Archive for July, 2017

Krishna Kecil: Menundukkan Kaliya, Panca Provokator Dalam Diri #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 31, 2017 by triwidodo

Panca Provokator Dalam Diri Kita

Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat Anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan….…Ya Panca-Provokator itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah.

Yang kita sebut nabi, atau avatar, atau mesias, atau buddha telah menguasai kelimanya. Kita belum. Lalu, setelah menguasai kelimanya tidak berarti mereka tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan—setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer. Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena “tali persaudaraan”, karena “ikatan-persahabatan” yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah “Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi”, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-“Aku”-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menundukkan Kaliya

Pada suatu hari, Krishna dan teman-temannya menggembala sapi-sapi ke arah Sungai Yamuna. Balarama kali ini tidak menemani mereka. Krishna dan teman-temannya bermain-main di tepi hutan dan karena hari sangat panas, beberapa teman Krishna kehausan dan pamit mencari minum ke Sungai Yamuna. Akan tetapi, kali ini mereka salah jalan dan masuk ke daerah bahaya di Danau Madu.

Di dasar Danau Madu tinggallah ular kobra raksasa berkepala lima bernama Kaliya yang hidup bersama  beberapa istrinya. Kaliya mengeluarkan racun yang berbahaya yang memenuhi danau tersebut dan bahkan sedikit demi sedikit air dari danau sudah mulai mencemari Sungai Yamuna. Sungai Yamuna mengalir ke hilir melalui Kota Mathura tempat Raja Kamsa dan di bagian hilirnya lagi melalui Kota Hastinapura. Semua tanaman di sekitar danau terkena polusi dan mengalami kekering. Burung-burung yang melintasi danau pun berjatuhan terkena uap beracun yang menguap di atas danau.

Setelah lama menunggu teman-teman mereka yang pergi ke sungai dan tidak kembali, Krishna dan teman-temannya mengikuti jejak teman-teman mereka dan sampailah mereka di Danau Madu. Krishna melihat teman-teman mereka pingsan dan segera meminta teman-temannya yang lain memindahkan mereka menjauhi danau. Krishna segera memanjat Pohon Kadamba di tepi danau. Pohon besar yang kering tanpa daun tersebut tetap bertahan hidup. Teman-teman Krishna melihat Krishna sampai di pucuk pohon dan segera meloncat ke dalam danau. Semua teman-temannya khawatir akan keselamatan Krishna, dan ada yang lari ke desa memanggil Nanda, Yashoda dan orang-orang tua para gembala.

Cukup lama Krishna berada di dasar dan tiba-tiba muncul di permukaan danau diserang oleh Kaliya. Dan terjadilah perkelahian yang seru. Krishna sangat lincah dan tahan dengan uap beracun yang dikeluarkan oleh Kaliya.

Pada akhirnya Krishna menari-nari di atas lima kepala Kaliya. Kaliya kelelahan dan dari mulutnya keluar darah karena telah kehabisan racun berbisanya. Kaliya sadar bahwa bila Krishna ingin membunuhnya, maka dia akan mati dengan mudah. Para istrinya keluar dan memohon pengampunan dari Krishna. Nanda, Yashoda dan para gembala bersorak-sorai melihat Krishna menari-nari berlompatan di atas lima kepala Kaliya.

Akhirnya Krishna berkata, “Kaliya, kau kumaafkan, akan tetapi segera pergi dari danau ini bersama istrimu ke tempat tinggalmu di Pulau Ramanaka. Kau tak perlu takut Garuda mengejarmu, melihat bekas tapak kakiku di kepalamu, Garuda akan melepaskanmu. Hiduplah yang baik, karena semua racunmu telah habis.”

 

Makna Kaliya dalam buku The Gita Management

Kaliya adalah Kalaa Yavan, Si Hitam yang berasal dari Yunani yang berupaya melemahkan kerajaan-kerajaan di India dengan  meracuni Sungai Yamuna, dengan jalan masuk ke daerah pedalaman dan membuang racunnya sedikit demi sedikit. Dari sebuah desa kecil, Kalaa Yavan membuang racunnya sedikit demi sedikit dari sungai kecil dan sudah mulai masuk sungai Yamuna. Brindavan memperoleh sumber air dari sungai tersebut. Selanjutnya sungai tersebut mengalir ke Hastinapura (sekarang New Delhi) lewat Mathura.

Mathura dan Hastina tidak akan jatuh seketika, akan tetapi semua penduduk akan pelan-pelan akan teracuni dan mudah ditundukkan oleh Yunanai. Untung ada Krishna yang tidak hanya menyelamatkan penduduk Brindavan, akan tetapi juga Kerajaan Mathura di bawah Kamsa serta Hastina yang diperintah keluarga Bharata (baik Pandava maupun Kaurava merupakan keturunan Bharata). Dan, setelah Kaliya ditaklukkan dia melapor kepada Raja Yunani sehingga selama dua abad negara yang ekspansionis pada masanya tersebut tidak mengganggu India. Sumber buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sebagian Master memaknai Kaliya yang berkepala lima sebagai bahaya yang mengendap dalam pikiran manusia. Di danau pikiran manusia ada ular kobra raksasa beracun dengan lima kepala terus mengintai, menunggu kelalaian manusia. Kelima kepala ular kobra raksasa tersebut adalah  amarah, keinginan, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan. Ketika manusia selalu ingat pada Gusti dengan penuh penghayatan, maka ular kobra berkepala lima akan keluar dari kedalaman danau pikiran dan nampak di permukaan. Kemudian ular kobra tersebut dapat dibuat menjadi tenang.

 

Past Life Kaliya

Setiap Master selalu memberi jiwa pada sebuah Purana dengan memfokuskan pada hal tertentu, sehingga kita tidak perlu heran bahwa dalam Garuda Purana, yang paling jago adalah Garuda, pada Vishnu Purana yang paling hebat adalah Vishnu. Sebuah Purana diharapkan dapat menyentuh diri kita yang terdalam dan membangkitkan keyakinan kita untuk melakoni sebuah pemahaman dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang Master memberi jiwa baru pada kisah lama tersebut. Oleh karena itu, ada juga seorang Master yang berpendapat bahwa kisah Kaliya ini pada dasarnya terfokus pada racun iri dalam diri manusia. Kaliya diusir Garuda dari Pulau Ramanaka dan bersembunyi di Danau Madu di mana Garuda tak berani mengejarnya. Kemudian dari Danau Madu, Kaliya mulai menyebarkan racun. Rasa iri ini diungkapkan sebagai racun. Krishna datang ke dunia untuk membersihkan sifat iri dalam diri kita. Kita juga ingat bahwa kala para dewa dan para asura bersama-sama mengaduk samudera susu, yang pertama kali keluar adalah racun dan amritha adalah yang terakhir keluar. Setiap kebaikan tentu ada racun yang menyertainya.

Dikisahkan, ada seorang rishi dari dinasti Bhrigu bernama Vedashira yang akan melakukan tapa di pegunungan Vindhya. Pada saat itu seorang rishi bernama Ashvashira juga tiba di tempat yang sama dan ingin juga bertapa di daerah tersebut. Vedashira berkata, “Mengapa Anda  memilih tempat yang sudah dipilih olehku, bukankah banyak tempat lainnya yang bisa Anda pilih?”. Ashvashira kemudian menjawab, “Semua tempat adalah milik Narayana. Jauh sebelum Anda datang, sudah ada rishi lain bertapa di sini. Berpikir sebagai pemilik adalah bodoh. Bodoh, gampang marah, dan mendesis seperti ular. Karena kau merasa mempunyai tempat tinggal yang orang lain tidak boleh masuk, maka kukutuk menjadi ular yang tidak mempunyai tempat tinggal, kau akan ketakutan dikejar oleh Garuda.” Vedashira kemudian membalas, “Wahai rishi yang kurang cerdas yang gampang mengutuk karena kesalahan sepele, kau seperti para pengembara tanpa tujuan pasti, dan hanya tertarik pada kepuasan indra. Perilaku Anda seperti burung gagak dan kau akan lahir menjadi gagak!”

Kedua rishi yang suka mengutuk tersebut kemudian merasa menyesal, hanya karena debat sepele membuat mereka menderita di kehidupan mendatang. Vishnu kemudian datang menghibur mereka, “Seperti seseorang yang tidak mempertimbangkan tangan kanan atau tangan kiri yang lebih penting, Aku menghormati kalian berdua sebagai para bhakta-Ku. Wahai Rishi Vedashira, meskipun kau akan terlahir sebagai ular yang takut kepada Garuda. Kau akan bersembunyikan diri di Danau Madu di dekat Sungai Yamuna, karena pada zaman dahulu Rishi Saubhari pernah berkata bahwa burung apa pun termasuk Garuda akan mati kala masuk ke Danau Madu. Akan tetapi, pada zaman Dvapara Yuga, kepala-kepalamu akan ditandai oleh tapak kaki Krishna dan Garuda akan menghormati tanda tersebut, dia akan melepaskanmu dari kejarannya. Wahai Rishi Ashvashira, sebagai burung gagak, pengetahuanmu akan meningkat tanpa batas, Engkau akan mempunyai kesempurnaan yoga dan mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan. Kau akan disebut Kaka Bhusandi, burung gagak bijaksana dalam zaman Treta Yuga!”  Dan Vishnu pun menghilang. Dalam kitab Vasistha Yoga terdapat kisah tentang Gagak Bijaksana yang menguasai kesempurnaan yoga tersebut.

 

 

Advertisements

Krishna Kecil: Balarama Menaklukkan Hawa Nafsu Dhenukasura #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on July 30, 2017 by triwidodo

Alam tidak selalu “memperoleh”. Ia lebih banyak memberi. Apa sebenarnya perolehan alam? Apa yang dapat kita berikan padanya? Barangkali “perhatian” – itu saja. Lalu, apakah kita selalu memperhatikan alam? Tidak juga. Malah lebih sering mengabaikannya, tidak memperhatikannya. Kendati demikian, ia tidak kecewa. Ia tetap menjalankan tugas serta kewajibannya sebagai “pemberi”. Segala perolehan kita sesungguhnya datang dari alam, atau setidaknya “lewat” alam. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.” (2007). The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kala Krishna mencapai usia enam tahun, Krishna dan Balarama sudah dipercaya untuk menggembala sapi, mereka tidak menggembalakan anak sapi lagi.  Krishna, Balarama dan teman-teman  sebayanya setiap hari menggembalakan sapi ke bukit Govardhana yang banyak rumputnya. Kemudian mereka bermain-main di tepi hutan. Kali ini Balarama agak capek dan tertidur di bawah pohon. Krishna memijat-mijat betis Balarama. Dan beberapa temannya melepaskan lelah di dekat mereka dan beberapa yang lain masih tetap bermain di hutan.

Sebuah lingkungan kehidupan yang berbahagia. Tanaman dan hewan banyak memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya sebagai cadangan makanan sewaktu tanaman sedang tidak berbunga. Kelebihannya dipersembahkan kepada manusia. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam. Egolah yang membuat manusia lebih mementingkan dirinya sendiri.

Pada waktu itu, Sridharma, Subala, dan Stoka-Krishna, 3 orang anak gembala yang sedang bermain mendekati Krishna dan Balarama. Mereka berkata, “Wahai Krishna dan Balarama, tidakkah kau mencium harum buah-buahan yang terbawa oleh angin ke tempat ini? Mereka berasal dari Hutan Talavana. Hutan Talavana penuh dengan pohon buah-buahan, akan tetapi hutan tersebut dijaga oleh Dhenukasura, Asura berwujud keledai dan gerombolannya yang diperintah menjaga hutan oleh Raja Kamsa. Mereka tidak makan dan menikmati buah-buahan yang ada di hutan tersebut, akan tetapi mereka menjaganya dengan ketat. Bahkan para binatang pun tidak berani memasuki  wilayah hutan tersebut. Wahai Krishna dan Balarama, tolonglah kami untuk mendapatkan buah-buahan dari hutan tersebut. Bila kalian menemani, kami berani mengambilnya.”

Demikianlah Krishna dan Balarama menemani para gembala kecil masuk ke Hutan Talavana. Balarama menggoyang pohon dan buah-buahan yang telah masak dan terjatuh, kemudian diambil oleh para gembala kecil. Adalah Dhenukasura dalam wujud keledai mendatangi mereka, dengan napas yang terengah-engah dan suara penuh kemarahan dia menyepak Balarama. Balarama melawan dan dalam suatu kesempatan memegang kaki belakang Dhenukasura. Kemudian keledai tersebut diputar-putarkannya di sekeliling tubuhnya dan dilemparkan ke pohon. Pohon tersebut roboh dan kemudian menimpa pohon disebelahnya dan Dhenukasura  mati. Seberkas sinar keluar dari tubuhnya dan jatuh di kaki Krishna dan lenyap.

Seluruh gerombolan keledai kerabat Dhenukasura kemudian mengepung mereka, akan tetapi mereka semuanya dapat dipegang kakinya oleh Krishna dan Balarama dan dilemparkan ke pohon-pohon. Seluruh gerombolan keledai mati. Sejak saat itu Hutan Talavana “terbuka”, orang-orang dan binatang-binatang berani memasukinya.

 

Past Life Dhenukasura

“Bhogah, kenikmatan duniawi atau indrawi dialami ketika seseorang tidak mampu membedakan Purusa atau Gugusan Jiwa, Diri yang Sejati dari (sifat-sifat alami, sifat-sifat Prakrti, termasuk sifat yang paling mulia, tenang dan dinamis, yaitu sifat) Sattva. (Sebab, semua sifat itu tetaplah mengikat Jiwa dengan dunia, dengan materi; mengikat Jivatma atau Jiwa Individu dengan Prakrti atau Alam-benda.)”

“Sebab itu, dengan niat yang jelas, tanpa kebingungan—asamkirnayoh—dan dengan melakoni samyama, hendaknya seseorang senantiasa berupaya untuk mengenal hakikat dirinya (sebagai Jiwa yang adalah bagian tak terpisahkan dari Purusa, dari Gugusan Jiwa). Dan bahwasanya adanya Prakrti atau Alam Benda adalah untuk (melayani) Purusa, bukan sebaliknya.” Yoga Sutra Patanjali III.36

 

PERTAMA: HANYALAH SIFAT SATTVA YANG DISEBUT dalam sutra ini.

Berarti, seorang Yogi,

  • sudah harus bebas dari sifat-sifat lain baik rajas yang agresif, maupun tamas yang malas, bodoh, selalu ragu, tidak percaya diri;
  • tidak boleh terjebak dalam permainan sattva sekalipun. Sebab, sattva pun merupakan sangkar. Jiwa tetap tidak Malah, sangkar sattva lebih berbahaya karena terbuat dari emas ego-spiritual, “Aku sudah tenang, atau mau tenang, aku tidak mau diganggu oleh kebisingan dunia.”

Pandangan-pandangan, pemahaman-pemahaman keliru seperti itu ibarat gembok, kunci. Sudah di dalam sangkar, digembok pula. ‘

KEDUA: SEORANG YANG TELAH MENYADARI HAKIKAT DIRINYA sebagai Jivatma atau Jiwa Individu—tak terpisahkan dari Purusa, Gugusan Jiwa, yang mana adalah ibarat cahaya Paramatma, Sang Jiwa Agung—tidak perlu, atau Iebih tepatnya, tidak bisa memutuskan hubungan dengan Prakrti atau Alam-Benda. Selama Jiwa masih menghidupi badan ini, maka tetaplah ia berurusan dengan alam-benda.

Adalah kesadaran-diri yang dibutuhkan. Jiwa mesti tetap sadar akan hakikat dirinya sebagai Percikan Jiwa Agung; dan bahwasanya Panggung Kehidupan ini, pergelaran ini, digelar baginya. Silakan menonton, menyaksikan pergelaran, dan menikmati. Tidak perlu lari ke mana-mana karena seluruh alam semesta adalah panggung pergelaran. Tidak bisa ke mana-mana, selama masih berbadan, bahkan kendati sudah meninggalkan badan ini, selama masih berbadan-halus, Jiwa masih tetap berada di tengah pergelaran.

Jadi, nikmati pergelaran dengan penuh kesadaran akan hakikat diri sebagai Jiwa, jangan terjebak dalam permainan. Untuk itulah dianjurkan upaya terus-menerus, upaya mengingat-ingat jati diri secara terus-menerus, sembari melakoni Samyama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam kehidupan sebelumnya, Dhenukasura adalah salah satu dari seratus anak-anak Maharaja Bali yang bernama Sahasika. Pada suatu hari dia bersenang-senang dengan dengan 10.000 istrinya bersuka-ria, melakukan perjalanan darmawisata. Para pengawalnya berada di depan dan di belakang mereka, serta ada juga beberapa di kiri dan kanan rombongannya. Dalam kesenangan mereka, mereka lupa suara musik dan nyanyian yang diselingi gelak tawa mereka mengganggu tapa Rishi Durvasa. Dhenuka dan rombongannya melihat Rishi Durvasa mendatangi mereka. Rishi Durvasa nampak lemah dan berjalan pun memakai tongkat, namun dia sepertinya dikelilingi aura yang menakutkan. Bahkan seluruh dunia pun takut dengan kutukan sang rishi.

Rishi Durvasa berkata, “Wahai Pangeran, engkau terlalu lama mengikuti hawa nafsumu. Engkau merasa sebagai orang yang kaya dan berkuasa, akan tetapi sejatinya engkau adalah budak yang patuh pada hawa nafsumu. Oleh karena itu, dalam kehidupanmu kemudian kau akan menjadi budak yang patuh dari manusia, kau akan lahir sebagai keledai. Setelah kau lama menjalani kehidupan sebagai keledai, akan datang masanya kau masuk Hutan Talavana dan menjadi penguasa di sana. Hanya Krishna Avatara yang dapat membebaskanmu, tetapi Narasimha Avatara telah berjanji kepada Prahlada, kakek buyutmu , bahwa avatara sesudahnya tidak akan membunuh keturunan Prahlada. Karena itu, kau akan dibebaskan oleh saudaranya yang bernama Balarama!”

Dhenuka memohon maaf atas tindakannya yang telah mengganggu tapa sang rishi. Dan kemudian memohon nasihat untuk memperbaiki tingkah lakunya di kemudian hari.

Dhenukasura mewakili simbol ketidaktahuan manusia dalam spiritualitas. Dia mewakili sifat materialistis. Sifat ini harus dilenyapkan dari diri manusia. Keledai mempunyai kemiripan dengan kuda, hanya tidak sebesar kuda. Ia kelihatan malas dan bodoh tetapi patuh. Pada zaman dulu, banyak orang-orang kaya dan para pejabat menggunakan keledai sebagai tunggangan dalam perjalanan, bahkan Gusti Yesus pun pernah naik keledai. Keledai adalah binatang yang lembut sifatnya, jinak, sabar, dan tidak pernah kelihatan marah meskipun membawa beban yang begitu berat. Ia kelihatan bodoh, tetapi sangat mengasihi majikannya.

Krishna Kecil: Menaklukkan Keangkuhan Brahma, Sang Pencipta #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 28, 2017 by triwidodo

 

“Tangan dan kaki-Nya ada di mana-mana; mata, kepala, dan mulut-Nya, wajah-Nya pun di mana-mana. Demikian pula telinga-Nya; sunggguh Ia meliputi alam semesta. Bhagavad Gita 13:13

                Berarti Ia Maha Ada, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Menyaksikan, Maha Hadir – di antara sekian banyak sifat kemahaesaan-Nya; sungguh Ia meliputi alam semesta.”

                …………….

Sebelumnya pun Ia telah menyampaikan bila Ia – Hyang Maha Kuasa — ada di mana-mana, dalam diri setiap makhluk, bahkan segala sesuatu.

Hyang Maha Kuasa meliputi segalanya – Tak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya. Tuhan sebagai  Hyang Maha Bicara dan “Bisa Bicara dengan siapa saja” meruntuhkan kepercayaan tentang manusia-manusia, kelompok-kelompok, atau kepercayaan-kepercayaan “terpilih”.

Kata mukha dalam bahasa Sanskrit berarti mulut dan “muka” atau Wajah. Kita sering mendengar dan membaca tentang Wajah-Nya di mana-mana, tetapi tidak menyadari implikasinya. Berarti, Ia bisa menampakkan Diri-Nya kepada siapa saja, berbicara dengan siapa saja. Siapakah kita, sehingga dapat membatasi gerak-gerik-Nya?

Bayangkan sosok Tuhan, seperti yang dijelaskan oleh Krsna dan bahwasanya “pengetahuan” itulah pengetahuan sejati. Inilah pengetahuan utama yang jika kita ketahui, tak ada lagi sesuatu apa yang perlu diketahui.

Bayangkan “dialog pribadi” dengan Tuhan. Jika kita sudah bisa melakukannya, maka apa lagi yang kita butuhkan? Berdialog dengan-Nya, dengan Kesadaran Murni nan Tertinggi itu berarti mengetahui segala sesuatu yang diketahui-Nya. Pengetahuan-Nya adalah pengetahuan kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dalam kisah ini Gusti Pangeran yang mewujud dalam diri Krishna, ingin memberi pelajaran kepada Brahma yang mencoba menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk menyembunyikan anak-anak sapi dan teman-teman Krishna Kecil. Brahma tidak sadar bahwa dia pun berada dalam diri Gusti Pangeran yang Maha Misteri.

Dengan apik Srimad Bhagavatam menyampaikan bila Gusti Pangeran berkenan mewujud, maka saat Brahma pulang ke Sathyaloka, Brahma pun melihat dirinya sudah ada di sana. Saat Brahma menyembunyikan anak-anak sapi dan teman-teman Krishna, Brahma pun melihat masih ada Krishna, Balarama dan teman-teman serta anak-anak sapi Krishna lengkap dengan peralatan sebelumnya. Bahkan ini adalah kisah tentang berkah bagi para orangtua di Brindavan dan induk-induk sapi bahwa mereka merawat anak-anak mereka yang sebenarnya adalah perwujudan Sri Krishna sendiri, selama 1 tahun.

……………..

Rishi Shuka berkata kepada Parikhsit, “Setelah kematian Aghasura, para gopala, para penggembala kecil bercerita kepada orang tua mereka setelah satu tahun berlalu!”

Parikhsit tak dapat menahan diri dan bertanya, “Wahai Guru, bagaimana mungkin anak-anak kecil bisa menahan rahasia selama satu tahun? Para gopala memang patuh pada Krishna, akan tetapi bagaimana mungkin menjaga kerahasiaan selama satu tahun?”

Rishi Shuka tersenyum dan melanjutkan kisahnya……..

Setelah pembunuhan Aghasura, Krishna mengajak teman-temannya pergi ke tepi Sungai Yamuna dan di bawah sebuah pohon yang rindang mereka duduk melingkar dan Krishna berada di tengah-tengah lingkaran. Semua mengeluarkan bekal makanan dari rumah yang disiapkan oleh ibunya masing-masing dan mulai makan sambil bersenda-gurau. Dasar anak-anak yang polos, peristiwa besar yang mereka alami terlupakan saat mereka makan dan bersenda-gurau. Mereka tidak usah belajar tentang hidup total dalam kekinian, karena bersama Krishna, mereka memang hidup dalam kekinian, tidak terfokus pada masa lalu dan tidak terfokus bagaimana nanti pulang ke rumah, sekarang mereka menikmati makan dan bersenda-gurau.

Krishna sedang melatih para temannya untuk melampaui mind. Tadinya yang ada di kepala banyak teman-temannya adalah pertempuran Krishna dengan Aghasura, tetapi hal tersebut tidak boleh terjadi terlalu lama, masih banyak pelajaran baru yang akan diberikan. Dan dengan begitu cepat para gembala kecil melupakan peristiwa besar dengan senda-gurau, sehingga mereka dapat hidup lagi dalam kekinian. Teringat pada sesuatu boleh, tetapi tidak baik menghabiskan memori otak dengan hanya berpikir pada sesuatu tersebut. Tindakan Krishna tersebut selaras dengan pengetahuan modern.

Selagi mereka makan, ada anak yang berteriak, “Mana sapi-sapi kita? Kok tidak nampak?” Krishna berkata agar teman-temannya tenang-tenang saja melanjutkan makan, dia akan mencari dan mengembalikan anak-anak sapi tersebut. Krishna mencari anak-anak sapi di sekitar tempat tersebut, tetapi tidak menemukan mereka dan kemudian kembali ke tempat anak-anak yang sedang makan dan mereka juga lenyap.

Tiba-tiba Krishna kecil tersenyum, saat dia membunuh Aghasura, para dewa menyaksikan peristiwa tersebut dan bersorak-sorai di kahyangan. Brahma muncul karena ada keramaian dan merasa kagum dengan keberanian Krishna kecil. Brahma kemudian ingin menguji Krishna, maka ketika mereka makan, anak-anak sapi-sapinya disembunyikan olehnya. Saat Krishna kecil sedang mencari anak-anak sapi, para gopala kecil juga disembunyikan olehnya juga. Anak-anak sapi dan penggembalanya dikumpulkan Brahma dalam satu gua. Krishna tahu bahwa ini adalah pekerjaan Brahma.

Krishna kemudian mengeluarkan maya-nya, Krishna yang satu mewujud menjadi anak-anak sapi, para gopala, penggembala kecil dan juga peralatan para penggembala, semuanya lengkap persis seperti semula. Krishna kecil memimpin para gembala dan anak-anak sapi yang sebetulnya adalah wujud dari Krishna kembali ke rumah orang tua mereka masing-masing.

Pesta topeng tersebut berjalan selama satu tahun. Para orang tua merasa sangat sayang kepada putra-putranya, para induk sapi merasa sangat sayang kepada anak-anak sapinya.Semua rumput, semua jalan setapak, semua pohon, semua buah-buahan yang dimakan anak-anak merasa sangat berbahagia. Semua air yang diminum, semua baju yang dipakai anak-anak merasa berbahagia yang tak terkatakan. Beruntunglah semua makhluk di Brindavan yang dapat melayani Krishna yang mewujud sebagai para gopala kecil dan anak-anak sapi. Nama Krishna memang bisa bermakna Dia Yang Menawan atau juga Dia Yang Selalu Berada Dalam Kebahagiaan dan Menganugerahkan Kebahagiaan.

Pada suatu hari, tatkala Krishna dan Balarama sedang menggembala anak-anak sapi di bukit Govardhana, sejumlah induk sapi melihat mereka dan induk-induk sapi tersebut berlari melupakan para gembalanya karena ingin menyusui anak-anak sapinya. Para gembala yang kaget kemudian mengikuti sapi-sapi tersebut dan melihat putra-putra kecil mereka sedang menggembalakan anak-anak sapi mereka. Para gembala mendatangi putra-putra mereka, dan terjadilah adegan kasih sayang antara para orang tua dengan para putranya, dan para sapi dengan para anak sapinya. Balarama menjadi tersadarkan, “Ini pasti perbuatan Krishna!” Balarama mengambil kesimpulan demikian, karena dia melihat para gembala kecil dan para anak-anak sapi adalah Krishna sendiri. Krishna kemudian menyampaikan kejadian sebenarnya kepada Balarama.

Para gopi dan gopala dalam kelahiran sebelumnya di zaman Krta (Sathya) Yuga adalah para rishi yang bisa melihat Gusti Pangeran (darshan). Dalam Treta Yuga, mereka adalah para kera yang membantu Gusti Pangeran dalam wujud Sri Rama yang bisa melihat (darshan) dan berbicara dengan Gusti Pangeran (Sambhashan). Sedang dalam Dvapara Yuga mereka adalah para gopi dan gopala yang dapat melihat (darshan), berbicara (sambhashan), dan menyentuh Gusti Pangeran (sparshan).

Dikisahkan, setelah Brahma menyembunyikan anak-anak sapi dan para gembala kecil, dia balik ke Sathyaloka. Waktu sesaat bagi Brahma adalah satu tahun waktu dunia. Namun, para penjaga rumahnya melarangnya masuk. Brahma marah dan berkata bahwa ia adalah Brahma pemilik Sathyaloka. Para penjaga menjawab bahwa Brahma memang mirip dengan pemilik rumah, tetapi sang pemilik rumah sudah berada di dalam rumahnya. Brahma penasaran dan menengok ke dalam rumah, dan dia melihat Brahma sedang bercengkerama dengan Sarasvati yang sedang memainkan vina.

Brahma kemudian pergi ke Brindavan dan melihat adegan kasih sayang antara para anak-anak sapi dengan induk-induk sapinya dan para gembala kecil dengan orang tuanya. Brahma kaget, “Tidak mungkin terjadi! Anak-anak sapi dan para gembala kecil sedang tidur di goa tempat aku menyembunyikan mereka!” Brahma bergegas menuju gua dan melihat anak-anak sapi dan para gembala kecil sedang tidur. Brahma segera kembali ke bukit Govardhana di Brindavan dan melihat juga anak-anak sapi dan para gembala kecil di sana.

Krishna merasa sudah cukup mempermainkan Brahma, dan kemudian Brahma dapat melihat bahwa yang ada di Govardhana sebagai anak-anak sapi dan para gembala kecil adalah Krishna sendiri dalam wujud Sri VishnuBrahma takluk, jatuh di kaki Krishna dan memohon maaf atas senda-guraunya. Krishna memaafkan Brahma dan menyuruh Brahma segera kembali ke Sathyaloka. Brahma Sang Pencipta Alam pun tunduk dan tidak mengetahui seberapa besar kekuatan Krishna, Dia Yang Tak Dapat Diserupakan Dengan Apa Pun Juga. Bagi Brahma sekalipun, Tuhan adalah misteri. Masihkah kita angkuh dan merasa diri kita paling benar saat menjelaskan tentang Tuhan? Tuhan yang bisa dijelaskan adalah Tuhan hasil konsep pikiran kita. Dia tak dapat diserupakan dengan apa pun juga, “tan kena kinaya ngapa”, kata para leluhur.

Krishna, kemudian mengumpulkan anak-anak sapi dan para gembala kecil kemudian kembali ke rumah mereka masing-masing. Para gembala kecil teman Krishna pulang ke rumah dan menceritakan pengalaman mereka yang melihat Krishna membunuh Aghasura. Mereka tidak pernah sadar bahwa mereka telah setahun meninggalkan Brindavan.

Parikhsit tertegun. Dan, dari matanya menetes butiran-butiran air mata keharuan, dia langsung meletakkan kepalanya di tanah dan air matanya deras mengalir membasahi tanah. Parikshit bersyukur telah mendengarkan kisah yang menyentuh kalbu dari Sang Guru. Dan, Rishi Shuka pun terlelap dalam pikiran tentang Tuhan.

Krishna Kecil: Menaklukkan Aghasura Arogansi Keperkasaan Diri #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 27, 2017 by triwidodo

Ada beberapa cara untuk mendapatkan kedamaian diri:

Cara pertama adalah dengan mengalihkan kesadaran pada napas. Cara yang dipopulerkan oleh Buddha Gautama ini sudah teruji hasilnya. Ia menyebutnya Vipassana, yakni melihat ke dalam diri. Pada jamannya, cara ini memang merupakan cara yang paling efektif, tetapi sekarang ceritanya lain. Tingkat kegelisahan manusia begitu tinggi, sehingga cara ini hanya menjadi efektif, apabila terlebih dahulu kegelisahan dalam dirinya dimuntahkan ke luar. Program Neo Sufi Training menggunakan prinsip yang sama.

Cara kedua adalah dengan melelahkan mind. Cara ini tidak begitu efektif. Hasilnya bersifat temporer. Begitu pulih kembali, mind bekerja kembali. Dan bukan hanya itu, setelah istirahat sebentar, mind menjadi segar kembali. Ia semakin kuat. Cara kedua ini banyak digunakan di Indonesia, dan terakhir dipopulerkan oleh Maharishi Mahesh Yogi lewat apa yang beliau sebut ‘Transcendental Meditation’. Dalam metode ini Anda diharapkan mengulagi satu-dua kata atau satu kalimat singkat, terus-menerus.  

Cara ketiga adalah dengan menghabiskan mind. Cara ini merupakan Metode Milenia Mendatang. Cara ini akan menjadi semakin populer. Pada dasarnya, manusia masa kini kelebihan energi. Pekerjaan fisik telah berkurang banyak. Dan dengan perkembangan teknologi pekerjaan fisik itu akan semakin berkurang. Nah, energi yang berlebihan ini semakin mengaktifkan mind. Mind menjadi hiperaktif, sampai menyebabkan restlessness, kegelisahan. Kendati demikian, membendung arus energi yang berlebihan hampir mustahil. Untuk itu seluruh sistem harus diubah. Atau Anda harus kembali ke masa lalu sesuatu yang tidak mungkin lagi. Atau Anda harus melakukan lebih banyak pekerjaan manual. Makanan Anda harus lebih sederhana. Arus informasi yang Anda harus dikurangi, karena informasi juga merupakan makanan bagi mind. Informasi juga memberi energi tambahan kepada mind. Semuanya itu tidak mungkin! Anda tidak dapat membendung kemajuan sains dan teknologi. Mau tidak mau, Anda akan tepengaruhi olehnya, kecuali jika Anda menyepi ke dalam hutan dan memutuskan hubungan dengan realita kehidupan.

Satu-satunya jalan adalah secara rutin, setiap hari, Anda membuang energi yang berlebihan, yang tidak berguna, yang berpotensi menggelisahkan Ada. Dan ini pula yang kita lakukan, lewat latihan-latihan. Tawa adalah emosi. Tangis adalah emosi. Senang dan sedih adalah emosi. Suka dan duka adalah emosi rasa panas dan rasa dingin adalah emosi. Dan, membendung emosi berarti membendung energi, padahal energi yang tertahan atau terbendung membuat kita gelisah. Jangan lagi membedakan antara energi positif dan energi negatif. Energi adalah energi. Positif dan negatif adalah interpretasi mind Anda. Energi berlebihan, entah diinterpretasikan positif oleh mind atau negatif, akan menggelisahkan Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Semedi 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna adalah pemimpin para Gopala kecil, para anak-anak penggembala. Sore itu Krishna berkata bahwa besok pagi mereka akan mengadakan banyak permainan di hutan. Anak-anak sapi akan dibiarkan merumput di padang rumput tepi hutan dan mereka akan bermain penuh seharian di hutan dekat tempat tersebut. Anak-anak begitu bersemangat, sehingga pagi-pagi mereka bersama dengan Krishna dan Balarama menggiring rombongan anak-anak sapi mereka menuju padang  rumput di tepi hutan.

Para Gopala kecil tersebut percaya penuh terhadap Krishna, dan mereka sangat senang akan mendapatkan permainan baru, permainan tingkat lanjut, next level. Kata-kata Krishna tentang permainan tingkat lanjut memberikan semangat kepada para Gopal kecil. Awalnya Krishna berlari paling depan dan berkata, “Tangkap aku!” dan semua anak-anak berlarian secepatnya mengejar Krishna. Latihan seperti inilah yang membuat fisik para Gopal menjadi kuat dan fokus dalam bertindak. Ketika Krishna membiarkan dirinya ditangkap, mereka bersorak-sorai, “Krishna terpegang, Krishna tertangkap!”

Kemudian mereka beristirahat di tepi jalan sambil menirukan bermacam-macam suara penghuni hutan, ada yang meniru suara serigala melolong, ada yang meniru suara burung hantu, ada yang meniru suara harimau, ada yang meniru suara sapi dan ada juga yang menirukan suara katak. Kemudian mereka menceracau sendiri dengan kata-kata tanpa makna. Pada masa kini menceracau dengan kata tanpa makna disebut “Gibberish”, latihan cleansing meditation bagi para Gopala.

Para Gopala kecil sangat berbahagia dan kemudian  tertawa terpingkal-pingkal sepuasnya, sampai perut mereka mengeras, Laughing Meditation. Setelah itu mereka diajak membayangkan bekas kampung halaman Gokula yang ditinggalkan ke Brindavan yang membuat mereka menangis-haru bersama-sama, Crying Meditation. Dan, setelah itu mereka tentu saja diajak menari oleh Krishna, Dancing Meditation.

Adalah seorang asura bernama Aghasura yang menunggu Krishna dan teman-temannya di padang rumput. Aghasura adalah asura berwujud ular sanca, suruhan Raja Kamsa untuk membunuh Krishna.

Aghasura membaca mantra Siddhi Mahima, dia membesarkan dirinya hingga mencapai setinggi gunung dan  sepanjang 8 mil. Mulutnya dibuka sehingga orang akan mengira ada sebuah gua raksasa, dengan gigi-gigi dan taring sebagai stalagtit dan stalagmit, batu-baru kapur yang berada di atas dan bawah gua. Para gembala kecil sedang berbaris dan sapi-sapinya pun berada dalam barisan, sedangkan Krishna berada di ekor barisan. Mereka menuju padang rumput, saat mereka melihat gua raksasa di tengah padang rumput. Anak-anak di depan berdiskusi apakah mereka masuk ke gua atau tidak. Banyak di antara mereka berkata, “Terus masuk saja, kan ada Krishna.” Para Gopal begitu percaya dengan Krishna, bahwa Krishna adalah penyelamat mereka. terjadilah pemandangan yang luar biasa, barisan anak-anak kecil dan anak-anak sapi memasuki “gua” dan Krishna berada paling belakang.

Aghasura dalam kehidupan di zaman Dvapara Yuga adalah saudara dari Putana dan Bakasura. Dia sangat senang bisa membalaskan kematian saudara-saudaranya dengan menelan Krishna dan teman-temannya. Begitu Krishna masuk mulut, maka Aghasura menutup mulutnya, sehingga menjadi gelap gulita. Anak-anak gembala dan anak-anak sapi ribut. Akan tetapi, kemudian mereka melihat Krishna bersinar terang yang makin membesar, ibarat bola lampu kaca yang semakin lama semakin besar.

Aghasura yang merasa punya anugerah dapat membesarkan dirinya, menjadi kaget karena Krishna yang ditelannya makin membesar. Aghasura berniat mau memuntahkannya akan tetapi tidak bisa, karena Krishna telah memenuhi kerongkongannya. Tak begitu lama bola Krishna terus membesar dan Aghasura kesakitan dan akhirnya mulutnya pecah dan Krishna beserta rombongannya keluar dalam keadaan basah kuyup oleh darah Aghasura. Aghasura mati, dan seberkas sinar bergerak menuju kaki Krishna dan menghilang. Hujan kemudian seperti dicurahkan dewa dari langit, Krishna dan para gembala dimandikan oleh air hujan dan kembali bersih.

Dikisahkan, adalah seorang bijak yang lahir cacat dengan delapan bengkokan di tubuhnya,  dua bengkokan di kaki, dua di lutut, dua di siku tangan, satu di dada dan satu di kepala. Dia adalah seorang Rishi Agung bernama Ashtavakra, sang penulis kitab Ashtavakra Gita, yang merupakan Guru dari Raja Janaka ayahanda Sita, mertua dari Sri Rama.

Pada suatu hari, Agha, putra Sankasura, seorang pangeran asura yang perkasa dan memiliki bentuk tubuh yang indah bak atlet binaragawan, sedang berjalan-jalan di pegunungan Malaya. Pangeran Agha bertemu dengan Ashtavakra dan memperhatikan tubuh sang rishi yang aneh. Dari mulut Agha keluar kata-kata, “Ada juga orang aneh di dunia ini!” Agha begitu bangga dengan keindahan tubuhnya.

Sang Rishi kemudian berkata, “Walaupun tubuhku cacat akan tetapi aku mudah menggerakkan semua tubuhku. Kau bangga mempunyai tubuh yang menawan, tetapi dengarkanlah, kau akan lahir kembali dengan kulit yang sangat indah namun tak seorang pun mau mendekatimu, dan kau akan susah menggerakkan tubuhmu, kau harus menggeser tubuhmu untuk bergerak!”

Agha kaget dan memohon maaf atas kesalahannya, “Wahai Rishi yang bijak aku mohon maaf atas kesalahanku. Selama ini aku selalu melihat kekurangan orang lain, dan tidak pernah melihat kelemahanku sendiri. Aku telah keliru bergaul dengan teman-teman yang congkak, sehingga aku terpengaruh. Wahai Rishi beri kami petunjuk agar aku dapat memperbaiki diriku!”

Rishi Ashtavakra kemudian berkata, “Dalam kehidupanmu selanjutnya, kau akan lahir sebagai ular sanca raksasa. Kau akan berlatih mengendalikan diri selama bertahun-tahun. Kau akan jauh dari pergaulan jahat, pergaulan dari manusia-manusia yang congkak. Hanya sebelum tapamu berakhir, kau akan dikalahkan oleh seorang raja bernama Kamsa dan kau akan menjadi ular piaraannya. Meskipun kau berwujud ular sanca yang indah, saat kau menelan Sri Krishna, Hyang Maha Menawan, kau akan kembali ke kahyangan, mendapatkan wujudmu semula dan kau akan mencapai kesadaran ilahi!”

Aghasura adalah makhluk yang mendapatkan anugerah karena Krishna telah memasuki tubuhnya. Aghasura telah dibersihkan dari segala kesalahannya. Bertapa atau mengendalikan diri dengan cara Aghasura adalah sangat berat. Dia tidak berkeliaran mencari mangsa, dia harus menunggu di suatu tempat sampai ada mangsa yang datang kepadanya. Kadang-kadaang berbulan-bulan dia tidak makan, dan apabila sudah makan maka dia akan berdiam diri sampai makanannya habis tercerna baru bisa bergerak lagi. Tetapi dia tidak boleh mencari makanan, dia harus menunggu di suatu tempat, sampai Hyang Widhi memberinya makanan. Sebagai seorang asura, Aghasura tadinya mempunyai kecenderungan untuk mengikuti insting hewaninya yang telah terpola di dalam pikiran bawah sadarnya. Akan tetapi dengan bertapa, dengan mengendalikan dirinya, maka dia telah dapat menguasai insting hewani dalam dirinya.

 

Rishi Shuka telah memberikan pemahaman tentang pengendalian diri kepada Raja Parikhsit lewat kisah-kisah dalam Bhagavata Purana. Seperti kutipan buku karya Bapak Anand Krishna:

Jadikanlah pengendalian diri sebagai tujuan hidup, sebagai jihad. Bersungguh-sungguhlah untuk mengupayakan hal itu, kemenangan akan selalu ada dalam genggaman, dan kesempurnaan dalam hidup ini akan dapat diraih. Jadikanlah pengendalian diri sebagai kebiasaan, maka perangkap dunia yang ilusif ini tidak akan membelenggu kita. Dunia yang saat ini ada, dan sesaat kemudian tidak ada, ini tidak akan memerangkap kita. Pengendalian diri adalah kekuatan. Bila berhasil mengendalikan diri, kita akan dapat mengendalikan kekerasan dan ketakberesan di luar diri. Orang yang berhasil mengendalikan dirinya tak akan terkendali oleh orang lain. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa digoda, tidak bisa dirayu. Ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Jadilah orang sperti itu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pengendalian diri bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami. Untuk itu, kita harus bekerja keras. Terkendalinya diri oleh keadaan adalah sesuatu yang sangat alami. Bila kita masih belum dapat mengendalikan diri, dan masih terkendali oleh keadaan, it makes sense, sangat alami. Bukanlah kita semua makhluk hidup? Bila makhluk hidup terkendali oleh kehidupan, apa salahnya? Kelak, bila kau berhasil mengendalikan hidupmu tidak perlu kau gembar-gemborkan juga. Saat itu, pengendalian dirimu menjadi sesuatu yang alami! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Krishna Kecil: Melenyapkan Pola Pikiran Keliru Bakasura #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 26, 2017 by triwidodo

Hukum Karma, Sebab-Akibat, atau Aksi-Reaksi adalah Hukum Alam yang bersifat universal. Tidak bisa dikaitkan dengan agama, peradaban, atau budaya tertentu. Jika kita alergi terhadap bahasa Sanskerta, atau Kawi, boleh saja kita menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Cina, atau Arab. Tidak menjadi soal.

Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri. Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia.

Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu. Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini.

Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Di lain kesempatan, kala Krishna dan teman-temannya membawa anak-anak sapi ke Sungai Yamuna, mereka bertemu dengan sebuah bukit besar di tepi sungai. Rupanya bukit besar tersebut adalah wujud dari burung bangau raksasa yang sedang duduk menunggu mangsa. Adalah Bakasura, seorang Asura pembunuh suruhan Raja Kamsa yang sedang duduk menunggu Krishna di tepi sungai.

Tatkala Krishna datang, dia langsung membuka paruhnya dan menelan Krishna. Semua anak-anak kaget dengan kejadian yang tak disangka-sangka ini. Dan Bakasura sendiri juga kaget, karena seakan-akan tubuh Krishna berubah menjadi gumpalan api yang berjalan di tenggorokannya. Bakasura kesakitan seperti menelan bola api dan segera memuntahkannya. Dengan marah dia mematuk Krishna dengan paruhnya yang seperti gunting baja raksasa. Krishna memegang paruh sang bangau dan membukanya dengan paksa. Mulut bangau raksasa tersebut terbelah dan matilah Bakasura.

Bakasura dalam kehidupan sebelumnya adalah seorang gandharva pemuja Sri Vishnu. Karena ingin memberikan persembahan terbaik kepada Sri Vishnu, maka dia memetik bunga teratai dari danau milik Parvati, istri Shiva. Seorang penjaga menangkap sang gandharva dan membawanya ke tempat Shiva.

Karena dia telah mencuri maka dia mendapat hukuman terlahir di dunia sebagai asura yang ingin memperoleh segala sesuatu dengan instan. Akan tetapi, karena dia mempersembahkan bunga tersebut kepada Sri Vishnu, maka di Zaman Dvapara Yuga, Bakasura akan mendapatkan pembebasan dari Sri Krishna yang merupakan avatara Vishnu.

Bakasura adalah simbol dari orang yang mempersembahkan kebaikan, tetapi dengan jalan keburukan. Benih tindakan baik akan membawa kebaikan dan benih tindakan buruk akan menghasilkan keburukan. Hukum alam tidak seperti matematika, di mana jumlah kebaikan dan dikurangi dengan jumlah keburukannya. Masing-masing tindakan, baik atau buruk akan mendapatkan ganjarannya masing-masing.

Di sini kesalahan sang gandharva adalah keyakinannya bahwa seakan-akan Gusti akan membiarkan dia mencuri karena curian akan dipersembahkan kepada Gusti. Demikianlah Gusti dalam konsep pikirannya.

Sampai saat ini mungkin saja masih ada yang suka berhitung, bila saya mencuri Rp. 1 juta dan dihitung kesalahan 1 kali 1 juta, kemudian saya mensedekahkan Rp. 200.000 yang dihitung kebaikan 10 kali lipat karena keikhlasan kita. Secara total saya akan mempunyai kesalahan Rp. 1 juta tetapi mempunyai kebaikan Rp. 2 juta plus uang di kantong Rp 800.000. Mungkin demikiankah cara menghitung Gandharva Bakasura masa kini?

Silakan simak kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya……

Krishna Kecil: Memusnahkan Keserakahan Vatsasura #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 25, 2017 by triwidodo

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), ketika sifat Rajas berkuasa, seseorang menjadi serakah; dan, segala aktivitasnya hanyalah bertujuan untuk meraih kenikmatan duniawi. Sebab itu, ia pun gelisah ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.” Bhagavad Gita 14:12

Kekuasaan Rajas adalah yang paling umum. Rata-rata, kita semua, hampir sepanjang hari, berada di bawah pengaruhnya.

SEPANJANG HARI KITA AKTIF BEKERJA – Namun, tujuan kita hampir selalu untuk menghasilkan materi “saja”. Jarang sekali kita memikirkan apakah pekerjaan itu mulia atau tidak? Apakah pekerjaan itu hanya menguntungkan kita semata atau juga adalah baik bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain?

Kemudian, ketika keinginan dan harapan kita untuk meraih keuntungan sebesar dan sebanyak mungkin tidak tercapai, kita rnenjadi gelisah. Kegelisahan semacam itu memang wajar, lazim, dan alami — karena kesenangan sesaat yang kita kejar selalu bergandengan dengannya.

SELAMA KITA MENGEJAR “SUKA”, maka “duka” yang adalah kembarannya, menanti di luar pintu kehidupan kita. Begitu “suka” keluar, masuklah “duka”. Demikian mereka bergantian mengunjungi kita. Para pengunjung setia!

Inilah keadaan orang yang berada di bawah pengaruh rajas. Ketika berhasil, ia bersuka-cita. Ketika gagal, ia berduka. Kadang senang, kadang susah. Ia selalu terombang-ambing dalam lautan samsara — pengulangan yang tidak pernah berhenti.

Samsara “pengulangan” adalah sebab kesengsaraan. Awalnya barangkali menyenangkan, tapi akhirnya selalu membosankan, mengecewakan dan menggelisahkan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Para kepala keluarga di Gokula mengadakan pertemuan di rumah Nanda, kepala desa Gokula. Mereka membahas kedatangan para asura ke desa mereka. Mereka merasa bahwa desa mereka tidak aman dan mereka berpikir sebaiknya mereka pindah ke tempat lain. Adalah Upananda kakak dari Nanda yang menyarankan agar mereka pindah ke Brindavan. Ayah Upananda dan Nanda  bernama Parjanya pernah diminta Rishi Narada untuk pergi ke Bukit Nandisvara. Parjanya melakukan pertapaan di sana selama bertahun-tahun. Setelah itu Parjanya tinggal di situ dengan keluarganya. Nanda dan komunitasnya pernah tinggal di daerah tersebut sebelum pindah ke Gokula.

Dan komunitas Nanda pun berpindah dari Gokula ke Brindavan. Barisan pedati membawa barang-barang rumah tangga mereka. Para Gopi memakai pakaian terbagusnya, seakan-akan mereka sedang melakukan karnaval. Anak-anak menyanyikan lagu Krishna yang suka berkelakar dengan mereka. Para Brahmana sambil berjalan membaca mantra keselamatan. Rombongan sapi di belakang mereka dikawal para Gopala bersenjata busur dan panah. Para Gopala membunyikan terompet yang terbuat dari tanduk. Yashoda bersama Rohini berada dalam satu pedati bersama Krishna dan Rama. Perjalanan yang menyenangkan dan Bukit Nandisvara berbahagia menyambut kedatangan mereka.

Konon, Shiva pernah berdoa kepada Narayana agar diizinkan untuk menyaksikan adegan-adegan kasih sayang antara Narayana dengan para bhaktanya. Shiva bertapa berabad-abad dan Narayana akhirnya mengabulkan permohonannya. Shiva akhirnya menjadi Bukit Nandisvara di Brindavan di mana para Gopi akan menginjak dia dan meninggalkan debu kaki padanya.

Bukit kedua yang subur dan cocok untuk rumput para gembala adalah Bukit Govardhana, “Go” bermakna “sapi” dan “Vardhana” bermakna “sumber makanan.” Nama Brindavan berasal dari “Brinda/Vrinda”, nama lain dari tanaman Tulasi. Pada waktu itu banyak sekali tanaman Tulasi di daerah tersebut. Di kaki bukit Nandisvara ada sebuah tempat pemujaan Narasimha Avatara dan Varaha Avatara. Nanda dinasihati Muni Garga agar memuja Narasimha Avatara dan Varaha Avatara agar mereka selamat dari gangguan para Asura.

Krishna tinggal di Gokula sampai dengan usia tiga tahun empat bulan. Kemudian tinggal di wilayah Brindavan sampai usia Krishna sekitar 10 tahun. Rama dikenal sebagai anak yang kuat sehingga sering dipanggil sebagai Balarama yang bermakna “Rama yang kuat.“

“Di Brindavan itulah, Krishna memulai Leela-nya, permainannya! Para Gopi dan Gopala yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokula dan pindah bersama Nanda dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para rishi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta! Ya, mereka hanya lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembab, malah banyak di antara mereka yang “jatuh” karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guarding and guiding angels, akhirnya mereka sadar bahwa “Cinta” adalah Aksara Terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna.” (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari, Krishna dan Balarama bersama anak-anak lainnya menggembalakan anak-anak sapi di tepi Sungai Yamuna. Seorang asura suruhan Raja Kamsa datang untuk membunuh Krishna. Vatsasura, sang asura tersebut, berwujud anak sapi dan ikut rombongan anak sapi yang digembalakan oleh Krishna, Balarama dan teman-temannya. Krishna menggamit Balarama, agar memperhatikan anak sapi perwujudan dari Vatsasura. Mereka berpura-pura tidak mengetahui perwujudan sang asura. Setelah dekat, Krishna memegang kaki kanan anak sapi tersebut, memutar-mutarnya dan melemparkannya pada pohon mangga, dan anak sapi tersebut mati. Seberkas cahaya dari anak sapi tersebut jatuh di kaki Krishna dan kemudian lenyap.

 

Dalam kehidupan sebelumnya, dikisahkan bahwa Vatsasura adalah putra dari asura Mura bernama Pramil. Setelah menaklukkan para dewa, dia menjelajahi banyak desa, dan pada suatu ketika sampai ke ashram Rishi Vasishtha. Pramil melihat Sapi Nandini yang merupakan anak perempuan dari Sapi Kamadhenu. Dia berhasrat memiliki Sapi Nandini, tetapi takut mencurinya, karena dia pernah mendengar cerita tentang para Vasu yang membiarkan Vasu Dyaus  mencuri sapi milik Vasistha. Dikisahkan para Vasu kemudian dikutuk harus lahir di dunia dan bahkan Vasu Dyaus harus hidup lama di bumi sebagai Devavrata.

Pramil kemudian mengubah wujudnya sebagai seorang brahmana yang datang untuk meminta Sapi Nandini. Rishi Vasishtha mengetahui siapa sejatinya sang brahmana dan berkata, “Saya tahu kau adalah Pramil anak Mura dan bukan brahmana. Karena kau ingin memiliki anak sapi dengan menipu maka lebih pas kiranya bahwa kau melakukannya dalam tubuh anak sapi!”

Seketika Pramil berubah wujud menjadi anak sapi yang kemudian menangis karena menyesal dan mendekati Sapi Nandini. Pramil dalam wujud anak sapi mengiba, “Selamatkan aku, selamatkan aku!” Nandini berkata pelan, “Kutukan Rishi Vasishtha tidak dapat ditarik, kutukan tersebut hanya sebuah cara agar kau sadar, menyesali perbuatanmu dan bertobat! Kau belum dapat mengendalikan keinginanmu! Kau harus belajar mengendalikan dirimu! Kau harus melakukan tapa sebagai anak sapi! Aku akan memberkati kamu, sehingga di zaman Dvapara Yuga, kau akan berbaur dengan sapi milik Krishna dan kau akan dibebaskan!”

Vatsasura adalah simbol mentalitas kekanak-kanakan yang tidak dapat mengendalikan diri untuk memenuhi semua keinginannya. Sifat keserakahan yang disebabkan oleh ketidakmampuan manusia dalam mengendalikan diri tersebut dilenyapkan oleh Sri Krishna, asalkan dia sanggup bertapa, melatih pengendalian diri.

Krishna Kecil: Persembahan Pedagang Buah bukan Barter #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on July 24, 2017 by triwidodo

Apa maksud Nabi? Salahkah Si Sahabat yang berdoa agar terbebaskan dari penderitaan di akhirat? Lagipula, dia sedang melakukan barter, tukar-menukar, Ya Allah, biarlah aku menderita sekarang, agar nanti tidak menderita lagi.” Dia tidak meminta sesuatu gratis. Oleh Nabi, itu pun dianggap salah. Barter dengan Tuhan, tukar-menukar dengan Allah? Kita memang berjiwa pedagang dan kita anggap Tuhan pun demikian. Maka, berani-beraninya kita berupaya untuk menjalin hubungan dagang dengan Tuhan.

Ada “pedagang” yang sedang melakukan perjalanan suci “untuk” memperoleh pengampunan-Nya. Ada pula “pedagang” yang berdoa agar keinginannya tercapai. Apa pun yang kita lakukan, ada buntutnya. Ada “mau”-nya.

Bermohonlah, supaya yang sulit dipermudah bagimu, supaya Dia menuntunmu sepanjang jalan hidup ini, karena Dia pula yang menjadi tujuan hidupmu. Mohonlah bimbingan-Nya. Nasihat ini sekaligus merupakan teguran agar dia tidak “berdagang” dengan Tuhan. Seorang sahabat harus berupaya agar kesadarannya mendekati kesadaran nabi. Dan kesadaran nabi tidak mengenal “hubungan dagang”. Tidak ada barteran, tukar-menukar, dan lain sebagainya. Seorang nabi, seorang avatar, seorang mesias, seorang buddha tidak akan menjalin hubungan dagang dengan Tuhan, dengan Allah, dengan Keberadaan.

Dia berserah diri sepenuhnya, “Bukan kehendakku, Ya Allah, tetapi terjadilah atas Kehendak-Mu!” Seorang Nabi sedang bicara dengan kerumunan. Ada juga doa-doa berbau “dagang” yang mereka ajarkan. Doa-doa semacam itu diperuntukkan bagi mereka yang masih berjiwa dagang, bukan bagi para “sahabat”. Pilihan ada di tangan kita, mau mempertahankan jiwa dagang atau mau bersahabat dengan nabi. Bila mau bersahabat dengan nabi, kita harus pasrah. Harus menerima Kehendak Ilahi. Jangan mengeluh, jangan menyangsikan kebijakan-Nya.

Sungai Kehidupan mengalir terus. Dan, kita ikut mengalir bersama sungai itu. Tujuannya apa? Menyatu, bersatu dengan Lautan Keberadaan. Tujuan hidup manusia hanya “satu” – menyatu, bersatu dengan Tuhan. Jika memang demikian, doa apa lagi yang harus Anda ucapkan? Tidak bisa lain, permohonan Anda pun harus satu, “Supaya yang sulit dipermudah; supaya Dia menjadi penuntun, karena Dia pula yang menjadi tujuan hidup.” Aku dalam perjalanan menuju Engkau, Ya Allah, Ya Rabb. Aku tidak tahu, bekal apa yang akan kubutuhkan dalam perjalanan ini. Apa yang harus kuminta? Engkau Maha Tahu!” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna dan Rama senang bermain dengan anak-anak sebayanya di halaman rumah dan di jalan. Para Gopi dan Gopala senang dengan anak-anak kecil lucu yang suka menari dan jenaka. Mereka juga senang bermain hujan-hujanan di kala musim hujan tiba. Rohini dan Yashoda sering kewalahan saat mereka bermain lumpur di dekat rumah mereka. Krishna dan Rama pandai bersandiwara, sehingga para orang tua dan remaja di Gokula tidak pernah tahu bahwa mereka berdua adalah para avatara yang mempunyai tugas khusus berbagi kasih dan menegakkan dharma.

Pada suatu hari ada seorang perempuan Nisadha yang sudah tua sebagai pedagang buah datang ke rumah Nanda. Kita masih ingat bahwa Rajarishi Kaushika (Rishi Vishvamitra) pernah mengutuk putra-putra Rishi Vasishtha dan juga kelimapuluh putra raja Kaushika sendiri untuk menjadi orang Nisadha. Orang-orang Nisadha berkehidupan sebagai para pemburu yang sering berpindah-pindah tempat. Para perempuan Nisadha kadang membawa buah-buahan ke desa dan menukarnya dengan butir-butir gandum. Kali ini tinggal beberapa butir buah-buahan yang tersisa dan dia menawarkannya di depan rumah Nanda.

Krishna kecil mendatangi pedagang buah tersebut dan meminta barter buah-buahan yang dibawanya dengan butir-butir gandum dari rumahnya. Sang perempuan pedagang tersenyum dan mengangguk. Krishna kecil masuk ke rumah membawa butir-butir gandum dengan kedua telapak tangannya yang kecil menemui sang pedagang di jalan. Akan tetapi, sepanjang perjalanan, butir-butir gandum tersebut berjatuhan dan tinggal sedikit tersisa di telapak tangan yang diserahkan ke sang pedagang. Sudah bolak-balik Krishna mengambil butir-butir gandum dari rumahnya dan membawanya ke sang pedagang dan selalu saja tercecer di jalan dan tinggal sedikit yang tersisa di telapak tangannya.

Sang pedagang tersenyum penuh kasih kepada Krishna kecil. Butir-butir gandum tersisa diletakkan sang pedagang ke keranjang. Dan kali ini sang pedagang memegang kedua telapak tangan Krishna yang lucu dan kecil. Sang pedagang mengambil seluruh sisa buah yang ada di keranjangnya dan memberikan kepada Krishna kecil yang segera didekapkan ke dada kecil Krishna. Sang perempuan tua pedagang tersenyum bahagia dapat menyenangkan anak kecil yang sangat menawan. Sang pedagang kemudian pamit kepada anak kecil tersebut dan meneruskan perjalanannya. Sudah seharian sang perempuan pedagang berjalan dan dia ingin beristirahat di bawah pohon yang rindang. Kala itu sang perempuan terkesima melihat isi keranjang, ternyata butir-butir gandum yang jumlahnya sedikit yang dibawa anak kecil tersebut berubah menjadi banyak permata yang sangat berharga.

Sang perempuan tua pedagang buah-buahan segera menemui keluarga dan beberapa kerabat dalam kelompoknya. Dia menceritakan kejadian yang menimpanya. Kemudian mereka bersepakat menghentikan kehidupan mereka sebagai pemburu binatang liar yang suka berpindah. Mereka mulai  hidup menetap, bertempat tinggal di pinggir sebuah hutan. Mereka dapat hidup layak dengan banyaknya permata yang didapat perempuan tersebut. Mereka menanam pohon buah-buahan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka hidup berbahagia dan tidak berburu dan makan hewan liar lagi. Dan sang perempuan tua menjadi menjadi wanita bijak yang selalu berdoa kepada Gusti yang telah mengubah penghidupan mereka.

Pedagang perempuan tua dari suku Nisadha menggambarkan keadaan seseorang yang lahir dalam keadaan kurang menguntungkan disebabkan karma-karma kurang baik yang pernah dilakukannya di kehidupan sebelumnya. Akan tetapi, dengan berkesadaran kasih, ia melakukan semua kegiatannya sebagai persembahan kepada Gusti, berkarya untuk Gusti, dengan mudah dia mencapai Kesadaran Tertinggi.

Bhagavan Vyasa menceritakan tentang seorang pedagang kecil. Sang pedagang kecil tidak hanya memikirkan keuntungan pribadinya, akan tetapi dia juga melakukan persembahan kepada Krishna kecil. Dia tidak berjiwa dagang. Dagang adalah pekerjaannya, sehingga setiap hari dia harus berdagang, akan tetapi dia mempunyai hati nurani, tidak semuanya dikalkulasikan dengan untung-rugi. Sang pedagang mendapatkan anugerah sebuah kesempatan untuk mempersembahkan barang dagangannya kepada Krishna secara tulus. Tidak semua orang mendapat kesempatan tersebut, dan sang pedagang tanpa sadar telah menggunakan kesempatan dengan baik. Sang pedagang berhasil karena dia melepaskan kalkulasi untung-rugi dari pikiran dan dia menggunakan hati nuraninya.

Bhagavan Vyasa memberikan nasihat secara tersirat dalam kisah pedagang buah dengan Krishna kecil: Barterlah dengan sesama manusia untuk menghidupimu dan kepada Gusti persembahkan semuanya dengan tulus penuh kasih. Barter, maksudnya berdagang dengan kesetaraan, sama-sama mendapat manfaatnya. Dan kepada Gusti dalam wujud manusia yang memerlukan bantuan lakukanlah persembahan dengan tulus.

Raja Parikhsit tertegun mendengar kisah yang disampaikan oleh Rishi Shuka, “Luar Biasa! Betapa berbahagianya sang perempuan tua bisa melihat dan memegang tangan Sri Krishna. Dan nasib buruk yang menimpanya berubah menjadi kebahagiaan. Terima kasih Guru yang telah memberikan mutiara-mutiara berharga kepada kami. Tanpa wejangan Guru kami belum tahu apa-apa. Bahkan sampai saat ini pun kami merasa bahwa Guru adalah sumber kebijaksanaan yang tak ada habisnya. Namaste!”

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

……………..

Lewat ayat ini, Krsna menghapuskan tradisi perantara antara kita dan Sang Jiwa Agung, Parabrahman, Paramatma, Tuhan. Tidak ada calo. Hubungan kita langsung – direct. Berilah dia.

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan. Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, “Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku”.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan “diri” kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)