Vishvamitra: Putra Raja dengan Cetak Biru Seorang Rishi #SrimadBhagavatam

Catur Varna: Empat Kelompok Masyarakat yang, awalnya, tidaklah dibagi berdasarkan kelahiran, keturunan, dan darah, tapi berdasarkan potensi diri dan profesi seseorang.

Kelompok-kelompok tersebut adalah: Pertama, Kelompok Brahmana atau Cendekiawan – para pemikir, pendidik, guru pengajar, ahli kitab atau ritus, pendeta, dan sebagainya. Profesi mereka sesuai dengan potensi diri mereka, yaitu untuk mendidik anak bangsa; mengarahkan masyarakat; menasihati pemerintahan, dan sebagainya.

                Kedua, Kelompok Ksatriya atau Kesatria adalah para politisi, diplomat, para abdi negara, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.

Ketiga, Kelompok Vaisya atau Pengusaha — jelas, berprofesi sebagai pedagang, industrialis, bankir, dan sebagainya.

Dan, Keempat, Kelompok Sudra, atau Kaum Pekerja. Mereka adalah para pelaksana, para profesional. Tanpa bantuan mereka, ketiga kelompok sebelumnya tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Pengelompokan ini bukanlah untuk mengangkat, meninggikan satu kelompok dan merendahkan atau menistakan kelompok lain. Sama sekali tidak demikian.

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Jika kita memperhatikan keadaan saat ini……. Kekacauan yang sama telah terjadi. Setiap kelompok ingin berkuasa, menjadi raja. Mereka ramai-ramai memasuki arena politik untuk berlomba.

Jumlah kursi jelas jauh lebih kecil, lebih sedikit dari jumlah para peserta lomba. Maka terjadilah sikut-menyikut. Terjadilah politik dagang sapi, dagang kuda, dagang kecoa, dagang nyamuk, dagang semut, dan entah dagang apa lagi. Dagang daging, barangkali.

Kita melupakan potensi diri – Berpotensi sebagai pendidik, tapi menjadi politisi. Berpotensi sebagai abdi negara, tapi lebih suka dagang karena “duitnya banyak.” Sebaliknya, pengusaha menginginkan kekuasaan, dan masuk politik. Penjelasan Bhagavad Gita 4:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Raja Gadhi anak keturunan Pururava sudah lama tidak mempunyai putra sebagai calon pengganti saat dia melepaskan jabatan dan pergi melakukan Vanaprastha, meninggalkan istana fokus pada Gusti Pangeran. Dia hanya memiliki satu anak perempuan bernama Putri Satyavati yang kawin dengan Rishi Ruchika putra Rishi Chyavana. Sang permaisuri dan putrinya minta tolong Rishi Ruchika agar mereka dapat memperoleh putra. Sang Permaisuri ingin putra ksatria yang perkasa sedangkan putrinya ingin putra brahmana yang bijaksana.

Rishi Ruchika mempersiapkan 2 mangkuk air bagi permaisuri dan istrinya, kemudian pergi melakukan sadhana di sangai. Sang permaisuri merasa menantunya pasti ingin memberikan putra yang terbaik bagi istrinya, maka dia minta tukar mangkuk dengan putrinya.

Demikianlah Putri Satyavati memberitahu kepada Rishi Ruchika apa yang telah terjadi. Rishi Ruchika berkata bahwa demikianlah takdir, Kehendak Gusti. Satyavati akan mempunyai putra berkarakter ksatria perkasa. Satyavati mohon agar diusahakan mempunyai putra brahmana. Rishi Ruchika hanya menyanggupi kelahiran sang ksatria ditunda satu generasi. Akhirnya lahirlah putra Satyavati sebagai Rishi Besar Jamadagni dan cucunya adalah Avatara Parashurama, brahmana yang berwatak ksatria.

Sesuai kutipan penjelasan Bhagavad Gita di atas:

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Avatara Parashurama adalah brahmana yang berkarakter ksatria pembasmi para ksatria yang menindas kelompok-kelompok lain tersebut.

 

Putra Raja Gadhi adalah Kaushika yang menjadi raja adil dan bijaksana. Bagaimana pun Blueprint, Cetak Biru Gusti menetapkan yang lain. Apakah dia akan menjadi Rishi Besar sesuai ramalan Rishi Ruchika?

Alkisah pada suatu hari, Raja Kaushika beserta pasukannya mengunjungi Rishi Vasishtha. Rishi Vasishtha sangat senang dan ingin menjamu sang raja dengan seluruh prajuritnya. Raja Kaushika tidak mau merepotkan sang rishi. Diterima saling tukar pikiran dan menanyakan masalah yang dihadapi masing-masing sudah sangat membahaagiakan.

Rishi Vasishtha memanggil sapi Sabala yang indah dan berkata persiapkan jamuan bagi para raja dan seluruh prajuritnya. Raja dan seluruh prajuritnya menikmati hidangan yang sangat lezat. Rishi Vasishtha menjelaskan bahwa sapi Sabala adalaah anak sapi Kamadhenu yang keluar dari samudra susu saat para dewa dan asura mengaduk samudra.

Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/14/amrita-keabadian-demi-ego-asura-atau-pelayanan-dharma-dewa-srimadbhagavatam/

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/10/kurma-avatara-mendukung-perjuangan-gigih-memperoleh-amrita-srimadbhagavatam/

Raja Kaushika ingin menukar sapi Sabala dengan emas, permata atau ribuan gajah, karena sapi tersebut sangat diperlukan bagi kerajaan. Rishi Vasishtha menolak, karena Sabala adalah berkah Gusti dan sabala seperti putranya sendiri.

Karena tetap teguh menolak, maka sang raja minta pasukannya, menarik paksa Sabala dari ashram sang rishi. Sabala menangis karena merasa Rishi Vasishtha membiarkan peristiwa tersebut. Melihat Sabala tidak rela dibawa prajurit, Rishi Vasishtha berkata agar Sabala mengeluarkan pasukan yang sebanding kekuatannya dengan pasukan sang raja. Pasukan Raja Kaushika mengalami kalah telak dari pasukan ciptaan Sabala dan sang raja pulang ke istana dengan rasa kecewa.

Silakan ikuti kisah selanjutnya……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: