Kisah Zayd dan Matahari Pencerahan #Masnawi

“Bagaimana kabarmu pagi ini, Sahabatku?” tanya Nabi kepada Zayd.

“Pagi ini aku melayani Allah,” jawab Zayd.

“Berarti kamu telah mengunjungi ‘Taman Iman’. Adakah sesuatu yang ikut berbunga dalam dirimu?”

Zayd menjawab, “Sepanjang hari aku mengenangnya. Tiba malam, dan aku merana, merintih, mengingat Dia. Maka, aku melampaui dua-duanya. Ternyata, malam memang tidak berbeda dari pagi. Yang berjalan tidak berbeda dari yang duduk. Waktu ribuan tahun sama seperti satu jam.”

Nabi menanggapinya, ”Apakah kamu membawa ’Cinderamata Ketulusan Hati’ dari perjalananmu?”

Di sini kita membedakan hitam dari putih. Di sana, semuanya sama. Sebaliknya, apa yang terlihat sama di sini, di sana tampak berbeda. Terungkapkan sudah rahasia kiamat dan pembangkitan. Haruskah aku menjelaskan semuanya?” demikian kata Zayd.

Nabi Muhammad memberi isyarat dengan matanya, seolah-olah mengatakan, ”Cukup sudah.”

 

Zayd baru saja mengalamai sesuatu yang indah, tetapi sangat alami. Dia bingung, jika pengalaman itu begitu indah, alami dan mudah diperoleh, kenapa tidak semua orang mengalaminya…….

 

“Kenapa tidak semua orang melihat Matahari Kebenaran?” tanya Zayd.

“Karena mata mereka tertutup oleh jari mereka sendiri. Begitu melepaskan jari, Matahari yang terang benderang akan terlihat jelas,” jawab Nabi.

 

Tidak perlu sepuluh jari. Dua jari sudah cukup untuk menutup mata kita, untuk membuat kita tidak melihat Matahari Kebenaran.

Jari-jari tangan yang berjumlah sepuluh dan dapat membutakan kita itu digerakkan oleh naluri hewani, bekerjasama dengan panca indera.

Lima jari pertama adalah: hawa nafasu, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan. Lima jari kedua adalah: indera pendengaran, penglihatan, perabaan, penciuman dan pencecap. Jika kita kurang waspada, sudah pasti akan kecolongan. Kolusi antara mereka merosotkan kesadaran manusia.

Nabi Muhammad menjelaskan lebih lanjut, “Aku pun manusia biasa. Seperti kamu, aku pun pernah hidup dalam kegelapan. Lalu, terbitlah Matahari Pencerahan. Cahayaku ini berasal dari Matahari Pencerahan itu. Aku tidak secerah Matahari, sehingga tidak menyilaukan. Dan bisa ditatap oleh siapa saja.”

 

Para nabi, para avatar, para mesias dan para buddha sesungguhnya secerah “Matahari Tuhan”, Allah, Widhi, Tao—apa pun sebutan yang anda berikan kepada-Nya. Sengaja mereka “menurunkan” pencerahan mereka, agar tidak terlalu menyilaukan, sehingga kita dapat menatapi mereka.

Mereka adalah ayat-ayat Allah di atas muka bumi. Mereka adalah bukti nyata Kehadiran-Nya. Jika anda tidak bisa melihat-Nya, mata anda yang sakit. Mata anda berdebu. Atau mungkin anda belum membuka mata. Mata anda masih tertutup rapat.

Jika anda masih saja melihat perbedaan antara ajaran Muhammad, Isa, Buddha, Krishna dan Lao Tze, maka sesungguhnya perbedaan itu memang mereka “rekayasa” sendiri. Muhammad tahu persis, jika dia lebih ”silau”, orang-orang Arab pada jaman itu tidak akan bisa menatapi wajahnya. Muhammad harus turun sedikit, untuk bisa berdialog dengan mereka. Seperti seorang profesor doktor harus “menurunkan” bahasanya untuk bisa herdialog dengan cucunya sendiri yang masih duduk di bangku TK.

Demikian pula dengan Isa, Krishna dan ……. ..Mereka harus “turun”. Seberapa turunnya, tergantung pada pendengar mereka pada jaman itu.

Jangan membedakan Muhammad dari Buddha, Lao Tze dari Krishna, Isa dari Zarathustra. Pencerahan mereka sama. Jika bahasa mereka berbeda, hal itu lumrah. Jika penyampaian mereka berbeda, sangat masuk akal, karena pendengar mereka berbeda.

Lain dulu, lain sekarang. Sekarang anda dan saya, kita semua sudah berevolusi panjang. Sudah ribuan tahun berlalu. Ajaran mereka harus didefinisikan kembali. Harus ada penafsiran ulang. Jika anda tidak melakukannya, anak-cucu anda akan melakukannya. Dan mereka akan menertawakan kebodohan anda. Anda tidak bisa menunda lama upaya penafsiran ulang. Kemajuan di bidang Sains dan Teknologi, perkembangan jaman dan peningkatan kesadaran manusia menuutut pemahaman baru. Jika anda tidak memenuhi tuntutan mereka, orang lain akan memenuhinya. Mau apa—terserah anda!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: