Sukanya: Pengorbanan Putri Jelita #SrimadBhagavatam

Perjalanan spiritual, menurut Swami, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari “kita” menuju “Dia” Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati. Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas.

Asato – maa Sadgamaya, Tamaso – ma Jyotirgamaya, Mrityor – maa Amritamgamaya. Perjalanan ini adalah dari asat, ketidakbenaran, saya memilih untuk menafsirkannya sebagai “kebenaran rendah”, menuju Kebenaran Sejati, sat; dari tamas atau kegelapan menuju terang Jyoti. Dan dari kematian atau mrityu menuju kehidupan Abadi, Amrita.

Makna yang terkandung dalam doa yang sangat penting ini adalah: Ya Tuhan, bimbinglah kami dari kegelapan khayalan, kebencian, dan ketidaksadaran yang mengerikan ini menuju Kehidupan Abadi, Kebenaran, Kasih, dan Kebijaksanaan. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Deva Surya adalah putra Rishi Kasyapa dengan Aditi. Putra Surya adalah Shraddhadeva yang merupakan kelahiran kembali dari Satyavrata yang selamat dari kalpa sebelumnya dan menjadi Manu dalam Vaivasvata Manvantara. Iksvaku adalah keturunan Shraddhadeva yang terkenal sebagai raja agung dari Dinasti Surya dan menjadi Vaivasvata Manu. Salah satu putra Manu adalah Raja Saryati yang terkenal sangat adil yang mempunyai putri bernama Sukanya.

Suatu ketika Raja bepergian ke hutan beserta rombongan pasukan dan Sukanya, sang putri turut serta.  Bagi sang raja, putrinya yang telah menjadi gadis tersebut dianggapnya masih sebagai anak-anak. Semua keluarga dan seluruh masyarakat mencintai sang putri yang sederhana dan selalu bertindak ramah terhadap siapa saja. Nampaknya, memang sang putri yang berusia 16 tahun itu masih senang bersenda-gurau.

Sesungguhnya, Putri Sukanya telah dewasa cara berpikirnya, karena genetika Dinasti Surya yang mengalir di tubuhnya. Putri Sukanya telah memahami pengetahuan sejati sejak kecil. Sang Putri telah paham bahwa perjalanan spiritual, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. selanjutnya adalah dari “kita” menuju “Dia”. Untuk itu diperlukan seorang Sadguru, Gusti yang mewujud untuk membimbingnya. Sang putri tahu diri bahwa ayahandanya terlalu sibuk untuk menjadi sadguru, guru pemandu bagi dirinya. Dia selalu berdoa agar bertemu dengan sadgurunya.

Adalah seorang Rishii bernama Chyavana yang bertapa dengan keras dan seluruh tubuhnya sudah tertutup lumpur dan dedaunan selama puluhan tahun. Dari jauh hanya nampak seperti gumpalan tanah dengan dua lubang di matanya. Matanya memancarkan api yang membuat gumpalan tanah tersebut mempunyai dua buah lubang. Sang putri bermain-main di sekeliling rombongan raja dan tertarik dengan gumpalan tanah dengan dua buah lubang tersebut. Diambilnya ranting dan ditusukkanlah ke dalam dua lubang tersebut.

Sang rishi yang tengah bermeditasi merasa terganggu dan segera seluruh rombongan sang raja menjadi lumpuh. Sang rishi kemudian bertanya siapa yang telah mengganggu meditasi-nya. Putri Sukanya lari kepada sang raja dan menceritakan kejadiannya.

Sang raja mohon maaf atas kesalahan sang putri dan paham bahwa meditasi yang telah dilakukan sang rsi selama puluhan tahun menjadi terganggu. Dan itu adalah sebuah pengorbanan yang sangat besar. Untuk itu sang raja menawarkan sang putri untuk dinikahkan dengan sang rishi untuk melayaninya.

Sukanya merasa bersalah, dan patuh terhadap keputusan ayahandanya. Sang putri juga sadar bahwa kepentingan negara lebih penting daripada keinginan pribadinya. Dia melihat bagaimana seluruh pasukan menjadi lumpuh saat Sang Rishi terganggu.

Akhirnya Putri Sukanya dinikahkan dengan Rishi Chyavana dan tinggal di hutan. Sukanya menjadi istri yang baik yang setia terhadap suaminya dan melayaninya dengan sebaik-baiknya. Baginya suaminya adalah wujud Gusti Narayana untuk membimbing dirinya, dan dalam waktu yang singkat kesadaran Sukanya meningkat. Sukanya melayani suaminya seperti Devahuti melayani Kardama. Nampaknya kejadian-kejadian di dunia ini seperti sebuah pengulangan saja, walau berbeda peran dan latar-panggungnya, terdapat benang merah persamaannya.

Silakan ikuti lanjutan Kisah Srimad Bhagavatam: Putri Sukanya: Temukan Gusti, Lainnya Akan Ditambahkan #SrimadBhagavatam

Suami Putri Sukanya muda dan amat sangat tampan?

Advertisements

One Response to “Sukanya: Pengorbanan Putri Jelita #SrimadBhagavatam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: