Doa Nabi Sulaiman Kisah #Masnnawi

Salju dan hujan es tidak membahayakan tanaman anggur yang siap panen, tetapi sangat membahayakan buah yang belum matang.

 

Banyak murid yang belum siap, belum matang, tetapi ingin cepat-cepat tampil sebagai murshid. Rumi memberi peringatan keras.

Dunia ini ibarat kolam yang kotor, penuh dengan lumpur. Para wali, para suci, para murshid bagaikan bunga teratai yang “hidup” di tengah lumpur, tetapi tidak tercemar olehnya.

Muhammad memiliki peran ganda, sebagai Pimpinan Umat dan Pimpinan Negara. Dan beliau bisa menjaga keseimbangan diri. Banyak orang yang ingin meniru Beliau, ingin memimpin umat, sekaligus memimpin negara. Mampukah mereka? Bagaimana dengan kesadaran mereka? Apakah mereka sesadar Nabi Muhammad? jika tidak, jangan berpura-para meniru Nabi!

Rumi memberikan contoh Nabi Sulaiman:

Sulaiman sering berdoa, ”Ya Allah, jangan sampai ada orang lain yang memiliki kekuasaan serta kerajaan seperti yang saya miliki.”

Sepertinya, Sulaiman sangat egois. Dia merasa iri, kalau ada yang menandingi clia. Sesungguhnya tidak demikian.

Sulaiman saclar bahwa tahta dan kuasa sangat berbahaya, bahwa rasa angkuh yang muncul oleh karenanya bisa mempengaruhi imannya, keagamaannya. Sekuat-kuatnya iman dan keagamaannya, kadang-kadang masih saja terhanyutkan dalam arus keduniawian. Setiap kali sadar kembali, dia merasa malu. Dia menyesali keterikatannya pada dunia.

Doa Sulaiman tidak muncul dari hati yang picik, yang penuh dengan rasa iri, tetapi dari jiwa yang besar, yang penuh dengan welas kasih. Permohonannya kepada Allah muncul dari kepeduliannya terhadap orang lain, “Jangan sampai ada yang merosot kesadarannya, iman serta keagamaannya, hanya karena tahta dan kuasa. Ya, Allah, janganlah memberikan kekuasaan serta kerajaan seperti ini kepada orang yang belum sadar. Setidaknya dia harus sesadar saya, sehingga kalaupun kesadarannya merosot, kalaupun  kakinya terpeleset karena keterikatan pada dunia ini, dia akan segera bangkit kembali. Sadar kembali dan merasa malu.” Demikian makna terselubung di balik doa Nabi Sulaiman.

Demikianlah orang yang sadar. Walaupun menjadi raja dan memperoleh kekuasaan, dia tetap sadar. Lain halnya dengan mereka yang tidak sadar. Kerajaan dan kekuasaan bisa membuat mereka sombong, angkuh, arogan.

Banyak orang sadar yang begitu naik tahta, begitu berkuasa, jadi hilang kesadarannya. Banyak murid unggulan yang terpeleset, jatuh dan tidak sadar akan kejatuhannya, hanya karena cepat-cepat ingin menjadi murshid. Anda tidak bisa “mengangkat” diri menjadi murshid. Tidak ada lembaga atau institusi yang bisa mengukuhkan ke-“murshid’-an anda. Yang mengangkat anda adalah Keberadaan. Dan Keberadaan pula yang akan mempertemukan para murid dengan anda. Sadarilah hal ini, dan anda tidak akan terpeleset. Anda tidak akan menjadi angkuh, arogan, sombong. Anda tahu persis bahwa peran yang sedang anda mainkan adalah pemberian Sang Sutradara. Dialah yang menentukan segala-galanya.

Panggung Sandiwara ini adalah milik Dia. Yang menulis cerita dan skenario adalah Dia. Yang memilih para pemain adalah Dia. Pertunjukan ini adalah pertunjukan Dia. Saya dan anda diberi kesempatan untuk tampil—bukan karena kita hebat. Banyak pemain lain yang lebih hebat, tetapi Dia memilih kita! Ucapkan Syukur Alhamdulillah, Puji Tuhan, Shukraan, Dhanyavaad—Halleluyah!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: