Devavrata: Putra Santanu dengan Gangga #SrimadBhagavatam

 

Apabila kita melihat satu episode kehidupan, maka kita bisa saja menilai bahwa Gangga sangat kejam, dan bertindak adharma membunuh anak sendiri. Akan tetapi apabila kita melihat episode sebelumnya maka kita bisa memahami tindakannya. Demikianlah kita akan bisa menerima penderitaan yang kita alami, apabila kita bisa memahami kehidupan kita pada episode sebelumnya.

 

Maya – kekuatan ilusif ini adalah kekuatan-Nya, yang menimbulkan, memunculkan “kesan ciptaan”. Ya, “kesan ciptaan” – seperti kesan suka-duka, banjir-kering, panas-dingin, kelahiran-kematian, dan sebagainya yang kita peroleh saat menyaksikan sebuah pertunjukan. Semuanya sekadar kesan.

Kelahiran dan kematian; suka dan duka adalah tuntutan “peran” yang dimainkan oleh para pemain di atas panggung. Ketika “peran” itu berakhir, si pemain tidak ikut berakhir dengannya. Ia bisa muncul lagi dalam periode berikutnya, melanjutkan perannya. Atau, bahkan memainkan peran lain. Atau muncul dalam kisah lain.

Memang membingungkan – Kita selalu dibingungkan oleh kisah-kisah yang seolah tidak berkesinambungan, sebagaimana seseorang yang tiba-tiba menonton satu episode sinetron yang sudah berjalan lama. Ia tidak mengetahui kisah awalnya. Ia tidak tahu alur ceritanya seperti apa.

Mengetahui seluruh cerita, menyaksikan sinetron atau serial dari awal pun sesungguhnya hanyalah untuk menghibur diri. Janganlah percaya pada  peran yang dimainkan oleh setiap pemain. Itu bukan karakter mereka, bukan sifat mereka yang sesungguhnya.

Tertipu oleh peran – tertipu oleh karakter-karakter di atas panggung. Kita pun sedang menuju nasib yang sama. Mati secara alami dalam keadaan kecewa atau mati bunuh diri – sama saja. Unsur kekecewaan ada dalam keduanya.

Tapi apakah setiap orang mesti mengalami nasib yang sama? Tidak, Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Penjelasan Bhagavad Gita 7:14 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dikisahkan, Raja Mahabhishak lahir lagi sebagai Raja Santanu, salah seorang raja generasi ke sembilan belas dari dinasti Bharata. Santanu kawin dengan Gangga dengan perjanjian bahwa sang raja tidak akan mempertanyakan apa yang dilakukan Gangga terhadap putra-putranya.

Sebanyak tujuh putra lahir dari Gangga yang kemudian dilemparkan ke sungai.

Apabila kita melihat satu episode kehidupan, maka kita bisa saja menilai bahwa Gangga sangat kejam, dan bertindak adharma membunuh anak sendiri. Akan tetapi apabila kita melihat episode sebelumnya maka kita bisa memahami tindakannya. Demikianlah kita akan bisa menerima penderitaan yang kita alami, apabila kita bisa melihat kehidupan kita pada episode sebelumnya.

Pada waktu Gangga melahirkan anak kedelapan, Santanu tidak kuat menahan diri melihat kekejaman istrinya dan bertanya mengapa hal tersebut dilakukan.

Gangga kemudian menyampaikan kisah para Vasu yang meminta tolong kepada dirinya agar mereka tidak usah berlama-lama hidup di dunia. Bayi kedelapan tidak dibuang ke sungai dan harus hidup di dunia dan diberi nama Devavrata. Kemudian, karena Santanu telah ingkar janji kepada Gangga, maka dia kembali ke kahyangan meninggalkan sang raja beserta putranya. Sang raja sangat sedih ditinggalkan sang bidadari yang kembali ke surga. Dia sering menggendong sang putra berjalan-jalan di Sungai Gangga.

Santanu tidak bisa memahami mengapa seorang anak yang dilahirkan Gangga harus dibuang ke sungai. Kejadian tersebut seakan diulangi dalam kisah Nabi Musa saat mengikuti Nabi Khidir. Musa telah berjanji tidak akan bertanya tentang tindakan yang diambil oleh Nabi Khidir. Akan tetapi setelah tiga kali Nabi Khidir melakukan hal yang tidak sepantasnya, maka Nabi Musa bertanya pada Nabi Khidir.

Nabi Khidir menjelaskan kepada Nabi Musa bahwa dia menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggal seorang raja yang suka merampas perahu milik rakyatnya. Kemudian, Nabi Khidir menjelaskan bahwa dia membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan anak ini setelah dewasa mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini akan digantikan dengan anak yang saleh dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya. Dalam kejadian yang ketiga, Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dindingnya diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak-beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Di dalam rumah tersebut tersimpan harta benda warisan mereka berdua. Ayah dari kedua kakak-beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang saleh. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu sedangkan kedua kakak-beradik tersebut masih terlalu kecil untuk mengelola peninggalan harta ayahnya.

Dikisahkan  Devavrata sudah menjadi putra mahkota, pada saat Santanu jatuh cinta kepada seorang putri nelayan bernama Satyavati. Satyavati telah berputra Vyaasa atas perkawinan sebelumnya dengan Rishi Parasara. Satyavati hanya mau kawin dengan Santanu, apabila putra yang dilahirkannya kelak menjadi putra mahkota.

Santanu sangat bingung, yang berhak menjadi putra mahkota adalah Devavrata, kalaupun Devavrata bersedia mengalah, maka anak keturunan Devavrata tetap akan menuntut haknya, dan akan terjadi perang saudara dalam dinasti Bharata.

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: