Harischandra: Pengorbanan Remaja demi Negara dan Bangsa #SrimadBhagavatam

Pengorbanan Sunahsepa demi Kerajaan dan Rakyat Banyak

Perjuangan ini bukan untuk mereka yang menghitung laba rugi. Perjuangan ini adalah untuk mereka yang berani mewakafkan nyawa mereka bagi bangsa. Bila pengorbanan itu kau artikan sebagai kerugian, maka perjuangan ini bukanlah untukmu. Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya. (BUNG KARNO, HUT PROKLAMASI, 1956). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Win-win berarti kau menang, aku pun ikut menang. Prinsip pengorbanan lebih hebat daripada win-win, karena untuk memenangkan, kamu tak apa bila kau mesti berkorban. Semangat dan kerelaan untuk berkorban adalah penting. Walau semangat itu sendiri sudah cukup untuk memastikan bahwa pihak yang berkorban pun tidak pernah merugi, tidak pernah kalah. Pengorbanan itu sendiri adalah kemenangan. Ia berhasil menguasai nafsunya yang selalu ingin menang sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Rohita berterima kasih kepada keluarga Brahmana Ajigarta, dan tanpa menunggu siapa putra yang bersedia melakukan pengorbanan, dia berkata, “Bapa brahmana, ibu dan para putra, saya berterima kasih, hanya Gusti yang dapat membalas kebaikan budi kalian, walau bagaimana pun saya berjanji akan memberikan seratus ribu ekor sapi sebagai penghormatan atas pengorbanan tersebut.” Bagi brahmana miskin, janji pemberian itu amat sangat berharga yang tidak akan dapat dicapai walau dalam banyak kehidupan.

Terketuk oleh penjelasan ayahnya, Sunahsepa berkata kepada orang tuanya, “Ayah dan  ibu telah membesarkan diri kami semua sampai menjadi anak-anak remaja yang baik. Sudah waktunya aku membalas budi kebaikan kedua orang tua dan sekaligus mewakili rakyat membalas budi kebaikan raja. Aku tahu ayahanda cenderung mendidik kakak sulung agar dapat meneruskan tugas ayahanda. Sedangkan ibunda cenderung kepada adik bungsu yang dapat membuat ibu bahagia dalam menghadapi semua kesulitan hidup. Wahai putra raja, aku ikut dirimu ke istana.” Sebuah kearifan seorang remaja yang luar biasa yang belum tentu dimiliki para dewasa. Demi kesejahteraan negara, kesejahteraan masyarakat banyak, Sunahsepa berani mengorbankan dirinya.

 

Nasihat Rishi Vishvamitra

Rohita dan Sunahsepa meninggalkan Brahmana Ajigarta menuju istana. Dalam perjalanan, mereka singgah di tempat Rishi Vishvamitra. Bagaimanapun juga, sebagai seorang remaja, pikiran Sunahsepa masih sering bergolak. Akhirnya, dia mencurahkan semua perasaannya kepada Sang Rishi. Rishi Vishvamitra adalah sahabat Raja Trisanku, ayahanda Raja Harischandra (kisah Trisanku sendiri akan disampaikan kemudian saat kita sampai pada kisah Vishvamitra).

Sunahsepa melihat Sang Rishi tertegun dan beberapa saat kemudian mengumpulkan seratus orang putranya, “Aku terketuk tindakan Brahmana Ajigarta yang bersedia mengorbankan salah seorang dari tiga putranya bagi keselamatan negeri. Aku minta salah seorang dari kamu bersedia menggantikan Sunahsepa sebagai korban persembahan!”

Terjadi keributan dan separuh dari putra-putranya tidak mau dikorbankan dan berdalih, “Ayahanda, bagaimana mungkin seorang putra Rajarishi mempersembahkan nyawanya untuk menggantikan seorang anak remaja terlantar yang cengeng?”

Rishi Vishvamitra berkata, “Perilaku dan kata-kata kalian tak pantas diucapkan. Aku berharap kalian tersentuh dan bersedia mengorbankan diri demi kebaikan kalian sendiri. Mereka yang menentang ayahandanya tidak layak untuk dihormati. Seperti halnya putra Vasistha, kalian juga akan menjadi warga bangsa liar Nisadha selama seribu tahun.”

Setelah lima puluh putranya pergi, Sang Rishi berkata pada Sunahsepa, “Jangan takut dengan kutukan seorang rishi, kutukan tersebut memang harus terjadi sebagai akibat dari perbuatan seseorang di kehidupan masa lalu. Kutukan tersebut justru akan mempercepat penyelesaian utang sebab-akibat dan mempercepat perjalanan spiritualnya.

“Sunahsepa, kau harus menemani Rohita dan bersedia diikat pada tiang pancang pada acara Narameda. Kau akan disucikan dan sekarang hapalkan dua buah mantra “Varuna Japa”. Ketika kau diikat pada tonggak, nyanyikan terus kedua mantra ini. Semuanya tergantung peruntunganmu, tetapi yakinlah, siapa yang menanam akan memetik buahnya. Yakinlah terhadap hukum sebab-akibat. Bersegeralah dalam bertindak penuh kasih, memberi pertolongan kepada orang yang menderita kemalangan. Kalaupun kau mati, ini adalah mati yang terhormat, mati yang direstui bunda pertiwi, seluruh rakyat kerajaan menghormati kematianmu. Perbuatan luhurmu akan datang kembali padamu sebagai kebaikan pada kehidupan mendatang. Agar kau tidak takut menghadapi kematian, larutlah dalam mantra yang kuajarkan kepadamu.”

Sunahsepa terus-menerus membaca mantra dengan segenap perasaan selama acara ritual berlangsung. Sudah tidak ada lagi kekhawatiran dalam dirinya, mantra tersebut menenangkan hatinya. Tidak ada ketakutan lagi bahwa dirinya sedang diikat dalam tiang persembahan. Tanpa terasa kesadaran Sunahsepa meningkat, dia menjadi paham bahwa “jati diri”-nya tidak terpengaruh oleh kelahiran dan kematian. Fisiknya bisa saat ini atau kemudian mati tetapi bukan “jatidiri”-nya.

 

Varuna terkesan dengan mantra tersebut dan membebaskan Sunahsepa dari korban. Raja Hariscandra pun segera dimaafkan kesalahannya. Sang raja merasa keterikatannya kepada sang putra telah menyebabkan peristiwa menjadi berlarut-larut maka dia ingin belajar Brahmavidya kepada Rishi Vishvamitra yang dengan senang hati menyetujuinya. Rishi Vishvamitra juga kemudian mengangkat Sunahsepa sebagai putranya dan berkata kepada lima puluh putranya. “Sunahsepa kini salah satu dari kamu, dia termasuk Dinasti Bhargawa, keturunan Bhrigu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: