Kisah JuruTulis dan Kepedulian Nabi #Masnawi

Setiap kali mendapatkan wahyu, Nabi menyampaikannya kepada seorang juru tulis yang segera mencatatnya. Demikian, cahaya wahyu yang diterima oleh Nabi ikut menerangi jiwa Si Juru Tulis.

Lama-lama, Juru Tulis itu menjadi sombong, “Kebenaran yang disampaikan oleh Nabi ada juga di dalam diriku.” Dia pikir dirinya sudah hebat. Dia meninggalkan Nabi dan malah memusuhinya.

Nabi menegur dia, “Jika Kebenaran yang sama ada di dalam dirimu, kenapa engkau berperilaku demikian?”

 

Renungkan teguran Sang Nabi. Teguran itu indah dan bermakna, yang muncul karena kepedulian Nabi terhadap Si Juru Tulis.Teguran seorang Murshid kepada Muridnya.

Jika Kebenaran yang sama ada di dalam diri Murshid dan Murid, maka selesai sudah segala persoalan. Sang Murshid dan Si Murid menyatu dengan Kebenaran yang juga Satu Ada-Nya.

Jangan bimbang, jangan ragu-ragu, Kebenaran yang sama memang ada di dalam diri setiap orang. Yang sadar, tidak pernah sombong. Yang tidak sadar, selalu sombong.

Juru Tulis dalam kisah ini baru “tahu”, belum sadar! “Pengetahuan” tentang Kebenaran membuat dia menjadi sombong. Dia pikir, dirinya sudah sadar. Mengetahui Kebenaran dan menyadari Kebenaran adalah dua ha! yang berbeda. Anda tahu bahwa rokok atau narkoti atau apa saja yang menciptakan “ketergantungan” tidak baik bagi kesehatan. Hasilnya apa? Anda masih tetap saja tergantung. Sebaliknya, dia yang sadar akan langsung melepaskan diri dari ketergantungan.

Nabi “menyadari” Kebenaran. Juru Tulis “mengetahui” Kebenaran. Yang membedakan Nabi dari Juru Tulis hanya itu saja.

 

Berapa lama kemudian, Si JuruTulis menyadari kesalahannya. Tetapi, sudah terlarnbat. Dia sudah terlanjur jauh dari Nabi.

Banyak orang yang menyadari kesalahan mereka, dan ingin kembali ke jalan yang lurus. Ingin kembali ke Islam. Ingin berserah diri kembali, tetapi sudah tidak bisa lagi, karena ego mereka sendiri. Mereka berpikir, “Apa kata orang, apa kata masyarakat jika aku kembali…..?”

Janganlah berpikir demikian. Mohonlah pengarnpunan Allah, karena Dia Maha Pengampun Ada-Nya!

Yang memisahkan Anda dari seorang Nabi adalah ego anda, keangkuhan anda, kesombongan anda. Baru sebentar jalan bersama, Anda pikir Anda sudah sampai. Karena “dia” sedang jalan bersama Anda, Anda pikir dia pun sama seperti Anda. Anda tidak sadar bahwa “dia” sadah sampai di tujuan. Dia sudah tidak perlu mengulangi perjalanan yang sama. Dia melakukan hal itu karena kepeduliannya terhadap Anda. Karena belas-kasihnya terhadap Anda. Untuk itu, jangan lupa mengucapkan terima kasih kepadanya.

Rumi melanjutkan:

 

Cahaya yang menerangi dirimu, berasal dari tetanggamu yang bcrcahaya. Jangan angkuh, jangan sombong. Berterimakasihlah kepadanya.

Berjalanlah terus. Jangan berhenti di setiap tmpat persinggahan. Kalaupun berhenti, jangan lama-lama. Lanjutkan perjalananmu.

Yang paling penting, jangan angkuh. Jangan menyombongkan diri seperti Bal’am, putra Ba’ur. Seperti Nabi Isa, seperti Yesus, dia pun bisa menyembuhkan orang. Tetapi, dia menjadi sombong, dan akhirnya jatuh juga.

Untuk ltu (sebelum engkau jatuh) bunuhlah “kebinatangan” dalam dirimu Bahkan, bunuh juga “kemanusiaan” dalam dirimu, sehingga engkau dapat mencapai Kesadaran Ilahi.

 

Kesadaran hewani berasal dari alam bawah sadar. Yang dia kenal hanyalah konsep “take-take”—terima, terima. Kalau perlu — rampas, rampas. Jarah, jarah.

Kesadaran insani lebih tinggi sedikit – kesadaran jaga kita sehari-hari. Kendati tidak selalu dipraktekkan, tetapi kita sudah mulai kenal konsep “take and give”—konsep timbal-balik. Memberi dan menerima. Menerima dan memberi.

Rumi mengatakan bahwa untuk mencapai “Kesadaran Ilahi”, konsep “take and give” pun harus ditinggalkan. Belajarlah untuk memberi dan memberi dan memberi. Jangan mengharapkan imbalan. Just give and give and give! Nabi Isa bisa melakukan hal itu. Nabi Muhammad pun bisa. Setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar dan setiap buddha melakukan hal yang sama. Anda pun bisa! Sadarilah hal ini, bulatkan tekad Anda, dan lihat apa yang akan terjadi……. ..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: