Matsya Avatara, Manu dan Saptarishi, 7 Jenis Genetika Awal #SrimadBhagavatam

Makna Avatara

Avatar berarti “Ia yang turun”. Lalu, oleh mereka yang tidak mengetahui artinya diterjemahkan sebagai “turun dari sono”. Entah dari mana! Sebenarnya, tidak demikian. Avatar berarti “ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog dengan kita. Untuk berkomunikasi dengan kita. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Yesus juga seorang Avatar. Muhammad dan Zarathustra juga demikian. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada kita. Memang, bahasa Krishna lain, bahasa Buddha lain, bahasa Yesus lain, bahasa Muhammad lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dengan mereka yang tingkat kesadarannya juga berbeda-beda. (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ibarat seorang pilot yang menurunkan pesawat ke bumi untuk kemudian membawa penumpang ke ketinggian angkasa, para avatar tidak pernah lupa akan jati diri mereka. Kendati seorang avatar, atau seorang nabi, harus menurunkan kesadarannya untuk bisa berkomunikasi dengan kita, sesungguhnya dia tidak pernah lupa akan Jati Dirinya—bahwasanya “Matahari Kesadaran Murni” itulah Kebenaran Diri dia. Ini yang membedakan mereka dari kita. Kita pun sering mengalami peningkatan kesadaran sesaat. Dalam alam meditasi, kita pun sering mencapai tingkat Kesadaran Murni, tetapi hanya untuk sesaat saja. Lagi-lagi kita “jatuh” kembali. (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Oleh karena itu para avatara muncul sesuai zamannya. Mereka berbicara dengan manusia sesuai permasalahan yang dihadapi mereka.

 

Avatara Vishnu Sang Pemelihara Alam Semesta bisa berwujud apa saja:

Matsyaavatara berwujud ikan yang hidup di air, mempertahankan kehidupan di dunia.

Kurmaavatara berwujud kura-kura yang hidup di air dan di darat, membantu pengadukan samudra pengetahuan.

Varahaavatara celeng berkaki empat yang hidup di darat, menyelamatkan bumi dari penguasaan adharma.

Narasimhaavatara berwujud manusia berkepala singa yang menyelamatkan panembah Gusti Pangeran.

Vamanaavatara berwujud manusia kecil, yang memberikan contoh bahwa hanya dengan penyerahan total “milikku” dan “aku, seseorang dapat mencapai keilahian.

Parasuramaavatara berwujud kesatria yang menghancurkan kejahatan yang dilakukan oleh semua raja yang zalim.

Ramaavatara berwujud raja yang dapat mencapai keilahian dengan patuh terhadap dharma.

Krishnaavatara berwujud raja yang menyampaikan nyanyian ilahi, kabar gembira bahwa diri sejati itu tidak dapat mati dan setiap orang perlu menjalankan peran yang diamanahkan kepadanya menuju keilahian.

Buddhaavatara berwujud brahmana yang menaklukkan keinginan dan penuh kasih.

Kalki avatara berwujud prajurit perkasa mengalahkan ketidakbenaran.

 

Matsya Avatara

Bhakti mesti berlandaskan cinta-kasih tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya.

Hidup dia telah berubah menjadi aksi-bhakti. Ia menginterpretasikan bhakti lewat hidupnya. Ia menerjemahkan bhakti dalam bahasa tindakan nyata. Dan, ia melakukan semua ini karena ia melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Baginya melayani sesama makhluk adalah ungkapan cintanya bagi Gusti Pangeran. Penjelasan Bhagavad Gita 9:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Menjelang pralaya, hidup seorang raja bernama Satyavrata. Dia adalah seorang panembah Narayana dan sedang bertapa brata keras dengan hanya minum air saja. Pada saat melakukan persembahan di sungai Kertamala ia melihat ikan kecil dalam tangannya. Ia segera melepaskan ikan tersebut ke sungai, akan tetapi ikan tersebut berkata, “Wahai raja pengasih, saya seekor ikan kecil yang akan dimangsa para ikan besar, jangan lepaskan aku di sungai.”

Sang raja menempatkan dalam mangkuk dan dibawa pulang ke tempat tinggalnya. Esoknya sang ikan yang sudah tumbuh membesar memenuhi mangkuk berkata, “Tolong tempatkan aku di tempat yang lebih besar, mangkuk ini sudah tidak cukup bagiku!”

Kemudian sang raja menempatkan dalam bejana yang lebih besar, akan tetapi ikan tersebut cepat membesar dan memenuhi bejana tersebut. Kemudian ikan tersebut diletakkan dalam kolam, dan ikan tersebut juga cepat membesar memenuhi kolam. Kemudian sang ikan dipindah ke danau dan lagi-lagi sang ikan membesar sebesar danau. Dan akhirnya, ikan tersebut akhirnya diletakkan di samudra.

Sang ikan bercanda, “Ada banyak buaya besar dan makhluk lainnya di laut, tidak tepat meninggalkan aku di sini!” Raja mengerti bahwa Ia bukan ikan biasa, “Wahai Ikan perkasa, aku yakin paduka adalah Narayana sendiri dalam bentuk ikan dengan tujuan yang aku tidak mengetahui. Gusti, aku memberikan hormat kepada-Mu dan mohon perlindungan-Mu!”

 

Matsya Avatara berkata, “Benar, Aku mengambil wujud ini dengan tujuan untuk menyelamatkan bhakta-Ku. Dalam tujuh hari ke depan dunia akan tenggelam. Manakala kamu melihat sebuah bahtera, kumpulkan semua benih tanaman dan bersama tujuh rishi kamu segera naik perahu tersebut. Akan ada kegelapan total, yang ada hanya sinar dari para rishi. Kamu akan terombang-ambing, tetapi jangan takut. Manakala kamu melihat aku segera ikat bahteramu pada tandukku dengan bantuan Vasuki.” Kemudian Sang Matsya lenyap dari pandangan sang raja.

 

Raja Satyavrata sedang menunggu waktu yang diramalkan oleh Narayana dengan bermeditasi pada Tuhan. Pada saat itu, hujan turun dengan cara yang sangat mengerikan dan air laut menggunung menutupi tanah di pantai dan perlahan-lahan menutupi seluruh bumi. Karena sangat takut, raja mulai mencari tempat berlindung. Tiba-tiba ia melihat sebuah bahtera besar datang kepadanya. Raja segera mengambil semua biji yang telah disiapkannya dan kemudian menaiki bahtera bersama dengan tujuh rishi.

Para rishi meminta raja untuk bermeditasi pada Narayana memohon perlindungan dari bahaya. Setelah bermeditasi beberapa lama, sang raja melihat Matsya Avatara muncul. Tubuhnya satu juta mil (400.000 krosas) panjangnya, bersinar seperti emas, dan Dia memiliki tanduk di kepala-Nya. Sesuai instruksi, sang raja menggunakan Vasuki sebagai tali pengikat perahu dan mengikatnya pada tanduk lumba-lumba raksasa. Para rishii berkata, “Wahai raja jangan takut! Tuhan akan membantu kita dalam perjalanan berbahaya ini.” Mereka kemudian menyanyikan lagu-lagu pujian. Raja Satyavrata kemudian dilahirkan lagi sebagai Shraddadewa putra Surya dan menjadi Manu dalam Vaivasvata Manvantara.

Pada akhir kalpa sebelumnya Brahma mengantuk dan tidur. Pada waktu itu asura Hayagriva mencuri Veda dari mulut Brahma dan masuk ke dalam samudra pralaya. Sesaat Brahma bangun tidur di kalpa yang baru dan bertanya-tanya bagaimana dia akan melakukan tugas penciptaan tanpa adanya Veda. Brahma kemudian berlindung pada Vishnu, dan Vishnu dengan wujud seekor ikan raksasa membunuh Hayagriva dan menyelamatkan Veda dan memberikannya kepada Brahma.

 

Sapta Rishi dan Manu dalam Bhagavad Gita 10:6

Sapta atau 7 Resi di bawah para Maharesi adalah mewakili 7 jenis genetika awal. Di antaranya, kita baru menemukan 2 jenis sebagaimana diisyaratkan oleh Dr. Luigi dan rekan-rekannya. Barangkali lima lainnya sudah punah. Atau, barangkali sisa-sisanya ada di pedalaman mana, sehingga kita belum bisa menemukannya. Kemungkinan terakhir ini tetap ada.

KEEMPAT BELAS MANU adalah 14 ketua suku dan sub-suku awal di seluruh dunia. Kiranya jumlah ini masih bisa diidentifikasi;

  1. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Hindia;
  2. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Cina;
  3. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Mesir;
  4. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Arab pedalaman;
  5. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Yahudi;
  6. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Afrika;
  7. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Maya dan Native Indians lainnya di benua Amerika;
  8. Suku yang rnelahirkan bangsa-bangsa Yunani, Romawi, dan Eropa.

Lagi-lagi, masih ada 6 suku lainnya, yang barangkali sudah berasimilasi dengan 8 suku serta sub-suku yang tersisa — misalnya suku-suku asli aborigin di Australia, dan lain sebagainya.

Di antara kedelapan suku dan sub-suku yang terdeteksi ini pun, ada yang merupakan hasil asimilasi antara beberapa suku. Misalnya Yunani (Yavani, Jawa) dan Yahudi (Yadava) – dua-duanya berasal dari wilayah Hindia yang kemudian berasimilasi dengan penduduk pribumi/suku aborigin setempat.

Jika ditarik ke belakang, maka sumber dari semuanya adalah kehendak-Nya. Atas kehendak-Nya lah semua terjadi. Suku-suku dan bangsa-bangsa adalah bak bunga-bunga yang beragam dipertemukan di dalam Taman Sari Bumi ini atas kehendak Gusti Pangeran. Ia-lah asal-usul segalanya. Penjelasan Bhagavad Gita 10:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: