Raja Saudasa: Membatalkan Kutukan Menerima Ketidakadilan #SrimadBhagavatam

 

Mereka adalah orang-orang yang sangat berpotensi dan sesungguhnya sudah mengalami evolusi spiritual. Dalam usia tertentu, mereka mengenal spiritualitas dan terdorong oleh batinnya sendiri untuk mendalaminya. Tidak ada paksaan dari siapa pun, termasuk dari orang tua dan keluarga. Ada kalanya keluarga mereka mendukung, ada kalanya tidak. Terbukti 18 kasus tidak cukup mendapat dukungan. Pada umumnya ada pengalaman tertentu dalam hidup mereka yang menjadi trigger atau pemicu sehingga mereka berpaling pada spiritualitas. Dan jalan spiritual yang mereka tempuh pun bervariasi. Selama beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, mereka menjalani hal-hal yang dianggap sudah menjadi takdir.

Kesalahan mereka, tanpa kecuali, mereka semua masih mempertahankan “pergaulan” mereka sebelumnya. Pergaulan inilah yang kemudian menjadi bumerang bagi mereka. Terjadilah tarik menarik antara pergaulan lama dan kesadaran baru. Dan dalam pertarungan itu, pergaulan lamalah yang keluar sebagai pemenang. Jelas demikian karena kesadaran baru tersebut “baru” berusia beberapa bulan atau beberapa tahun (paling baru kurang lebih 8 bulan dan paling lama 5 tahun). Sementara itu, pergaulan lama sudah berusia belasan bahkan puluhan tahun (bila kita mengambil “satu episode kehidupan” saja sebagai bidang studi. Bila memperhatikan episode-episode sebelumnya maka pergaulan dalam “episode yang berjalan” sesungguhnya mewakili belasan hingga ratusan episode sebelumnya dalam bentangan waktu 500 hingga 5000 tahun). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Saudasa salah satu anak-cucu keturunan Raja Bhagiratha adalah raja yang adil dan bijaksana. Pada suatu hari, dia pergi berburu di hutan, bertemu dengan seorang raksasa dan membunuhnya. Pada saat dia kembali ke istana dia tidak sadar bahwa ada saudara raksasa tersebut ingin membalas dendam kepadanya dan kemudian masuk ke istana menyamar sebagai seorang juru masak istana.

Pada suatu ketika Rishi Vasishtha, Guru Saudasa datang berkunjung atas undangan sang raja. Raja Saudasa menawari gurunya untuk makan bersama. Sang raksasa yang menjadi juru masak istana, memasak daging manusia untuk makanan yang disajikan kepada Rishi Vasishtha. Rishi Vasishtha mengerti bahwa dia disuguhi makanan dari daging manusia dan kemudian mengutuk sang raja bahwa tidak sepantasnya seorang raja menghidangkan daging manusia bagi gurunya. Hanya seorang raksasa yang berbuat demikian!

Rishi Vasishtha sadar bahwa sang raja tidak tahu bahwa yang dihidangkan adalah daging manusia, mungkin saja hal tersebut adalah kesalahan juru masaknya. Oleh karenanya, Rishi Vasistha mengatakan bahwa sang raja akan menjadi raksasa selama 12 tahun.

Raja Saudasa merasa tersinggung karena tidak merasa bersalah, dan mengambil air dan siap untuk ganti mengutuk Rsi Vasistha. Adalah permaisuri raja, Madayanti, yang mengingatkan bahwa tak baik mengutuk seorang guru. Guru adalah Gusti yang mewujud untuk memandu kita. Mungkin saja di kehidupan dahulu sang raja pernah berbuat salah sehingga dalam kehidupan ini harus menyelesaikan hutang karma. Dengan mengutuk maka sang raja akan membuat karma baru lagi sehingga hutang karmanya tak pernah terselesaikan. Sang raja sadar bahwa peringatan isrinya ada benarnya sehingga dia mengurungkan mengutuk gurunya dan airnya dijatuhkan ke kakinya. Kakinya menjadi hitam, gelap sehingga sang raja mendapat nama “Kalmasapada”, kaki malam, kaki yang hitam gelap.

Sang raja kemudian menjalani kutukan sebagai raksasa di hutan dengan berusaha hidup penuh kesadaran. Tidak mudah. Dengan menjadi raksasa, karakter bawaan raksasa akan mempengaruhi tindakannya. Lingkungan hutan akan mempengaruhinya. Kehidupan masa lalunya sebagai raksasa bisa terpicu kembali.

Hidup itu memang penuh resiko, perlu waspadaan setiap saat. Ibaratnya kita mengemudi mobil sudah mendekati tujuan, karena lalai bisa terjadi kecelakaan yang menghambat kita menuju tempat tujuan.

Pada suatu ketika ada seorang brahmana bersama istrinya berkasih-mesra hutan tersebut. Sebagaimana kebiasaan raksasa, maka sang raja berkeinginan untuk makan daging brahmana tersebut. Istri sang brahmana mengingatkan bahwa diri sejatinya adalah seorang raja manusia, agar dia bertindak sebagai seorang raja manusia dan tidak membunuh suaminya.

Sang raja dalam kehidupannya sebagai raksasa dalam lingkungan hutan belantara tidak dapat mengendalikan sifat keraksasaannya, sehingga dia nekat membunuh sang brahmana……….

Satu kesalahan dalam kehidupan bisa mengakibatkan banyak kesalahan yang semakin menyeretnya jatuh dari hidup berkesadaran…..

Apakah sang istri Brahmana akan mengutuk sang raja sehingga hidupnya makin sengsara?

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya……..

Salah satu syarat untuk meniti ke dalam diri adalah menerima ketidakadilan yang menimpa kita. Dalam kehidupan masa lalu, mungkin saja kita berbuat tidak adil sehingga kita menerima ketidakadilan masa kini. Bisa juga seseorang menerima ketidakadilan, karena Keberadaan ingin menunjukkan kepada orang banyak bagaimana seseorang dapat menghadapi ketidakadilan dengan bijaksana. Yang jelas kita tidak dapat membersihkan lantai dengan air yang kotor. Terima, hadapi, selesaikan tanpa kehilangan kesadaran……..

Ada pohon yang berbuah dalam sekian bulan, atau sekian tahun. Persis seperti itu pula dengan perbuatan-perbuatan kita. Ada kalanya kita tidak berbuat jahat, dan langsung dijatuhi hukuman. Pada saat itu seharusnya kita bersyukur, berterima kasih: “Ya Allah, sungguh beruntunglah diriku, tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan utang-piutang perbuatanku.” (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: