Raja Yayati: Kisah Cinta Putri Brahmana dan Putri Raja #SrimadBhagavatam

Apa yang terjadi ketika kita melihat bunga-bunga yang indah di taman. Mata telah menikmati keindahan itu – luar biasa, indah! Puji Tuhan Hyang Maha Indah, karena keindahan-Nya lah maka alam menjadi indah.

Jika kita berhenti di situ, maka tidak ada tindakan apa-apa. Indra mata telah berfungsi sesuai dengan sifatnya – melihat. Gugusan pikiran serta perasaan telah melaksanakan tugasnya pula dengan mengapresiasi keindahan. Perkara selesai. Ini adalah Skenario Pertama, sesuai dengan apa yang Krsna katakan, “Mata yang telah melihat keindahan itu sekarang akan mengejar keindahan di mana-mana. Gugusan pikiran serta perasaan yang telah menikmati dan mengapresiasi keindahan pun demikian. Dan, selama urusan mengejar adalah untuk menikmati dan mengapresiasi – maka tidak terjadi apa yang disebut karma atau tindakan.”

Tapi, ada Skenario Kedua – Setelah mengapresiasi keindahan bunga itu, kita bertindak untuk memetiknya, membawa pulang, dan menaruhnya di dalam vas bunga. Nah, di sini sudah terjadi tindakan. Sudah ada karma. Dan setiap karma, setiap tindakan ada konsekuensinya. Vas bunga yang Anda letakkan di ruang tidur pribadi Anda, di ruang keluarga, atau ruang tamu berdampak beda. Konsekuensinya lain, beda. Di ruang tidur pribadi, keindahan bunga akan diapresiasi oleh Anda, dan barangkali pasangan Anda. Di ruang keluarga, seluruh keluarga akan menikmatinya. Dan, di ruang tamu, bukan saja Anda, pasangan Anda, dan keluarga Anda – tapi para tamu pun ikut menikmatinya.

Masih ada Skenario Ketiga – bunga yang Anda petik itu dipersembahkan di kuil, di vihara, ditempat-tempat ibadah yang memiliki tradisi mempersembahkan bunga. Konsekuensinya beda lagi. Bunga yang Anda petik bukanlah untuk kepentingan diri, keluarga, dan para tamu Anda, tapi untuk dipersembahkan. Dalam hal ini, tindakan Anda menjadi sebuah yajna, offering, persembahan.

Sekarang jika kita simpulkan. Dalam skenario pertama tidak terjadi tindakan – tidak ada karma. Mata menikmati, meneruskan informasi kepada gugusan pikiran dan perasaan lewat otak – perkara selesai.tidak ada konsekuensi lain, selain kenikmatan, rasa senang. Indra mata mempunyai intelegensia sendiri. Pernahkah Anda perhatikan… Nah, sekarang bunga kita ganti dengan seorang pria tampan atau wanita cantik. Mata Anda secara alami memperhatikannya. Kemudian, gugusan pikiran serta perasaan malah intervensi. “Jangan begitu, nanti dianggap jelalatan.” Maka, kita pun cepat-cepat menoleh ke arah lain. Dalam keadaan seperti itu pun tidak terjadi karma. Dan, tidak ada konsekuensi karma.

Karma terjadi dalam skenario kedua dan ketiga. Karma terjadi ketika Anda mendekati si tampan atau si cantik. Menukar nomor telepon, saling berkenalan dan seterusnya. Dalam skenario kedua, Anda berhubungan dengannya. Atau malah memboyongnya ke rumah dengan mengawininya. Skenario ketiga dalam hal ini adalah menjalin persahabatan sejati, tanpa mengharapkan sesuatu. Beda lagi konsekuensinya. Penjelasan Bhagavad Gita 3:28 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Demi kejayaan Kerajaan Asura, Raja Vrsaparva mengajak Sarmishtha beserta seribu dayangnya mendatangi rumah Rishi Shukra. Sang raja berkata kepada Devayani, “Kekuatanku dan kekayaanku diperoleh atas bantuan Rishi Shukra. Asura yang mati dalam peperangan dihidupkan kembali oleh sang rishi sehingga asura mengalami kejayaan. Perintahkan kepadaku apa yang harus kulakukan agar Rishi Shukra tetap menjadi mahaguru kaum asura.”

Devayani meminta agar Sarmishtha beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Devayani dan mengikuti ke mana pun dia pergi. Ketika Sarmishtha ditanya ayahandanya mengenai kesanggupannya dalam  menjalani perintah Devayani, Sarmishtha berkata, “Sudah sewajarnya seseorang yang mendapat masalah harus mencari jalan keluar penyelesaiannya. Akan tetapi, pengorbanan ini dilakukan demi seorang raja yang kebetulan menjadi ayahnya dan juga demi rakyat di kerajaan ayahandanya. Saya patuh pada permintaan Devayani.” Sejak saat itu Sarmishtha dan seribu dayangnya menjadi pelayan Devayani.

Ketika Raja Yayati sedang berburu lagi, dia bertemu kembali dengan Devayani diiringi seorang gadis cantik yang bernama Sarmishtha beserta seribu dayangnya. Rishi Shukra yang hadir di tempat itu mengizinkan sang raja mengawini Devayani, akan tetapi berpesan agar tidak mengawini Sarmishtha.

Dan, Devayani akhirnya menjadi istri Raja Yayati dan tinggal di istana. Sarmishtha beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Devayani di istana.

Di halaman istana yang luas Sarmishtha dan seribu dayangnya melayani Devayani yang telah menjadi istri Raja Yayati.

Pada suatu hari kebetulan sang raja bertemu dengan  Sarmishtha di halaman belakang istana. Dan, Sarmishtha pun piawai dalam menarik perhatian sang raja dengan menceritakan kejadian yang menimpanya. Bahwa sebetulnya Devayani yang duluan mengambil pakaian dan keliru memakai pakaiannya. Kemudian Sarmishtha menceritakan bahwa Ayahandanya minta maaf kepada Rishi Shukra dan Devayani. Devayani kemudian meminta dia beserta dayangnya menjadi pelayan ke manapun Devayani pergi. Hal tersebut dijalaninya dengan patuh demi raja yang menjadi ayahandanya dan seluruh rakyat asura. Sang raja mendengarkan dan memperhatikan Sarmishtha yang cantik bercerita……

Raja Yayati terpesona oleh gaya cerita Sarmishtha. Terketuk oleh kebesaran jiwa Sarmishtha, dirinya mengajak Sarmishtha kawin secara gandharva. Pernikahan gandharva adalah tradisi pernikahan para ksatria zaman dahulu yang berdasarkan suka sama suka antara seorang pria dan seorang wanita, tanpa ritual, dan tanpa saksi. Akhirnya, terjadilah perkawinan gandharva antara Raja Yayati dengan Sarmishtha, putri Raja Varsaparva. Dari Devayani lahirlah dua putra: Yadu dan Turvasu. Dan dari Sarmishtha lahirlah tiga putra: Druhyu, Anu, dan Puru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: