Yayati dan Devayani: Peningkatan Kesadaran di Ujung Kehidupan #SrimadBhagavatam

KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali.

Pernahkah Anda memperhatikan, setelah berhubungan intim dengan pasangan Anda, kenikmatan yang Anda peroleh memudar, berlalu dengan cepat. Dan, setelah itu Anda, justru merasa lebih hampa lagi. Itulah sebab, setelah berhubungan intim, umumnya Anda langsung merokok atau menuju lemari es untuk mencari makanan. Setelah memperoleh kenikmatan pun, Anda tetap merasa lapar, haus, kekurangan sesuatu.

Jika hubungan intim pun tidak bisa membahagiakan, maka pengalaman-pengalaman sensasional lain sudah pasti tidak bisa. Sebab, hubungan intim merupakan pengalaman paling sensasional, dalam pengertian, melibatkan semua senses, semua indra — yang amat sangat intens. Jika pengalarnan seintens itu pun berakhir dengan kehampaan, maka janganlah berharap dari pengalaman-pengalaman lain, dari sensasi-sensasi lain.

SUMBER KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH JIWA SENDIRI! Sifat Jiwa adalah Ananda – kebahagiaan sejati. Namun, selama Jiwa “merasa” terpisah dari Jiwa Agung, ia tidak menyadari hal tersebut. Ia tidak mengalaminya.  Hanyalah Yoga, dalam pengertian, Kemanunggalan Jiwa dengan dan dalam Jiwa Agung yang dapat memunculkan pengalaman tersebut— kebahagiaan abadi tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa kemanunggalan ini sebetulnya sudah terjadi. Kemanunggalan ini adalah hakikat. Justru perpisahan adalah ilusif. Ketika ilusi perpisahan terlampaui— kemanunggalan “terasa” kembali. Penjelasan Bhagavad Gita 5:21 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Raja Yayati menjadi muda kembali dan memerintah kerajaan dengan adil dan bijaksana. Kemarahan Devayani sudah berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Bahkan, kini Devayani telah dikaruniai seorang putri bernama Madavi. Devayani memberikan penghormatan kepada Puru atas pengorbanannya. Sarmishtha sedih melihat putranya yang kelihatan tua, tetapi sekaligus bangga mempunyai putra yang berjiwa agung.

Devayani adalah putri Rishi Shukra dengan ibu Jayanti, putri Indra. Dalam dirinya terdapat genetik para bijak. Peringatan ayahnya bahwa dia masih egois mengusik hatinya. Dia mulai merenungkan semua kehidupannya. Dia mulai berupaya meningkatkan kesadarannya. Dia mengajak suaminya Yayati dan Sarmishtha, madunya memperbaiki diri, mensucikan diri.

Kesadaran Raja Yayati dan kedua istrinya meningkat. Pada suatu saat Raja Yayati menyampaikan kisah sepasang kambing kepada Devayani.

Dahulu kala ada seekor kambing jantan mencari sayuran di hutan dan sampai pada ketika bertemu kambing betina di sumur di pinggir hutan. Mereka kemudian berkasih mesra. Pada suatu saat si kambing betina melihat si kambing jantan sedang berkasih mesra dengan kambing betina lain. Si kambing betina marah dan pergi ke pemilik dirinya seorang brahmana dan menyampaikan kelakuan si kambing jantan. Kambing jantan itu dikutuk sang brahmana kehilangan kekuatan seksualnya.

Si kambing janyan mohon ampun kepada brahmana dan diberi pengampunan untuk bisa berhubungan seks kembali. Kambing jantan dan betina tersebut kembali menikmati seks selama bertahun-tahun. Namun tetap saja sang kambing tidak merasa puas. Kambing jantan merasa jenuh dan bertekad untuk mengendalikan nafsu birahi. Nafsu birahi seperti api, selalu berkobar. Oleh karena itu para bijak menyampaikan bahwa sumber kebahagiaan tidak diperoleh dari luar diri, tidak dari pemenuhan nafsu.

Devayani paham apa yang disampaikan oleh suaminya. Sudah waktunya mereka melepaskan diri dari keterikatan duniawi.

Tidak lama kemunian Raja Yayati memanggil Puru untuk mengembalikan kemudaannya. Puru setelah menjadi muda kembali, kemudian dinobatkan sebagai raja pengganti Yayati.

Yayati berkata, “Putraku aku dulu salah dalam mengenali diriku. Pikiranku kuanggap sebagai diriku sehingga aku terombang-ambing antara mengejar kesenangan dan ketakutan mengalami penderitaan. Kini aku sadar. Kelahiranku, kehidupanku, semua sudah ditentukan sebelumnya, tetapi bagaimana cara menghadapi ketentuan itu sepenuhnya tergantung pada diriku sendiri. Dan kini aku memutuskan menyerahkan kemudaan dan kekuasaan kerajaan kepadamu.”

Raja Yayati juga sudah memaafkan para putra yang lain, Yadu diminta menjadi raja di daerah Selatan, Druhyu menjadi raja di Barat Daya, Turvasu dan Anu di daerah Utara. Yayati kemudian meninggalkan istana untuk berfokus pada Gusti Pangeran. Devayani mengikuti sang suami dan pada akhirnya mereka mencapai moksha.

Rishi Shuka, putra Bhagavan Vyasa, mengakhiri kisah tentang Puru kepada Parikhsit dengan berkata, “Dari Yadu putra Devayani lahirlah kaum Yadava yang termasuk para Raja Surasena, Kunti dan Chedi. Sri Krishna dan Subhadra ibu dari ayahandamu berasal dari dinasti Yadava, sedangkan Pandava, ayah dari ayahandamu, berasal dari keturunan Puru.

Dari Turvasu lahir para raja di Utara, Yavana, Yunani. Dari Druhyu lahir para Raja Gandhara, Dari Anu lahir para raja Angga, Pundra, Kalingga, Wangga dan Suhma.

Kedua mata Parikhsit berkaca-kaca, “Terima kasih Guru, yang telah memberitahu sejarah leluhurku. Puru, putra raja yang masih remaja berani menjalani hidup dalam ketuaan. Dan karena kisah-kisah Guru, kini diriku juga sudah berani menghadapi kematian. Mohon perkenan, sambil menunggu kematianku, Guru meneruskan kisah para leluhurku. Guru adalah Gusti yang mewujud untuk memanduku. Terimalah sembah sujudku pada Gusti yang bersemayam dalam diri Guru. Namaste.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: