari sudut pandang kita memang demikian. Maka, kita diharapkan mengenal kedua-duanya, sehingga dapat memilah dan memilih apa yang menunjang Jiwa. Yakni, karakter atau kecenderungan Daiva atau Sura.

Namun, bagi Gusti Pangeran, dari perspektif Tuhan — kedua karakter atau kecenderungan sifat itu sama pentingnya. Tanpa sifat Daitya atau Asura, tanpa adanya Jiwa-Jiwa yang dalam ketidaktahuannya, mengikat diri dengan dunia benda, Teater Tuhan akan tutup. Keterikatan itulah yang membuat dunia kita ramai dan bising. Tanpa keterikatan, panggung sandiwara sudah pasti  kosong. Pengantar Bhagavad gita Bagian 16 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sejak kecil Prahlada putra Hiranyakasipu sudah bersifat Daivi, karena pengaruh ibu yang baik dan hasil pendidikan Rishi Narada di lingkungan para dewa. Sebaliknya, Hiranyakasipu, sang ayah sifat Asura atau Daitya yang agresif dan serakah nampak begitu jelasnya.

Seorang maharaja penguasa Tiga Dunia yang ditakuti seluruh makhluk menghadapi anak kandung bungsunya yang pemahamannya berlawanan dengan dirinya. Kalau orang lain bisa langsung dibunuhnya, akan tetapi ini adalah putra bungsunya, dengan galau sang maharaja tetap berupaya mengubah pendirian sang putra lewat guru bagi sang putra. Guru Prahlada, Chanda dan Amarka adalah putra-putra Rishi Sukracharya.

Pada suatu hari Prahlada kecil berkata kepada sang ayah, “Ayahanda, aku sudah melihat semua orang terjerat jaring duka-cita, karena khayalan tentang adanya ‘aku’ dan ‘milikku’. Apakah kita dapat memiliki angin? Apakah kita dapat menyimpan sinar matahari? Apakah kita dapat mengurung sinar bulan di dalam kamar kita? Kita dapat menahan udara segar dan angin sepoi-sepoi . Kita dapat berjemur di bawah sinar matahari atau menikmati cahaya purnama, tetapi tidak sekali-kali bisa memiliki, apalagi memonopoli mereka. Aku akan meninggalkan semuanya sehingga aku bisa menemui Dia, asal dan tujuan hidup dari semua makhluk. Beban keterikatan pada dunia inilah yang menghalangiku untuk menemui-Nya.” Kata-kata Prahlada menyinggung perasaan Hiranyakasipu yang ingin memiliki dan memonopoli segalanya. Hiranyakasipu sangat marah dan kemudian meminta guru Prahlada mengajarnya dengan lebih keras. Prahlada diajar ilmu pengetahuan asura dan apabila salah akan dipukul oleh gurunya.

Beberapa bulan kemudian, Prahlada berkata pada sang ayah, “Ayah aku telah memahami sembilan jenis pengabdian: Shravanam (mendengarkan), Smaranam (mengingat berulang-ulang), Kirtanam (menyanyi lagu pujian), Archanam (ibadah), Vandanam (menghormati), Padasevanam (melayani semua ciptaannya), Dasyam (patuh dan melayani), Sakhya (persahabatan) dan Atmanivedanam (menyerahkan tubuh, pikiran dan segala sesuatu).”

Hiranyakasipu sangat bangga dan berkata, “Sempurna anakku, bila kau melakukan salah satu saja hal tersebut untuk melayani aku, maka kau sudah memuaskan aku.”

Prahlada berkata, “Tetapi ayah, ini adalah cara untuk memuja Narayana yang meliputi diri kita semua.” Hiranyakshipu menjadi marah. Hiranyakahsipu hanya mengasihi putranya kalau sang putra patuh kepadanya.

Para guru Prahlada menyampaikan bahwa mereka tidak memberi pelajaran kepada Prahlada hal demikian, tetapi dia hanya mengikuti pikirannya sendiri, sehingga mereka kewalahan. Hiranyakasipu melakukan tindakan kekerasan dengan memukulkan gagang lembingnya berkali-kali kepada Prahlada, tetapi dia tidak terluka.

Kagum juga sang ayah atas kesaktian Prahlada, maka Prahlada disuruh berbaring dan diinjak-injak kawanan gajah liar. Ternyata Prahlada tidak mati. Dan, kemudian Prahlada dimasukkan lubang berisi ular-ular berbisa. Ternyata Prahlada tidak terpengaruh oleh gigitan ular. Sampai Hiranyaksipu putus asa sekaligus berbangga hati atas kesaktian sang putra. Alangkah bahagianya bila sang putra patuh terhadapnya dan melawan Narayana, musuh besarnya.

Guru Prahlada kemudian berjanji sekali lagi pada sang raja untuk mengajar Prahlada bersama anak-anak asura yang lain semoga Prahlada bisa berubah setelah belajar bersama teman-teman sebayanya.

Pada suatu saat, kedua guru Prahlada sedang pergi dan Prahlada mengajak teman-temannya menyanyikan lagu pujian terhadap Narayana.

Silakan simak kelanjutan kisah berikutnya pada kategori Bhagavatam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: