Avatara Narasimha: Wujud Narayana Pelindung Dharma #SrimadBhagavatam

Ketika adharma merajalela, maka Aku menjelma

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

Ini adalah sebuah janji yang bukan asal-bunyi. Janji ini memiliki dasar ilmiah yang dapat dipahami. KETIKA ADHARMA MERAJALELA — Ketika kebatilan dan ketidakadilan berkuasa, maka di manakah dharma, di manakah kebajikan dan keadilan? Apakah dharma, kebajikan dan keadilan, lenyap sama sekali? Apakah sirna? Apakah punah tanpa bekas?

Dharma adalah energi, adharma pun sama, energi. Dan, energi tidak pernah punah. Energi hanya berubah wujud saja. Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak.

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:7 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hiranyakasipu yang sangat cerdas minta kepada Brahma, bahwa tidak ada satu pun makhluk ciptaan Brahma yang dapat membunuhnya. Tidak ada hewan atau manusia yang dapat membunuhnya. Dia minta dia tidak akan mati di dalam rumah atau di luar rumah dan juga tidak bisa mati sepanjang siang dan sepanjang malam. Tidak mati di bumi atau di langit. Tidak ada satu pun senjata yang dapat membunuhnya. Dengan kesaktiannya, dia menaklukkan 3 dunia dan menghancurkan tempat-tempat pemujaan bagi Narayana. Para brahmana dikejar-kejar dan para pemuja Narayana hidup dalam ketakutan.

Hiranyakasipu yakin dengan janji Brahma, bahwa dia tidak mungkin mati oleh makhluk ciptaan Brahma. Hanya sang maharaja sangat galau bahwa putra bungsunya yang sakti adalah pemuja Narayana, musuh besarnya. Tapi dia yakin Prahlada, sang putra tidak akan mampu membunuhnya, karena sang putra pun termasuk ciptaan Brahma.

 

Puncak kemarahan Hiranyakasipu terhadap Prahlada

“Kama dan Krodha – nafsu keinginan yang tidak pernah terpenuhi, jika dilayani terus; dan, api amarah yang jika tidak segera dipadamkan, akan berkobar terus. Kedua-duanya adalah musuh utama manusia.

“Kama dan Krodha adalah dwi-tunggal – Walau dua kata, sesungguhnya kedua-duanya itu seperti Kembar-Siam – tidak terpisahkan. Dua-duanya muncul, lahir dari rahim Rajoguna sifat penuh gairah, nafsu berlebihan, sehingga manusia menjadi tidak tenang. Ia kehilangan kedamaiannya.

“Kedua sifat ini saling mendukung, saling menunjang. Sehingga, perlawanan kita terhadap mereka mesti mantap – full force, dengan seluruh kekuatan. Tidak bisa loyo, tidak bisa perlahan-lahan, tidak bisa alon-alaon, tidak bisa adem-ayem, tidak bisa santai…………….

Kenalilah sifat keinginan yang selalu tidak pernah puas. Dilayani terus, ia pun menagih terus. Seperti apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, “Dunia ini memiliki sumber yang cukup bagi seluruh warga dunia, semua orang – tapi tidak cukup untuk melayani keserakahan seorang pun.”

Ketika keinginan tidak terpenuhi, maka muncul amarah. Dan, amarah, sebagaimana kita ketahui adalah energi. Energi yang super dahsyat. Ketika energi ini tidak dibendung, tidak diarahkan dan digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, maka hasilnya adalah bencana, kerusakan, kebinasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 3:37 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hiranyakasipu sudah menguasai tiga dunia, akan tetapi dia tidak pernah puas, dia ingin menaklukkan Narayana. Karena belum ketemu, maka dia akan memusnahkan semua orang pemuja Narayana dan kali ini dia sangat marah pada Prahlada, putra bungsunya yang menjadi pemuja Narayana.

Prahlada ditanya teman-teman belajarnya dari mana dia memahami tentang Narayana, sedangkan mereka mempunyai guru yang sama. Prahlada menyampaikan bahwa pada saat ibunya sedang hamil dirinya, ibunya tinggal di rumah Rishi Narada yang setiap hari mendendangkan lagu-lagu pujian terhadap Narayana. Sejak di dalam kandungan dan kemudian lahir dirinya sudah memahami tentang Narayana dan baru setelah ayahnya selesai bertapa, dia kembali tinggal di istana.

Para gurunya melaporkan pembicaraan anak-anak tersebut kepada Hiranyakasipu yang kemudian menjadikan dia sangat marah, “Panggil Prahlada sekarang, aku akan membunuhnya bila dia masih saja berlindung di kaki Narayana yang tidak pernah nampak oleh penglihatan kita semua!”

Prahlada mendatangi ayahnya dan menangkupkan kedua telapak tangannya dan kemudian mengambil debu dari kakinya. Hiranyakasipu tidak tersentuh oleh tindakan Prahlada dan berteriak, “Kamu anak bodoh, kamu adalah putra raja yang berkuasa atas tiga dunia, apa pun yang kamu minta kepadaku pasti kukabulkan, akan tetapi kau tidak berlindung padaku, tetapi berlindung pada Narayana yang tidak nampak batang hidungnya. Sekarang kamu menjadi ancaman bagi bangsa asura. Batas kesabaranku telah habis, kamu akan kukirim ke tempat Yama!”

Prahlada berkata dengan tenang, “Ayahanda pasti menganggap  aku adalah seorang putra yang tidak baik. tetapi sebenarnya aku akan menyelamatkan ayahanda. Narayana adalah Hyang Maha Kuat, jauh lebih agung dibandingkan Brahma. Dunia diciptakan, dipelihara dan didaur-ulang olehnya. Narayana bukan musuhmu, adalah pikiranmu sendiri yang menjadi musuhmu. Ayahanda menuruti, tunduk dan bahkan menjadi budak dari pikiran ayahanda sendiri. Buktinya ayahanda masih takut bahwa aku menjadi pengganggu dan ancaman kekuasaan ayahanda. Ada rasa takut dalam diri ayahanda, sedang dalam diriku tidak ada rasa takut, karena aku tidak berlindung pada pikiranku, aku berlindung pada Dia yang menciptakan pikiranku, yang selalu membimbingku lewat rasa nuraniku.”

Hiranyakasipu memuncak kemarahannya dan berteriak, “Bila Narayana itu ada tunjukkan dia di mana!” Dan pada saat Prahrada menjawab bahwa Narayana ada di mana-mana Hiranyakasipu berteriak apakah Narayana juga berada di dalam tiang yang kokoh yang menyangga ruangan itu dan dia langsung memukul tiang tersebut hingga roboh. Dan, dari dalam tiang muncul wujud yang mengerikan, bukan manusia dan bukan binatang, bukan makhluk ciptaan Brahma. Wujud setengah manusia dan setengah binatang, kepalanya berbentuk seekor singa yang mengerikan dengan tubuh manusia sangat besar dan perkasa, Narasimha Avatara.

Hiranyakasipu menyerang Narasimha tetapi dengan amat mudah dia dikalahkan dan diangkat olehnya dan dipangku di tengah pintu. Hiranyakasipu tidak ingat permintaan dia kepada Brahma sewaktu bertapa. Hiranyakasipu tidak sadar bahwa dia tidak di dalam rumah dan tidak di luar rumah, saat itu senja, tidak siang dan tidak malam, dia dipangku Narasimha tidak di bumi atau tidak dilangit. Saat cakar Narasimha merobek dadanya sekelebat dia ingat saat dia menjadi penjaga istana Sri Vishnu, dan kemudian dikutuk Rishi Sanaka cs untuk lahir ke dunia menjadi musuh Narayana. Tiba-tiba dia ingat semuanya dan merasa damai, “Satu episode telah kuselesaikan…..” dan ruhnya menghilang di kaki Narasimha.

 

Prahlada, bhakta yang yakin pada kebijakan Narayana

Pencerahan menuntut pengorbanan. “aku” yang kecil ini harus melebur, menyatu dengan “Aku” Semesta. Niat kita, hasrat kita, kesiapan diri kita merupakan modal utama. Apabila Anda siap terjun ke dalam api penyucian, Ia Yang Maha Esa akan mempersiapkan api itu bagi Anda.

Apabila Anda siap meleburkan ego Anda, Ia Yang Maha Kuasa pun siap untuk menerima Anda. Allah, Tuhan, Widhi menggunakan berbagai cara untuk menguji kesiapan diri Anda. Semesta ini bagaikan unversitas terbuka, dimana Anda sedang menjalani program, sedang mempelajari seni kehidupan.

Bukan hanya mereka yang menyenangkan hati Anda, tetapi juga mereka yang melukai jiwa Anda, yang mencaci Anda, yang memaki Anda, sebenarnya diutus oleh Kebenaran untuk menguji kesiapan diri Anda. Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar.

Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Prahlada “trust” pada Narayana. Narayana adalah pelindungnya. Demikianlah saat diinjak kawanan Gajah liar, digigit ular beracun dia tetap dilindungi Narayana. Bahkan di saat terakhir Narayana sendiri yang turun tangan, mewujud sebagai Narasimha membunuh Hiranyakasipu.

Wujud mengerikan dari Avatara Narasimha menakutkan para dewa dan para asura, bahkan bumi bergolak dan samudra dan gunung-gunung menggigil. Para dewa kemudian menemui Lakshmi agar datang menenangkan Narayana, akan tetapi dia tidak berani melakukannya.

Brahma kemudian meminta Prahlada untuk menenangkan-Nya, dia mengatakan bahwa Narayana mewujud untuk melindungi bhakta terkasihnya. Prahlada bersujud dan menangis di kaki Narasimha dan mencuci kaki Narasimha dengan air matanya dan dia merasakan ada tangan lembut yang mengelus punggungnya. Tiba-tiba Prahrada dapat menyaksikan wajah Narayana yang sesungguhnya. Ada rasa keharuan dan takjub dan ia semakin tidak dapat membendung air matanya, “Duh Gusti, hamba adalah asura yang paling berbahagia karena telah mendapatkan anugerah untuk melihat wajah Gusti. Hamba berterima kasih atas pertolongan Gusti dan juga memohonkan ampun kejahatan ayah hamba, karena ketidaktahuannya tentang keagungan Gusti.

Narayana menjawab, “Semoga demikian. Sebab kamu telah dilahirkan dalam keluarga Hiranya, ayahmu dan dua puluh satu wujud yang berasal dari nenek moyangnya telah dibersihkan. Ia telah mencapai tempat pitri, leluhurmu. Adakan upacara untuknya. Dan ketahuilah semua keturunanmu akan mengasihi diri-Ku.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: