Avatara Parashurama: Akibat Beda Pikiran Permaisuri, Anak dan Menantu #SrimadBhagavatam

 

Kita dapat mengharapkan sesuatu pada anak kita, pasangan kita, tapi mereka mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan kita. Saya ingin dia memperhatikan saya itu keinginan saya. Bagaimana dengan keinginan dia. Akan selalu ada konflik, tak ada dua mind, pikiran yang sama. Sekalipun dalam satu pikiran kita saja, banyak konflik yang terjadi. Walaupun orang yang satu ranjang dengan kita, selalu saja berbeda mind-nya. Kutipan berdasarkan terjemahan bebas video Youtube Bapak Anand Krishna How to deal with life disappointment.

Ada mind, ada inteligensia. Bukan intelek, tetapi inteligensia, karena intelek masih merupakan bagian dari mind. Penghalusan mind itulah intelek. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Dikutip dari buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001

Raja Gadhi adalah generasi ke 14 dari keturunan Raja Pururava. Sang raja sudah lama belum mempunyai putra, walau sudah mempunyai putri seorang gadis bernama Satyavati. Adalah seorang rishi bernama Ruchika yang merupakan rishi besar putra Rishi Chyavana, anak keturunan Rishi Brighu putra Brahma, melamar sang putri.

Silakan baca ulang tentang Rishi Chyavana: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/06/02/putri-sukanya-temukan-gusti-lainnya-akan-ditambahkan-srimadbhagavatam/

Dan https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/06/01/sukanya-pengorbanan-putri-jelita-srimadbhagavatam/

Sang raja menyetujui asalkan sang rishi dapat memberikan 1.000 ekor kuda putih yang telinganya berwarna hitam sebagai mas kawin. Rishi Ruchika bertapa dan meminta kepada Varuna, raja samudra untuk membantunya. Dengan bantuan Varuna, sang rsi berhasil membawa persyaratan tersebut dan dia menjadi suami dari Satyavati.

Pada masa itu, para rishi dipandang sebagai manusia terhormat yang tidak begitu terikat dengan keduniawian dan tugasnya mengajar manusia ke arah kebaikan. Sedangkan para ksatria dan para raja yang berkuasa pada masa itu sering menyalahgunakan kekuasaannya.

Kedua ibu dan anak, Permaisuri Raja Gadhi dan Satyavati, meminta tolong Rishi Ruchika, suami Satyavati agar dapat membantu mereka memperoleh putra. Rishi Ruchika kemudian mempersiapkan dua mangkuk berisi air untuk diminum istri dan ibu mertuanya. Kemudian sang rishi pergi ke sungai melaksanakan ritual doa saat matahari mulai tenggelam.

Dalam mind, pikiran dan perasaan sang permaisuri, dia memperkirakan Rishi Ruchika akan memberikan putra yang terbaik bagi istrinya, maka kemudian sang permaisuri minta kepada putrinya untuk bertukar mangkuk dan selanjutnya mereka meminumnya.

Ketika Richi Ruchika pulang dari sungai, Satyavati berkata bahwa ibunya telah memintanya bertukar mangkuk. Rishi Ruchika menyampaikan bahwa Kehendak Tuhan-lah yang terjadi dan bukan kehendak manusia. Rishi Ruchika berpikir bahwa air dalam mangkuk yang diperuntukkan bagi ibunya bertujuan agar sang permaisuri memperoleh keturunan seorang ksatria yang berkarakter tegas yang cocok sebagai seorang putra mahkota. Sedangkan air dalam mangkuk yang diperuntukkan bagi Satyavati bertujuan agar dia memperoleh keturunan yang berkarakter brahmana yang teguh yang cocok bagi keturunan mereka. Demikianlah mind Permasuri, putrinya Satyavati dan Rishi Ruchika, anak menantunya berbeda.

Satyavati menyesal, rupanya dia tidak menginginkan putranya menjadi ksatria yang sakti yang sering menyalahgunakan kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang karena kekuasaannya. Selanjutnya, Satyawati memohon kepada Rishi Ruchika agar keadaan tersebut dapat diperbaiki.

Rishi Ruchika mengatakan bahwa dia bisa mengusahakan agar kejadian tersebut digeser tetapi hanya dalam satu generasi, sehingga cucu mereka akan menjadi ksatria walaupun keturunan Brahmana.

Satyavati akhirnya mempunyai seorang putra yang mempunyai karakter seorang brahmana sejati dan nantinya salah seorang cucunya mempunyai sifat seorang brahmana yang berkarakter ksatria sejati.

Tidak berapa lama, Permaisuri Raja Gadhi melahirkan seorang putra bernama Kausika. Kausika adalah seorang pangeran, seorang putra mahkota dengan sifat kebrahmanaan yang kuat. Dalam kisah selanjutnya Kausika akan menjadi seorang Rajarishi, Devarishi dan bahkan Brahmarishi bergelar Rishi Vishvamitra yang menjadi salah seorang Guru Sri Rama selain Rishi Vasistha putra Brahma.

Satyavati menurunkan putra seorang brahmana bijaksana bernama Rishi Jamadagni yang termasuk menjadi saptarishi dalam manvatara terkait. Rishi Jamadagni kemudian menurunkan Avatara Parashurama, seorang brahmana yang berkualitas sebagai ksatria sejati yang memberantas keangkaramurkaan para ksatria.

Silakan ikuti dalam kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: