Harischandra: Janji Pribadi yang Memberatkan Negeri #SrimadBhagavatam

Dosa berarti kesalahan, kekhilafan. Biasanya jiwa yang ragu dan khilaf adalah jiwa yang kehilangan arah, maka tindakannya sudah pasti salah. Kekacauan pikiran menyebabkan tindakan yang salah, keliru dan tidak pada tempatnya.

Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita.

Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa. Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah ini mengenai pengorbanan para anak manusia demi kepentingan kerajaan dan rakyat banyak.

Trisanku adalah salah seorang raja dari Dinasti Surya. Putra Trisanku adalah Harischandra. Raja Harischandra mempunyai suatu masalah dan masalah tersebut hanya dapat terselesaikan apabila istrinya melahirkan seorang putra. Sang raja membuat perjanjian dengan Varuna, bahwa Varuna akan membantu sang raja mendapatkan seorang putra, tetapi setelah sang putra lahir, putra tersebut akan dipersembahkan kepada Varuna. Demikian kesepakatannya.

Sang raja menyesal telah membuat kesepakatan yang demikian. Seharusnya janji harus dengan penjaminan dirinya sendiri, bukan jaminan nyawa anaknya yang tidak tahu asal-muasal permasalahan. Anaknya bukan miliknya, anaknya adalah pribadi tersendiri. Juga dengan matinya sang anak, kerajaan akan kacau karena raja tidak punya putra mahkota pengganti.

Ketika Rohita, sang putra lahir, sang raja mohon tenggat waktu kepada Varuna agar acara ritual pengorbanan “Narameda”, pengorbanan menggunakan manusia sebagai persembahan, ditunda sambil menunggu sang bayi keluar giginya, agar persembahan bisa menjadi lebih sempurna.

Saat gigi sang bayi sudah tumbuh, dan Varuna datang menagih janji, kembali sang raja mohon penundaan karena salah satu giginya sedang tanggal dan menunggu tumbuh. Demikian berkali-kali, sampai suatu saat sang raja mohon pengorbanan ditunda sampai sang putra dapat memakai senjata, agar pengorbanan menjadi lebih sempurna saat putranya menjadi seorang ksatria remaja.

Penundaan tersebut dilakukan dengan harapan agar Rohita cepat menjadi dewasa dan memahami keadaannya. Ada rasa penyesalan yang dalam di hati sang raja, mengapa harus mengorbankan putranya yang tidak tahu apa-apa. Seandainya Rohita cepat memahami persoalan dan melarikan diri, maka dirinya siap menghadapi apa pun yang akan terjadi dengan sepenuh hati.

Pada suatu kali Rohita yang menjelang remaja sadar apa yang akan terjadi pada dirinya, dan dia melarikan diri ke hutan. Beberapa lama berada di hutan, pada suatu saat Rohita mendengar kabar bahwa ayahnya sakit parah karena ingkar janji kepada Varuna dan dia ingin kembali ke istana. Rohita berpikir lebih baik menyerahkan dirinya sebagai kurban daripada ayahandanya sakit berkepanjangan. Ketidaksehatan seorang raja akan mempengaruhi pemerintahannya dan akhirnya rakyat yang menderita. Rohita menyadari, ayahnya sengaja menunda penyerahan dirinya, agar dirinya cepat dewasa dan dapat melarikan diri. Akan tetapi, dia merasa hal tersebut tidak menyelesaikan masalah. Kini sebagai akibatnya, sang ayah yang mengalami sakit parah dan seluruh rakyat yang menanggungnya.

Sewaktu Rohita akan kembali ke istana, Dewa Indra datang dan mencegahnya, “Jangan terburu-buru pulang ke istana dan mati muda, ayahmu belum segera mati, para penasihatnya pun masih dapat menjalankan roda pemerintahan. Kamu memikirkan ayahmu atau rakyat kerajaan apa yang akan terjadi jika kau sebagai pengganti ayahandamu mati?” Rohita diminta melakukan tirtayatra, ziarah ke sungai-sungai suci selama satu tahun. Diharapkan dalam perjalanan tersebut dia dapat meningkatkan kesadaran dan memperoleh solusi.

Satu tahun berlalu, dan Rohita kembali mau pulang ke istana. Indra datang dan menyampaikan nasihat bahwa sang ayah masih dapat bertahan, lebih baik dirinya melanjutkan tirtayatra. Setiap kali mencapai satu tahun Rohita mau kembali ke istana, Indra selalu minta agar ber tirtayartra lagi. Lima tahun sudah Rohita ziarah ke sungai-sungai suci. Lima tahun yang membuat Rohita menjadi seorang ksatria yang lebih dewasa, spiritualitasnya meningkat, dan bahkan dia sudah dapat mengendalikan dirinya.

Dalam perjalanan kembali menuju istana, Rohita bertemu dengan Brahmana Ajigarta, istri dan ketiga anaknya yang masih remaja. Rohita menceritakan kondisi dirinya, bahwa dirinya adalah putra mahkota raja dan ayahnya, Harischandra sedang sakit dan dia segera ke istana memenuhi janjinya dengan Varuna.

Ajigarta terharu dan membicarakan hal tersebut dengan istri dan ketiga putranya. Ajigarta berkata kepada ketiga putranya, “Raja Hariscandra adalah raja yang bijaksana, dalam pemerintahannya seluruh rakyat berada dalam keadaan  sejahtera. Para brahmana diberi kesempatan luas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Raja harus sembuh, karena tanpa raja, seluruh rakyatnya akan menderita. Rohita sebagai satu-satunya putra mahkota juga harus tetap hidup agar peralihan kekuasaan terlaksana dengan baik. Putra-putraku, biarlah salah satu dari kalian berkorban demi negara menggantikan Rohita. Pengorbanan adalah mahkota para ksatria. Berkorban demi negara adalah dharmamu, kewajibanmu, tugasmu!”

Silakan ikuti kisah berikutnya tentang pengorbanan putra Brahmana Ajigarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: