Archive for May, 2017

Kesaksian Rishi Markandeya: Hyang Ada hanya Gusti tak ada Hyang Lain #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 31, 2017 by triwidodo

Berputarnya roda jagad raya ini disebabkan oleh ketiga sifat (rajas-agresif, tamas-malas dan satvik-tenang) tersebut. Krsna tidak menghendaki roda jagad berhenti berputar. Jika setiap orang mengenal-Nya, dan tidak terpengaruh, tidak terbingungkan oleh ketiga sifat alam benda tersebut, maka dunia ini tidak ada ceritanya lagi. Jagad raya tidak punya kisah lagi. Roda Sang Kala pun berhenti berputar.

Sebab itu, pengetahuan ini memang dimaksudkan bagi segelintir orang – supaya roda Sang Kala berputar dan sinetron Jagad Raya berjalan terus. Itu pun kehendak-Nya…..

Sisanya memang mesti hidup dalam maya –delusi, ilusi, kebingungan – persis seperti kebingungan, keinginan untuk mengetahui lanjutan cerita dari episode sinetron yang sedang ditonton; “Berlanjut …. Minggu depan, di channel yang sama waktu yang sama!”

Maya – Tirai Hijab, sebagaimana para sofie, atau sufi menyebutnya, membuat sinetron menarik bagi mayoritas. Mayoritas tidak tertarik dengan jabatan direktur, sutradara atau dalang. Mayoritas ingin menikmati sandiwara yang sudah siap saja. Mereka tidak mau dipusingkan oleh pekerjaan, tugas seorang sutradara. Kita berada di mana? Penjelasan Bhagavad Gita 7:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Rishi Markandeya meneruskan meditasinya di tepi sungai Puspabhadra dengan tekun setiap hari. Pada suatu hari, mendadak angin kencang bertiup yang berubah menjadi angin topan bersamaan dengan turunnya hujan yang sangat lebat. Bumi nampak tertelan oleh samudera. Ia menemukan dirinya terapung-apung diatas permukaan samudera. Ia merasa sakit, sedih dan menderita dan datang rasa takut mengalami kematian. Rishi Markandeya telah menaklukkan kematian, ia telah memahami kematian, akan tetapi rasa takut tetap saja menyelimutinya.

Mendadak Markandeya melihat Pohon Asvattha dikejauhan yang terlihat sangat indahnya. Dalam salah satu daunnya ia melihat seorang anak bayi yang sangat agung. Sang bayi memegang kakinya dan menempatkannya pada mulutnya seperti sedang mencium bunga teratai. Markandeya memperhatikan anak bayi tersebut dan segala rasa sakit, derita dan takut musnah.

Markandeya merasakan nafas anak tersebut menghisapnya dan dirinya masuk ke lubang hidungnya. Manakala Rishi Markandeya berada di dalam tubuh anak bayi tersebut, dia menemukan dunia seperti aslinya sebelum topan datang. Ia melihat surga dan langit bertaburan bintang, samudera dan pulau-pulau. Ia melihat para dewa dan para asura. Ia melihat Himalaya dan Sungai Puspabhadra.

Tiba-tiba ia dibuang oleh hembusan nafas sang anak dan menemukan dirinya berada di permukaan samudera lagi. Anak dan pohon Asvattha lenyap dan Markandeya  menemukan bahwa dia sedang berbaring di tempat tinggalnya.

Rishi Markandeya menjadi paham bahwa banjir besar, pralaya pun disebabkan oleh Gusti. Dirinya ternyata berada dalam diri Gusti, dan bahkan dunia pun berada dalam diri Gusti.

Di zaman modern ini, ibaratnya Gusti seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve, atau peristiwa-peristiwa di dunia  adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan Gusti sendiri.

Kesaksian Rishi Markandeya adalah Hyang Ada hanya Gusti, tak ada Gusti Lain. Selain Gusti yang lain tidak ada. Maya. Idam na mama. Bukan aku.

Mahadeva dan Parvati dan seluruh pengawalnya mendekati Rishi Markandeya dan memberkatinya. Markandeya segera menyampaikan penghormatan kepada mereka. Mahadeva kemudian berkata, “Karena bhaktimu terhadap Narayana, kamu sudah menerima siddhi di dalam segalanya. Kamu telah diberitahu Narayana tentang “Maya”-Nya. Kamu akan hidup abadi dan kamu akan terkenal sebagai Puranacharya. Manusia memperoleh manfaat dari cerita tentang Gusti Pengeran yang kamu ceritakan kepada mereka.” Mahadeva dan seluruh pengiringnya segera menghilang. Dan Rishi Markandeya menghabiskan seluruh waktunya berpikir berulang-ulang tentang pengalaman unik yang dialaminya, banjir besar dan anak yang berbaring dalam daun Asvattha………

Advertisements

Rishi Markandeya: Menghadapi Godaan Indrawi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 31, 2017 by triwidodo

Kebahagiaan sejati adalah hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali. Penjelasan Bhagavad Gita 5:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Rishi Markandeya putra Markandu adalah seorang yang menguasai Veda dan juga pertapa yang sempurna. Pikirannya tenang dan terfokus pada Narayana. Sang rishi mengalami kebahagiaan sejati. Sang rishi paham bahwa kebahagiaan yang berasal dari indrawi tidak akan bertahan lama.

Dewa Indra meragukan kekuatan tapa sang rishi dan ingin mengganggunya. Ia mengirimkan rombongan penggoda yang terdiri dari para gandharva untuk menyanyi, para apsara untuk menari, dan Manmatha, dewa cinta sebagai pemimpin rombongan.

Markandeya sedang berada dalam keadaan meditasi dan apsara cantik Pujikastali menari di depannya. Manmatha memungut busur cintanya dan menunggu mata Markandeya terbuka dan kemudian dengan segera melepaskan panah asmaranya. Akan tetapi semua usaha Manmatha dan tim-nya sia-sia. Sang rishi tidak tergiur dengan kejelitaan Pujikastali yang sedang menari.

Mereka melarikan diri dengan penuh kengerian melihat mata Markandeya yang paham bahwa dirinya telah digoda. Mereka takut sang rishi mengutuk, dan mereka melarikan diri. Bagaimana pun Markandeya tidak mengutuk mereka, itulah salah satu sifat agung dalam diri sang rishi.

Selanjutnya Narayana datang dalam wujud Nara dan Narayana yang berkulit hitam dan putih.  Rishi Markandeya menghormati mereka dan berkata, “Gusti, meliputi alam semesta. Gusti adalah Brahma, Mahadeva, Vishnu dan juga Atman dalam diri manusia. Bentuk kembar ini telah Kau ambil untuk kepentingan dunia.”

Nara dan Narayana kemudian berkata, “Tapa dan bhaktimu kepada kami telah menjadikanmu seorang Siddha dan kami sangat terhibur olehmu. Mintalah apa pun dan aku akan mengabulkannya!”

Markandeya menjawab, “Dapatkah manusia mempunyai keinginan yang lain setelah menyaksikan-Mu? Bagaimana pun juga adalah tidak hormat menolak perintah Tuhan. Oleh karena itu hamba mohon diberitahu apakah “Maya” yang menyebabkan ketidaktahuan dalam pikiran manusia.

Nara dan Narayana tersenyum dan berkata, “Semoga demikian!” dan mereka lenyap.

Saatnya kita merenung, seandainya kita digoda bidadari cantik, apakah kita akan tahan? Atau bahkan kita yang akan menggoda bidadari tersebut. Tidak usah menunggu Manmatha, Kamadeva, Dewa Cinta membidik anak panah asmara, kita pun sudah klepek-klepek berduaan dengan bidadari. Bila demikian, memang kita masih berada dalam maya. Belum saatnya memahami maya seperti yang akan dialami Rishi Markandeya dalam kisah selanjutnya….

Silakan simak kisah lanjutan Rishi Markandeya pada kisah berikutnya: Kesaksian Rishi Markandeya: Alam Semesta Berada di dalam Gusti #SrimadBhagavatam

Kisah Kesabaran Ali dan Keangkuhan Adam #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , on May 28, 2017 by triwidodo

 

Kesabaran Ali

 

Dalam perang melawan para kafir—yaitu mereka yang menempatkan kehendak pribadi di atas Kehendak Ilahi, mereka yang menduakan Allah dengan cara menuhankan bayangan-Nya (dunia benda)—pada suatu ketika Ali mengalahkan salah seorang di antara mereka.

Siap untuk memenggal kepala lawannya itu, Ali mengeluarkan pedang clari sarungnya. Tiba-tiba Si Kafir meludahi wajah Ali. Saat itu juga, Ali mengembalikan pedangnya dalam sarung.

“Apa yang terjadi? Kenapa engkau mengurungkan niat untuk memenggal kepalaku?” tanya ksatria kafir itu.

Ali menjawab, ”Pedang ini, untuk melayani Allah. Bukan untuk melayani hawa napsu. Tadi, ketika aku menarik pedang, pikiranku masih jernih. Masih belum terbawa oleh hawa napsu, tetapi ketika engkau meludahi wajahku, aku sempat marah. Dan, aku tidak akan membunuhmu karena marah diludahi.”

“Hanya untuk sesaat…. Hanya untuk sesaat tadi, amarah hampir menguasai jiwaku. Tetapi sekarang aku sudah terbebaskan clari cengkeramannya. Aku sudah lolos dari api amarah. Aku melihat diriku dalam dirimu dan dirimu dalam diriku. Katakan, bagaimana Ali bisa membunuh Ali?”

“Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah memaafkanmu, sahabatku. Bertobatlah dan kembalilah ke jalan yang lurus. Ketahuilah bahwa Kasih Allah melebihi Kegusaran-Nya.”

Kemudian, Ali berbagi rasa dengan ksatria itu, “Pada suatu hari, Nabi memberitahu kepada salah seorang pembantu bahwa dia akan menyebabkan terjadinya pembunuhan atas diri saya. Pembantu itu langsung menghadap saya dan minta segera dibunuh. ‘Bunuhlah aku, Singa Allah, sebelum aku terlibat dalam perbuatan yang keji dan memilukan itu, biarlah aku mati..’—demikian katanya.”

“Aku menjawab, ‘Jika Tuhan sudah menentukan kematianku karena kamu, aku tidak akan menghindarinya. Lagipula, bagaimana aku dapat menghindarinya? Allah akan menggunakanmu untuk membunuhku. Engkau adalah alat yang akan Dia gunakan. Jangan, jangan menyesali Kehendak Ilahi, sebagaimana aku pun tidak menyesali-Nya.”

 

Sekarang, yang terjadi justru sebaliknya. Sedikit-sedikit, kita sudah siap membunuh dan dibunuh. Lalu, pembunuhan massal pun akan kita benarkan dengan menggunakan dalil-dalil dari Riwayat Sang Nabi.

Rumi menjelaskan, keterlibatan Nabi Muhammad dalam perang bukarn untula kepentingan pribadi, bukan untuk meraih keluasaan.

Keterlibatan Nabi dalam perang adalah untuk menghasilkan kedamaian. Nabi melakukan apa yang biasa dilakukan oleh seorang Tukang Kebun. Dia membersihkan ranting-ranting yang tidak berguna, sehingga tanamannya bisa tumbuh pesat, tanpa halangan.

 

Seorang dokter melakukan amputasi, melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien. Persis itu yang dilakukan oleh Nabi. Kelembutan dan Kasih Muhammad selalu disalahartikan. Tidak, dia tidak pernah berperang demi harta dan takhta.

 

Keangkuhan Adam

 

Ketika iblis dihukum oleh Allah, Adam menertawakan dia. Dia menjadi sombong. Maka, Allah memberikan peringatan, “Engkau belum tahu-menahu Rahasia-Ku. Jika Kukehendaki, iman sekuat apa pun dapat tergoyahkan. Dalam sekejap, ratusan Adam bisa merosot kesadarannya. Dan ratusan iblis bisa meningkat kcsadarannya.”

Adam merasa malu sekali dan menundukkan kepalanya, “Maafkan aku, Tuhanku. Aku tidak akan pernah menyombongkan diri lagi.”

Bantulah mereka yang jatuh. Jangan menertawakan mereka. Tidak perlu menyombongkan kepemilikanmu, hartamu, dan pengetahuanmu.

Kita semua terbuat dari darah dan daging. Dan kesadaran daging kita masih kuat sekali. Sesungguhnya kita semua masih berperilaku seperti iblis. Lalu, untuk apa menertawakan iblis?

 

Adam sudah sadar, sudah tidak angkuh lagi, tetapi anak-cucunya masih saja angkuh. Tepat sekali bahwa kisah ini mengakhiri penyelaman kita kali ini.

Sebelum memasuki Buku Kedua, kita memiliki waktu yang cukup panjang untuk melakukan introspeksi diri:

“Bisakah aku menemukan iblis di dalam diri? Mampukah aku mengajak dia untuk bertobat?”

Sekian dulu …….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Matsya Avatara, Manu dan Saptarishi, 7 Jenis Genetika Awal #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on May 26, 2017 by triwidodo

Makna Avatara

Avatar berarti “Ia yang turun”. Lalu, oleh mereka yang tidak mengetahui artinya diterjemahkan sebagai “turun dari sono”. Entah dari mana! Sebenarnya, tidak demikian. Avatar berarti “ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog dengan kita. Untuk berkomunikasi dengan kita. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Yesus juga seorang Avatar. Muhammad dan Zarathustra juga demikian. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada kita. Memang, bahasa Krishna lain, bahasa Buddha lain, bahasa Yesus lain, bahasa Muhammad lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dengan mereka yang tingkat kesadarannya juga berbeda-beda. (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ibarat seorang pilot yang menurunkan pesawat ke bumi untuk kemudian membawa penumpang ke ketinggian angkasa, para avatar tidak pernah lupa akan jati diri mereka. Kendati seorang avatar, atau seorang nabi, harus menurunkan kesadarannya untuk bisa berkomunikasi dengan kita, sesungguhnya dia tidak pernah lupa akan Jati Dirinya—bahwasanya “Matahari Kesadaran Murni” itulah Kebenaran Diri dia. Ini yang membedakan mereka dari kita. Kita pun sering mengalami peningkatan kesadaran sesaat. Dalam alam meditasi, kita pun sering mencapai tingkat Kesadaran Murni, tetapi hanya untuk sesaat saja. Lagi-lagi kita “jatuh” kembali. (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Oleh karena itu para avatara muncul sesuai zamannya. Mereka berbicara dengan manusia sesuai permasalahan yang dihadapi mereka.

 

Avatara Vishnu Sang Pemelihara Alam Semesta bisa berwujud apa saja:

Matsyaavatara berwujud ikan yang hidup di air, mempertahankan kehidupan di dunia.

Kurmaavatara berwujud kura-kura yang hidup di air dan di darat, membantu pengadukan samudra pengetahuan.

Varahaavatara celeng berkaki empat yang hidup di darat, menyelamatkan bumi dari penguasaan adharma.

Narasimhaavatara berwujud manusia berkepala singa yang menyelamatkan panembah Gusti Pangeran.

Vamanaavatara berwujud manusia kecil, yang memberikan contoh bahwa hanya dengan penyerahan total “milikku” dan “aku, seseorang dapat mencapai keilahian.

Parasuramaavatara berwujud kesatria yang menghancurkan kejahatan yang dilakukan oleh semua raja yang zalim.

Ramaavatara berwujud raja yang dapat mencapai keilahian dengan patuh terhadap dharma.

Krishnaavatara berwujud raja yang menyampaikan nyanyian ilahi, kabar gembira bahwa diri sejati itu tidak dapat mati dan setiap orang perlu menjalankan peran yang diamanahkan kepadanya menuju keilahian.

Buddhaavatara berwujud brahmana yang menaklukkan keinginan dan penuh kasih.

Kalki avatara berwujud prajurit perkasa mengalahkan ketidakbenaran.

 

Matsya Avatara

Bhakti mesti berlandaskan cinta-kasih tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya.

Hidup dia telah berubah menjadi aksi-bhakti. Ia menginterpretasikan bhakti lewat hidupnya. Ia menerjemahkan bhakti dalam bahasa tindakan nyata. Dan, ia melakukan semua ini karena ia melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Baginya melayani sesama makhluk adalah ungkapan cintanya bagi Gusti Pangeran. Penjelasan Bhagavad Gita 9:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Menjelang pralaya, hidup seorang raja bernama Satyavrata. Dia adalah seorang panembah Narayana dan sedang bertapa brata keras dengan hanya minum air saja. Pada saat melakukan persembahan di sungai Kertamala ia melihat ikan kecil dalam tangannya. Ia segera melepaskan ikan tersebut ke sungai, akan tetapi ikan tersebut berkata, “Wahai raja pengasih, saya seekor ikan kecil yang akan dimangsa para ikan besar, jangan lepaskan aku di sungai.”

Sang raja menempatkan dalam mangkuk dan dibawa pulang ke tempat tinggalnya. Esoknya sang ikan yang sudah tumbuh membesar memenuhi mangkuk berkata, “Tolong tempatkan aku di tempat yang lebih besar, mangkuk ini sudah tidak cukup bagiku!”

Kemudian sang raja menempatkan dalam bejana yang lebih besar, akan tetapi ikan tersebut cepat membesar dan memenuhi bejana tersebut. Kemudian ikan tersebut diletakkan dalam kolam, dan ikan tersebut juga cepat membesar memenuhi kolam. Kemudian sang ikan dipindah ke danau dan lagi-lagi sang ikan membesar sebesar danau. Dan akhirnya, ikan tersebut akhirnya diletakkan di samudra.

Sang ikan bercanda, “Ada banyak buaya besar dan makhluk lainnya di laut, tidak tepat meninggalkan aku di sini!” Raja mengerti bahwa Ia bukan ikan biasa, “Wahai Ikan perkasa, aku yakin paduka adalah Narayana sendiri dalam bentuk ikan dengan tujuan yang aku tidak mengetahui. Gusti, aku memberikan hormat kepada-Mu dan mohon perlindungan-Mu!”

 

Matsya Avatara berkata, “Benar, Aku mengambil wujud ini dengan tujuan untuk menyelamatkan bhakta-Ku. Dalam tujuh hari ke depan dunia akan tenggelam. Manakala kamu melihat sebuah bahtera, kumpulkan semua benih tanaman dan bersama tujuh rishi kamu segera naik perahu tersebut. Akan ada kegelapan total, yang ada hanya sinar dari para rishi. Kamu akan terombang-ambing, tetapi jangan takut. Manakala kamu melihat aku segera ikat bahteramu pada tandukku dengan bantuan Vasuki.” Kemudian Sang Matsya lenyap dari pandangan sang raja.

 

Raja Satyavrata sedang menunggu waktu yang diramalkan oleh Narayana dengan bermeditasi pada Tuhan. Pada saat itu, hujan turun dengan cara yang sangat mengerikan dan air laut menggunung menutupi tanah di pantai dan perlahan-lahan menutupi seluruh bumi. Karena sangat takut, raja mulai mencari tempat berlindung. Tiba-tiba ia melihat sebuah bahtera besar datang kepadanya. Raja segera mengambil semua biji yang telah disiapkannya dan kemudian menaiki bahtera bersama dengan tujuh rishi.

Para rishi meminta raja untuk bermeditasi pada Narayana memohon perlindungan dari bahaya. Setelah bermeditasi beberapa lama, sang raja melihat Matsya Avatara muncul. Tubuhnya satu juta mil (400.000 krosas) panjangnya, bersinar seperti emas, dan Dia memiliki tanduk di kepala-Nya. Sesuai instruksi, sang raja menggunakan Vasuki sebagai tali pengikat perahu dan mengikatnya pada tanduk lumba-lumba raksasa. Para rishii berkata, “Wahai raja jangan takut! Tuhan akan membantu kita dalam perjalanan berbahaya ini.” Mereka kemudian menyanyikan lagu-lagu pujian. Raja Satyavrata kemudian dilahirkan lagi sebagai Shraddadewa putra Surya dan menjadi Manu dalam Vaivasvata Manvantara.

Pada akhir kalpa sebelumnya Brahma mengantuk dan tidur. Pada waktu itu asura Hayagriva mencuri Veda dari mulut Brahma dan masuk ke dalam samudra pralaya. Sesaat Brahma bangun tidur di kalpa yang baru dan bertanya-tanya bagaimana dia akan melakukan tugas penciptaan tanpa adanya Veda. Brahma kemudian berlindung pada Vishnu, dan Vishnu dengan wujud seekor ikan raksasa membunuh Hayagriva dan menyelamatkan Veda dan memberikannya kepada Brahma.

 

Sapta Rishi dan Manu dalam Bhagavad Gita 10:6

Sapta atau 7 Resi di bawah para Maharesi adalah mewakili 7 jenis genetika awal. Di antaranya, kita baru menemukan 2 jenis sebagaimana diisyaratkan oleh Dr. Luigi dan rekan-rekannya. Barangkali lima lainnya sudah punah. Atau, barangkali sisa-sisanya ada di pedalaman mana, sehingga kita belum bisa menemukannya. Kemungkinan terakhir ini tetap ada.

KEEMPAT BELAS MANU adalah 14 ketua suku dan sub-suku awal di seluruh dunia. Kiranya jumlah ini masih bisa diidentifikasi;

  1. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Hindia;
  2. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Cina;
  3. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Mesir;
  4. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Arab pedalaman;
  5. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Yahudi;
  6. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Afrika;
  7. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Maya dan Native Indians lainnya di benua Amerika;
  8. Suku yang rnelahirkan bangsa-bangsa Yunani, Romawi, dan Eropa.

Lagi-lagi, masih ada 6 suku lainnya, yang barangkali sudah berasimilasi dengan 8 suku serta sub-suku yang tersisa — misalnya suku-suku asli aborigin di Australia, dan lain sebagainya.

Di antara kedelapan suku dan sub-suku yang terdeteksi ini pun, ada yang merupakan hasil asimilasi antara beberapa suku. Misalnya Yunani (Yavani, Jawa) dan Yahudi (Yadava) – dua-duanya berasal dari wilayah Hindia yang kemudian berasimilasi dengan penduduk pribumi/suku aborigin setempat.

Jika ditarik ke belakang, maka sumber dari semuanya adalah kehendak-Nya. Atas kehendak-Nya lah semua terjadi. Suku-suku dan bangsa-bangsa adalah bak bunga-bunga yang beragam dipertemukan di dalam Taman Sari Bumi ini atas kehendak Gusti Pangeran. Ia-lah asal-usul segalanya. Penjelasan Bhagavad Gita 10:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bersahabat dengan Yesus #Kisah #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 24, 2017 by triwidodo

Seorang pakar agama menasihati seorang sufi pengembara, “Jangan menangis terus. Matamu akan rusak.”

Si Sufi menjawab, “Persoalannya bukan itu. Persoalannya, mataku bisa melihat Keindahan-Nya atau tidak. Kalau sudah bisa melihat Keindahan-Nya, sudah bisa menatap Cahaya-Nya, walaupun sepasang bola mata ini tidak bercahaya lagi, tidak menjadi masalah. Sebaliknya, kalau belum bisa melihat Keindahan-Nya, belum bisa menatap Cahaya-Nya, apa gunanya sepasang bola mata yang bercahaya?

“Apa gunanya memikirkan kerusakan mata, jika sudah bersahabat dengan Yesus? Tinggal memohon bantuan dia yang adalah jiwamu. Dan dia pun akan langsung membantu kamu. Tetapi janganlah meminta ‘keselamatan badan’ dari Yesus. Jangan pula terlalu banyak memikirkan urusan lahiriah. Urusan apa lagi yang engkau pikirkan, jika sudah berada di dalam Istana-Nya?

“Badan ini bagaikan kemah bagi Sang Jiwa. Perlakukanlah sebagai kemah, tidak lebih, tidak kurang!”

 

Para cendekiawan, para pakar agama, selalu berbicara tentang keseimbangan. Entah itu keseimbangan antara lahiriah dan batiniah, atau antara badan dan roh.

Seorang sufi tidak akan bicara tentang keseimbangan. Setidaknya, seorang Rumi tidak akan bicara tentang keseimbangan. Keseimbangan apa? Secara ilmiah terbukti sudah bahwa antara materi dan energi tidak ada keseimbangan, karena sesungguhnya materi dan energi tidak berbeda. Hanya beda wujud saja, intinya sama. Lalu keseimbangan apa pula yang harus dibicarakan antara lahiriah dan batiniah, antara badan dan roh?

Untuk memasuki kesadaran batiniah, kesadaran lahiriah harus ditinggalkan. Mau mempertahankan “uap”, air harus dimasak sampai mendidih. Air itu sendiri harus “menguap”. Anda tidak bisa mempertahankan dua-duanya. Air juga, uap juga—tidak bisa. Kendati demikian, dalam uap juga ada air.

Itu sebabnya, Yesus menasihati kita agar mengejar Kerajaan Allah terlebih dahulu. Segala sesuatu yang lain, akan kita peroleh dengan sendirinya, karena dalam kerajaan Allah—segalanya ada.

Saat ini, kita mengejar satuan. Kadang pensil, kadang pena. Kadang penghapus, kadang papan tulis. Carilah Si Penjual, Si Pemilik Toko, dan Dia akan memberikan segala sesuatu kepada anda. Tidak perlu mencari satu per satu. Buang waktu…….

Nasihat Rumi untuk bersahabat dengan Yesus harus dipahami artinya. Yesus dikenal sebagai penyembuh. Ya, dia bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Kita harus pintar-pintar memohon bantuannya. Jika Anda minta minyak gosok untuk punggung yang pegal atau obat tetes untuk mata yang memerah, Anda sungguh menyia-nyiakan Yesus. Sementara ini, kita sungguh menyia-nyiakan Yesus dengan meminta hal-hal yang tidak berarti; meminta keselamatan badan, yang pada suatu saat sudah pasti menjadi debu; meminta harta dan takhta, yang pada akhirnya justru bisa mencelakakan kita.

Mintalah keselamatan jiwa. Jika bersahabat dengan Yesus, jangan meminta gula-gula. Mintalah sesuatu yang lebih berarti, lebih bermakna.

Rumi juga menjelaskan bahwa Yesus tidak berada di luar diri. Yesus berada di dalam diri—senantiasa siap sedia untuk membantu Anda!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kepasrahan Raja Bali dan Berkah Narayana #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on May 22, 2017 by triwidodo

Tentang Avatara

Sebagaimana telah kita bahas dalam ayat sebelumnya, penjelmaan Jiwa Agung untuk menegakkan kembali dharma, kebajikan, keadilan – memang terjadi dari masa ke masa, dan bisa di mana saja. Walau, “kadar” penjelmaan bisa beda dari masa ke masa, dari tempat ke tempat – berdasarkan tuntutan masa dan kebutuhannya.

Dunia tidak selalu membutuhkan para Avatara atau Penjelmaan Purna seperti Krsna. Saat itu, peradaban manusia sedangmenghadapi perang nuklir. Maka dibutuhkan Penjelmaan Purna. Lebih sering, kita membutuhkan Amsa Avatara – Penjelmaan Bagian. Sebagian dari Kekuatan Agung pun sudah cukup untuk mengatasi rezim yang zalim dan menindas rakyatnya, apalagi jika terkait dengan satu negara saja, tidak melibatkan seluruh peradaban.

Maka, jumlah Amsa Avatara tak terhitung. Mereka ada di mana-mana. Bisa di mana-mana, tentunya, lagi-lagi sesuai kebutuhan. Bahkan, jika Anda seorang aktivis yang sedang berkarya untuk mengubah tatanan sosial yang sudah usang – maka ketahuilah bila Jiwa Agung, “sebagian” dari Kekuatan Jiwa Agung telah mewujud lewat diri Anda. Tentunya, jika Anda seorang Aktivis Pembawa Perubahan Sejati sekaliber Gandhi, Soekarno, Mandela, dan sebagainya. Anda bukan aktivis bayaran yang bekerja karena adanya funding dari pihak-pihak tertentu, dengan slogan  “Membela siapa yang Membayar.” Penjelasan Bhagavad Gita 4:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dikisahkan, Raja Asura Bali sedang mengadakan upacara Asvamedha di bawah bimbingan Rishi Sukracharya, gurunya. Pada waktu upacara sedang berlangsung, seorang  brahmana kecil dengan sinar keemasan pada tubuhnya mendatangi upacara. Raja Bali yang selalu menghormati para brahmana langsung menyambutnya dengan penuh hormat dan memberikan tempat kehormatan kepadanya.

Bali berkata, “Aku tidak mengetahui siapa Engkau, tetapi aku tahu Engkau mempunyai keagungan seorang maharishi. Adalah merupakan suatu kehormatan bagiku Engkau memberkati aku dan seluruh anak keturunanku. Upacara Asvamedhaku akan menjadi sangat mulia. Adalah kemuliaan seorang brahmana memberikan berkah dan adalah kebaikan ksatria untuk mengabulkan permintaan seorang brahmana. Apa yang dapat kuberikan kepada-Mu, tanah, emas, istana, gajah atau kuda? Perintahkan kepadaku!”

Vamana menjawab, “Aku tahu kamu raja dengan penuh kerendahan hati, kebajikan, dan kemuliaan. Itu tidak mengejutkan diriku, Sukracharya putra Bhrigu adalah gurumu, kakekmu adalah Prahlada Yang  Agung, ayahmu adalah Virocana Sang Pemberi Agung. Aku tahu dalam keluargamu belum pernah ada kejadian menolak permintaan seseorang. Aku mengetahui kau akan mengabulkan permintaanku. Aku ingin mengambil tanah tiga langkah yang diukur oleh kakiku!”

Raja Bali terkejut dan berkata, “Tentu saja kau seorang anak dan permintaanmu adalah permintaan anak-anak, kamu tidak mengetahui bahwa aku adalah seorang raja besar dan sangat kaya. Daripada minta pulau yang ditutupi lempengan emas kau memilih tiga langkah kecilmu. Tinjaulah kembali permintaanmu dan mintalah yang lebih besar kepadaku!”

Vamana berkata, “Aku menghargai kedermawananmu. Wahai raja, seseorang yang belum menaklukkan keinginannya, semua hal di dunia tidak akan cukup baginya. Seorang manusia yang merasa senang dengan apa yang ia peroleh akan merasa bahagia. Adalah ketidakpuasan yang menjadi penyebab duka-cita manusia. Kamu adalah pemberi terbesar dan Aku minta tiga langkah kaki-Ku”.

Bali tertawa dan berkata, “Semoga demikian. Aku akan memberimu tiga langkah dengan kakimu!” Dan, Bali melihat kaki padma Vamana yang akan segera dicuci dengan air dari dalam mangkuk suci.

 

Apa yang dapat kepersembahkan kepada-Mu

Apa yang dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa yang kumiliki sehingga dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa pun yang ada di sekitarku, apa pun yang melekat pada diriku, termasuk  ragaku, pikiran serta perasaanku diriku ini sendiri – semuanya milik-Mu.

Badanku, pikiranku, harta kekayaanku – sesungguhnya semuanya milikMu. Ya Gusti, semuanya milik-Mu. Apa yang menjadi milik-Mu, kupersembahkan kembali kepadaMu ….. Ya Gusti, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang menjadi milikku. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

 

Sukracharya menghentikan tindakan Bali dan berkata, “Bali kau belum tahu siapa dia. Dia adalah wujud Narayana yang lahir dari ibu Aditi dan ayah Rishi Kasyapa. Dia akan membantu para dewa. Kamu telah bertindak gegabah dalam hal ini. Narayana akan merampas semua kekayaanmu. Apakah kamu tidak ketahui bahwa satu langkah Narayana akan meliputi bumi. Langkah kedua akan meliputi surga dan langkah ketiga akan mendorong kamu kedunia bawah? Aku tahu kamu berada dalam dilema, kamu terlanjur berjanji dan menarik janji adalah perbuatan adharma yang memalukan bagi seorang raja seperti kamu. Bagaimanapun ingkar janji diperbolehkan bila janji yang ditepati akan menghancurkan dirimu.”

Bali meyakinkan gurunya, “Ayahanda dan kakekku adalah seorang besar yang selalu menepati janji dan aku tidak mau memalukan keluarganya. Aku ingat Rishi Dadhici yang mengorbankan tubuhnya untuk dijadikan Vajra. Ini adalah kesempatan emas bagiku, belum pernah Narayana minta pada seseorang, kini dia minta padaku, biarlah aku mengabulkan-Nya dengan segala risikonya!”

Sukracharya tersinggung karena Bali menolak permintaannya, “Kamu berpikir bahwa kau lebih bijaksana daripada aku. Kamu akan segera menemukan dirimu tanpa kerajaan. Aku mengutuk kamu bahwa kemuliaanmu dan kekayaanmu akan segera meninggalkanmu!” Kutukan Sukra tidak memengaruhi Bali dan dia mengajak istrinya Vindhyavali mencuci kaki Vamana dan dan membasahi kepala mereka dengan air bekas cucian kaki tersebut.

 

Aku dan Milikku

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.” Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

                Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia. Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Saat Bali mengangkat wajahnya dia melihat wujud Vamana sebagai Visvarupa Narayana dengan besar yang tak terukur. Langkah pertama-Nya meliputi bumi, langkah kedua-Nya meliputi langit. Garuda kemudian mengikat Bali dengan tali Varuna.

Bali sadar dan terharu ternyata Narayana ingin dia bebas dari kedua kesalahan besar yaitu “Aku” dan “Milikku”. Dengan meminta hadiah Narayana telah mengambil semua “Milikku”, dan sekarang dengan mengikat dirinya, Narayana telah menghilangkan “Aku”. Narayana berkata, sekarang kau sudah kehilangan dua langkah dan Guru Sukra mengatakan bahwa kau akan didorong dengan langkah ketiga di dunia bawah karena kau tidak akan menepati janjimu.”

Bali berkata, “Tuhan, aku tidak bohong, letakkan langkah ketiga-Mu pada kepalaku.”

Prahlada, kakek Bali, datang dan langsung mencuci kaki Vamana. Brahma juga menghadap Narayana dan berkata, “Tuhan jangan menyusahkan Vindhyavali lagi. Bali sudah memberikan segalanya kepada-Mu. Ia telah pasrah kepada-Mu. Ia semestinya diberi karunia oleh-Mu sendiri.”

 

Narayana berkata, “Manakala Aku akan menghancurkan seseorang, Aku akan memberi dia semua kekayaan dan kekuasaan di dunia. Ia kemudian terlibat padanya dan lupa kondisi sejatinya.  Jika aku ingin menyelamatkan seseorang dari maya, Aku menyingkirkan kekayaannya, semuanya. Bebas dari semuanya ia akan menjadi Aku. Bali tidak berbelok dari jalan kebenaran, ia telah menaklukkan maya. Ia telah banyak menderita. Ia telah kehilangan kekayaan, kekuasaan sebagai raja manusia. Musuhnya menertawakan dia yang diikat dengan Varuna. Kerabatnya telah meninggalkan dirinya. Bali sekarang telah mencapai suatu keadaan  yang diinginkan oleh para dewa. Diberkati oleh-Ku dia menjadi Indra sepanjang manvatara bernama Savarni. Ia akan tinggal hingga waktu itu di dalam Sutala yang aku sayangi. Aku akan selalu menemanimu, Bali akan menjadi Indra Agung selama Savarni Manvantara.”

Pelajaran yang dapat dipetik adalah apabila Bali memilih bekerja semata-mata untuk dunia dan melupakan Dia Hyang Maha Menguasai Dunia, seperti nenek moyangnya yaitu Hiranyaksa dan Hiranyakashipu yang menguasai tiga dunia, maka dia akan mendapatkannya. Akan tetapi, dunia yang diperolehnya tersebut, bersifat sementara. Dan bila Bali bekerja semata-mata sebagai persembahan, yang seluruh hasilnya dipersembahkan kepada Hyang Maha Menguasai dunia, maka dia akan mendapat tempat di sisi-Nya (disayangi dan diberkati Narayana). Selain itu, dunia pun tetap diberikan kepadanya (diangkat sebagai Indra di Sutala).

Doa Nabi Sulaiman Kisah #Masnnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , on May 20, 2017 by triwidodo

Salju dan hujan es tidak membahayakan tanaman anggur yang siap panen, tetapi sangat membahayakan buah yang belum matang.

 

Banyak murid yang belum siap, belum matang, tetapi ingin cepat-cepat tampil sebagai murshid. Rumi memberi peringatan keras.

Dunia ini ibarat kolam yang kotor, penuh dengan lumpur. Para wali, para suci, para murshid bagaikan bunga teratai yang “hidup” di tengah lumpur, tetapi tidak tercemar olehnya.

Muhammad memiliki peran ganda, sebagai Pimpinan Umat dan Pimpinan Negara. Dan beliau bisa menjaga keseimbangan diri. Banyak orang yang ingin meniru Beliau, ingin memimpin umat, sekaligus memimpin negara. Mampukah mereka? Bagaimana dengan kesadaran mereka? Apakah mereka sesadar Nabi Muhammad? jika tidak, jangan berpura-para meniru Nabi!

Rumi memberikan contoh Nabi Sulaiman:

Sulaiman sering berdoa, ”Ya Allah, jangan sampai ada orang lain yang memiliki kekuasaan serta kerajaan seperti yang saya miliki.”

Sepertinya, Sulaiman sangat egois. Dia merasa iri, kalau ada yang menandingi clia. Sesungguhnya tidak demikian.

Sulaiman saclar bahwa tahta dan kuasa sangat berbahaya, bahwa rasa angkuh yang muncul oleh karenanya bisa mempengaruhi imannya, keagamaannya. Sekuat-kuatnya iman dan keagamaannya, kadang-kadang masih saja terhanyutkan dalam arus keduniawian. Setiap kali sadar kembali, dia merasa malu. Dia menyesali keterikatannya pada dunia.

Doa Sulaiman tidak muncul dari hati yang picik, yang penuh dengan rasa iri, tetapi dari jiwa yang besar, yang penuh dengan welas kasih. Permohonannya kepada Allah muncul dari kepeduliannya terhadap orang lain, “Jangan sampai ada yang merosot kesadarannya, iman serta keagamaannya, hanya karena tahta dan kuasa. Ya, Allah, janganlah memberikan kekuasaan serta kerajaan seperti ini kepada orang yang belum sadar. Setidaknya dia harus sesadar saya, sehingga kalaupun kesadarannya merosot, kalaupun  kakinya terpeleset karena keterikatan pada dunia ini, dia akan segera bangkit kembali. Sadar kembali dan merasa malu.” Demikian makna terselubung di balik doa Nabi Sulaiman.

Demikianlah orang yang sadar. Walaupun menjadi raja dan memperoleh kekuasaan, dia tetap sadar. Lain halnya dengan mereka yang tidak sadar. Kerajaan dan kekuasaan bisa membuat mereka sombong, angkuh, arogan.

Banyak orang sadar yang begitu naik tahta, begitu berkuasa, jadi hilang kesadarannya. Banyak murid unggulan yang terpeleset, jatuh dan tidak sadar akan kejatuhannya, hanya karena cepat-cepat ingin menjadi murshid. Anda tidak bisa “mengangkat” diri menjadi murshid. Tidak ada lembaga atau institusi yang bisa mengukuhkan ke-“murshid’-an anda. Yang mengangkat anda adalah Keberadaan. Dan Keberadaan pula yang akan mempertemukan para murid dengan anda. Sadarilah hal ini, dan anda tidak akan terpeleset. Anda tidak akan menjadi angkuh, arogan, sombong. Anda tahu persis bahwa peran yang sedang anda mainkan adalah pemberian Sang Sutradara. Dialah yang menentukan segala-galanya.

Panggung Sandiwara ini adalah milik Dia. Yang menulis cerita dan skenario adalah Dia. Yang memilih para pemain adalah Dia. Pertunjukan ini adalah pertunjukan Dia. Saya dan anda diberi kesempatan untuk tampil—bukan karena kita hebat. Banyak pemain lain yang lebih hebat, tetapi Dia memilih kita! Ucapkan Syukur Alhamdulillah, Puji Tuhan, Shukraan, Dhanyavaad—Halleluyah!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)