Pernikahan Shakuntala: Ujian Ego Raja Dushyanta #SrimadBhagavatam

Perkawinan adalah perjalanan dari “aku” menuju “kita”. Bila milik-mu tetap milik-mu dan milik-ku tetap milik-ku, tujuan perkawinan itu sendiri tidak terecapai. Dianggap gagal atau tidak oleh masyarakat, berakhir dengan perceraian atau tidak, perkawinan semacam itu sesungguhnya sudah berakhir.

…………

Dari warisan budaya yang kaya ini kita memperoleh “landasan kuat” bagi perkawinan. Landasan yang kukuh. Landasan berdasarkan saling percaya, saling hormat, dan diatas segalanya, kasih! Tidak ada unsur tindas menindas; tidak ada dasar subordinasi. Suami dan istri berdiri di atas landasan yang sama. Sama tinggi sama rendah. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih penting. Keduanya sama-sama penting.

………….

Janganlah mengharapkan caring dan sharing dari pasangan, bila ia menikahi Anda karena nafsu, dan bukan karena cinta. Loving, caring, dan sharing adalah produk 3 in 1. Yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain.Ketiganya berada dalam satu paket. Cinta, kepedulian dan kerelaan untuk berbagi adalah tritunggal yang disebut compassion, kasih yang melampaui segala batas; kasih yang tidak mengenal syarat. Dan,”saling menghargai” adalah hasil dari kasih, hasil kasih.

………………

Luar biasa bahwa masyarakat kita, sejak zaman dahulu, memahami betul peran perempuan. Kedudukannya  diharhgai. Perempuan dihormati. Tidak dikasihani, tapi dihormati. Keadaan ini berubah ketika para pedagang dari Timur Tengah, Timur Jauh dan Eropa mulai memasuki wilayah kita. Bersama uang, merekapun membawa budaya mereka. Kita terpengaruh, dan “jatuh” dari ketinggian yang pernah kita capai. Ketinggian peradaban, ketinggian budaya, ketinggian dalam segala bidang.

Budaya kita tidak melihat perempuan sebagai obyek seks yang menakutkan dan merongrong kejatuhan manusia ke neraka, sehingga tak ada keperluan untuk mengharuskan perempuan menutup rapat badan mereka. Budaya kita lebih percaya pada pemberdayaan dari dalam dan bukannya meniadakan semua godaan dari luar. Bila kuat didalam, segala godaan diluar tak akan menggoda; bila lemah di dalam diri, segala virus di luar dapat dikalahkan; tetapi bila sudah lemah di dalam, apapun bisa jadi sumber penyakit. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Dushyanta adalah salah seorang raja bijaksana dari Dinasti Puru, Paurava atau Kaurava. Dia dihormati seluruh rakyatnya. Pada suatu kali dalam perjalanan inspeksi di wilayah kerajaannya, sang raja mampir ke ashram Rishi Kanva. Raja Dushyanta bertemu dengan seorang putri sangat cantik jelita yang memperkenalkan diri sebagai putri angkat Rishi Kanva. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Dushyanta adalah raja besar dari Dinasi Puru, sedangkan Shakuntala sangat cantik karena ibunya adalah seorang bidadari dan ayahnya adalah seorang raja yang meninggalkan istana untuk menjadi rishi.

Dushyanta bertanya siapakah sejatinya putri tersebut, karena Rishi Kanva tidak kawin, berpegang menjadi brahmachari. Shakuntala menjelaskan bahwa dirinya adalah putri dari Rajarishi Kaushika yang terkenal dengan nama Vishvamitra dengan Bidadari Menaka. Rajarishi Kaushika melanjutkan pertapaannya untuk mencapai derajat Brahmarishi. Menaka harus kembali ke kahyangan dan meninggalkan bayi perempuan kecil di dekat ashram Rishi Kanva, sahabat dari Rajarishi Kaushika. Rishi Kanva menemukan bayi perempuan kecil ditemani burung-burung shakunta, maka anak tersebut diberi nama Shakuntala dan diangkat sebagai putri angkatnya.

Dushyanta meminang Shakuntala, dan Shakuntala setuju tetapi agar menunggu kedatangan Rishi Kanva yang sedang bepergian. Dushyanta menyampaikan bahwa karena Shakuntala putri seorang raja, seorang ksatria maka dia berhak memilih ksatria yang akan menjadi suaminya. Demikian adat-istiadat waktu itu. Sita memilih Sri Rama dalam sayembara memilih suami. Draupadi memilih Arjuna dalam sayembara memilih suami juga.

Dushyanta juga menyampaikan tentang pernikahan gandharva, antara pasangan ksatria. Pernikahan Gandharva adalah metode perkawinan dimana si gadis memilih suaminya sendiri. Mereka saling bertemu berkomitmen untuk hidup bersama. Bentuk pernikahan ini tidak memerlukan persetujuan orang tua dan orang lain. Ini adalah salah satu bentuk perkawinan yang umum dilakukan di zaman tersebut.

Jadilah mereka melakukan pernikahan gandharva. Setelah beberapa saat Dushyanta kembali ke istana dan Shakuntala menunggu kedatangan Rishi Kanva. Rishi Kanva menyetujui perkawinan tersebut dan mengatakan bahwa Dushyanta adalah raja besar dan bijaksana dan Shakuntala akan menjadi ibu dari seorang Maharaja Agung. Akhirnya lahirlah seorang putra yang diberi nama Sarvadamana.

Tahun demi tahun berlalu, Sarvadamana, sang putra menjadi besar dan nampak aura kewibawaan yang memancar darinya.  Tetapi Dushyanta belum datang juga. Shakuntala merasa waktu berjalan sangat lambat……….

Raja Dushyanta selalu teringat kisah cinta dengan Shakuntala, akan tetapi ego seorang raja menahan dirinya untuk datang menjemput Shakuntala. Seorang raja mesti menghormati para brahmana penasihat kerajaannya. Dia telah melakukan perkawinan tanpa memperoleh restu mereka. Bagaimana seorang raja bijak meninggalkan para penasihatnya untuk urusan perkawinan yang akan menentukan kualitas putra mahkota, sebagai generasi penerusnya nanti.

“Aku harus berpikir demi kerajaan dan rakyatku atau komitmenku dengan seorang Shakuntala yang hanya diketahui oleh sedikit orang karena menikah secara gandharva?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: