Bhisma: Sumpah Tidak Kawin demi Keutuhan Hastina #SrimadBhagavatam

Jangan “asal berkarya” – jangan asal “berbuat”. Jangan asal “makan”. Jangan asal “hidup. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh, bagi lingkungan, bagi masyarakat.

 

Krsna menggunakan istilah Sreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah sreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatandengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan sreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak.

Berarti, jangan “asal berkarya” – jangan asal “berbuat”. Jangan asal “makan”. Jangan asal “hidup. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh, bagi lingkungan, bagi masyarakat. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Devavrata adalah seorang putra yang berjiwa besar. Demi  kecintaan Devavrata terhadap ayah yang membuatnya dapat lahir ke dunia serta kecintaan terhadap negara Hastina, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari, Devavrata memilih tindakan mulia bersumpah tidak akan kawin selama hidupnya.

Keputusan Bhisma inilah yang menjadi salah satu sebab terjadinya Kisah Mahabharata yang penuh Petunjuk Kebijakan bagi umat manusia

Sumpah pengorbanan Devavrata tersebut membuatnya dikenal sebagai Bhisma, yang (bersumpah) mengerikan. Pengorbanan Bhisma yang begitu besar meningkatkan spiritualnya, sehingga dia diberi anugerah untuk menentukan kapan saatnya meninggalkan jasadnya di dunia di kemudian hari. Bagi Bhisma, pengabdian dan bhaktinya hanya untuk Ibu Pertiwi, untuk Hastina. Bhisma tidak melarikan diri ke puncak gunung sebagai pertapa. Dharma bhaktinya adalah mempersatukan negara.

Di ujung kehidupannya nanti, Bhisma tetap mengabdi terhadap negara, tapi pada saat itu Drtarasthra dan para Kaurava yang mengendalikan negara sudah berkubang dalam adharma. Konsistensi Bhisma menjadi setengah hati. Menurut Krishna, dharma berada diatas pengabdian terhadap negara. Para pendiri negara kita juga memakai dasar negara Pancasila, dimana Kebangsaan diletakkan setelah Perikemanusiaan.

Perkawinan Satyavati dengan Santanu melahirkan dua orang putra, Citrangada dan Vichitravirya. Citrangada seorang yang perkasa, akan tetapi sombong dan akhirnya meninggal sebelum kawin. Vichitravirya seorang yang lemah dan diperkirakan akan kalah dalam sayembara untuk mendapatkan seorang putri raja.

Ketika Raja Kasi mengadakan sayembara bagi tiga putrinya, demi pengabdian kepada kerajaan Hastina, Bhisma ikut bertanding, menang dan memboyong ketiga putri untuk diberikan kepada Vichitravirya. Ambalika dan Ambika menerima kondisi tersebut, akan tetapi Amba menolak, karena ia hanya mau kawin dengan Bhisma, sebagai pemenang sayembara.

Bhisma mengatakan bahwa dirinya telah bersumpah tidak akan kawin demi keutuhan Hastina. Bhisma menakut-nakuti Amba dengan anak panah yang secara tidak sengaja terlepas dan membunuh Amba. Bhisma tertegun, demi Hastina tanpa sengaja dia telah membunuh seorang putri, Bhisma sadar bahwa dia pun harus terbunuh oleh seorang putri juga nantinya.

Pengabdian Bhisma rupanya hampir sia-sia, karena Vichitravirya pun meninggal sebelum memberikan putra. Satyavati ingin mempunyai cucu penerus dinasti, akan tetapi putranya Vichitravirya meninggal tanpa meninggalkan putra. Sehingga sesuai tradisi saat itu dilakukanlah niyoga, Vyaasa sebagai pengganti suami para menantunya. Vyaasa melakukan demi kasih sayang pada ibunya dan juga kepada para permaisuri agar mempunyai putra.

Vyaasa sendiri tidak menikmati hubungan tersebut, baginya hubungan dengan Hyang Widhi melebihi segalanya. Agar para permaisuri melahirkan putra raja tanpa merasakan kesenangan dari hubungan suami-istri, dikisahkan Vyaasa mengubah wajahnya menjadi menakutkan sehingga Ambika menutup mata dan lahirlah Drtarasthra yang buta. Kemudian membuat Ambalika pucat pasi dan melengoskan lehernya, sehingga lahirlah Pandu yang pucat pasi dan leher yang dalam bahasa Jawa “tengeng”. Kedua permaisuri takut berhubungan lagi sehingga dalam keadaan gelap gulita menyuruh seorang pelayan melayani Vyaasa dan sang pelayan merasa memperoleh berkah dari seorang suci sehingga lahirlah Vidura.

Rishi Shuka mengakhiri kisah tentang kelahiran Bhisma kepada Parikhsit. Dan Bhagavan Vyaasa adalah ayahanda Rishi Shuka. Bhagavan Vyaasa juga merupakan kakek dari Arjuna putra Pandu, yang merupakan kakek Parikshit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: