Pururava: Cinta Bidadari Urvashi dari Planet Berbeda #SrimadBhagavatam

Dulu, kita masih bisa memilih: mau berteman, bersahabat, bergaul dengan para dewa, para malaikat, manusia, atau pada raksasa, para danawa. Sekarang, hal itu sudah tidak mungkin lagi, karena ketiga sifat malaikat, manusia dan raksasa berada dalam porsi yang sama dalam setiap insan. Karena itu, hendaknya kita mengembangkan ketiga nilai luhur dam, datta, dan dayaa, pengendalian diri, membari atau berbagi, dan mengasihani.

………….

Suara pertama diterjemahkan para Dewa sebagai dam atau Pengendalian Diri. Dewa atau Malaikat tercipta dari Cahaya atau Nur. Mereka dalam pandangan manusia Hindia zaman dahulu, berasal dari siklus penciptaan sebelumnya. Sang Keberadaan mengangkat mereka untuk tugas-tugas tertentu. Mereka ibarat para menteri. Antara lain, mereka juga bertugas untuk menuntun dan mengarahkan para pejalan, para pencari. Sesungguhnya bagi setiap orang yang berkuasa dan sedang menikmati kekuasaan, kekayaan, kedudukan serta ketenarannya harus belajar mengendalikan diri.

Namun lain dewa, lain manusia. Ia menerjemahkan suara itu sebagai datta – memberi. Dengan cara memberi dan berbagi, manusia belajar untuk tidak menjadi egois, tidak hanya mementingkan diri.

Kesimpulan para raksasa atau danawa lain lagi: dayaa – kasihanilah, kasihilah. Tumbuh kembangkanlah nilai yang satu ini di dalam diri. Kalian memang kuat, penuh tenaga, namun janganlah menggunakan kekuatan dan tenaga itu untuk mencelakakan makhluk lain.

Bila bertemu dengan seseorang yang telah berhasil mengendalikan diri, mengendalikan nafsu-nafsu rendahan, senang memberi atau berbagi, dan mengasihi tanpa memandang bulu, ciumlah tangan dia. Bertekuk-lututlah kehadapannya. Ia adalah Insan Kaamil, Manusia Sempurna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pururava adalah putra Budha dari Dinasti Chandra dengan Putri Ila dari Dinasti Surya. Pururava terkenal mempunyai ketampanan seperti Soma, sang kakek namun mempunyai kebijaksanaan seperti Budha, sang ayah. Saat Putri Ila berubah menjadi Raja Sudyumna, Pururava menjadi putra mahkota penerus sang raja.

Dikisahkan Devarishi Narada sedang bercerita tentang kebaikan dan ketampanan Raja Pururava di istana para dewa, dan seorang bidadari cantik Urvasi menjadi jatuh cinta kepada sang raja.

Dalam Srimad Bhagavatam sering dikisahkan intervensi para dewa yang kawin dengan putri manusia, atau bidadari yang kawin dengan putra manusia. Ada kemungkinan bahwa hal tersebut juga untuk meningkatkan evolusi manusia ke arah kesempurnaan. Hal tersebut juga bisa menjadi jawaban, mengapa ada kelompok manusia yang sudah berperadaban sangat maju dan masih ada kelompok manusia yang seakan-akan masih mengalami peradaban manusia purba karena terisolasi. Karena bila hanya berdasar evolusi saja mestinya peradaban di seluruh dunia akan sama.

Dalam alam semesta ini ada ratusan miliar galaksi. Dan dalam satu galaksi ada ratusan milyar matahari. Dalam satu matahari ada beberapa planet. Mungkin sekali di alam semesta ada makhluk-makhluk yang sangat tinggi peradabannya dan datang ke bumi dengan pesawat yang lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Siapa tahu mereka mengintervensi kita, datang dengan vimana dan dibayangkan dalam tulisan lama dengan naik kereta yang ditarik kuda. Seperti tulisan lama yang menggambarkan Gatotkaca terbang pakai sayap yang digantung di kedua pundaknya, padahal kemungkinan besar Gatotkaca memakai jet tempur, karena perang Bharatayuda adalah perang nuklir. Hal tersebut terjadi karena pada saat tersebut sang penulis belum bisa membayangkan bepergian tanpa kereta atau terbang tanpa sayap.

 

Pada saat Pururava ketemu Urvasi mereka saling jatuh cinta. Akan tetapi, Urvasi mengajukan dua syarat kepada Pururava yang berniat mempersuntingnya. Pertama, Urvasi mempunyai kambing kesayangan yang harus dilindungi. Kedua, Urvasi tidak boleh melihat sang raja telanjang, kecuali saat mereka sedang bercinta saja. Mungkin maksud Urvasi agar tidak melihat Pururava berkasih mesra dengan wanita lain. Pururava menyanggupi dan jadilah mereka suami-istri yang setia dan bahagia.

Adalah Dewa Indra yang selalu mengganggu ketenangan hidup manusia. Dikisahkan bahwa setelah beberapa bulan, Indra merasa surga menjadi muram dengan hilangnya Urvasi dan Indra berusaha mengembalikan Urvasi ke istana para dewa.

Pada suatu ketika, sewaktu Pururava dan Urvasi tidur nyenyak, datang para gandharva utusan Indra untuk mengambil kambing Urvasi. Sang kambing mengembik karena ditarik dengan paksa. Urvasi berteriak bahwa ada pencuri yang mengambil kambing kesayangannya. Dalam keadaan buru-buru Pururava mengambil senjatanya dan meloncat keluar dalam keadaan telanjang. Kesempatan itu digunakan Indra untuk membuat kilat sehingga Pururava nampak sedang tidak berpakaian.

Urvasi melihat suaminya dalam keadaan telanjang dan sebagaimana janjinya dahulu, maka dia menghilang. Para gandharva segera melepaskan melepaskan sang kambing, tetapi Urvasi telah lenyap.

Pururava sangat berduka, akan tetapi hal itu sebagai pembangkit semangat untuk bertemu lagi dengan Urvasi. Dan kemudian Pururava bertapa dan mengembara mencari jejak berita Urvasi. Pada suatu ketika, sang raja bisa bertemu dengan para bidadari dan mendengar kabar bahwa pada akhir tahun Urvasi akan datang selama satu malam sambil menyerahkan putranya.

Akhirnya, Pururava dapat bertemu dengan Urvasi yang membawa putranya sebagai obat kerinduan dan juga penerus keturunannya. Tanpa keturunan dari Urvasi maka tidak akan ada Dinasti Bharata. Pururava sendiri dengan mantra gandharva bisa ikut Urvasi tinggal di Planet para dewa.

Rishi Shuka putra Bhagavan Vyaasa berkata kepada Parikhsit, bahwa Pururava adalah nenek moyang Parikhsit yang juga nenek moyang dirinya. Itulah sebabnya Bhagavan Vyaasa, ayahnya, tidak mau tergoda oleh bidadari, karena tidak mau mengalami kejadian seperti nenek moyangnya tersebut.

Putra Pururava adalah Ayu. Putra Ayu adalah Nahusha. Putra Nahusha adalah Yayati. Putra Yayati adalah Puru. Setelah 14 generasi lahirlah Dusyanta. Dusyanta mempunyai putra Bharata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: