Yayati: Kutukan Rishi Shukra Penghilang Keperkasaan Raja #SrimadBhagavatam

Bordil Duniawi

Isa mengatakan bahwa kita tidak bisa melayani dua majikan. Pasti terjadi dualitas. Pasti ada yang lebih, atau kurang diperhatikan. Majikan di depan mata adalah dunia-benda dengan segala isinya. Sementara itu, majikan sesungguhnya adalah Sang Jiwa Agung — tak terlihat, tak terungkap, tapi merupakan hakikat diri kita sendiri.

Pilihan sepenuhnya di tangan kita – mau percaya pada dunia yang sedang berubah-ubah; mau percaya pada pelacur yang rnelacurkan diri demi materi; atau kembali ke rumah, kembali ke pasangan sendiri — kembali ke Jiwa.

Dunia benda berubah terus. Persis seperti bordil. Setiap saat didandani. Para penghuninya, entah perempuan, lelaki, atau di antaranya — dipastikan adalah mereka-mereka yang masih muda, penuh gairah, dan antusias untuk melayani kita.

Kenikmatan buatan, palsu, yang kita peroleh membuat kita memiliki kesan “berhasil”. Padahal, semuanya adalah palsu. Kita sudah terkutuk untuk berada di tengah bordil dunia ini. Tetapi kita tidak terkutuk untuk menjadi langganan tetap bordil ini.

Kita boleh tidak berhenti, dan “melewati” bordil ini. Selain bordil dan medan pelacuran  yang telah menyusup hampir semua bidang, masih ada keindahan alam di sekitarnya. Kita tidak perlu menjadi bagian dari bordil. Kita bisa memilih untuk memahami sifat bordil dan memutuskan untuk menikmati terbitnya matahari, mekarnya bunga-bunga di taman, suara air terjun, sabda alam…….

Tidak ada keharusan bagi kita untuk memasuki dan menjadi bagian dari bordil, kita bisa melewatinya! Celakanya, mayoritas di antara kita telah menjadi budak bordil. Calo, mucikari, pelanggan, penjual, pengedar, pemakai, penceria — banyak profesi di sini.

Pejabat yang telah melacurkan diri, berkata, “Aku berbakti pada Tanah Air.” Padahal, ia sendiri menjual tanah dan air, dijual semurah mungkin, apalagi jelang masa-masa tertentu! Sesama anak bangsa pun dijadikannya komoditas dan ditawarkannya di, apa yang disebut, “pasar bebas!”

Ekonom, Ahli Hukum, Pendidik, Industrialis, Ilmuwan, Pengusaha, dan para Profesional di bidang apa saja — termasuk seni dan sebagainya — “hampir semua” telah menjadi bagian dari bisnis pelacuran! Tidak ada yang menyuruh atau memaksa mereka. Mereka memasuki Rumah Bordil Dunia ini atas kemauan mereka sendiri.

                Krsna mengingatkan kita bahwa Kebahagiaan Sejati tidak dapat diperoleh dari bordil dunia ini. Para pelacur profesional hanyalah memberi kesan seolah kita “berhasil”. Kita dibuatnya membayar dan setelah itu dijadikannya budak mereka. Walau sudah membayar, kita tetap ingin memuaskan si profesional itu. Kita menilai “keberhasilan” diri kita ketika pelacur profesional itu “berpura-pura” dan memberi kesan seolah tidak ada orang lain sehebat kita, “Kau luar biasa”. Dan, kita senang luar biasa!

Kita senang dibohongi. Lama-lama, kita menyukai kebohongan. Dan, kesukaan itu membuat kita menjadi bagian, bagian tetap dari bordil dunia ini. Inilah kesuksesan materi, kesuksesan palsu.

 

Lewati bordil ini, nikmati keindahan di Iuar bordil, dan lanjutkan perjalanan. lngat kebenaran hakiki di balik semua ini. Dan, kebenaran itu adalah kita, diri kita sendiri. Jiwa. Jiwa yang adalah percikan Sang Jiwa Agung.

Keberadaan kita di dunia ini hanyalah untuk sesaat saja. Persinggahan sernentara, sesaat. Kita tidak perlu menjadi bagian dari bordil. Tidak perlu melacurkan diri. Penjelasan Bhagavad Gita 8:22 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Setelah keinginan tercapai apakah kita bahagia selamanya?

Devayani, Yayati, dan Sarmishtha di awal kisah ini betul-betul menganggap keinginan mereka tentang ketampanan, kecantikan, keberlimpahan materi dan kekuasaan akan membahagiakan mereka. Mereka merasa tindakan mereka benar. Dan mereka kemudian mengalami babak belur dihajar dunia. Kepuasan yang telah mereka nikmati hanyalah palsu, seperti ucapan yang sering keluar di bordil, bahwa kita sangat perkasa padahal kita ditipu agar semakin terperangkap dalam bordil dunia.

 

Pada suatu hari, Devayani pergi ke halaman belakang  istana dan melihat tiga anak menjelang remaja yang tampan. Ditanyailah mereka bertiga siapa orangtua mereka. Dan mereka menjawab, “Kami adalah putra Raja Yayati dan ibu kami adalah Sarmishtha.”

Devayani sangat terpukul. Dia ingat ketika waktu remaja, ada murid ayahnya yang sangat tampan bernama Kacha. Sebagai anak remaja tentu saja dia menyukai Kacha. Ketika Kacha telah menyelesaikan pelajaran dan berniat pamit kepada Rishi Shukra, dirinya minta agar Kacha mengawini dirinya. Kacha menolak, karena dirinya belum dewasa dan lagipula Devayani adalah putri gurunya yang sangat dihormatinya seperti saudara sendiri. Pada waktu itu Devayani marah dan mengutuk Kacha bahwa ilmunya tidak akan mencapai kesempurnaan. Akan tetapi, Kacha tidak takut, karena dia memang bersih tanpa kesalahan. Bahkan Kacha balas mengutuk Devayani bahwa nantinya dirinya tidak akan kawin dengan putra brahmana, dan dia akan dimadu oleh budaknya. Dan kutukan tersebut kini menjadi kenyataan.

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/11/04/devayani-kacha-kisah-cinta-putri-guru-asura-dengan-putra-guru-dewa/

 

Pada saat itu, Raja Yayati datang ingin menjelaskan duduk permasalahannya. Devayani marah dan langsung pulang menuju kerumah Rishi Shukra, ayahandanya. Raja Yayati berupaya menenangkan Devayani tetapi tidak berhasil. Raja Yayati mengikuti Devayani sampai bertemu Rishi Shukra. Kebahagiaan dunia ada batasnya, dan kini baik Devayani maupun Yayati sudah saatnya harus membayar dunia dengan kekecewaan.

Devayani kemudian melaporkan hal ini kepada Rishi Shukra dan Rishi Shukra berang dan mengutuk sang raja bahwa dirinya akan menjadi tua dan tidak dapat melakukan hubungan seks. Raja Yayati mohon agar kutukannya dicabut, karena ketuaannya akan merugikan kerajaan dan juga istri-istrinya.

Rishi Shukra berkata, “Kutukan tersebut bisa diwakili oleh salah seorang putramu. Hanya pesanku, bila putramu bersedia berkorban dan kau masih ingin kemudaan, dan bila masih dalam batas etika, nikmatilah dunia ini, nikmatilah sepenuhnya sampai kamu merasa jenuh, sehingga obsesimu akan selesai dan tidak menggodamu lagi. Semuanya terjadi menurut Kehendak-Nya dan bukan kehendak manusia. Kita semua adalah alat-Nya belaka!”

Kepada Devayani, Rishi Shukra berkata, “Putriku, dulu kau minta aku menyetujui perkawinanmu dengan Yayati, sekarang kau meminta aku mengutuk Yayati. Kau belum betul-betul mencintai dirinya, kau baru mencintai egomu sendiri. Renungkanlah!”

Devayani mengharapkan kawin dengan Raja Yayati dan menjadikan Sarmishtha sebagai budaknya dan keinginannya terkabulkan. Raja Yayati ingin mempersunting Devayani sekaligus Sarmishtha, dan keinginannya terkabul juga. Sarmishtha ingin menjadi istri Raja Yayati walaupun sang raja sudah mempunyai istri Devayani, dan harapannya tercapai. Kini Raja Yayati menjadi tua dan tidak bisa bercinta lagi? Apakah setelah keinginan tercapai kita akan bahagia selamanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: