Kepasrahan Raja Bali dan Berkah Narayana #SrimadBhagavatam

Tentang Avatara

Sebagaimana telah kita bahas dalam ayat sebelumnya, penjelmaan Jiwa Agung untuk menegakkan kembali dharma, kebajikan, keadilan – memang terjadi dari masa ke masa, dan bisa di mana saja. Walau, “kadar” penjelmaan bisa beda dari masa ke masa, dari tempat ke tempat – berdasarkan tuntutan masa dan kebutuhannya.

Dunia tidak selalu membutuhkan para Avatara atau Penjelmaan Purna seperti Krsna. Saat itu, peradaban manusia sedangmenghadapi perang nuklir. Maka dibutuhkan Penjelmaan Purna. Lebih sering, kita membutuhkan Amsa Avatara – Penjelmaan Bagian. Sebagian dari Kekuatan Agung pun sudah cukup untuk mengatasi rezim yang zalim dan menindas rakyatnya, apalagi jika terkait dengan satu negara saja, tidak melibatkan seluruh peradaban.

Maka, jumlah Amsa Avatara tak terhitung. Mereka ada di mana-mana. Bisa di mana-mana, tentunya, lagi-lagi sesuai kebutuhan. Bahkan, jika Anda seorang aktivis yang sedang berkarya untuk mengubah tatanan sosial yang sudah usang – maka ketahuilah bila Jiwa Agung, “sebagian” dari Kekuatan Jiwa Agung telah mewujud lewat diri Anda. Tentunya, jika Anda seorang Aktivis Pembawa Perubahan Sejati sekaliber Gandhi, Soekarno, Mandela, dan sebagainya. Anda bukan aktivis bayaran yang bekerja karena adanya funding dari pihak-pihak tertentu, dengan slogan  “Membela siapa yang Membayar.” Penjelasan Bhagavad Gita 4:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dikisahkan, Raja Asura Bali sedang mengadakan upacara Asvamedha di bawah bimbingan Rishi Sukracharya, gurunya. Pada waktu upacara sedang berlangsung, seorang  brahmana kecil dengan sinar keemasan pada tubuhnya mendatangi upacara. Raja Bali yang selalu menghormati para brahmana langsung menyambutnya dengan penuh hormat dan memberikan tempat kehormatan kepadanya.

Bali berkata, “Aku tidak mengetahui siapa Engkau, tetapi aku tahu Engkau mempunyai keagungan seorang maharishi. Adalah merupakan suatu kehormatan bagiku Engkau memberkati aku dan seluruh anak keturunanku. Upacara Asvamedhaku akan menjadi sangat mulia. Adalah kemuliaan seorang brahmana memberikan berkah dan adalah kebaikan ksatria untuk mengabulkan permintaan seorang brahmana. Apa yang dapat kuberikan kepada-Mu, tanah, emas, istana, gajah atau kuda? Perintahkan kepadaku!”

Vamana menjawab, “Aku tahu kamu raja dengan penuh kerendahan hati, kebajikan, dan kemuliaan. Itu tidak mengejutkan diriku, Sukracharya putra Bhrigu adalah gurumu, kakekmu adalah Prahlada Yang  Agung, ayahmu adalah Virocana Sang Pemberi Agung. Aku tahu dalam keluargamu belum pernah ada kejadian menolak permintaan seseorang. Aku mengetahui kau akan mengabulkan permintaanku. Aku ingin mengambil tanah tiga langkah yang diukur oleh kakiku!”

Raja Bali terkejut dan berkata, “Tentu saja kau seorang anak dan permintaanmu adalah permintaan anak-anak, kamu tidak mengetahui bahwa aku adalah seorang raja besar dan sangat kaya. Daripada minta pulau yang ditutupi lempengan emas kau memilih tiga langkah kecilmu. Tinjaulah kembali permintaanmu dan mintalah yang lebih besar kepadaku!”

Vamana berkata, “Aku menghargai kedermawananmu. Wahai raja, seseorang yang belum menaklukkan keinginannya, semua hal di dunia tidak akan cukup baginya. Seorang manusia yang merasa senang dengan apa yang ia peroleh akan merasa bahagia. Adalah ketidakpuasan yang menjadi penyebab duka-cita manusia. Kamu adalah pemberi terbesar dan Aku minta tiga langkah kaki-Ku”.

Bali tertawa dan berkata, “Semoga demikian. Aku akan memberimu tiga langkah dengan kakimu!” Dan, Bali melihat kaki padma Vamana yang akan segera dicuci dengan air dari dalam mangkuk suci.

 

Apa yang dapat kepersembahkan kepada-Mu

Apa yang dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa yang kumiliki sehingga dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa pun yang ada di sekitarku, apa pun yang melekat pada diriku, termasuk  ragaku, pikiran serta perasaanku diriku ini sendiri – semuanya milik-Mu.

Badanku, pikiranku, harta kekayaanku – sesungguhnya semuanya milikMu. Ya Gusti, semuanya milik-Mu. Apa yang menjadi milik-Mu, kupersembahkan kembali kepadaMu ….. Ya Gusti, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang menjadi milikku. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

 

Sukracharya menghentikan tindakan Bali dan berkata, “Bali kau belum tahu siapa dia. Dia adalah wujud Narayana yang lahir dari ibu Aditi dan ayah Rishi Kasyapa. Dia akan membantu para dewa. Kamu telah bertindak gegabah dalam hal ini. Narayana akan merampas semua kekayaanmu. Apakah kamu tidak ketahui bahwa satu langkah Narayana akan meliputi bumi. Langkah kedua akan meliputi surga dan langkah ketiga akan mendorong kamu kedunia bawah? Aku tahu kamu berada dalam dilema, kamu terlanjur berjanji dan menarik janji adalah perbuatan adharma yang memalukan bagi seorang raja seperti kamu. Bagaimanapun ingkar janji diperbolehkan bila janji yang ditepati akan menghancurkan dirimu.”

Bali meyakinkan gurunya, “Ayahanda dan kakekku adalah seorang besar yang selalu menepati janji dan aku tidak mau memalukan keluarganya. Aku ingat Rishi Dadhici yang mengorbankan tubuhnya untuk dijadikan Vajra. Ini adalah kesempatan emas bagiku, belum pernah Narayana minta pada seseorang, kini dia minta padaku, biarlah aku mengabulkan-Nya dengan segala risikonya!”

Sukracharya tersinggung karena Bali menolak permintaannya, “Kamu berpikir bahwa kau lebih bijaksana daripada aku. Kamu akan segera menemukan dirimu tanpa kerajaan. Aku mengutuk kamu bahwa kemuliaanmu dan kekayaanmu akan segera meninggalkanmu!” Kutukan Sukra tidak memengaruhi Bali dan dia mengajak istrinya Vindhyavali mencuci kaki Vamana dan dan membasahi kepala mereka dengan air bekas cucian kaki tersebut.

 

Aku dan Milikku

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.” Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

                Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia. Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Saat Bali mengangkat wajahnya dia melihat wujud Vamana sebagai Visvarupa Narayana dengan besar yang tak terukur. Langkah pertama-Nya meliputi bumi, langkah kedua-Nya meliputi langit. Garuda kemudian mengikat Bali dengan tali Varuna.

Bali sadar dan terharu ternyata Narayana ingin dia bebas dari kedua kesalahan besar yaitu “Aku” dan “Milikku”. Dengan meminta hadiah Narayana telah mengambil semua “Milikku”, dan sekarang dengan mengikat dirinya, Narayana telah menghilangkan “Aku”. Narayana berkata, sekarang kau sudah kehilangan dua langkah dan Guru Sukra mengatakan bahwa kau akan didorong dengan langkah ketiga di dunia bawah karena kau tidak akan menepati janjimu.”

Bali berkata, “Tuhan, aku tidak bohong, letakkan langkah ketiga-Mu pada kepalaku.”

Prahlada, kakek Bali, datang dan langsung mencuci kaki Vamana. Brahma juga menghadap Narayana dan berkata, “Tuhan jangan menyusahkan Vindhyavali lagi. Bali sudah memberikan segalanya kepada-Mu. Ia telah pasrah kepada-Mu. Ia semestinya diberi karunia oleh-Mu sendiri.”

 

Narayana berkata, “Manakala Aku akan menghancurkan seseorang, Aku akan memberi dia semua kekayaan dan kekuasaan di dunia. Ia kemudian terlibat padanya dan lupa kondisi sejatinya.  Jika aku ingin menyelamatkan seseorang dari maya, Aku menyingkirkan kekayaannya, semuanya. Bebas dari semuanya ia akan menjadi Aku. Bali tidak berbelok dari jalan kebenaran, ia telah menaklukkan maya. Ia telah banyak menderita. Ia telah kehilangan kekayaan, kekuasaan sebagai raja manusia. Musuhnya menertawakan dia yang diikat dengan Varuna. Kerabatnya telah meninggalkan dirinya. Bali sekarang telah mencapai suatu keadaan  yang diinginkan oleh para dewa. Diberkati oleh-Ku dia menjadi Indra sepanjang manvatara bernama Savarni. Ia akan tinggal hingga waktu itu di dalam Sutala yang aku sayangi. Aku akan selalu menemanimu, Bali akan menjadi Indra Agung selama Savarni Manvantara.”

Pelajaran yang dapat dipetik adalah apabila Bali memilih bekerja semata-mata untuk dunia dan melupakan Dia Hyang Maha Menguasai Dunia, seperti nenek moyangnya yaitu Hiranyaksa dan Hiranyakashipu yang menguasai tiga dunia, maka dia akan mendapatkannya. Akan tetapi, dunia yang diperolehnya tersebut, bersifat sementara. Dan bila Bali bekerja semata-mata sebagai persembahan, yang seluruh hasilnya dipersembahkan kepada Hyang Maha Menguasai dunia, maka dia akan mendapat tempat di sisi-Nya (disayangi dan diberkati Narayana). Selain itu, dunia pun tetap diberikan kepadanya (diangkat sebagai Indra di Sutala).

Advertisements

One Response to “Kepasrahan Raja Bali dan Berkah Narayana #SrimadBhagavatam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: