Ambarisa: Keangkuhan Seorang Rishi dan Perlindungan Senjata Gusti #SrimadBhagavatam

Keangkuhan Rishi Durvasa

“Terkendali oleh keangkuhan, kekerasan, kesombongan, nafsu, amarah dan sebagainya, mereka sesungguhnya melecehkan Aku yang bersemayam dalam diri mereka dan diri setiap orang.” Bhagavad Gita 16:18

Pelecehan terjadi, karena kita menaruh rasa iri terhadap orang lain, cemburu, atau menganggapnya lebih rendah. Semua ini muncul dari delusi bahwasanya “lain”-nya seseorang adalah sebuah realita. Padahal yang “lain” itu tidak ada – Sang Jiwa Agung, lewat percikan-percikan yang tak pernah terpisahkan dari-Nya sedang menerangi setiap makhluk. Sinar suci yang sama menerangi setiap orang.

Di tingkat wahana-badan, memang banyak jenis, beragam kendaraan. Sepintas, pengemudi setiap kendaraan pun tampak beda. Keturunan Cina jelas beda dari keturunan Afrika. Orang Asia tidak memiliki warna kulit yang sama seperti orang Eropa. Namun, aliran kehidupan, listrik Ilahi yang menghidupi setiap pengemudi adalah satu dan sama.

…………….

Menganggap rendah orang lain, meremehkan perannya, melecehkan dirinya — adalah sama dengan merendahkan, meremehkan, dan melecehkan Sang Jiwa Agung, yang atas kehendak-Nya, Pagelaran Kolosal ini sedang digelar. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ambarisa adalah seorang bhakta Narayana seperti halnya Nabhaka, ayahnya. Seluruh perbuatannya hanya merupakan pelayanan  terhadap semua wujud Gusti Pangeran. Pada suatu ketika, Rishi Vasistha, Asitha, dan Gautama membantu sang raja dalam upacara Ashvamedha di tepi sungai Sarasvati dan Narayana muncul memberi karunia kepada sang raja dengan senjata pribadinya, “Sudarsana Chakra”. Sudarsana Chakra adalah simbol dari Narayana berarti Raja Ambarisa telah mencapai kesadaran yang tertinggi.

Pada suatu ketika sesuai saran para rishi, sang raja dan istrinya melakukan “Devadashi Vrata”. Ia melakukan tapa brata selama satu tahun penuh. Pada bulan Kartika, raja mengakhiri vrata dengan berpuasa selama tiga hari. Sebelum melakukan puasa sang raja mandi di sungai dan memuja Gusti di hutan Madhuvana.

Pada saat itu muncul Rishi Durvasa, dan sang raja menghormatinya serta menawarkan persembahan makanan di istananya. Rishi Durvasa berterima kasih dan kemudian menyampaikan bahwa dia akan berendam di sungai dan baru keesokan harinya datang ke rumahnya. Rishi Durvasa berendam di sungai sambil mengucap mantra yang sangat panjang.

Beberapa saat kemudian sang raja berada dalam posisi yang sulit, beberapa saat lagi puasa Devadashi berakhir dan dia harus segera makan. Akan tetapi, makan mendahului seorang Brahmana yang diundang makan juga merupakan sesuatu yang melanggar etika. Sang raja minta pendapat para rishi kerajaan yang kemudian menganjurkan untuk minum beberapa tetes air dan beberapa keping daun “Tulasi” untuk memenuhi syarat berbuka puasa. Sang raja melakukan hal tersebut dan menunggu Rishi Durvasa datang ke rumahnya.

Rishi Durvasa selesai melakukan ritual berendam di sungai mendatangi istana sang raja. Rishi Durvasa tahu bahwa sang raja telah mendahului makan walau hanya dengan beberapa tetes air dan beberapa lembar daun Tulasi dan ini membuat dirinya tersinggung. Sang rishi berkata, “Kamu telah mabuk dengan kekuasaan dan kekayaan sehingga menjadi angkuh dan tidak menghormati seorang rishi. Aku akan memberi pelajaran kepada kamu!”

Dan sang rishi mencabut sebuah rambutnya dan menciptakan makhluk bernama Kirtya yang segera menyerang sang raja. Raja Ambarisa diam tak bergerak dan “Sudarsana Chakra” datang melindungi dan membakar makhluk tersebut.

 

Ego Keresian Rishi Durvasa

“Tiada dewa, malaikat, dan seorang resi pun mengetahui kesejatian wujud-Ku (tentang hakikat penjelmaan-Ku dalam wujud manusia); karena Akulah Sumber segala apa yang mereka miliki (segala pengetahuan dan kebijakan mereka).” Bhagavad Gita 10:2

Para resi adalah manusia seperti kita, mereka memiliki wahana badan. Jika mereka pun tidak dapat memahami kebenaran-Nya, maka alasannya, kemungkjnan besar ialah “ego keresian”. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Rishi Durvasa kagum sebentar atas kekuatan Raja Ambarisa, akan tetapi kemudian cemas karena “Sudarsana Chakra” mengejar dirinya. Rsi Durvasa berlari ke hutan namun senjata chakra tersebut selalu mengejarnya. Ia lari ke dalam gua di Gunung Meru, akan tetapi sang chakra selalu mengejarnya.

Akhirnya, sang rishi lari berlindung kepada Brahma yang berkata, “Aku adalah pembantu Gusti Pangeran dan aku tidak dapat mengendalikan senjata Gusti!”

Kemudian sang rishi berlari berlindung kepada Mahadewa yang berkata, “Datanglah kepada Narayana, sang pemilik senjata!”

Silakan ikuti kisah selanjutnya pada lanjutan kisah tentang Raja Ambarisa ini.

Advertisements

One Response to “Ambarisa: Keangkuhan Seorang Rishi dan Perlindungan Senjata Gusti #SrimadBhagavatam”

  1. Ni Made Adnyani Says:

    Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:
    Melecehkan orang lain, menganggap nya lebih rendah membuktikan bahwa kita belum cukup belajar tentang spiritual. Meskipun telah begitu banyak melakukan sadhana atau olah spiritual. So, be aware…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: