Bersahabat dengan Yesus #Kisah #Masnawi

Seorang pakar agama menasihati seorang sufi pengembara, “Jangan menangis terus. Matamu akan rusak.”

Si Sufi menjawab, “Persoalannya bukan itu. Persoalannya, mataku bisa melihat Keindahan-Nya atau tidak. Kalau sudah bisa melihat Keindahan-Nya, sudah bisa menatap Cahaya-Nya, walaupun sepasang bola mata ini tidak bercahaya lagi, tidak menjadi masalah. Sebaliknya, kalau belum bisa melihat Keindahan-Nya, belum bisa menatap Cahaya-Nya, apa gunanya sepasang bola mata yang bercahaya?

“Apa gunanya memikirkan kerusakan mata, jika sudah bersahabat dengan Yesus? Tinggal memohon bantuan dia yang adalah jiwamu. Dan dia pun akan langsung membantu kamu. Tetapi janganlah meminta ‘keselamatan badan’ dari Yesus. Jangan pula terlalu banyak memikirkan urusan lahiriah. Urusan apa lagi yang engkau pikirkan, jika sudah berada di dalam Istana-Nya?

“Badan ini bagaikan kemah bagi Sang Jiwa. Perlakukanlah sebagai kemah, tidak lebih, tidak kurang!”

 

Para cendekiawan, para pakar agama, selalu berbicara tentang keseimbangan. Entah itu keseimbangan antara lahiriah dan batiniah, atau antara badan dan roh.

Seorang sufi tidak akan bicara tentang keseimbangan. Setidaknya, seorang Rumi tidak akan bicara tentang keseimbangan. Keseimbangan apa? Secara ilmiah terbukti sudah bahwa antara materi dan energi tidak ada keseimbangan, karena sesungguhnya materi dan energi tidak berbeda. Hanya beda wujud saja, intinya sama. Lalu keseimbangan apa pula yang harus dibicarakan antara lahiriah dan batiniah, antara badan dan roh?

Untuk memasuki kesadaran batiniah, kesadaran lahiriah harus ditinggalkan. Mau mempertahankan “uap”, air harus dimasak sampai mendidih. Air itu sendiri harus “menguap”. Anda tidak bisa mempertahankan dua-duanya. Air juga, uap juga—tidak bisa. Kendati demikian, dalam uap juga ada air.

Itu sebabnya, Yesus menasihati kita agar mengejar Kerajaan Allah terlebih dahulu. Segala sesuatu yang lain, akan kita peroleh dengan sendirinya, karena dalam kerajaan Allah—segalanya ada.

Saat ini, kita mengejar satuan. Kadang pensil, kadang pena. Kadang penghapus, kadang papan tulis. Carilah Si Penjual, Si Pemilik Toko, dan Dia akan memberikan segala sesuatu kepada anda. Tidak perlu mencari satu per satu. Buang waktu…….

Nasihat Rumi untuk bersahabat dengan Yesus harus dipahami artinya. Yesus dikenal sebagai penyembuh. Ya, dia bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Kita harus pintar-pintar memohon bantuannya. Jika Anda minta minyak gosok untuk punggung yang pegal atau obat tetes untuk mata yang memerah, Anda sungguh menyia-nyiakan Yesus. Sementara ini, kita sungguh menyia-nyiakan Yesus dengan meminta hal-hal yang tidak berarti; meminta keselamatan badan, yang pada suatu saat sudah pasti menjadi debu; meminta harta dan takhta, yang pada akhirnya justru bisa mencelakakan kita.

Mintalah keselamatan jiwa. Jika bersahabat dengan Yesus, jangan meminta gula-gula. Mintalah sesuatu yang lebih berarti, lebih bermakna.

Rumi juga menjelaskan bahwa Yesus tidak berada di luar diri. Yesus berada di dalam diri—senantiasa siap sedia untuk membantu Anda!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: