Ambarisa: Hukum Karma dan Pentingnya Taubat #SrimadBhagavatam

Hukum Sebab-Akibat bagi setiap orang

Hukum Sebab Akibat dan Reinkarnasi menjelaskan: “Setiap orang yang menderita adalah karena ulahnya sendiri; karena perbuatannya sendiri. Jika tidak dalam hidup ini, seperti seorang bayi yang lahir cacat, maka dalam kehidupan sebelumnya.” Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

Dalam kisah-kisah sebelumnya, seorang rishi mengutuk dan kutukannya selaras dengan hukum sebab-akibat dari orang yang dikutuknya. Jadi sorang rishi yang mengutuk adalah alat Gusti memberikan pelajaran hukum sebab-akibat kepada orang yang berhasil dikutuknya.

Kali ini dikisahkan tentang seorang rishi yang karena keangkuhannya, menganggap tindakan orang lain salah padahal orang tersebut tidak bersalah. Setiap tindakan membawa akibat. Dan tindakan sang rishi untuk menakut-nakuti mengakibatkan dirinya sendiri ditakut-takuti dikejar-kejar karma yang digambarkan sebagai senjata Chakra Sudarsana.

Rishi Durvasa kemudian menghadap Gusti Narayana dan berkata, “Wahai Gusti lindungilah kami dari senjata-Mu yang mengejar-ngejar diriku. Aku telah berbuat salah dengan Raja Ambarisa dan senjata-Mu mengejar diriku ke mana pun kami pergi!”

Narayana tersenyum dan berkata, “Durvasa, tidakkah kamu juga melihat bahwa aku pun sama seperti Brahma dan Mahadewa? Kamu tidak memahami diri-Ku. Aku bukan orang bebas. Aku mungkin mampu melakukan apa pun yang Aku kehendaki. Tetapi Aku adalah milik bhakta-Ku. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan memilih Aku sebagai sahabat mereka. Mereka meninggalkan segalanya untuk-Ku. Istri, rumah, anak, keinginan dan hidup mereka tinggalkan untuk-Ku. Mereka tidak memikirkan dunia dan tidak tergiur surga. Yang mereka harapkan hanya rahmat-Ku. Sebagai balasan, Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. mereka sudah menaklukkan Aku dengan cinta mereka. hinaan apa pun terhadap mereka adalah hinaan kepada-Ku.”

Narayana melanjutkan, “Durvasa, Ambarisa mengingat dan menyadari kehadiran-Ku setiap saat. Dia berserah diri penuh kepada-Ku, bahkan saat diserang Kirtya makhluk ciptaanmu, dia tak menghindar, dia telah pasrah sepenuhnya kepada-Ku, dia yakin pada kehendak-Ku dan bukan kehendaknya pribadi, sehingga senjata-Ku Sudarsana Chakra otomatis melindunginya. Durvasa, kamu pun juga bhakta-Ku, tetapi Aku tidak bisa meminta chakra ini untuk melepaskanmu. Aku minta kamu turun ke bumi minta maaf kepada Ambarisha. Barangkali Sudarsana Chakra mau mendengarkan permintaannya.”

Kita berbuat kesalahan terhadap seseorang dan kita merasa kita bisa minta ampun terhadap Gusti Pangeran atas kesalahaan kita. Dalam kisah ini Gusti Pangeran meminta kita mohon maaf terhadap orang yang bersangkutan. Permintaan maaf terhadap orang kita zalimi adalah wujud nyata kita telah bertaubat dan minta ampun kepada Gusti.

 

Taubatnya seorang rishi

Sebagaimana seorang presiden, seorang kepala negara, seorang raja memiliki hak prerogatif untuk memberi pengampunan total — demikian pula Tuhan. Ia memiliki hak prerogatif untuk menghapus segala macam dosa-dosa kita. Asal — lagi-lagi ini menurut pendapat saya, dan berdasarkan pengalaman saya pribadi – kita insaf, kita bertobat. Dan, tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama.

Bukan hanya keringanan, walaupun tidak sering terjadi – tetapi Tuhan bisa mengampuni kita secara total. Dalam hal ini, peranan Tuhan bisa dibandingkan dengan peranan Presiden suatu negara. Presiden mempunyai wewenang penuh untuk mengampuni seseorang, walau ia telah mengalami kekalahan dalam sidang-sidang pengadilan sebelumnya. Namun, harus ingat, Presiden hanya mengambil keputusan jika ia yakin orang yang bersalah itu benar-benar insaf, telah menyadari akan kesalahannya, tidak akan berbuat lagi. Sebelum mengambil keputusan, Bapak Presiden memperhatikan pula latar belakang dan hal lain-lain yang bersangkutan dengan orang itu. Kita bisa tersesat, begitu sadar akan kesalahan kita dan kita mohon kepada-Nya agar diampuni, Ia pasti mengarahkan kita kembali ke jalan yang benar Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

Rishi Durvasa kemudian datang kepada sang raja dan bersujud minta maaf atas kesalahannya dan mohon agar Sudarsana Chakra tidak mengejar dirinya lagi.

Raja Ambarisa sangat malu dengan tindakan sang rishi yang penuh hormat kepadanya, dan kemudian berdoa kepada sudarsana chakra, “Sudarsana, aku menghormat kepadamu. Engkau adalah Agni, Surya, Chandra dan semua bintang-bintang. Engkau adalah senjata yang disenangi Gusti Narayana yang adalah samudra kemurahan hati. Engkau menjadi sangat agung sehingga semua senjata tidak berdaya melawan kemuliaanmu. Aku minta padamu untuk memaafkan Bapa Rishi Durvasa.”

Sudarsana Chakra kemudian menjadi tenang dan tidak mengejar Rishi Durvasa lagi.

Sang rishi berterima kasih kepada sang raja dan mengetahui bahwa sang raja sangat menghormatinya.

Selama Rishi Durvasa dikejar Sudarsana Chakra, dia telah lari ke tiga dunia selama satu tahun. Dan selama satu tahun itu sang raja tidak makan sedikit pun, rupanya sang raja menunggu Rishi Durvasa yang diundang makan datang baru sang raja makan. Akhirnya, mereka makan bersama.

Advertisements

2 Responses to “Ambarisa: Hukum Karma dan Pentingnya Taubat #SrimadBhagavatam”

  1. Ni Made Adnyani Says:

    Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:
    Permohonan Maaf baru akan terjadi ketika kita melakukannya dengan tulis, disertai dengan usaha yang kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang Sama. Bisakah kita melakukan itu?

  2. Ni Made Adnyani Says:

    Terimakasih pak Triwidodo, Matur suksme. Salam rahayu 🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: