Bercermin pada Nabi Nuh #Masnawi

Dikisahkan bahwa Nabi Nuh memperoleh Perintah Allah untuk mengingatkan  umatnya, supaya kembalz pada jalan yang lurus. Mereka tidak mempercayainya. Malah  menertawakan dia. Padahal, Nabi Nuh sudah memberikan peringatan keras:

 

“Ketahuilah bahwa ‘aku’ sudah mati. Sekarang, Yang ada hanyalah Dia. Yang bernapas lewat aku adalah Dia.”

Nuh bagaikan singa dalam wujud rubah. Ketika dia rneraung, suaranya terdengar jelas.

“Janganlah ragu-ragu. Jangan menyangsikan kebenaran kata-kata yang kuucapkan, karena ucapanku berasal dari Dia yang berada di balik ‘kerudung badan’.”

 

Setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar, setiap buddha adalah singa berbadan rubah. Kita semua mendengarkan suara raungnya. Tetapi tertipu oleh apa yang terlihat dengan kasat mata, “Ah masa…. No, no, no, no—dia bukan singa. Dia hanyalah seekor rubah.”

Kita bisa merasakan Kehadiran Allah di balik bangunan yang terbuat dari batu, tetapi tidak bisa merasakan-Nya di balik badan yang terbuat dari darah dan daging. Aneh! Diajak bicara sedikit, kita langsung berang, “Itu kan sama seperti menduakan AIlah!”

Edan, siapa yang bisa menduakan Allah? Jika mata anda sakit dan segala sesuatu terlihat dua, ya salah anda sendiri. Jangan menyalahkan orang lain. Allah tidak bisa diduakan.

Yang dua, yang lain—sesungguhnya tidak ada. Yang Ada hanyalah Dia! Kekuatan dan kekuasaan di balik peringatan Nuh—juga berasal dari Dia. Dia, Dia, Dia…!

Sayang, tidak ada yang mengindahkan peringatannya. Nasib para Nuh selalu sama. Setiap Nuh yang masih “hidup” akan kita sia-siakan. Dan setiap Nuh yang sudah “mati” akan kita sanjung.

Rumi mengatakan bahwa yang bisa melihat keilahian di balik “kerudung badan” para Nuh hanyalah mereka yang berjiwa bersih …….

Sebersih cermin—tanpa cacat, tanpa noda, tanpa bayangan, sehingga “Ia Yang Tak Terlihat” dapat terbayangkan!

Para Sufi, para Darvish memiliki jiwa sebersih itu. Oleh karenanya, para Sultan jaman dahulu menemparkan mereka di baris pertama.

Bukan para prajurit dan petinggi negara, bukan pula para hakim dan penasihat — tetapi para Sufi yang berada di baris pertama. Lewat merekalah, para Sultan bercermin diri.

 

Cermin jiwa mereka bersih, tanpanoda. Mereka tidak pernah berbohong. Para prajurit dan petinggi negara bisa berbohong. Para hakim dan penasihat bisa bersikap ABS—Asal Bapak Senang. Para Sufi tidak bisa. Jika anda melihat kejelekan dalam diri seorang Sufi, ketahuilah bahwa kejelekan itu berasal dari dalam diri anda sendiri. Anda sedang bercermin diri. Dan yang terbayang hanyalah noda-noda pada wajah Anda.

Anda tidak bisa “menerima” nasihat seorang Nuh—kenapa? Karena, sesungguhnya Anda tidak bisa “menerima” diri sendiri. Anda tidak “mempercayai” seorang Nabi – kenapa? Karena, sesungguhnya anda belum cukup “percaya” diri.

Nabi Nuh tidak berada di luar diri, tetapi dalam diri Anda sendiri. Peringatan yang Anda peroleh bukan dari luar, tetapi dari dalam. Anda tidak melihat Nabi Nuh yang ada dalam diri. Anda tidak mendengarkan peringatannya. Kenapa? Karena, Anda menempatkan para prajnrit, petinggi negara, hakim dan penasihat di depan. Nabi Nuh Anda dudukkan di samping, atau bahkan di belakang.

Anda sedang bercermin diri lewat “prajurit kekuasaan”. Anda sedang bercermin diri lewat “petinggi keangkuhan”. Lewat “hakim dualitas” dan lewat  “penasihat pikiran”. “Aku berkuasa, aku hebat. Aku tidak pernah salah…”—begitu sibuknya anda dengan pikiran, sehingga peringatan Nuh tidak pernah terdengar.

Seorang Sultan akan menempatkan Nuh di baris paling depan. Dan seorang Sultan berarti seorang Svami, seorang Master, seorang “Lord”—ia yang telah menguasai panca inderanya dan telah melampaui  pikirannya.

Nabi Nuh dalam kisah ini, mewakili Kesadaran Tinggi dalam diri Anda. Setelah menguasai panca indera dan telah melampaui pikiran, Kesadaran Tinggi itulah yang menjadi penuntun Anda.

Rumi melanjutkan uraiannya dengan memberikan contoh Nabi Yusuf:

 

Seorang sahabat lama mendatangi beliau dan menghadiahkan sebuah cermin, “Engkau tidak membutuhkan sesuatu. Lalu, hadiah apa yang harus kupersembahkan, kecuali cermin yang kecil ini, sehingga kau dapat bercermin diri dan dapat melihat Cahaya yang menyinari dirimu?”

 

Bersahabatlah dengan para Sufi. Dengan mereka yang berjiwa bersih, karena hanya lewat merekalah Anda bisa bercermin diri!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: