Kesaksian Rishi Markandeya: Hyang Ada hanya Gusti tak ada Hyang Lain #SrimadBhagavatam

Berputarnya roda jagad raya ini disebabkan oleh ketiga sifat (rajas-agresif, tamas-malas dan satvik-tenang) tersebut. Krsna tidak menghendaki roda jagad berhenti berputar. Jika setiap orang mengenal-Nya, dan tidak terpengaruh, tidak terbingungkan oleh ketiga sifat alam benda tersebut, maka dunia ini tidak ada ceritanya lagi. Jagad raya tidak punya kisah lagi. Roda Sang Kala pun berhenti berputar.

Sebab itu, pengetahuan ini memang dimaksudkan bagi segelintir orang – supaya roda Sang Kala berputar dan sinetron Jagad Raya berjalan terus. Itu pun kehendak-Nya…..

Sisanya memang mesti hidup dalam maya –delusi, ilusi, kebingungan – persis seperti kebingungan, keinginan untuk mengetahui lanjutan cerita dari episode sinetron yang sedang ditonton; “Berlanjut …. Minggu depan, di channel yang sama waktu yang sama!”

Maya – Tirai Hijab, sebagaimana para sofie, atau sufi menyebutnya, membuat sinetron menarik bagi mayoritas. Mayoritas tidak tertarik dengan jabatan direktur, sutradara atau dalang. Mayoritas ingin menikmati sandiwara yang sudah siap saja. Mereka tidak mau dipusingkan oleh pekerjaan, tugas seorang sutradara. Kita berada di mana? Penjelasan Bhagavad Gita 7:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Rishi Markandeya meneruskan meditasinya di tepi sungai Puspabhadra dengan tekun setiap hari. Pada suatu hari, mendadak angin kencang bertiup yang berubah menjadi angin topan bersamaan dengan turunnya hujan yang sangat lebat. Bumi nampak tertelan oleh samudera. Ia menemukan dirinya terapung-apung diatas permukaan samudera. Ia merasa sakit, sedih dan menderita dan datang rasa takut mengalami kematian. Rishi Markandeya telah menaklukkan kematian, ia telah memahami kematian, akan tetapi rasa takut tetap saja menyelimutinya.

Mendadak Markandeya melihat Pohon Asvattha dikejauhan yang terlihat sangat indahnya. Dalam salah satu daunnya ia melihat seorang anak bayi yang sangat agung. Sang bayi memegang kakinya dan menempatkannya pada mulutnya seperti sedang mencium bunga teratai. Markandeya memperhatikan anak bayi tersebut dan segala rasa sakit, derita dan takut musnah.

Markandeya merasakan nafas anak tersebut menghisapnya dan dirinya masuk ke lubang hidungnya. Manakala Rishi Markandeya berada di dalam tubuh anak bayi tersebut, dia menemukan dunia seperti aslinya sebelum topan datang. Ia melihat surga dan langit bertaburan bintang, samudera dan pulau-pulau. Ia melihat para dewa dan para asura. Ia melihat Himalaya dan Sungai Puspabhadra.

Tiba-tiba ia dibuang oleh hembusan nafas sang anak dan menemukan dirinya berada di permukaan samudera lagi. Anak dan pohon Asvattha lenyap dan Markandeya  menemukan bahwa dia sedang berbaring di tempat tinggalnya.

Rishi Markandeya menjadi paham bahwa banjir besar, pralaya pun disebabkan oleh Gusti. Dirinya ternyata berada dalam diri Gusti, dan bahkan dunia pun berada dalam diri Gusti.

Di zaman modern ini, ibaratnya Gusti seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve, atau peristiwa-peristiwa di dunia  adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan Gusti sendiri.

Kesaksian Rishi Markandeya adalah Hyang Ada hanya Gusti, tak ada Gusti Lain. Selain Gusti yang lain tidak ada. Maya. Idam na mama. Bukan aku.

Mahadeva dan Parvati dan seluruh pengawalnya mendekati Rishi Markandeya dan memberkatinya. Markandeya segera menyampaikan penghormatan kepada mereka. Mahadeva kemudian berkata, “Karena bhaktimu terhadap Narayana, kamu sudah menerima siddhi di dalam segalanya. Kamu telah diberitahu Narayana tentang “Maya”-Nya. Kamu akan hidup abadi dan kamu akan terkenal sebagai Puranacharya. Manusia memperoleh manfaat dari cerita tentang Gusti Pengeran yang kamu ceritakan kepada mereka.” Mahadeva dan seluruh pengiringnya segera menghilang. Dan Rishi Markandeya menghabiskan seluruh waktunya berpikir berulang-ulang tentang pengalaman unik yang dialaminya, banjir besar dan anak yang berbaring dalam daun Asvattha………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: