Hikayat Gangga 1: Sagara Raja Kebal Racun #SrimadBhagavatam

Raja Sagara dan para putranya

Asteya adalah salah satu di antara beberapa pedoman yang dititikberatkan pula oleh Krsna dalam Bhagavad Gita. Berniat jahat terhadap kepemilikan seseorang pun—yang biasa dikategorikan sebagai rasa iri atau cemburu—sesungguhnya adalah tindakan mencuri.

Rasa Iri dan Cemburu adalah benih-benih, yang ketika bertunas melahirkan para maling; para koruptor; orang-orang yang berrnoral bejat; mereka yang mengira dapat me-laundry dosa-dosa mereka dengan cara menyedekahkan sebagian dari penghasilan haram mereka.

Berwaspadalah selalu terhadap kekacauan pikiran serta perasaan. Janganlah sekali-kali terbawa oleh mereka. Penjarahan adalah penjarahan, pencurian adalah pencurian. Mau disembunyikan di balik pembungkus serapi atau seindah apa pun, setiap orang tetap harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Bahuka dari Dinasti Surya meninggal dan salah seorang istrinya akan ikut masuk tempat pembakaran mayat. Akan tetapi, sang istri dihentikan para rishi karena mereka mengetahui bahwa ia sedang hamil. Istri yang lain kemudian menjadi iri karena hanya dia yang hamil. Berarti hanya istri tersebut yang akan menurunkan seorang putra mahkota. Para istri Bahuka lainnya mencampur racun dalam makanan istri Bahuka yang sedang hamil tersebut. Harapan mereka gagal, sang anak tetap lahir dan menjadi putra mahkota. Dia dinamakan Sagara, dia yang kebal racun. Akhirnya Sagara menjadi raja.

Sagara mempunyai dua istri akan tetapi kedua-duanya belum mempunyai putra. Kemudian Sagara meninggalkan istana untuk bertapa. Maharishi Brigu senang dengan puasa sang raja dan berkata salah satu istri raja akan mempunyai satu putra yang akan meneruskan generasi raja. Sedangkan satu orang lagi akan mempunyai 60.000 putra perkasa.

Beberapa saat berlalu. Keshini melahirkan seorang anak laki-laki. Raja dan rakyatnya merasa sangat bahagia. Ada festival dan sukacita di setiap sudut dan sudut karena kelahiran pangeran. Anak itu, bernama Asamanja, tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan dan cerdas. Asamanja dicintai semua orang. Selalu saja ada ibu yang menggendong Asamanja, dan dia tumbuh tanpa pernah menyentuh tanah.

Setelah berminggu-minggu, Sumati juga punya anak. Dia sangat senang karena keinginannya juga terpenuhi. Enam puluh ribu anak terlahir untuknya. Pengaturan dibuat agar setiap anak dibesarkan oleh perawat yang terpisah.

Istana itu sekarang berdengung dengan suara berisik. Tidak mungkin mengendalikan keributan di sebuah rumah dengan dua anak. Lalu bagaimana dengan enam puluh ribu anak berlari, tertawa, bermain, berteriak pada saat bersamaan? Tapi ada kebahagiaan di tengah kebisingan seperti itu. Anak-anak tumbuh dalam disiplin. Mereka gagah berani dan tampan.

 

Upacara Yajna 100 Ashvamedha

Sebagai maharaja, Sagara melakukan ritual Ashvamedha, ritual menggunakan kuda diikuti pasukan lengkap. Para raja yang tidak berani mengganggu kuda tersebut berarti menyatakan tunduk kepada maharaja. Mereka yang berani mengganggu akan langsung diperangi pasukan raja tersebut. Sagara sudah berhasil mengadakan 99 kali ritual ashvamedha dan tinggal melakukan ritual yang terakhir.

Dewa Indra iri dan takut sebagai raja para dewa kalah pamor dengan raja manusia. Kuda yang dipakai sebagai ritual tersebut dicuri Dewa Indra dan diletakkan dalam gua tempat Rishi Kapila bertapa.

Para putra Sagara yang berjumlah 60.000 orang mencari jejak kuda dan akhirnya sampai ke gua Rishi Kapila. Para putra raja merasa sangat marah karena ada orang yang berani mencuri kuda ritual Ashvamedha. Mereka tersinggung, karena orang yang mencuri kuda tersebut berarti menantang maharaja.

Mereka berkata, “Lihat pencuri kuda ini, berpura-pura bertapa setelah mencuri kuda, mari kita bunuh dia beramai-ramai!” Dalam keadaan marah karena ada yang mengganggu acara ritual Ashvamedha, mereka tidak dapat melihat seorang Rishi Suci yang tidak tahu permasalahannya. Rishi Kapila yang terganggu tapanya, membuka mata dan sorotan mata sang rishi membuat 60.000 putra Sagara menjadi abu. Kemarahan yang tak dapat dikendalikan dari para putra raja membunuh mereka sendiri.

Raja Sagara sedih karena 60.000 putranya hilang tanpa bekas. Dan, upacara ashvamedha yang ke 100 belum terselesaikan.

Bagaimanakah kisah Asamanja, yang kala masih bayi tak pernah menyentuh tanah, karena selalu saja ada yang menggendongnya?

Asamanja mempunyai tabiat buruk, bahkan suka membunuh anak laki-laki dengan menenggelamkan dalam Sungai SarayU?

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: