Rishi Markandeya: Menghadapi Godaan Indrawi #SrimadBhagavatam

Kebahagiaan sejati adalah hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali. Penjelasan Bhagavad Gita 5:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Rishi Markandeya putra Markandu adalah seorang yang menguasai Veda dan juga pertapa yang sempurna. Pikirannya tenang dan terfokus pada Narayana. Sang rishi mengalami kebahagiaan sejati. Sang rishi paham bahwa kebahagiaan yang berasal dari indrawi tidak akan bertahan lama.

Dewa Indra meragukan kekuatan tapa sang rishi dan ingin mengganggunya. Ia mengirimkan rombongan penggoda yang terdiri dari para gandharva untuk menyanyi, para apsara untuk menari, dan Manmatha, dewa cinta sebagai pemimpin rombongan.

Markandeya sedang berada dalam keadaan meditasi dan apsara cantik Pujikastali menari di depannya. Manmatha memungut busur cintanya dan menunggu mata Markandeya terbuka dan kemudian dengan segera melepaskan panah asmaranya. Akan tetapi semua usaha Manmatha dan tim-nya sia-sia. Sang rishi tidak tergiur dengan kejelitaan Pujikastali yang sedang menari.

Mereka melarikan diri dengan penuh kengerian melihat mata Markandeya yang paham bahwa dirinya telah digoda. Mereka takut sang rishi mengutuk, dan mereka melarikan diri. Bagaimana pun Markandeya tidak mengutuk mereka, itulah salah satu sifat agung dalam diri sang rishi.

Selanjutnya Narayana datang dalam wujud Nara dan Narayana yang berkulit hitam dan putih.  Rishi Markandeya menghormati mereka dan berkata, “Gusti, meliputi alam semesta. Gusti adalah Brahma, Mahadeva, Vishnu dan juga Atman dalam diri manusia. Bentuk kembar ini telah Kau ambil untuk kepentingan dunia.”

Nara dan Narayana kemudian berkata, “Tapa dan bhaktimu kepada kami telah menjadikanmu seorang Siddha dan kami sangat terhibur olehmu. Mintalah apa pun dan aku akan mengabulkannya!”

Markandeya menjawab, “Dapatkah manusia mempunyai keinginan yang lain setelah menyaksikan-Mu? Bagaimana pun juga adalah tidak hormat menolak perintah Tuhan. Oleh karena itu hamba mohon diberitahu apakah “Maya” yang menyebabkan ketidaktahuan dalam pikiran manusia.

Nara dan Narayana tersenyum dan berkata, “Semoga demikian!” dan mereka lenyap.

Saatnya kita merenung, seandainya kita digoda bidadari cantik, apakah kita akan tahan? Atau bahkan kita yang akan menggoda bidadari tersebut. Tidak usah menunggu Manmatha, Kamadeva, Dewa Cinta membidik anak panah asmara, kita pun sudah klepek-klepek berduaan dengan bidadari. Bila demikian, memang kita masih berada dalam maya. Belum saatnya memahami maya seperti yang akan dialami Rishi Markandeya dalam kisah selanjutnya….

Silakan simak kisah lanjutan Rishi Markandeya pada kisah berikutnya: Kesaksian Rishi Markandeya: Alam Semesta Berada di dalam Gusti #SrimadBhagavatam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: