Bharata Putra Shakuntala: Menjadi Brahmana atau Raja? #SrimadBhagavatam

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

………..

Sang Pengawas Agung menyaksikan semua, mengawasi semua. Sudah berulang-kali, Ia pun memberi peringatan. “Kalian sudah salah, lihat apa yang terjadi!’ Tapi, kita budeg, tidak mendengar peringatannya. Maka, jika terjadi hal-hal yang lebih parah lagi, janganlah meyalahkan Sang Pengawas.” Penjelasan Bhagavad Gita 9:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Apakah Raja Dushyanta yang terkenal bijaksana mendengar peringatan dari Sang Pengawas Agung? Ataukah dia tetap budeg, tidak mendengar peringatan-Nya?

Pada suatu hari, Rishi Kanva memanggil Sarvadamana, “Cucuku, dari pihak ibumu kau adalah cucu dari Rajarishi Kaushika yang agung, yang terkenal sebagai Rishi Vishvamitra. Kakekmu penuh semangat meniti ke dalam diri, bahkan meninggalkan takhta, membantu orang yang kesusahan, dan dihormati bahkan oleh seluruh dewa. Dari pihak ayahmu, Dushyanta, mempunyai garis keturunan dari Raja Puru putra Yayati yang bijaksana. Kamu mempunyai genetika bawaan sempurna sebagai raja, sekarang bawa ibumu menghadap ayahmu. Kau jangan memaksa ayahmu menerima dirimu sebagai putranya. Bila dia belum menerima, jangan paksa, yakinlah ada waktunya dia akan memelukmu dan memanggilmu sebagai putranya.”

Shakuntala menurut saja digandeng sang putra menuju istana. Sang putra berkata, “Ibu, aku telah diberikan pesan oleh kakek, sebaiknya ibu menceritakan kisah sebenarnya kepada ayahanda. Setelah itu jangan menangis. Diterima atau tidak diterima ayahanda adalah urusan Gusti Pangeran. Akan tetapi masalah ini harus terselesaikan. Sehingga arah hidupku menjadi jelas menjadi putra raja atau mengikuti kakek menjadi seorang pertapa.”

Sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan mereka dengan penuh penghormatan. Seorang ibu muda yang anggun bak dewi kahyangan dengan putra yang tampan dan memancarkan aura kewibawaan. Wajah sang putra tidak asing bagi mereka, itu adalah wajah Raja Dushyanta.

Sampai di istana mereka melihat sang raja sedang duduk di singgasana dihadiri bayak pejabat kerajaan. Sang putra segera mengajak sang ibunda bersujud menghormati Gusti yang mewujud sebagai raja. Shakuntala kemudian mengingatkan sang raja tentang kejadian sewaktu sang raja berkunjung ke ashram Rishi Kanva, “Demikian Paduka Raja Dushyanta, ini adalah putramu hasil paduan kasih dari kita berdua.”

Sang Raja kaget, dan tegang luar biasa, “Tidak, aku tidak ingat benar siapa engkau, nampaknya kita pernah bertemu tetapi aku lupa.”

Kelemahan dari perkawinan gandharva adalah tidak adanya saksi atas perkawinan tersebut. Raja Dushyanta bingung, bagaimana dia dapat memberi pemahaman kepada para menteri dan penasihatnya tentang kejadian tersebut. Siapa yang dapat membuktikan bahwa remaja tersebut adalah benar-benar putranya? Ini adalah masalah besar bagi kerajaan. Begitu diakui, maka otomatis sang remaja menjadi putra mahkota. Yang tahu betul putra siapa adalah ibunya, tetapi apakah ibunya dapat dipercaya atau tidak? Dan Dushyanta pun kebingungan…

Shakuntala melanjutkan, “ Mungkin paduka akan menolakku karena aku anak hasil perkawinan seorang raja dengan bidadari, tetapi paduka tak dapat menolak darah dagingmu sendiri. Paduka, saya ingatkan bahwa nenek moyang paduka,  Ayu, adalah putra dari Raja Pururawa dengan Urvasi yang seorang bidadari juga.”

“Seorang putra membebaskan ayahnya dari hukuman di neraka yang disebut “put”, oleh karenanya anaknya disebut putra. Menurut prinsip ini, bila ada perselisihan antara ayah dan ibu, adalah ayah yang bertanggungjawab terhadap putranya. Seorang istri yang setia dan berpegang teguh pada suaminya tidak boleh mengalami perceraian. Seorang istri selalu dilatih untuk menjadi orang suci dan setia kepada suaminya. Putro nayati naradeva yama-ksayat: Anak itu menyelamatkan ayahnya dari neraka Yamaraja. Ayah yang pemberi benih sedangkan ibu pemilik lahan. Suami dan istri tidak boleh berpisah dalam kondisi apapun, karena jika mereka memiliki anak, sang anak dapat menyelamatkan ayah dan ibu dari Neraka Yamaraja.

Raja Dushyanta semakin bingung dihadapan semua menteri dan para penasihatnya, yang mendengar pernyataan Shakuntala. Sang raja tetap bergeming menolak pernyataan Shakuntala.

Shakuntala menangis, hatinya tersayat dan penuh kekecewaan dan kemarahan. Sang putra segera menggandeng ibunya untuk meninggalkan istana, “Bunda tenanglah, arah hidupku telah jelas, aku akan menjadi pertapa yang paling baik yang dapat membahagiakan dirimu. Yakinlah pada putra remajamu ini! Bunda mari pergi tinggalkan istana ini!”

Sang remaja berkata, “Wahai paduka raja, aku mendengar dari kakek Rishi Kanva, bahwa kebenaran ucapan adalah sama agungnya seperti pelajaran kitab suci dan membersihkan diri di sungai-sungai suci. Tidak ada dharma yang lebih besar selain kebenaran. Brahman adalah kebenaran mutlak. Jangan menghina Brahman dalam diri paduka. Paduka, aku dan bunda mohon diri.”

Sang raja tertegun, melihat punggung sang ibu dan sang anak. Hatinya ingin mengakui, tetapi dia malu kepada seluruh menterinya. Mau bicara pun tidak bisa, mau berdiri pun tidak mampu. Semua yang hadir tersentuh melihat sang ibu muda menangis terisak-isak, dihibur putra remaja yang tabah dan perkasa.

Tiba-tiba datang suara membahana dari langit: “Dushyanta, perempuan ini adalah istrimu, dan anak remaja ini adalah putramu. Dia akan menjadi maharaja yang besar melebihi dirimu. Shakuntala telah berkata benar. Jangan menghina Shakuntala yang telah lama menderita.”

Tiba-tiba nampak para dewa di langit yang berkata, “Kemarahan seorang perempuan akan menghancurkan seluruh Dinasti Puru. Kejar segera istrimu, tenangkan istri yang luhur itu. Panggillah putramu dengan nama Bharata karena kami sudah memintamu mengambil dia. Bhara berarti melindungi, mengawal. Karena putramu inilah anak keturunanmu dipanggil sebagai Dinasti Bharata.”

Sebuah campur tangan Ilahi terjadi. Tanpa campur tangan ilahi, mungkin Dinasti Bharata tak menjadi golongan ksatria, tetapi menjadi golongan brahmana. Dushyanta segera mengejar Shakuntala dan Bharata dan meminta mereka menjadi permaisuri dan putra mahkota.

Mata Parikhsit menitik mendengar kisah yang disampaikan Rishi Shuka dan berkata pelan, “Wahai Guru, sejatinya hanya karena rahmat Ilahi kami menjadi salah satu keturunan Bharata.  Bagaimana dengan Shakuntala-Shakuntala dan Bharata-Bharata lain yang menjadi korban perkawinan gandharva?”

Rishi Shuka berkata, “Wahai Raja, semua yang lahir dan hidup tidak dapat lepas dari hukum sebab-akibat. Menanam padi menunggu panen 4 bulan. Menanam pohon jambu menunggu panen 6-7 tahun. Menanam pohon jati bisa menunggu puluhan tahun. Pikiran, ucapan, dan tindakan kita merupakan benih tanaman dan tak ada seorang, bahkan dewa pun yang tahu kapan panennya. Menerima dan menghadapi panen di depan mata dengan penuh kesadaran. Itulah intisari kehidupan. Bagaimanapun itu semua terjadi dalam jaring ilusi maya, karena kesadaran kita masih pada tingkatan mental emosional. Para suci kesadarannya telah melampaui kesadaran mental emosional. Semua tindakannya berdasarkan intelijensia, selaras dengan alam. Bahkan sudah mencapai kesadaran murni, kebahagiaan hakiki. Mereka sudah tidak terpengaruh oleh peristiwa yang terjadi di luar.”

Parikhsit terharu, “Guru aku pasrah pada-Mu, Guru lebih tahu apa yang lebih baik bagiku. Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri Guru.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: