Devayani: Ego Putri Rishi vs Ego Putri Raja #SrimadBhagavatam

KONFLIK ADALAH HASIL DARI SALAH IDENTIFIKASI. Ketika kita memercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” tanpa memiliki atau menguasai sesuatu — maka, kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri — karena sesungguhnya Jiwa bebas adanya, ia tidak mau terikat — tapi ia terpengaruh oleh keinginan-keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan “tidak” terhadap kekuasaan ego.

…………….

Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena “setiap” Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama.

Dalam Alam Ego, kita beragam, berbeda – Walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda. Wajah Anda tidak sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara pikir kita beda. Perasaan kita beda! Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: “Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…”

……………

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaraan kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan sebagainya.

Sesungguhnya, pembangkitan diri yang dimaksud  ialah meninggalkan alam ego dan kembali pada Alam Jiwa, yang merupakan habitat kita yang sebenarnya. Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 6:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Rishi Shukra adalah Guru dari Raja Asura, Vrsaparva. Devayani, putri Rishi Shukra, berteman dengan Sarmishtha, putri Raja Vrsaparva. Kisah ini adalah perjalanan ego yang terbentuk karena putri rishi yang berpengaruh dan putri raja yang berkuasa berkembang menjadi ego yang meluas.

Yang memiliki jabatan dan kekuasaan adalah orang tua mereka akan tetapi ego mereka terbentuk karena mereka adalah putri-putri orang yang berkuasa. Saatnya merenung, apakah ego kita juga terbentuk dengan kepemilikan dan kesuksesan kita di dunia?

Pada suatu hari Devayani, Sarmishtha dengan beberapa temannya mandi di sungai. Mendadak angin besar bertiup yang membuat pakaian mereka mulai terbang. Para gadis segera naik ke pinggir sungai mengejar pakaiannya dan segera pulang sambil berlari. Tanpa sadar Devayani bertukar baju dengan Sarmishtha.

Kemudian terjadilah keributan, Devayani menganggap Sarmishtha tidak sopan karena seorang asura berani memakai pakaian putri seorang brahmana. Padahal sang brahmana, Rishi Shukra adalah Guru dari raja asura. Karena dibimbing Rishi Shukralah  maka kaum asura menjadi jaya. Sarmishtha tidak menerima Devayani menghina ayahandanya dengan mengatakan bahwa bagaimanapun juga, ayahnyalah yang memberi makan sang rishi, sehingga sang rishi dapat diibaratkan sebagai seorang pengemis. Mereka beradu mulut, dan karena angin bertambah besar Sarmishtha berlari duluan pulang, sedangkan Devayani yang berlari dalam marah, kemudian  terperosok masuk ke dalam sumur. Devayani menjadi putus asa, tidak dapat ke luar sumur yang sebenarnya tidak begitu dalam.

Pada hari itu Raja Yayati putra Raja Nahusha sedang berburu. Dan, tanpa sadar sang raja  mengendalikan kudanya menjauh dari rombongannya. Ketika sampai pada sebuah sumur, dia mendengar suara perempuan terisak-isak. Ditolongnya perempuan cantik tersebut yang memperkenalkan diri sebagai Devayani, putri Rishi Shukra. Devayani menjelaskan kejadian yang menimpanya. Ketika sang raja mau pergi, Devayani menangis. Devayani mengatakan bahwa dia adalah seorang perawan dan sang raja telah menolongnya keluar sumur dengan memegang tangan kanannya. Sudah seharusnya sang raja menjadi suaminya.

Raja Yayati bingung, Rishi Shukra adalah seorang mahaguru yang dihormati tiga dunia. Raja asura, Vrsaparva, raja manusia, dirinya dan raja deva Indra menghormati Rishi Shukra. Sang raja berkata bahwa dia tidak berani menjadi suami Devayani sebelum Rishi Shukra mengizinkannya. Pada zaman itu putri brahmana lebih tinggi statusnya dari ksatria. Sang Raja takut apabila Rishi Shukra tidak berkenan.

Ketika Sarmishtha melaporkan kejadian keributan antara dirinya dengan Devayani kepada ayahnya, sang raja khawatir Rishi Shukra tidak akan berkenan menjadi guru para asura lagi. Sudah beberapa waktu sang rishi tidak hadir di istana. Selama ini sewaktu terjadi peperangan apabila pasukan asura terbunuh, akan dihidupkan lagi oleh Rishi Shukra yang mempunyai mantra Sanjeevani. Juga pemerintahan kerajaaan asura dapat berjalan lancar karena nasihat-nasihat dari Rishi Shukra, sang guru. Sang raja mendengar bahwa Rishi Shukra akan ke istana, tetapi sang putri mencegahnya, pilih sang putri atau sang raja yang putrinya menghinanya. Seorang guru bijak pun dikisahkan cukup galau karena keterikatannya dengan sang putri terkasihnya yang belum dewasa cara berpikirnya.

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: