Kisah Kesabaran Ali dan Keangkuhan Adam #Masnawi

 

Kesabaran Ali

 

Dalam perang melawan para kafir—yaitu mereka yang menempatkan kehendak pribadi di atas Kehendak Ilahi, mereka yang menduakan Allah dengan cara menuhankan bayangan-Nya (dunia benda)—pada suatu ketika Ali mengalahkan salah seorang di antara mereka.

Siap untuk memenggal kepala lawannya itu, Ali mengeluarkan pedang clari sarungnya. Tiba-tiba Si Kafir meludahi wajah Ali. Saat itu juga, Ali mengembalikan pedangnya dalam sarung.

“Apa yang terjadi? Kenapa engkau mengurungkan niat untuk memenggal kepalaku?” tanya ksatria kafir itu.

Ali menjawab, ”Pedang ini, untuk melayani Allah. Bukan untuk melayani hawa napsu. Tadi, ketika aku menarik pedang, pikiranku masih jernih. Masih belum terbawa oleh hawa napsu, tetapi ketika engkau meludahi wajahku, aku sempat marah. Dan, aku tidak akan membunuhmu karena marah diludahi.”

“Hanya untuk sesaat…. Hanya untuk sesaat tadi, amarah hampir menguasai jiwaku. Tetapi sekarang aku sudah terbebaskan clari cengkeramannya. Aku sudah lolos dari api amarah. Aku melihat diriku dalam dirimu dan dirimu dalam diriku. Katakan, bagaimana Ali bisa membunuh Ali?”

“Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah memaafkanmu, sahabatku. Bertobatlah dan kembalilah ke jalan yang lurus. Ketahuilah bahwa Kasih Allah melebihi Kegusaran-Nya.”

Kemudian, Ali berbagi rasa dengan ksatria itu, “Pada suatu hari, Nabi memberitahu kepada salah seorang pembantu bahwa dia akan menyebabkan terjadinya pembunuhan atas diri saya. Pembantu itu langsung menghadap saya dan minta segera dibunuh. ‘Bunuhlah aku, Singa Allah, sebelum aku terlibat dalam perbuatan yang keji dan memilukan itu, biarlah aku mati..’—demikian katanya.”

“Aku menjawab, ‘Jika Tuhan sudah menentukan kematianku karena kamu, aku tidak akan menghindarinya. Lagipula, bagaimana aku dapat menghindarinya? Allah akan menggunakanmu untuk membunuhku. Engkau adalah alat yang akan Dia gunakan. Jangan, jangan menyesali Kehendak Ilahi, sebagaimana aku pun tidak menyesali-Nya.”

 

Sekarang, yang terjadi justru sebaliknya. Sedikit-sedikit, kita sudah siap membunuh dan dibunuh. Lalu, pembunuhan massal pun akan kita benarkan dengan menggunakan dalil-dalil dari Riwayat Sang Nabi.

Rumi menjelaskan, keterlibatan Nabi Muhammad dalam perang bukarn untula kepentingan pribadi, bukan untuk meraih keluasaan.

Keterlibatan Nabi dalam perang adalah untuk menghasilkan kedamaian. Nabi melakukan apa yang biasa dilakukan oleh seorang Tukang Kebun. Dia membersihkan ranting-ranting yang tidak berguna, sehingga tanamannya bisa tumbuh pesat, tanpa halangan.

 

Seorang dokter melakukan amputasi, melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien. Persis itu yang dilakukan oleh Nabi. Kelembutan dan Kasih Muhammad selalu disalahartikan. Tidak, dia tidak pernah berperang demi harta dan takhta.

 

Keangkuhan Adam

 

Ketika iblis dihukum oleh Allah, Adam menertawakan dia. Dia menjadi sombong. Maka, Allah memberikan peringatan, “Engkau belum tahu-menahu Rahasia-Ku. Jika Kukehendaki, iman sekuat apa pun dapat tergoyahkan. Dalam sekejap, ratusan Adam bisa merosot kesadarannya. Dan ratusan iblis bisa meningkat kcsadarannya.”

Adam merasa malu sekali dan menundukkan kepalanya, “Maafkan aku, Tuhanku. Aku tidak akan pernah menyombongkan diri lagi.”

Bantulah mereka yang jatuh. Jangan menertawakan mereka. Tidak perlu menyombongkan kepemilikanmu, hartamu, dan pengetahuanmu.

Kita semua terbuat dari darah dan daging. Dan kesadaran daging kita masih kuat sekali. Sesungguhnya kita semua masih berperilaku seperti iblis. Lalu, untuk apa menertawakan iblis?

 

Adam sudah sadar, sudah tidak angkuh lagi, tetapi anak-cucunya masih saja angkuh. Tepat sekali bahwa kisah ini mengakhiri penyelaman kita kali ini.

Sebelum memasuki Buku Kedua, kita memiliki waktu yang cukup panjang untuk melakukan introspeksi diri:

“Bisakah aku menemukan iblis di dalam diri? Mampukah aku mengajak dia untuk bertobat?”

Sekian dulu …….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: