Puranjaya: Kisah Dewa Minta Bantuan Manusia #SrimadBhagavatam

Dewa adalah makhluk-makhluk yang tinggal dan hidup dalam cahaya. Ucapan serta perbuatan mereka tergerak oleh nurani. Mereka adalah makhluk-makhluk bersanubari. Mereka masih mampu mendengarkan suara hati. Dan, mereka dapat ditemukan di mana-mana. Tidak perlu mencari mereka di langit, di surga, di kahyangan. Banyak para dewa di antara kita. Banyak para dewa yang sengaja berada di tengah kita untuk memandu kita. Mereka tidak “datang” ke dunia karena urusan karma. Mereka “datang” untuk memandu Jiwa-Jiwa yang membutuhkan panduan mereka.

Para resi yang mampu “melihat” dan merasakan kehadiran mereka, walau berwujud seperti manusia biasa, menemukan cara termudah untuk mengetahui mereka dan memperoleh panduan bimbingan mereka. Cara tersebut adalah Mantra-Yoga. Dengan suara-suara tertentu, getaran-getaran tertentu – ditambah dengan kekuatan niat yang mulia, hati yang bersih – kita dapat mengadakan hubungan seluler, bahkan menciptakan hot-line dengan mereka.

Sebagian orang menganggap hubungan seperti ini sebagai bentuk kurang percaya pada Gusti Pangeran. “Kenapa mesti mengakses mereka? kenapa tidak berhubungan dengan Tuhan langsung. Kenapa mesti menduakan Tuhan?” Banyak pembantu di rumah orangtua kita, jika kita membutuhkan sesuatu yang dapat diperoleh dari pembantu, lewat pembantu – mestikah kita menyusahkan orangtua? Banyak pekerjaan, banyak tugas yang memang sudah dipercayakan kepada para pembantu. Mantra-Yoga hanyalah membuat kita mengakses para Dewa, para Pembantu, para Lightworkers – ada yang berwujud dan ada yang tidak – itu saja. Penjelasan Bhagavad Gita 10:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Manusia memang sering minta bantuan dewa untuk menyelesaikan persoalannya. Akan tetapi dalam kisah ini justru dewa yang meminta bantuan manusia.

Iksvaku adalah raja bumi keturunan Dinasti Surya. Dia mempunyai anak bernama Vikuksi dan Vikuksi mempunyai putra bernama Puranjaya.

Sekali waktu adan perang di antara para dewa dan asura. Para asura memenangkan peperangan dan bisa menguasai negeri para dewa. Para dewa kemudian memohon bantuan Vishnu, Sang Pemelihara Alam. Dan, Vishnu menyuruh para dewa minta pertolongan kepada Raja Manusia di bumi. Vishnu akan memberi kekuatan pada sang raja untuk memenangkan peperangan.

Para dewa kemudian minta menghadap Raja Puranjaya dan menyampaikan maksudnya. Puranjaya bersedia bertempur melawan para asura asalkan dia berada di atas pundak Dewa Indra. Dewa Indra sebagai raja para dewa tidak mempunyai pilihan lain, karena demikianlah pesan Vishnu untuk dapat mengalahkan para asura.

Indra kemudian mewujud sebagai banteng perkasa. Puranjaya naik di atas banteng dan berperang melawan para asura. Para asura melemparkan senjata ke arah Puranjaya. Puranjaya bermeditasi sebentar kemudian melepaskan ribuan panah terhadap para asura. Para asura kocar-kacir dan yang masih selamat melarikan diri. Negeri kembali dikuasai oleh para dewa.

Sejak saat itu Puranjana disebuut Indravahana, dia yang menjadikan Indra sebagai Vahana. Dan, dia juga disebut sebagai Kakutstha, yang memegang kuat pundak banteng. Dan anak keturunannya disebut Kakutstha.

Kisah tersebut sering dimaknai bahwa asura mewakili kehewanian dalam diri, Indra adalah pengendali panca indra, pikiran dan tubuh kita. Kekalahan Indra adalah ketidakseimbangan panca indra, pikiran dan tubuh manusia. Puranjaya adalah jiwa manusia yang merupakan percikan Gusti Pangeran. Jiwa bisa mengalahkan sifat kehewanian asalkan dia dapat mengendalikan indra dan tubuh manusia.

Dalam Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 disampaikan:

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam sernesta.

Tantangannya ialah ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seorang manusia yang mengidentifikasikan diri dengan alam benda, panca indra, pikiran dan tubuhnya akan mengalami penderitaan. Untuk itulah dia sering minta bantuan dewa untuk meningkatkan kesadarannya agar dapat bahagia. Sebaliknya seorang yang mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa yang merupakan percikan Jiwa Agung, Gusti Pangeran akan dapat menguasai panca indra, pikiran dan tubuhnya. Demikianlah seorang menjadi Puranjaya.

Serangan para asura, sifat kehewanian dalam diri bisa diatasi dengan ribuan anak panah Puranjaya. Sadhana, olah batin secara rutin akan membuat seseorang fokus pada Gusti dan sadar bahwa dirinya adalah Jiwa, Percikan Jiwa Agung, Gusti Pangeran dan nafsu kehewanian dapat ditaklukkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: