Vishvamitra: Keberanian Melawan Dewa #SrimadBhagavatam

Dalam kisah Kaushika disampaikan tentang kekuatan dirinya akibat bertapa, berikut penjelasan tentang Siddhi atau kekuatan-kekuatan metafisik dalam buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Siddhi adalah kekuatan-kekuatan metafisik atau suprasensorik,

yang bisa Anda peroleh dengan menjalankan disiplin tertentu. Kekuatan-kekuatan yang dimaksud adalah:

  1. Anima: Kekuatan untuk memperkecil tubuh sampai seukuran atom
  2. Mahima: Kekuatan untuk memperbesar tubuh sampai ukuran yang tak terbatas
  3. Garima: Kekuatan untuk menjadi berat tanpa batas
  4. Laghima: Kekuatan untuk menjadi ringan tanpa batas
  5. Prapti: Kekuatan untuk mengakses semua tempat
  6. Prakamya: Kekuatan untuk mewujudkan semua keinginan
  7. Istiva: Kekuatan untuk memiliki apa saja
  8. Vasitva: Kemampuan untuk menaklukkan segalanya

 

Dari sudut pandang psikologis, hal-hal tersebut di atas adalah puncak pencapaian kehidupan manusia:

  1. Anima adalah kemampuan untuk merelakan
  2. Mahima adalah kemampuan untuk memperluas kesadaran
  3. Garima adalah kemampuan untuk membulatkan tekad
  4. Laghima adalah kemampuan beradaptasi
  5. Prapti adalah kemampuan untuk memahami ilmu-ilmu duniawi
  6. Prakamya adalah kemampuan untuk mengetahui sifat keinginan
  7. Isitva adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang baik bagi Anda
  8. Vasitva adalah kemampuan untuk mengendalikan indera-indera Anda

 

Bagaimana kita memperoleh kemampuan-kemampuan tersebut?

  • Lepaskan segala emosi yang tidak diperlukan, pikiran yang menganggu, kekhawatiran, kegundahan, serta ingatan-ingatan yang penuh kepedihan.
  • Kembangkan pemahaman yang holistik terhadap hidup. Keluarlah dari cangkang Anda, lihatlah sekeliling. Hidup ini indah adanya. Anda indah adanya. Yang berlalu telah berlalu, Anda tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tidak ada gunanya bernostalgia terhadap masa lalu atau menyesali apa yang telah Anda perbuat. Lanjutkan perjalanan Anda! Dan, berhentilah mengkhawatirkan masa depan. Hiduplah dalam kekinian. Fokuslah pada apa yang Anda kerjakan, dan lakukan yang terbaik yang dapat Anda kerjakan. Masa depan Anda bergantung pada apa yang Anda lakukan hari ini, sekarang juga. Sesungguhnya Anda mampu membangun, merancang, dan membentuk masa depan Anda. Andalah pengendali hidup Anda sendiri. Tetaplah menjadi pengendali hidup Anda.
  • Ya, Anda bisa! Jangan ragukan kemampuan Anda untuk mencapai apa saja.
  • Hidup dan menghidupi. Berbagilah, pedulilah serta bekerjasamalah.
  • Anda terlahir dengan kemampuan untuk mengetahui dan mengembangkan semua jenis skill. Anda tidak lebih rendah dari siapa pun. Tingkatkan kemampuan Anda serta asahlah kemampuan Anda.
  • Kenali perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan. Anda bisa hidup tanpa keinginan, tetapi tidak tanpa kebutuhan. Ingatlah bahwa Keberlimpahan adalah nama lain bagi Ibu Pertiwi. Sang Bunda tidak akan pernah memisahkan Anda dari yang benar-benar Anda butuhkan.
  • Yang menyenangkan belum tentu memuliakan, maka, cari yang memuliakan bukan yang menyenangkan. Maka Anda tak akan pernah tersesat.
  • Perhatikanlah panca-indera Anda, organ-organ indera Anda serta kemelekatan mereka pada kenikmatan-kenikmatan semu. Banyak dari kemelakatan-kemelekatan tersebut yang berbahaya. Jangan biarkan mereka memperbudak Anda. Jadilah tuan bagi mereka.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan bahwa Raja Trishanku dari dinasti Surya ingin ke surga bersama raganya. Sang raja meminta Rishi Vasishtha mengabulkan permohonannya, tetapi dia ditolak. Ketika sang raja memohon kepada para putra Vasishtha, mereka bahkan mengutuknya menjadi seorang chandala, sehingga tak ada seorang pun yang mengenalinya, kemudian dia pergi mengembara dan tidak kembali lagi ke istana.

Dalam pengembaraannya, sang chandala bertemu dengan Kaushika yang sedang bertapa. Kaushika mengenali bahwa sang chandala adalah Raja Trishanku. Raja Trishanku berkata, “Sewaktu menjadi raja, aku selalu berbuat baik dan tak pernah menyimpang dari dharma, tetapi putra Vasishtha telah mengutukku, kami memohon pertolonganmu.”

Rishi Kaushika membantu Raja Trishanku, dan bahkan mengusahakan Raja Trishanku dapat naik ke surga bersama tubuhnya. Ketika Raja Trishanku naik ke surga dan dan ditolak Indra, Rishi Kaushika kemudian membuatkan surga khusus bagi Trishanku, dan para dewa terpaksa menyetujuinya karena takut kepada kesaktian Rishi Kaushika.

Pada suatu saat, Rishi Kaushika terketuk oleh pengorbanan Brahmana Ajigarta yang merelakan putranya menjadi persembahan Varuna, agar cucu Raja Trishanku yang menjadi putra mahkota selamat. Rishi Kausika kemudian memanggil seratus putranya agar ada salah satu yang sanggup berkorban menggantikan putra Ajigarta. Separuh putranya menolak dan beralasan mengapa putra seorang raja yang menjadi rishi menggantikan putra brahmanaa tak terkenal sebagai korban persembahan.

Kemudian kelimapuluh putranya dikutuk menjadi pengikut suku liar Nisadha, suku pemakan anjing, selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut bisa dimaknai, bahwa seorang putra yang tidak patuh dan tidak berbhakti kepada orang tuanya, akan lahir kembali selama beberapa kehidupan sebagai penjaga setia yang patuh kepada majikan, layaknya anjing yang patuh pada tuannya. Utangnya adalah kesetiaan mengabdi, sehingga karena tidak mengabdi kepada orang tua, maka dia harus mengabdi pada seorang majikan dalam beberapa generasi.

Demikian pula kala Rishi Kaushika sedang mengadakan upacara persembahan agar Raja Trishanku bisa naik ke surga, para putra Vasishtha datang melecehkannya, “Bagaimana bisa seorang bekas raja dapat menaikkan seorang chandala ke surga.”

Para putra Vasistha pun kemudian dikutuk  Kaushika menjadi pengikut suku liar Nisadha selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut dapat dimaknai, para brahmana (putra Vasishtha) yang membuat seorang raja (Trishanku) menjadi chandala, dan menyepelekan tapa seorang ksatria, maka dia pun harus merasakan bagaimana penderitaan seseorang  akibat perbuatannya dan bagaimana rasanya disepelekan masyarakat. Mereka yang suka mempersulit kehidupan orang lain harus segera sadar.

Rishi Vasishtha memang bijaksana dan tidak mempunyai keterikatan terhadap keluarga. Rishi Vasistha, tidak marah putra-putranya dikutuk, karena berpendapat sebuah kutukan hanya dapat terjadi karena adanya keselarasan dengan hukum sebab-akibat. Kesalahan masa lalu bisa saja memberikan akibat pada saat ini.

Kita berlu merenungkan tindakan Rishi Vasishtha, putra-putra kandung adalah para putra pada kehidupan saat ini. Sudah ribuan putra dalam ribuan kehidupan dimiliki dalam kehidupan sebelumnya. Putra sejati seorang Guru adalah para murid, yang ingin meningkatkan kesadaran melalui dirinya sebagai seorang Guru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: