Nahusha: Kutukan Agastya Berakhir Berkat Kebijaksaaan Yudhisthira #SrimadBhagavatam

Pada suatu ketika Brahma bertanya Kepada Resi Narada, hal apa yang paling menakjubkan yang ia lihat di bumi. Narada menjawab, hal yang paling menakjubkan yang aku lihat adalah: orang yang sekarat sedang menangisi yang sudah mati. Mereka yang setiap saat sedang mendekati kematian, sedang menangisi mereka yang sudah mati. Seakan-akan tangisan mereka akan menghidupkan kembali yang sudah mati ataupun mencegah kematian mereka sendiri.

Sri Sathya Sai Baba: “Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian?” dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Pada suatu hari, di zaman Dvapara Yuga, saat Pandava berada dalam pengasingan, mereka merasa sangat haus dan meminta Sadeva untuk mendapatkan air dari telaga di dekat tempat tersebut.

Ketika Sadeva tidak kembali maka satu per satu, Nakula, kemudian Arjuna, selanjutnya Bhima diminta Yudhisthira pergi mencari air sambil mencari saudaranya yang tidak kembali.

Akhirnya, Yudhisthira sendiri mengikuti jejak keempat saudaranya dan menemukan mereka tergeletak tewas di dekat telaga. Tiba-tiba, Yudhisthira mendengar suara Yaksha yang memperingatkan dia untuk tidak minum air dari telaga sebelum menjawab pertanyaan sang yaksha. Jika langsung minum dan tidak menjawab pertanyaannya lebih dahulu, maka ia pun akan mati seperti semua saudaranya. Yudhisthira setuju untuk menjawab pertanyaan sang yaksha.

Berikut adalah tanya-jawab antara Yaksha dengan Yudhisthira dari berbagai sumber.

  • Apa yang membuat matahari bersinar setiap hari?
    • Sumber Segala Cahaya yang disebut Brahman.
  • Apa yang menyelamatkan seseorang dari bahaya?
  • Mempelajari lmu pengetahuan apa agar manusia menjadi bijak?
    • Seorang manusia tidak memperoleh kebijaksanaan hanya dengan mempelajari shastra (ilmu kebijaksanaan), tetapi dengan bergaul dengan orang bijak.
  • Apakah ada yang lebih mulia dari bumi?
    • Para ibu yang melahirkan dan merawat anak-anaknya.
  • Apa yang lebih tinggi dari langit?
    • Sang ayah.
  • Apa yang lebih cepat daripada angin?
  • Apa yang lebih menderita dibandingkan jerami kering?
    • Sebuah hati yang sedih.
  • Siapakah teman perjalanan kita?
  • Siapa teman yang tinggal di rumah?
  • Siapa yang menyertai seorang manusia setelah kematian?
    • Dharma menyertai perjalanan jiwa setelah kematian.
  • Apa itu kebahagiaan?
    • Kebahagiaan adalah buah perilaku yang mulia (shreya).
  • Apa yang setelah dibuang membuat manusia dicintai oleh semua orang?
  • Apa yang membuat seseorang bersukacita kala kehilangan darinya?
  • Kehilangan apa yang membuat seorang manusia menjadi kaya?
  • Apa yang membuat seseorang menjadi Brahmana, dari kelahiran, perilaku mulia atau dari belajar?
    • Baik kelahiran maupun pembelajaran tidak membuat seseorang menjadi Brahmana, hanya perilaku yang mulia yang membuatnya menjadi Brahmana.
  • Apa keajaiban terbesar di dunia?
    • Keajaiban terbesar adalah bahwa meskipun manusia setiap saat melihat makhluk hidup mati, namun mereka masih memiliki anggapan untuk hidup selamanya.

Akhirnya, Sang Yaksha mengakui ketepatan jawaban Yudhisthira, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saudaranya. Kemudian Yudhisthira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali.

Sang Yaksha heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandungnya. Yudhisthira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudhisthira lahir dari Kunti, maka yang dipilih untuk hidup kembali harus putra yang lahir dari Madrim, yaitu Nakula.

Sang Yaksha terkesan pada keadilan Yudhisthira. Ia pun kemudian menghidupkan semua Pandava, karena Yudhisthira tidak hanya pandai bicara tentang kebijaksanaan tetapi juga melakoninya. Sang Yaksha kembali ke wujud aslinya yaitu Nahusha, dan kembali ke surga. Kutukan Rishi Agastya berakhir akibat anak keturunan bijak. Nahusha bangga menyaksikan anak keturunannya yang sangat bijak seperti Yudhisthira. Bahkan kutukan atau hukuman sebab-akibat masa lalu pun setelah dijalani beberapa masa berakhir saat menyaksikan kebijaksanaan Yudhisthira.

Parikshit tertegun mendengar kisah-kisah yang diceritakan oleh Rishi Suka kepadanya. Bhagavan Vyaasa, kakek dari Pandava, memang luar biasa. Parikshit sebagai cucu Pandava merasa sangat bersyukur atas karunia Gusti Hyang Maha Kuasa, sehingga dia mendapatkan kesempatan mendengarkan kisah-kisah ilahi ini.

Sebuah kisah yang penuh hikmah pelajaran yang dapat meningkatkan semangat untuk meningkatkan kesadaran, semangat untuk melakoni bhakti, melakukan persembahan kepada Gusti Hyang Maha Kuasa sepanjang waktu sampai jangka waktu hidupnya di dunia selesai.

Advertisements

One Response to “Nahusha: Kutukan Agastya Berakhir Berkat Kebijaksaaan Yudhisthira #SrimadBhagavatam”

  1. […] Sumber: Nahusha: Kutukan Agastya Berakhir Berkat Kebijaksaaan Yudhisthira #SrimadBhagavatam […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: