Kurma Avatara: Mendukung Perjuangan Gigih Memperoleh Amrita #SrimadBhagavatam

Membaca ulang kisah Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Perang dahsyat yang pernah terjadi di medan perang Kuruksetra masih berlanjut, masih terjadi, tidak pernah tidak, atau setidaknya belum berhenti.

Perang disebabkan oleh Keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Kita boleh saja bicara tentang kedamaian, kita boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan dan kebencian akan selalu ada. Selama itu pula, perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari.

………………

Skenario keserakahan inilah landasan kisah Mahabharata. Kendati, Mahabharata tidak berhenti pada landasan tersebut. Lewat Bhagavad Gita, Mahabharata juga menawarkan solusi untuk memerdekakan kita dari belenggu keserakahan, dan belenggu-belenggu lainnya. Kata Pengantar Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dunia tidak berubah bukan hanya sejak zaman Mahabharata, akan tetapi sezak zaman Satya Yuga, awal kehidupan manusia pun sudah demikian. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Itulah sebabnya kami menyisipkan mutiara-mutiara Bhagavad Gita yang sesuai dengan alur kisah Srimad Bhagavatam.

Bali adalah cucu Prahlada, sebagai raja para asura. Dalam diri Bali mengalir genetik bijak dari kakeknya, Prahlada. Akan tetapi kebijakan tersebut masih bercampur dengan keterikatan dengan kelompok yang dipimpinnya. Bali beserta para asura perang beberapa kali melawan Indra beserta para dewa.

Dalam beberapa peperangan terakhir para dewa mengalami kekalahan. Sehingga mereka menghadap  Brahma dan kemudian mohon pertolongan dari Vishnu. Kita tahu bahwa para asura bertindak untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, sedangkan para dewa berkarya demi kepentingan seluruh makhluk. Sudah sewajarnya para dewa perlu hidup abadi (dalam ukuran waktu manusia) layaknya Brahma, agar semua makhluk memperoleh berkah dan bantuan para dewa.

Vishnu memberi petunjuk agar para dewa mengadakan gencatan senjata dengan para asura. Mereka perlu bekerjasama mengaduk samudera, untuk memperoleh amrita minuman penyebab keabadian.

Gunung Mandaragiri agar dijadikan alat pengaduk dan ular raksasa Vasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para dewa dan para asura memegang tali bersama untuk mengaduk samudra. Para dewa harus bekerja sama dengan para asura, tidak dapat bekerja sendiri.

Kita dapat menarik pelajaran, bahwa untuk mencapai tujuan yang tidak dapat dikerjakan sendiri, kita harus bergotong-royong, bekerjasama. Kedua, Yang Maha Kuasa tidak memberikan buah yang sudah matang dan instan untuk dimakan. Diperlukan upaya mematangkan buah, diperlukan upaya memproses yang gigih agar hasil tercapai.

Para asura di bawah pimpinan Bali setuju untuk mengadakan gencatan senjata dan bekerja sama demi mendapatkan amrita. Hanya saja, para dewa ingin mendapatkan amrita bagi keabadian penegakan dharma, sedangkan para asura ingin mendapatkan keabadian agar memperoleh kenikmatan indrawi tanpa berhenti. Sebagaimana yang terjadi dalam persaingan antara dua kelompok yang bekerjasama, mereka telah menyiapkan alternative plan untuk merebut amrita dari tangan pesaing.

 

Gusti bermain game di atas layar dunia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara para putra Aditi, Akulah Visnu – Sang Pemelihara Agung; matahari dan seterusnya…. Bhagavad Gita 10:21

Di antara para Dewa, Akulah Indra, Sang Pengendali indra; dan seterusnya… Bhagavad Gita 10:22

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga……..

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa.

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton! Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku

Penjelasan Bhagavad Gita di atas akan membuat kita membaca kisah Srimad Bhagavatam dengan cara baca yang berbeda. Kita kemudian menyadari bahwa di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia.

Awalnya, para dewa memegang kepala Vasuki yang membelit gunung dan ekornya dipegang para Asura. Para Asura tersinggung , merasa martabatnya direndahkan maka mereka meminta untuk memegang kepala. Para dewa menuruti kemauan para Asura.

Kendati sudah dipegang oleh para dewa dan para asura yang kuat, gunung tersebut tenggelam di samudra. Sang Pemelihara Alam mewujud sebagai kura-kura raksasa, Kurma Avatara. Bertindak sebagai penyangga di bawah gunung. Banyak yang tidak tahu mengapa gunung tersebut tidak tenggelam lagi. Akibatnya luar biasa,  semuanya merasa bersemangat, bekerja sama, bergotong-royong. Sesungguhnya, Dia lah yang merasuk ke semua pelaku dan membuat semua pelaku merasa bersemangat.  Dia adalah gairah yang berada dalam hati Gunung Mandaragiri. Dia adalah ketidaktahuan, sifat tamasa Vasuki. Dia juga merupakan sifat alami agresif, rajasika para asura. Dia juga adalah sifat satvika dewa.

Silakan baca kisah lanjutannya dalam Srimad Bhagavatam berikutnya…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: