Hikayat Gangga 2: Amsuman Putra Seorang Yogi #SrimadBhagavatam

Sebagian (di antara mereka yang mengalami kelahiran ulang seperti itu) mencapai Samadhi, Keseimbangan Diri atau Pencerahan berkat prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah diraihnya pada masa lalu, dan (upaya sungguh-sungguh pada masa kini) dengan penuh sraddha atau keyakinan; virya atau keberanian dan kekuatan; dan smrti, ingatan atau perhatian (terhadap tujuan Jiwa, yaitu Manunggal dengan Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.20

Berarti, hanya prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah kita raih pada masa lalu pun tidak cukup. Belum cukup. Mesti dibarengi upaya lanjutan pada masa kini. Dan upaya pada masa kini pun bukanlah upaya sembarang. Mesti upaya sungguh-sungguh dengan segenap energi, dengan penuh keyakinan, dan penuh perhatian.

Sraddha adalah keyakinan yang tak tergoyahkan. Sraddha bukan sekadar kepercayaan yang bisa berubah-ubah……… Sraddha, keyakinan, atau trust—bukan belief, yang adalah kepercayaan—terkait dengan Jiwa. Sebab itu, ia tak tergoyahkan. Karena Jiwa yang di-“yakini”-nya adalah langgeng, abadi.

Kepercayaan bisa mengalami pasang surut selaras dengan sifat materi, sifat kebendaan yang berubah terus. Keyakinan atau Sraddha tidak mengalami pasang surut karena selaras dengan sifat hakiki Jiwa, yang adalah percikan Jiwa Agung.

Kemudian Virya atau keberanlan dan kesungguhan upaya dengan segenap kekuatan, segenap energi. Virya bukan sekadar energi……………

Virya bukanlah keberanian asal hantam. Virya adalah keberanian yang bertanggung jawab, inteligen. Keberanian untuk membela kebenaran, kebajikan, keadilan, dan untuk meraih kesadaran diri sejati.

Tidaklah gampang melepaskan kesadaran jasmani yang sudah melekat lama. Tidaklah mudah melepaskan kenyamanan tubuh. Bukan main godaan dari alam benda, dari pemicu-pemicu yang sangat menggiurkan bagi indra, gugusan pikiran serta perasaan, dan sebagainya.

Terakhir, Smrti, ingatan berkesadaran, penuh attentiveness atau penuh perhatian. Jadi dalam konteks ini, Smrti bukan sekadar ingatan atau memori. Namun, ingatan atau memori yang terkait dengan kesadaran, dengan attentiveness atau perhatian. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Asamanja, putra Raja Sagara yang tinggal di istana tingkah lakunya tidak seperti putra raja lainnya. Sebenarnya dalam kehidupan sebelumnya, Asamanja adalah seorang Yogi akan tetapi karena kesalahan tindakannya dia lahir sebagai putra mahkota. Asamanja ingat (Smirti) masa lalunya sebagai Yogi, mempunyai Sraddha, keyakinan, memiliki Virya, keberanian dalam menuju tujuan hidupnya.

Asamanja berupaya sekuat tenaga agar semua orang membencinya, sehingga dia  dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya. Asamanja sudah mempunyai putra bernama Amsuman, akan tetapi tingkah lakunya tidak dipahami masyarakat. Beberapa anak laki-laki ditenggelamkannya di Sungai Sarayu sambil tertawa-tawa. Akhirnya Raja Sagara tidak dapat menahan kesabaran, dan demi rakyatnya, Asamanja diusir dari istana.

Sebelum pergi dari istana Asamanja menghidupkan kembali beberapa anak laki-laki yang ditenggelamkannya. Selanjutnya Asamanja meneruskan perjalanan hidupnya sebagai seorang Yogi.

Putra Asamanjasa bernama Amsuman. Amsuman menjadi andalan kakeknya, Raja Sagara. Amsuman kemudian melacak jejak ke 60.000 pamannya. Akhirnya, Ansuman bertemu Rishi Kapila beserta kuda dan tumpukan debu yang menggunung di dekatnya. Ansuman merasakan kedamaian di depan sang rishi dan segala kekacauan pikirannya tiba-tiba lenyap.

Ansuman kemudian sadar bahwa rishi di depannya adalah Rishi Kapila yang sangat bijak yang telah terkenal di seluruh dunia. “Wahai rishi, kami hanya dapat melihat hal-hal yang bersifat duniawi, objek-objek indera. Bapa Rishi adalah Gusti yang mewujud untuk membimbing manusia. Tolonglah kami untuk menemukan paman-paman kami!” Amsuman menangis dan jatuh di kaki Rishi Kapila.

Rishi Kapila berkata pelan, “Wahai anak muda, ambillah kuda kakekmu. Indra telah meninggalkan kuda tersebut ketika aku larut dalam  meditasi yoganidra. Para pamanmu mati karena terbakar oleh keangkuhan. Satu-satunya sarana yang dapat mensucikan mereka kembali adalah air sungai Gangga.”

Kapila Vasudeva putra Kardama dan Devahuti adalah seorang rishi yang mengajarkan tentang ilmu samkhya.

Mendengar laporan Amsuman tentang ke 60.000 putranya, Raja Sagara merasa tak bahagia. Setelah menyelesaikan ritual Ashvamedha yang ke-100, Raja Sagara menobatkan Amsuman sebagai raja dan pergi bertapa. Raja Sagara tidak pernah mengira bahwa upacara Ashvamedha yang direncanakannya membuat ke-60.000 arwah putranya menderita.

Amsuman berusaha mendatangkan Dewi Gangga ke bumi demi keselamatan para pitri, leluhur, para pamannya. Akan tetapi sampai maut datang menjemput, keinginannya belum tercapai.

Dilipa, putra Amsuman, juga tidak berhasil membawa Dewi Gangga ke bumi sampai akhir hayatnya.

Bhagiratha, cucu Amsuman meninggalkan kerajaannya kepada para menterinya dan bertekad untuk membawa Dewi Gangga ke bumi untuk menyelamatkan para leluhurnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: