Avatara Parashurama: Brahmana dengan Karakter Kshatriya #SrimadBhagavatam

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak.

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:7 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Renuka adalah istri dari Rishi Jamadagni, Rishi Besar dari Dinasi Bhrigu. Renuka mempunyai putra empat orang akan tetapi semuanya tidak mempunyai karakter ksatria. Padahal Satyavati, ibu mertua mereka menceritakan bahwa salah seorang putranya akan mempunyai karakter seorang ksatria sejati.

Pada saat Renuka mengandung calon putra yang kelima, para rishi datang menyampaikan berita bahwa putranya akan menjadi brahmana yang bersifat ksatria dan akan membersihkan dunia dari para ksatria yang telah berkubang adharma.

Pada saat itu para ksatria yang menjadi penguasa yang seharusnya melindungi rakyat, malah menindas rakyatnya. Akhirnya, putra kelima lahir diberi nama Rama, yang bermakna Dia Yang Berada di Mana-Mana. Setelah besar dia dikenal sebagai Parashurama, karena dia bersenjatakan “parashu”, kapak. Dia juga dikenal sebagai Rama Barghava karena merupakan keturunan dari Dinasti Bhrigu. Sejak kecil sudah diramalkan para rsi bahwa dia adalah Avatara, Sang Pemelihara Alam yang mewujud untuk menegakkan dharma.

Dikisahkan, ada seorang raja perkasa dari kerajaan Hehaya bernama Kartawiryarjuna atau Sahasrarjuna. Pada suatu hari Raja Kartawiryarjuna selesai berburu dengan para prajuritnya mampir ke pertapaan Rishi Jamadagni. Mereka dijamu dengan baik oleh sang rishi. Sang raja bertanya bagaimana dia bisa menjamu begitu banyak prajuritnya dengan sempurna, yang dijawab bahwa semua dilakukan oleh sapi sakti Kamadhenu.

Setelah sampai di istana sang raja mengutus pasukannya untuk mengambil paksa sapi Kamadhenu milik Rishi Jamadagni yang bisa menghasilkan makanan bagi banyak prajurit. Parashurama yang mendengar hal tersebut langsung membawa kapaknya dan membunuh sang raja serta para prajurit yang melindunginya.

Rishi Jamadagni berkata pada Parashurama, “Putraku, tindakanmu akan disalahpahami sebagai seorang yang telengas, mudah membunuh. Padahal aku tahu alasanmu. Seorang raja yang sering melakukan kejahatan besar, kalau dibiarkan hidup terlalu lama, maka  perbuatannya akan semakin parah.  Dan, dalam kehidupan mendatang dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, sehingga hidupnya akan sangat sengsara.

“Pembunuhan yang kaulakukan membuat hutang karma sang penjahat sudah terbayar dengan kematiannya di dunia. Selain itu dengan  dibunuhnya para raja yang jahat, maka masyarakat yakin adanya keadilan, bahwa kejahatan apa pun akan dikalahkan.

“Pandangan hidupmu akan sering disalahpahami. Bahkan mungkin saja kau punya alasan sendiri yang tidak kuketahui. Karena kau adalah Vishnu yang mewujud untuk menegakkan dharma.”

Selanjutnya Rishi Jamadagni minta agar Parashurama melakukan ziarah ke semua sungai suci selama satu tahun. Selesai mengadakan tirtayatra selama satu tahun Parashurama pulang ke rumah.

Renuka, ibu Parashurama,  adalah seorang istri yang setia dan selalu mengambil air dari sungai di bawa ke rumah. Pada suatu hari saat Renuka mengambil air di sungai dan dia melihat Gandharva Citrasena yang sangat tampan sedang bermain air dengan istrinya. Renuka terpesona sampai agak lama berada di sungai. Sepanjang jalan dalam pikirannya hanya terbayang ketampanan sang gandharva.  Penyebab keterlambatan Renuka pulang ke rumah diketahui oleh Rishi Jamadagni.

Rishi Jamadagni ingin segala sesuatu segera diselesaikan di kehidupan ini. Obsesi yang tidak selesai di dunia ini akan menyebabkan seseorang lahir lagi untuk mengejar obsesi tersebut. Rishi Jamadagni segera menyuruh empat putranya untuk membunuh Renuka, ibunya. Dan semua putranya ragu-ragu untuk melaksanakannya.

Kemudian Rishi Jamadagni berpaling ke Parashurama, “Parashurama bunuh ibumu dan saudara-saudaramu semuanya.” Dan, Parashurama melakukannya dengan patuh.

Rishi Jamadagni kemudian berkata, “Aku senang kau patuh padaku dan yakin pada kebijaksanaan ayahandamu. Sekarang kau minta anugerah apa pun kau akan kuberi.”

Parashurama menjawab, “Ayahanda aku minta anugerah untuk menghidupkan mereka semuanya dan begitu mereka bangun mereka lupa tentang apa yang telah terjadi.”

Rishi Jamadagni menyetujui dan ibu serta saudara-saudara Parashurama hidup lagi dan lupa dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Mati dibunuh seorang avatara berarti selesai sudah hutang-piutang karmanya dan lahir lagi dengan diri yang bersih. Kita akan banyak membaca hal-hal demikian dalam Kisah-Kisah Srimad Bhagavatam tentang Sri Krishna nanti.

Pada suatu ketika, saat Parashurama bersama saudara-saudaranya ke hutan, para putra Kartawiryarjuna membunuh Rishi Jamadagni dan kemudian kabur.  Mengetahui hal tersebut Parashurama membunuh semua putra-putra Kartawiryarjuna dan setelah itu mulai membinasakan seluruh ksatria yang jahat di dunia.

Semua raja dan ksatria jahat di dunia dibunuh olehnya dan konon dia berkeliling dunia selama duapuluh satu kali. Dan, darah para raja dan ksatria dikumpulkan pada lima danau yang disebut Samantapancaka yang terletak di dekat padang Kurukshetra yang nantinya akan menjadi medan pertempuran Bharatayuda nantinya.

Dikisahkan Parashurama mendatangi para raja dan mengajaknya berduel perang tanding satu lawan satu. Raja yang tidak mau beeperang tanding dan menyerah dan berjanji memimpin kerajaan dengan baik akan dibiarkannya hidup. Parashurama meminta putra dari raja yang dibunuhnya untuk menggantikan ayahnya.

Meskipun jumlah ksatria yang mati dibunuh Parasurama tidak terhitung banyaknya, namun tetap saja masih ada yang tersisa hidup. Di antaranya adalah para ksatria dari Dinasti Surya yang berkuasa di Kerajaan Ayodhya. Salah seorang keturunan dinasti tersebut adalah Sri Rama, putra Dasaratha. Parashurama mendatangi dan menantang Sri Rama. Parashurama mendengar Sri Rama dapat mematahkan Busur Shiva dan menyunting Sita. Dia meminta Sri Rama menarik tali Busur Vishnu kepunyaannya. Sampai saat itu tak ada seorang pun kecuali dia sendiri yang dapat menarik tali busur tersebut.

Sri Rama berhasil menarik tali Busur Vishnu dan berkata busur sudah kutarik sekarang siapa yang akan menjadi targetnya? Parashurama melihat siapa sejatinya yang telah menarik busurnya. Dia merasa peran Avatara Vishnu baginya sudah berakhir. Dia segera pamit pergi ke Himalaya bertapa. Seluruh kekayaannya dibagikan kepada semua brahmana di sepanjang perjalanannya. Diyakini Parashurama masih hidup karena menerima berkah sebagai Chiranjivin yang berusia panjang. Satu kalpa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: