Amrita: Keabadian demi Ego Asura atau Pelayanan Dharma Dewa? #SrimadBhagavatam

Tidak ada Dia yang Lain Kecuali Dia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia. Dengan kesadaran tersebut, kita membaca bahwa sesungguhnya yang sedang bermain, yang sedang membuat kisah adalah Dia. Yang membaca kisah ini pun sesungguhnya adalah Dia yang bersemayam dalaam tubuh kita.

 

Keluarnya racun dari samudera

 

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya. Penjelasan Bhagavad Gita 18:66  dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Setelah beberapa lama, Vasuki terengah-engah dan dari mulutnya keluar asap, para Asura yang memegang kepala tidak kuat. Vishnu kemudian datang sebagai hujan dan angin sepoi-sepoi yang membawa asap dari mulut Vasuki.

Semua makhluk merasa ditolong Gusti. Memang demikian. Tetapi bukan berarti hanya mereka sendiri yang dicintai dan ditolong-Nya. Dia tidak membeda-bedakan. Semuanya sejatinya adalah Dia, hanya mind-lah yang membuat merasa terpisah.

Samudra diaduk terus dan seakan-akan nampak sebagai susu.  Selanjutnya muncul racun Kalakuta (Halahala dalam bahasa Sanskerta). Udara menjadi beracun dan semua asura berlarian, para dewa pun pada tidak kuat. Dan para dewa kemudian memohon pertolongan Shiva, Sang Mahadewa. Sang Mahadewa melindungi mereka yang memohon dengan keyakinan kepadanya, Mahadewa menelan racun masuk kerongkongan dan tetap di lehernya. Sebuah perbuatan yang penuh kasih. Setetes racun jatuh dan menjadi rebutan ular, kalajengking, lipan dan binatang merayap lainnya.

 

Semua diperoleh dengan kerja keras bukan instan

Tiada seorang pun yang dapat membantumu…….. Hanyalah engkau sendiri yang dapat membantu diri! Pencerahan pun adalah hasil upaya sendiri, yang kemudian mengundang berkah. Ya, peran anugerah, berkah, grace memang ada. Tidak bisa dinafikan. Tapi turunnya berkah karena upaya. Upaya adalah yang mengundang berkah.

Tidak ada penyelamat yang menyelamatkan diri kita. Seorang Sadguru atau Pemandu Rohani sejati pun tidak bisa melakukan perjalanan mewakili kita. Kita mesti berjalan sendiri. Krsna pun hanya menunjukkan jalan, menjelaskan tantangan dalam perjalanan. Tapi semua itu mesti kita hadapi sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 4:36 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Gusti Narayana memberi petunjuk, tetapi para dewa dan asura lah yang melakukannya. Upaya para dewa dan asura dilengkapi dengan berkah Gusti Narayana membuahkan hasil. Berupaya keras dan memperoleh berkah itulah kunci keberhasilan. Dalam berupaya dengan keras pun selalu ada side-product, efek samping, “racun” yang tidak berguna dan kadang membayakan. Efek samping tersebut harus ditangani dengan baik oleh ahlinya.

Setelah  para dewa dan para asura kembali berupaya mengaduk, dan kemudian keluar Kamadhenu, Sapi Suci. Para rishi yang melakukan upacara Yajna membawanya. Dari susu sapi diperoleh ghee untuk keperluan upacara Yajna.

Selanjutnya Ucchaisrava, Kuda Sakti yang diminta raja asura Bali. Kemudian Gajah Airavata untuk Indra, raja dewa. Permata Kaustubha dipakai Vishnu. Pohon Parijata dan para Apsara semua diambil Indra.

Setelah itu keluar Lakshmi dan semuanya menginginkannya. Akan tetapi sesuai etika Lakshmi sendirilah yang akan memilih siapa yang akan diikutinya. Laksmi melihat para Asura masih keras dan mau menang sendiri. Para rishi pun, nampak belum menaklukkan kemarahan dan masih sering mengutuk. Guru Sukra  pun bijak tetapi masih belum mengetahui tentang ketidakterikatan. Candra tampan, akan tetapi belum menaklukkan nafsu. Indra penguasa, tetapi belum mampu menaklukkan keinginan.  Hanya Vishnu yang tidak menginginkannya. Dia telah melampaui Triguna. Lakshmi menjatuhkan pilihan untuk mengikuti Vishnu.

Silakan baca ulang kisah:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/08/23/dewi-sri-kemuliaan-dan-kemakmuran-menghampiri-para-pekerja-keras/

Keluarnya Amrita dari samudra

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita berikan kepada “cara berpikir” seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

LALU, APAKAH AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh. Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Terakhir keluar Dhanvantari membawa mangkuk berisi amrita. Para asura dengan cepat melepaskan Vasuki, alat itu sudah selesai digunakan, mengapa harus repot? Vasuki dilemparkan dan mereka merenggut mangkuk berisi amrita. Tiba-tiba terjadilah perebutan di antara para asura, siapakah yang berhak mencicipi amrita lebih dahulu. Berlomba dengan teman sendiri, merasa paling unggul di antara sahabat adalah sifat asura. Asura dominan sifat rajas, agresif, serakah dan ambisius.

 

Munculnya Rohini sangat jelita dan mempesona

Di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, “Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!”

Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi.

Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, “Subhanallah! Maha Suci Allah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tiba-tiba suasana mendadak hening, dan dalam keheningan tersebut muncul seorang wanita yang amat sangat jelita.  Para asura dan para dewa duduk bersimpuh di hadapan wanita jelita tersebut. Para asura ternganga dan langsung menyerahkan mangkuk berisi amrita, “Wahai bidadari jelita, kami yakin dikau bertindak adil, ambillah dan bagikan kepada kami menurut pendapatmu.” Para asura dan para dewa membentuk 2 baris dan si jelita berjalan di tengahnya.

Para asura tetap ternganga dan terpesona, padahal sambil jalan berlenggok, Dia menyendok amrita untuk para dewa di sisi lainnya. Lupa diri membuat para asura lalai, alpa. Mereka berpikir, “Huh, para dewa memang tidak bisa menghargai kecantikan yang belum pernah ada sebelumnya di permukaan bumi ini.”

Hanya asura Rahu yang waspada, yang paham keadaan dan segera menyamar sebagai dewa dan duduk di antara Surya dan Candra.  Rahu telah mendapatkan amrita. Wanita itu tahu tapi membiarkan saja. Baru setelah Surya dan Candra memberi tanda, maka leher Rahu dipotong olehnya. Kepala Rahu tetap abadi tetapi dia tidak punya tubuh.

Kejadian tersebut menyadarkan para asura, dan Mohini, sang wanita jelita, kembali mewujud sebagai Vishnu dan menghilang. Tindakan Surya dan Candra tersebut membuat marah Rahu, maka pada waktu tertentu dia akan menelan Surya dan Chandra. Akan tetapi ,pemberitahuan kepada Mohini telah menyelamatkan mereka, karena begitu mereka ditelan Rahu setelah sampai di leher mereka keluar lagi. Konon, itulah legendanya peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan yang hanya memakan waktu sebentar saja.

 

Kita dapat menarik pelajaran dari penggalan kisah ini bahwa:

Pertama, para asura telah bekerja lebih keras, karena ambisi dari mind, ego, mereka ingin mendapatkan keabadian demi kenyamanan fisik , kenyamanan materi, dan itu selaras dengan sifat rajas-agresif dalam diri mereka. Sedangkan para dewa lebih menginginkan penyelesaian tugas yang diamanahkan kepada mereka dapat terselesaikan secara baik dan untuk itu mereka memerlukan keabadian. Hal demikian selaras dengan sifat satvik-tenang yang dimiliki para dewa.

Kedua, para dewa mendapatkan amrita, mendapatkan keabadian, mereka melampaui pikiran tentang mati, yang mati itu fisik. Jiwa tidak mati, abadi. Asura tidak paham hal tersebut karena terlalu mengikuti pikirannya yang terperangkap dalam maya, hijab dunia. Bagi kita yang hidup, amrita mungkin semacam kesadaran bahwa kita ini adalah Jiwa, dan Jiwa tidak bisa mati. Mereka yang tidak sadar berkeinginan agar fisik kita abadi, masih mempunyai sifat asura dalam diri mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: