Archive for June, 2017

Raja Yayati: Kisah Cinta Putri Brahmana dan Putri Raja #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 30, 2017 by triwidodo

Apa yang terjadi ketika kita melihat bunga-bunga yang indah di taman. Mata telah menikmati keindahan itu – luar biasa, indah! Puji Tuhan Hyang Maha Indah, karena keindahan-Nya lah maka alam menjadi indah.

Jika kita berhenti di situ, maka tidak ada tindakan apa-apa. Indra mata telah berfungsi sesuai dengan sifatnya – melihat. Gugusan pikiran serta perasaan telah melaksanakan tugasnya pula dengan mengapresiasi keindahan. Perkara selesai. Ini adalah Skenario Pertama, sesuai dengan apa yang Krsna katakan, “Mata yang telah melihat keindahan itu sekarang akan mengejar keindahan di mana-mana. Gugusan pikiran serta perasaan yang telah menikmati dan mengapresiasi keindahan pun demikian. Dan, selama urusan mengejar adalah untuk menikmati dan mengapresiasi – maka tidak terjadi apa yang disebut karma atau tindakan.”

Tapi, ada Skenario Kedua – Setelah mengapresiasi keindahan bunga itu, kita bertindak untuk memetiknya, membawa pulang, dan menaruhnya di dalam vas bunga. Nah, di sini sudah terjadi tindakan. Sudah ada karma. Dan setiap karma, setiap tindakan ada konsekuensinya. Vas bunga yang Anda letakkan di ruang tidur pribadi Anda, di ruang keluarga, atau ruang tamu berdampak beda. Konsekuensinya lain, beda. Di ruang tidur pribadi, keindahan bunga akan diapresiasi oleh Anda, dan barangkali pasangan Anda. Di ruang keluarga, seluruh keluarga akan menikmatinya. Dan, di ruang tamu, bukan saja Anda, pasangan Anda, dan keluarga Anda – tapi para tamu pun ikut menikmatinya.

Masih ada Skenario Ketiga – bunga yang Anda petik itu dipersembahkan di kuil, di vihara, ditempat-tempat ibadah yang memiliki tradisi mempersembahkan bunga. Konsekuensinya beda lagi. Bunga yang Anda petik bukanlah untuk kepentingan diri, keluarga, dan para tamu Anda, tapi untuk dipersembahkan. Dalam hal ini, tindakan Anda menjadi sebuah yajna, offering, persembahan.

Sekarang jika kita simpulkan. Dalam skenario pertama tidak terjadi tindakan – tidak ada karma. Mata menikmati, meneruskan informasi kepada gugusan pikiran dan perasaan lewat otak – perkara selesai.tidak ada konsekuensi lain, selain kenikmatan, rasa senang. Indra mata mempunyai intelegensia sendiri. Pernahkah Anda perhatikan… Nah, sekarang bunga kita ganti dengan seorang pria tampan atau wanita cantik. Mata Anda secara alami memperhatikannya. Kemudian, gugusan pikiran serta perasaan malah intervensi. “Jangan begitu, nanti dianggap jelalatan.” Maka, kita pun cepat-cepat menoleh ke arah lain. Dalam keadaan seperti itu pun tidak terjadi karma. Dan, tidak ada konsekuensi karma.

Karma terjadi dalam skenario kedua dan ketiga. Karma terjadi ketika Anda mendekati si tampan atau si cantik. Menukar nomor telepon, saling berkenalan dan seterusnya. Dalam skenario kedua, Anda berhubungan dengannya. Atau malah memboyongnya ke rumah dengan mengawininya. Skenario ketiga dalam hal ini adalah menjalin persahabatan sejati, tanpa mengharapkan sesuatu. Beda lagi konsekuensinya. Penjelasan Bhagavad Gita 3:28 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Demi kejayaan Kerajaan Asura, Raja Vrsaparva mengajak Sarmishtha beserta seribu dayangnya mendatangi rumah Rishi Shukra. Sang raja berkata kepada Devayani, “Kekuatanku dan kekayaanku diperoleh atas bantuan Rishi Shukra. Asura yang mati dalam peperangan dihidupkan kembali oleh sang rishi sehingga asura mengalami kejayaan. Perintahkan kepadaku apa yang harus kulakukan agar Rishi Shukra tetap menjadi mahaguru kaum asura.”

Devayani meminta agar Sarmishtha beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Devayani dan mengikuti ke mana pun dia pergi. Ketika Sarmishtha ditanya ayahandanya mengenai kesanggupannya dalam  menjalani perintah Devayani, Sarmishtha berkata, “Sudah sewajarnya seseorang yang mendapat masalah harus mencari jalan keluar penyelesaiannya. Akan tetapi, pengorbanan ini dilakukan demi seorang raja yang kebetulan menjadi ayahnya dan juga demi rakyat di kerajaan ayahandanya. Saya patuh pada permintaan Devayani.” Sejak saat itu Sarmishtha dan seribu dayangnya menjadi pelayan Devayani.

Ketika Raja Yayati sedang berburu lagi, dia bertemu kembali dengan Devayani diiringi seorang gadis cantik yang bernama Sarmishtha beserta seribu dayangnya. Rishi Shukra yang hadir di tempat itu mengizinkan sang raja mengawini Devayani, akan tetapi berpesan agar tidak mengawini Sarmishtha.

Dan, Devayani akhirnya menjadi istri Raja Yayati dan tinggal di istana. Sarmishtha beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Devayani di istana.

Di halaman istana yang luas Sarmishtha dan seribu dayangnya melayani Devayani yang telah menjadi istri Raja Yayati.

Pada suatu hari kebetulan sang raja bertemu dengan  Sarmishtha di halaman belakang istana. Dan, Sarmishtha pun piawai dalam menarik perhatian sang raja dengan menceritakan kejadian yang menimpanya. Bahwa sebetulnya Devayani yang duluan mengambil pakaian dan keliru memakai pakaiannya. Kemudian Sarmishtha menceritakan bahwa Ayahandanya minta maaf kepada Rishi Shukra dan Devayani. Devayani kemudian meminta dia beserta dayangnya menjadi pelayan ke manapun Devayani pergi. Hal tersebut dijalaninya dengan patuh demi raja yang menjadi ayahandanya dan seluruh rakyat asura. Sang raja mendengarkan dan memperhatikan Sarmishtha yang cantik bercerita……

Raja Yayati terpesona oleh gaya cerita Sarmishtha. Terketuk oleh kebesaran jiwa Sarmishtha, dirinya mengajak Sarmishtha kawin secara gandharva. Pernikahan gandharva adalah tradisi pernikahan para ksatria zaman dahulu yang berdasarkan suka sama suka antara seorang pria dan seorang wanita, tanpa ritual, dan tanpa saksi. Akhirnya, terjadilah perkawinan gandharva antara Raja Yayati dengan Sarmishtha, putri Raja Varsaparva. Dari Devayani lahirlah dua putra: Yadu dan Turvasu. Dan dari Sarmishtha lahirlah tiga putra: Druhyu, Anu, dan Puru.

Advertisements

Devayani: Ego Putri Rishi vs Ego Putri Raja #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 29, 2017 by triwidodo

KONFLIK ADALAH HASIL DARI SALAH IDENTIFIKASI. Ketika kita memercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” tanpa memiliki atau menguasai sesuatu — maka, kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri — karena sesungguhnya Jiwa bebas adanya, ia tidak mau terikat — tapi ia terpengaruh oleh keinginan-keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan “tidak” terhadap kekuasaan ego.

…………….

Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena “setiap” Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama.

Dalam Alam Ego, kita beragam, berbeda – Walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda. Wajah Anda tidak sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara pikir kita beda. Perasaan kita beda! Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: “Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…”

……………

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaraan kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan sebagainya.

Sesungguhnya, pembangkitan diri yang dimaksud  ialah meninggalkan alam ego dan kembali pada Alam Jiwa, yang merupakan habitat kita yang sebenarnya. Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 6:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Rishi Shukra adalah Guru dari Raja Asura, Vrsaparva. Devayani, putri Rishi Shukra, berteman dengan Sarmishtha, putri Raja Vrsaparva. Kisah ini adalah perjalanan ego yang terbentuk karena putri rishi yang berpengaruh dan putri raja yang berkuasa berkembang menjadi ego yang meluas.

Yang memiliki jabatan dan kekuasaan adalah orang tua mereka akan tetapi ego mereka terbentuk karena mereka adalah putri-putri orang yang berkuasa. Saatnya merenung, apakah ego kita juga terbentuk dengan kepemilikan dan kesuksesan kita di dunia?

Pada suatu hari Devayani, Sarmishtha dengan beberapa temannya mandi di sungai. Mendadak angin besar bertiup yang membuat pakaian mereka mulai terbang. Para gadis segera naik ke pinggir sungai mengejar pakaiannya dan segera pulang sambil berlari. Tanpa sadar Devayani bertukar baju dengan Sarmishtha.

Kemudian terjadilah keributan, Devayani menganggap Sarmishtha tidak sopan karena seorang asura berani memakai pakaian putri seorang brahmana. Padahal sang brahmana, Rishi Shukra adalah Guru dari raja asura. Karena dibimbing Rishi Shukralah  maka kaum asura menjadi jaya. Sarmishtha tidak menerima Devayani menghina ayahandanya dengan mengatakan bahwa bagaimanapun juga, ayahnyalah yang memberi makan sang rishi, sehingga sang rishi dapat diibaratkan sebagai seorang pengemis. Mereka beradu mulut, dan karena angin bertambah besar Sarmishtha berlari duluan pulang, sedangkan Devayani yang berlari dalam marah, kemudian  terperosok masuk ke dalam sumur. Devayani menjadi putus asa, tidak dapat ke luar sumur yang sebenarnya tidak begitu dalam.

Pada hari itu Raja Yayati putra Raja Nahusha sedang berburu. Dan, tanpa sadar sang raja  mengendalikan kudanya menjauh dari rombongannya. Ketika sampai pada sebuah sumur, dia mendengar suara perempuan terisak-isak. Ditolongnya perempuan cantik tersebut yang memperkenalkan diri sebagai Devayani, putri Rishi Shukra. Devayani menjelaskan kejadian yang menimpanya. Ketika sang raja mau pergi, Devayani menangis. Devayani mengatakan bahwa dia adalah seorang perawan dan sang raja telah menolongnya keluar sumur dengan memegang tangan kanannya. Sudah seharusnya sang raja menjadi suaminya.

Raja Yayati bingung, Rishi Shukra adalah seorang mahaguru yang dihormati tiga dunia. Raja asura, Vrsaparva, raja manusia, dirinya dan raja deva Indra menghormati Rishi Shukra. Sang raja berkata bahwa dia tidak berani menjadi suami Devayani sebelum Rishi Shukra mengizinkannya. Pada zaman itu putri brahmana lebih tinggi statusnya dari ksatria. Sang Raja takut apabila Rishi Shukra tidak berkenan.

Ketika Sarmishtha melaporkan kejadian keributan antara dirinya dengan Devayani kepada ayahnya, sang raja khawatir Rishi Shukra tidak akan berkenan menjadi guru para asura lagi. Sudah beberapa waktu sang rishi tidak hadir di istana. Selama ini sewaktu terjadi peperangan apabila pasukan asura terbunuh, akan dihidupkan lagi oleh Rishi Shukra yang mempunyai mantra Sanjeevani. Juga pemerintahan kerajaaan asura dapat berjalan lancar karena nasihat-nasihat dari Rishi Shukra, sang guru. Sang raja mendengar bahwa Rishi Shukra akan ke istana, tetapi sang putri mencegahnya, pilih sang putri atau sang raja yang putrinya menghinanya. Seorang guru bijak pun dikisahkan cukup galau karena keterikatannya dengan sang putri terkasihnya yang belum dewasa cara berpikirnya.

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya:

Nahusha: Kutukan Agastya Berakhir Berkat Kebijaksaaan Yudhisthira #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 28, 2017 by triwidodo

Pada suatu ketika Brahma bertanya Kepada Resi Narada, hal apa yang paling menakjubkan yang ia lihat di bumi. Narada menjawab, hal yang paling menakjubkan yang aku lihat adalah: orang yang sekarat sedang menangisi yang sudah mati. Mereka yang setiap saat sedang mendekati kematian, sedang menangisi mereka yang sudah mati. Seakan-akan tangisan mereka akan menghidupkan kembali yang sudah mati ataupun mencegah kematian mereka sendiri.

Sri Sathya Sai Baba: “Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian?” dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Pada suatu hari, di zaman Dvapara Yuga, saat Pandava berada dalam pengasingan, mereka merasa sangat haus dan meminta Sadeva untuk mendapatkan air dari telaga di dekat tempat tersebut.

Ketika Sadeva tidak kembali maka satu per satu, Nakula, kemudian Arjuna, selanjutnya Bhima diminta Yudhisthira pergi mencari air sambil mencari saudaranya yang tidak kembali.

Akhirnya, Yudhisthira sendiri mengikuti jejak keempat saudaranya dan menemukan mereka tergeletak tewas di dekat telaga. Tiba-tiba, Yudhisthira mendengar suara Yaksha yang memperingatkan dia untuk tidak minum air dari telaga sebelum menjawab pertanyaan sang yaksha. Jika langsung minum dan tidak menjawab pertanyaannya lebih dahulu, maka ia pun akan mati seperti semua saudaranya. Yudhisthira setuju untuk menjawab pertanyaan sang yaksha.

Berikut adalah tanya-jawab antara Yaksha dengan Yudhisthira dari berbagai sumber.

  • Apa yang membuat matahari bersinar setiap hari?
    • Sumber Segala Cahaya yang disebut Brahman.
  • Apa yang menyelamatkan seseorang dari bahaya?
  • Mempelajari lmu pengetahuan apa agar manusia menjadi bijak?
    • Seorang manusia tidak memperoleh kebijaksanaan hanya dengan mempelajari shastra (ilmu kebijaksanaan), tetapi dengan bergaul dengan orang bijak.
  • Apakah ada yang lebih mulia dari bumi?
    • Para ibu yang melahirkan dan merawat anak-anaknya.
  • Apa yang lebih tinggi dari langit?
    • Sang ayah.
  • Apa yang lebih cepat daripada angin?
  • Apa yang lebih menderita dibandingkan jerami kering?
    • Sebuah hati yang sedih.
  • Siapakah teman perjalanan kita?
  • Siapa teman yang tinggal di rumah?
  • Siapa yang menyertai seorang manusia setelah kematian?
    • Dharma menyertai perjalanan jiwa setelah kematian.
  • Apa itu kebahagiaan?
    • Kebahagiaan adalah buah perilaku yang mulia (shreya).
  • Apa yang setelah dibuang membuat manusia dicintai oleh semua orang?
  • Apa yang membuat seseorang bersukacita kala kehilangan darinya?
  • Kehilangan apa yang membuat seorang manusia menjadi kaya?
  • Apa yang membuat seseorang menjadi Brahmana, dari kelahiran, perilaku mulia atau dari belajar?
    • Baik kelahiran maupun pembelajaran tidak membuat seseorang menjadi Brahmana, hanya perilaku yang mulia yang membuatnya menjadi Brahmana.
  • Apa keajaiban terbesar di dunia?
    • Keajaiban terbesar adalah bahwa meskipun manusia setiap saat melihat makhluk hidup mati, namun mereka masih memiliki anggapan untuk hidup selamanya.

Akhirnya, Sang Yaksha mengakui ketepatan jawaban Yudhisthira, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saudaranya. Kemudian Yudhisthira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali.

Sang Yaksha heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandungnya. Yudhisthira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudhisthira lahir dari Kunti, maka yang dipilih untuk hidup kembali harus putra yang lahir dari Madrim, yaitu Nakula.

Sang Yaksha terkesan pada keadilan Yudhisthira. Ia pun kemudian menghidupkan semua Pandava, karena Yudhisthira tidak hanya pandai bicara tentang kebijaksanaan tetapi juga melakoninya. Sang Yaksha kembali ke wujud aslinya yaitu Nahusha, dan kembali ke surga. Kutukan Rishi Agastya berakhir akibat anak keturunan bijak. Nahusha bangga menyaksikan anak keturunannya yang sangat bijak seperti Yudhisthira. Bahkan kutukan atau hukuman sebab-akibat masa lalu pun setelah dijalani beberapa masa berakhir saat menyaksikan kebijaksanaan Yudhisthira.

Parikshit tertegun mendengar kisah-kisah yang diceritakan oleh Rishi Suka kepadanya. Bhagavan Vyaasa, kakek dari Pandava, memang luar biasa. Parikshit sebagai cucu Pandava merasa sangat bersyukur atas karunia Gusti Hyang Maha Kuasa, sehingga dia mendapatkan kesempatan mendengarkan kisah-kisah ilahi ini.

Sebuah kisah yang penuh hikmah pelajaran yang dapat meningkatkan semangat untuk meningkatkan kesadaran, semangat untuk melakoni bhakti, melakukan persembahan kepada Gusti Hyang Maha Kuasa sepanjang waktu sampai jangka waktu hidupnya di dunia selesai.

Nahusha: Terpeleset Karena Mabuk Kekuasaan #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on June 26, 2017 by triwidodo

Berhati-hatilah dengan dunia. Berdayakan dirimu, sehingga para perampok tidak akan mendatangi dirimu. Interaksi antara panca indera dengan dunia benda, dan objek-objek duniawi, menimbulkan stimuli-stimuli dalam diri Anda. Lalu Anda tergoda dan terpeleset. Apabila itu yang terjadi, sesungguhnya Anda kena todong, kena rampok. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pururava mempunyai putra bernama Ayu. Dan Nahusha adalah putra Ayu yang menggantikan tahta sebagai raja. Nahusha adalah seorang raja yang baik dan bijaksana. Kekayaannya tak terukur dan wilayah kekuasaanya sangat luas. Nahusha melakukan beberapa yajna dan sudah dianggap setara dengan Indra.

Pada saat Indra membunuh brahmana asura Vishvarupa yang pernah membantu para dewa, hanya karena dalam pemujaannya mendahulukan asura daripada dewa, maka Indra telah melakukan Brahmahatya, pembunuhan brahmana. Dikisahkan, Indra berbagi akibat kesalahan membunuh seorang brahmana kepada tanah, air, pohon, dan wanita. Karena itu sebagian tanah menjadi gurun, sebagian pohon mengeluarkan getah yang dilarang diminum, sebagian air saat menjadi gelembung tidak dapat dimanfaatkan, dan wanita tak tersentuh saat periode datang bulannya.

Selanjutnya, pada saat Indra membunuh Vritra seorang brahmana asura titisan dari Raja Chitraketu yang berjiwa besar, maka kesalahan Indra sangat besar. Bumi tidak lagi sanggup menanggung kesalahan Indra seperti kala membunuh Vishvarupa. Dikisahkan bahwa Brahmahatya seakan-akan mengejar-ngejar Indra untuk membalas dendam dan Indra sangat menderita karena perasaan tersebut. Indra melarikan diri dan masuk Danau Manasa yang dijaga oleh Lakhsmi dan Brahmahatya tidak bisa mendekati danau tersebut.

Selama seribu tahun Indra berlindung di danau Manasa dan melakukan tapa. Setelah melakukan tapa penebusan dosa selama seribu tahun, Indra akhirnya dibersihkan dari Brahmahatya dan dipanggil ke surga oleh Brahma. Selama ketidakhadiran Indra, Raja Nahusha telah diminta para dewa untuk memerintah para dewa di surga sebagai pengganti Indra.

Dengan  berjalannya waktu, Nahusha menjadi angkuh. Ia menyimpang dari kebenaran karena mulai mabuk dengan kekuasaan. Selama Nahusha menjadi pengganti Indra dia dihormati dan pergi ke mana pun selalu memakai tandu yang dipanggul para rishi. Dan, Nahusha lupa bahwa para rishi menghormati statusnya sebagai pejabat sementara Raja Dewa. Nahusa mabuk kekuasaan. Bahkan dia mulai berkeinginan mengambil Saci, istri Indra sebagai istrinya. Dia menyuruh para rishi memanggul tandu menuju tempat Saci. Nahusha tidak sabar dengan jalannya para rishi dia berkata, “Lebih cepat, lebih cepat, Sarpa, Sarpa!”

Rishi Agastya mengetahui apa yang ada dalam pikiran Nahusha, dan segera menghentikan tandu dan berkata. “Kamu tidak mengetahui apa yang sedang kamu katakan dan apa yang akan kamu lakukan. Kamu akan menjadi sarpa, bukan sarpa yang dapat bergerak untuk mendapatkan makanannya. Akan tetapi, kamu akan menjadi ular sanca yang harus menunggu makanannya datang. Kamu akan berada di Hutan Dwaitavana, hutan dualitas selama ribuan tahun!”

Ketika dikutuk Rishi Agastya, Nahusha dibersihkan dari keangkuhannya. Dan, kemudian dengan kerendahan hati Nahusha berkata, “Aku layak mendapat hukuman yang lebih buruk. Mohon berkahi diriku!”

Rishi Agastya sadar bahwa semuanya harus terjadi, dia hanyalah “Alat” dari Gusti Yang Maha Kuasa. Rishi Agastya berkata, “Kutukan tidak dapat ditarik. Kamu akan lepas dari kutukan pada zaman Dvapara Yuga. Dalam garis keturunanmu akan ada ksatria agung bernama Yudhisthira. Ia merupakan “amsa” dari Dharma. Ia akan melepaskanmu dari kutukan dan pikiranmu menjadi jernih kembali. Dan, kamu akan kembali ke surga.

Rishi Agastya, seorang chiranjivin, yang dikaruniai usia panjang, dikenal di tanah air sebagai Semar, seorang Prajapati, Pengurus Alam Semesta anggota Sapta Rishi.

Vishvamitra: Tekad Berjuang menuju Brahmarishi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 25, 2017 by triwidodo

Tergoda oleh Bidadari Menaka

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

…………….

Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanita, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah bebas dan berada dalam wilayah aman. Kita semua masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri.

Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya. retrievable files purva samskara hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dewa Indra yang takut pada kesaktian Kaushika yang semakin keras bertapa, mengutus bidadari Menaka, untuk menggoda. Kaushika tergoda dan hidup bersama Menaka selama 5 tahun dan lahirlah Shakuntala yang nantinya menjadi ibu dari Bharata, nenek moyang Pandawa dan Hastina.

Walaupun sudah lama bertapa, Rishi Kaushika masih terpicu juga dengan kejelitaan bidadari Menaka. Masih ada purva samskara, kesan-kesan masa lalu sang rishi yang bisa terpicu.

Sebetulnya dengan datangnya Bidadari Menaka, Keberadaan mengajari kelembutan terhadap Kaushika.

Wanita tidak lemah, tetapi lembut. Seperti kelembutan bunga. Bagaimana Anda menangani sekuntum bunga? Dengan cara yang sama pula Anda harus menangani seorang wanita. Sesungguhnya, dia memberi Anda kesempatan untuk menjadi “lebih” lembut. Hubungan Anda dengan seorang wanita, entah dia pasangan Anda, ibu Anda, saudara Anda, kekasih Anda atau siapa pun dia, merupakan Rahmat Allah. Lewat hubungan itu, Allah sedang “melembutkan” jiwa Anda. Lewat hubungan dengan wanita-wanita di sekitar Anda, Allah sedang mengguyuri jiwa Anda, menyirami jiwa Anda dengan Air Kasih. Dengan kelembutan kasih. Allah sedang mengangkat derajat Anda. Allah sedang meningkatkan kesadaran Anda. (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Puasa Bicara

Ucapan ibarat napas yang dihembuskan di depan cermin. Sebersih-bersihnya cermin itu untuk sesaat akan berkabut, sehingga wajah kita tidak akan terlihat jelas. Lalu, jika Anda sudah mendengarkan suara hati nurani dan sudah tidak mengabaikannya lagi, jangan berisik. Jangan pamer. Jangan cepat-cepat menganggap diri Anda hebat.

Belajarlah untuk menyimpan rahasia. Diam-diam saja. Karena, setiap kata,setiap ucapan akan menciptakan “kabut keangkuhan”. Dan ‘cermin kesadaran’ pun akan berkabut kembali. Anda tidak akan bisa melihat wajah Anda yang sebenarnya, yang hakiki. Anda tidak akan bisa menemukan jati diri. Hindari kata-kata. Hindari banyak bicara. Seorang penyelam meditasi tahu persis apa yang dimaksudkan oleh sang maulana. Dia menyadari bahaya yang disebabkan oleh banyak bicara. (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Setelah mendapatkan pelajaran kelembutan, Kaushika kembali meneruskan bertapa selama 1.000 tahun. Takut tersaingi Kaushika, Indra kembali mengutus bidadari Rambha untuk menggoda, tetapi kali ini Kaushika tidak tergoda, bahkan mengutuk Rambha untuk hidup sebagai manusia selama 1.000 tahun di dunia.

Dengan perenungan selama 1.000 tahun, Kaushika sudah tidak tergoda oleh bidadari lagi. Akan tetapi, tiba-tiba kesadaran Kaushika muncul, bahwa dia belum bisa mengendalikan diri dan masih sering mengutuk. Padahal dia sudah belajar kelembutan dari Menaka sebelumnya. Potensi kekerasan masih ada dalam dirinya.

Selanjutnya Kaushika segera meneruskan tapanya dengan membisu. Tak mau bicara dengan siapa pun. Bukan hanya diam agar tidak menyakiti orang lain, Kaushika pun diam agar tidak ada keangkuhan dalam dirinya untuk memperlihatkan kelebihannya.

Para dewa menghormati semangat tak kenal lelah Kaushika dan memberinya gelar Brahmarishi kepadanya. Akan tetapi, hal tersebut belum memuaskannya, dia hanya mau menyudahi tapanya bila Rishi Vasishtha mengakui dirinya adalah seorang rishi.

Dengan sabar Rishi Vasishtha mendatangi Kaushika dan mengakui Kaushika sebagai rishi yang bergelar Rishi Vishvamitra, Sahabat Sahabat Alam Semesta. Rishi Vasishtha berkata, “Saat ini sudah kutunggu lama, akhirnya Rishi Vishvamitra menjadi mitraku sebagai Guru Sri Rama. Semoga kita diberkahi Sri Rama, Dia Yang Berada di Mana-Mana.”

Demikian perjalanan hidup seorang raja yang tak kenal lelah berupaya meningkatkan kesadaran, yang akhirnya menjadi Brahmarishi dan guru dari seorang avatara. Rishi Vishvamitra sejak zaman dulu sudah menjadi Guru dari Dinasti Surya, sejak Raja Trishanku, Harischandra putra Trishanku, Rohita putra Harischandra dan setelah beberapa generasi akhirnya menjadi guru Sri Rama, seorang avatara. Dan setelah perkawinan Sri Rama dengan Sita, tugasnya selesai dan dia pergi ke pegunungan Himalaya.

Vishvamitra: Keberanian Melawan Dewa #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 23, 2017 by triwidodo

Dalam kisah Kaushika disampaikan tentang kekuatan dirinya akibat bertapa, berikut penjelasan tentang Siddhi atau kekuatan-kekuatan metafisik dalam buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Siddhi adalah kekuatan-kekuatan metafisik atau suprasensorik,

yang bisa Anda peroleh dengan menjalankan disiplin tertentu. Kekuatan-kekuatan yang dimaksud adalah:

  1. Anima: Kekuatan untuk memperkecil tubuh sampai seukuran atom
  2. Mahima: Kekuatan untuk memperbesar tubuh sampai ukuran yang tak terbatas
  3. Garima: Kekuatan untuk menjadi berat tanpa batas
  4. Laghima: Kekuatan untuk menjadi ringan tanpa batas
  5. Prapti: Kekuatan untuk mengakses semua tempat
  6. Prakamya: Kekuatan untuk mewujudkan semua keinginan
  7. Istiva: Kekuatan untuk memiliki apa saja
  8. Vasitva: Kemampuan untuk menaklukkan segalanya

 

Dari sudut pandang psikologis, hal-hal tersebut di atas adalah puncak pencapaian kehidupan manusia:

  1. Anima adalah kemampuan untuk merelakan
  2. Mahima adalah kemampuan untuk memperluas kesadaran
  3. Garima adalah kemampuan untuk membulatkan tekad
  4. Laghima adalah kemampuan beradaptasi
  5. Prapti adalah kemampuan untuk memahami ilmu-ilmu duniawi
  6. Prakamya adalah kemampuan untuk mengetahui sifat keinginan
  7. Isitva adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang baik bagi Anda
  8. Vasitva adalah kemampuan untuk mengendalikan indera-indera Anda

 

Bagaimana kita memperoleh kemampuan-kemampuan tersebut?

  • Lepaskan segala emosi yang tidak diperlukan, pikiran yang menganggu, kekhawatiran, kegundahan, serta ingatan-ingatan yang penuh kepedihan.
  • Kembangkan pemahaman yang holistik terhadap hidup. Keluarlah dari cangkang Anda, lihatlah sekeliling. Hidup ini indah adanya. Anda indah adanya. Yang berlalu telah berlalu, Anda tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tidak ada gunanya bernostalgia terhadap masa lalu atau menyesali apa yang telah Anda perbuat. Lanjutkan perjalanan Anda! Dan, berhentilah mengkhawatirkan masa depan. Hiduplah dalam kekinian. Fokuslah pada apa yang Anda kerjakan, dan lakukan yang terbaik yang dapat Anda kerjakan. Masa depan Anda bergantung pada apa yang Anda lakukan hari ini, sekarang juga. Sesungguhnya Anda mampu membangun, merancang, dan membentuk masa depan Anda. Andalah pengendali hidup Anda sendiri. Tetaplah menjadi pengendali hidup Anda.
  • Ya, Anda bisa! Jangan ragukan kemampuan Anda untuk mencapai apa saja.
  • Hidup dan menghidupi. Berbagilah, pedulilah serta bekerjasamalah.
  • Anda terlahir dengan kemampuan untuk mengetahui dan mengembangkan semua jenis skill. Anda tidak lebih rendah dari siapa pun. Tingkatkan kemampuan Anda serta asahlah kemampuan Anda.
  • Kenali perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan. Anda bisa hidup tanpa keinginan, tetapi tidak tanpa kebutuhan. Ingatlah bahwa Keberlimpahan adalah nama lain bagi Ibu Pertiwi. Sang Bunda tidak akan pernah memisahkan Anda dari yang benar-benar Anda butuhkan.
  • Yang menyenangkan belum tentu memuliakan, maka, cari yang memuliakan bukan yang menyenangkan. Maka Anda tak akan pernah tersesat.
  • Perhatikanlah panca-indera Anda, organ-organ indera Anda serta kemelekatan mereka pada kenikmatan-kenikmatan semu. Banyak dari kemelakatan-kemelekatan tersebut yang berbahaya. Jangan biarkan mereka memperbudak Anda. Jadilah tuan bagi mereka.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan bahwa Raja Trishanku dari dinasti Surya ingin ke surga bersama raganya. Sang raja meminta Rishi Vasishtha mengabulkan permohonannya, tetapi dia ditolak. Ketika sang raja memohon kepada para putra Vasishtha, mereka bahkan mengutuknya menjadi seorang chandala, sehingga tak ada seorang pun yang mengenalinya, kemudian dia pergi mengembara dan tidak kembali lagi ke istana.

Dalam pengembaraannya, sang chandala bertemu dengan Kaushika yang sedang bertapa. Kaushika mengenali bahwa sang chandala adalah Raja Trishanku. Raja Trishanku berkata, “Sewaktu menjadi raja, aku selalu berbuat baik dan tak pernah menyimpang dari dharma, tetapi putra Vasishtha telah mengutukku, kami memohon pertolonganmu.”

Rishi Kaushika membantu Raja Trishanku, dan bahkan mengusahakan Raja Trishanku dapat naik ke surga bersama tubuhnya. Ketika Raja Trishanku naik ke surga dan dan ditolak Indra, Rishi Kaushika kemudian membuatkan surga khusus bagi Trishanku, dan para dewa terpaksa menyetujuinya karena takut kepada kesaktian Rishi Kaushika.

Pada suatu saat, Rishi Kaushika terketuk oleh pengorbanan Brahmana Ajigarta yang merelakan putranya menjadi persembahan Varuna, agar cucu Raja Trishanku yang menjadi putra mahkota selamat. Rishi Kausika kemudian memanggil seratus putranya agar ada salah satu yang sanggup berkorban menggantikan putra Ajigarta. Separuh putranya menolak dan beralasan mengapa putra seorang raja yang menjadi rishi menggantikan putra brahmanaa tak terkenal sebagai korban persembahan.

Kemudian kelimapuluh putranya dikutuk menjadi pengikut suku liar Nisadha, suku pemakan anjing, selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut bisa dimaknai, bahwa seorang putra yang tidak patuh dan tidak berbhakti kepada orang tuanya, akan lahir kembali selama beberapa kehidupan sebagai penjaga setia yang patuh kepada majikan, layaknya anjing yang patuh pada tuannya. Utangnya adalah kesetiaan mengabdi, sehingga karena tidak mengabdi kepada orang tua, maka dia harus mengabdi pada seorang majikan dalam beberapa generasi.

Demikian pula kala Rishi Kaushika sedang mengadakan upacara persembahan agar Raja Trishanku bisa naik ke surga, para putra Vasishtha datang melecehkannya, “Bagaimana bisa seorang bekas raja dapat menaikkan seorang chandala ke surga.”

Para putra Vasistha pun kemudian dikutuk  Kaushika menjadi pengikut suku liar Nisadha selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut dapat dimaknai, para brahmana (putra Vasishtha) yang membuat seorang raja (Trishanku) menjadi chandala, dan menyepelekan tapa seorang ksatria, maka dia pun harus merasakan bagaimana penderitaan seseorang  akibat perbuatannya dan bagaimana rasanya disepelekan masyarakat. Mereka yang suka mempersulit kehidupan orang lain harus segera sadar.

Rishi Vasishtha memang bijaksana dan tidak mempunyai keterikatan terhadap keluarga. Rishi Vasistha, tidak marah putra-putranya dikutuk, karena berpendapat sebuah kutukan hanya dapat terjadi karena adanya keselarasan dengan hukum sebab-akibat. Kesalahan masa lalu bisa saja memberikan akibat pada saat ini.

Kita berlu merenungkan tindakan Rishi Vasishtha, putra-putra kandung adalah para putra pada kehidupan saat ini. Sudah ribuan putra dalam ribuan kehidupan dimiliki dalam kehidupan sebelumnya. Putra sejati seorang Guru adalah para murid, yang ingin meningkatkan kesadaran melalui dirinya sebagai seorang Guru.

Vishvamitra: Makna Tapa Kaushika #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 22, 2017 by triwidodo

Makna bertapa dalam kisah Srimad Bhagavatam dan konteks masa kini

Tapah, bertapa atau mendisiplinkan diri; Svadhyaya, mempelajari kitab-kitab suci, atau mempelajari Sifat Diri yang Sejati; dan Isvara Pranindhana,Penyerahan diri pada Isvara, Ilahi Hyang Menerangi Sanubari setiap makhluk—inilah Kriya Yoga, Yoga atau Disiplin dalam Laku atau Perbuatan. Yoga Sutra Patanjali II.1

Tapah, biasa diterjemahkan sebagai “tapa” dalam konteks “bertapa”. betul, istilah “tapa” dalam bahasa kita berasal dari tapah, namun pengertiannya bukanlah sekadar menjauhkan diri dari keramaian dunia, dan menyepi di hutan—lalu duduk manis bersila, memejamkan mata, dan tidak bergerak selama berjam-jam.

……………

Tapah bukanlah tujuan. Tapah adalah Pemanasan-Diri, warming-up, Laku-Awal untuk mempersiapkan diri.  Sebab itu, para Sophy atau Sufi mewajibkan setiap pemula, setiap novice untuk menyepi selama 40 hari. Setelah masa tersebut berakhir, barulah mereka diberikan pelajaran, dipandu. Masa Sepi atau Pemanasan-Diri itu penting untuk menguatkan niat dan tekad para pemula. Jika tidak mampu, silakan meninggalkan padepokan.

Tradisi mistisisme Kristiani mengenal berbagai macam retret. Dari yang singkat selama beberapa hari, hingga yang bersifat sepanjang usia, seperti yang dilakukan oleh para petapa Trappists.

Demikian, sesungguhnya Tapah dikenal dalam semua tradisi, semua ajaran Spiritual. Tujuannya pun sama, yaitu untuk pemanasan diri, untuk persiapan supaya seorang sadhaka, seorang seeker atau aspirant, seorang pelaku spiritual bisa “tahan banting”. Tanpa ‘pertahanan diri’ prima seperti itu, sadhana is simply not possible. Seseorang tak akan mampu melanjutkan disiplin diri hingga mencapai tujuan akhirnya, yaitu samadhi, pencerahan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Memperoleh Brahmastra dari Shiva

Pasukannya dikalahkan pasukan sapi Sabala milik Rishi Vasishtha, Raja Kaushika merasa sangat malu. Ternyata kekuatan seorang raja tidak dapat mengalahkan kekuatan seorang rishi. Raja Kaushika pulang ke istana menyerahkan singgasana kepada putra mahkotanya dan pergi bertapa.

Dengan tapa kerasnya, Shiva berkenan memberikan panah Brahmastra. Dengan panah tersebut, Kaushika kembali mendatangi ashram Rishi Vasishtha. Ashram tersebut dapat dihancurkan dengan panah Brahmastra. Kaushika berhadap-hadapan dengan Rishi Vasishtha yang membawa tongkat Brahmadanda.

Ternyata anak panah Brahmastra dari Kaushika terserap oleh tongkat Brahmadanda. Kembali Kaushika mengalami kekalahan dari Rishi Vasishtha.

Kaushika kembali bertapa selama ribuan tahun ingin menjadi rishi yang dapat menandingi Rishi Vasishtha.

 

Ber-tapah atau bertapa berarti bekerja keras, berkeringatan, tidak bersikap pasif. Keuletan, Kecekatan, Kepandaian dalam pengertian memiliki skill dan mengasah diri secara terus-menerus, semua ini adalah tapah.

Arti harfiah dari kata tapah sebagaimana telah klta bahas adalah “berpanasan”—memanaskan-diri. Tidak malas, tidak sontoloyo, tidak pernah memberikan alasan, “Tunggu sebentar ya, saya tidak bisa didorong-dorong seperti itu. Saya makhluk luar angkasa, tidak terbiasa di-push, ditekan seperti itu.”

Jika kita tidak bisa, tidak mampu bekerja under great pressure—di bawah tekanan yang luar biasa—maka kita belum bisa ber-tapah, dan sebab itu pula kita belum bisa memasuki Yoga. Tiada Yoga tanpa tapah. Yoga bukanlah sesuatu untuk bermain-main.

Seandainya kita menghendaki keadaan yang adem-ayem saja, maka tapah bukanlah untuk kita, Yoga belum menjadi kebutuhan kita. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.32 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Merasa masih kalah dengan Rishi Vasishtha, Kaushika kembali melakukan tapa dan berkat kerja kerasnya memperoleh banyak siddhi, kekuatan alam. Dia dikenal sebagai Rishi Kaushika.

Silakan ikuti kisahnya lebih lanjut……