Krishna: Wujud Ilahi Pelenyap Penderitaan Bunda Bumi #SrimadBhagavatam

 

Keterikatan pada materi menimbulkan keinginan dan ketakselarasan dengan alam. Kemudian berbagai macam masalah pun muncul.

 

Ketakselarasan dengan alam membuat kita tidak nyaman, sakit. Ketakselarasan pula yang menyebabkan kelahiran dan kematian. Keselarasan akan membuat kita kekal, abadi – bebas dari kelahiran dan kematian. Keselarasan kita dengan alam adalah Rencana Allah bagi kita – Kehendak Ilahi. Ketakselarasan kita dengan alam adalah buatan kita. Lalu, apakah kita dapat berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Rencana Allah, dengan Kehendak Ilahi? Apakah kita dapat melakukan sesuatu yang kemudian menjauhkan kita dari Allah? Jawabannya “Tidak”.

Tetapi kenyataannya di lapangan, fakta di depan mata berbicara yang lain. Ternyata kita memang jauh dari Allah, setidaknya kejauhan itu “terasa”. Ternyata tindakan kita memang tidak selaras dengan alam. Apa yang terjadi? Apa yang membuat kita merasa jauh? Apa yang menjadi penyebab ketakselarasan kita dengan alam? Keterikatan pada materi menimbulkan keinginan dan ketakselarasan dengan alam. Kemudian berbagai macam masalah pun muncul. (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Parikhsit berterima kasih kepada Rishi Shuka atas kisah-kisah tentang leluhur para Pandava. Dan, Parikhsit kemudian memohon sang rishi menceritakan tentang Sri Krishna, Sang Avatara Agung, dan Balarama yang konon adalah wujud dari Ananta, Sesha yang selalu bersama Narayana.

“Guru, sejak kecil hamba sangat terkesan oleh Sri Krishna. Sejak dalam kandungan hamba telah diselamatkan oleh Sri Krishna yang melindungi kami dari senjata Brahmastra dari Ashvatama yang ingin memusnahkan seluruh keturunan Pandava. Hambalah satu-satunya keturunan Pandava yang masih tersisa setelah semua saudara-saudara hamba dibunuh oleh Ashvatama. Sejak kecil hamba selalu mencari Sri Krishna, mata hamba memperhatikan semua orang yang baru hamba kenal. Hamba selalu mengadakan pariksha, meneliti, sehingga hamba diberi nama Parikhsit.

“Wahai Guru selama peperangan Bharatayuda di Kurukshetra, Sri Krishna adalah rakit yang membawa nenek moyang kami menyeberangi sungai. Sungai yang mempunyai tepian Bhisma dan Drona pada kedua sisinya. Sungai tersebut terdiri dari pasukan yang tak terukur dipimpin oleh Jayadhrata. Karna adalah ombak perkasa yang mencoba menenggelamkan Pandava. Salya adalah ikan hiu yang bersembunyi di dalam sungai ditemani Ashvatama dan Vikarna. Duryudana adalah pusaran air yang menghisap segala yang berada di atas permukaan sungai. Sungai seperti itulah yang diseberangi Pandava dengan rakit Sri Krishna.”

Rishi Shuka kemudian merenung tentang Vasudeva dan Devaki, orang tua Sri Krishna dan pikiran Rishi Shuka terfokus pada Narayana yang telah mengambil suatu wujud untuk membersihkan racun yang sedang mencekik dunia. Air mata sang rishi mengalir, mengingat kebesaran Narayana.

Bila sebelumnya sang rishi berkisah tentang Dinasti Purava atau Kurava, keturunan Puru putra Yayati, maka kisah tentang Dinasti Yadava, keturunan Yadu putra Yayati telah menggetarkannya.

Rishi Shuka berkata, “Dia tak berwujud, dan tak dapat diserupakan dengan apa pun juga. Akan tetapi, bila Dia ingin mewujud, siapa yang dapat menolaknya? Ilmu manusia tak dapat mencapai Dia. Manakala terjadi penurunan dharma, dan adharma merajalela, Dia memutuskan untuk dilahirkan di dunia untuk membersihkan para raja yang mabuk kuasa. Para raja lalim tersebut adalah para asura dalam wujud manusia.”

Di Kerajaan Mathura, Raja Kamsa merusak tatanan yang ada dengan mengurung sang Ayahanda, bekas raja Ugrasena. Raja Kamsa berkoalisi dengan Raja Jarasandha, mertuanya untuk menguasai dunia dengan kekuatan mereka.

Di kerajaan besar Hastinapura  juga terjadi intrik-intrik perebutan kekuasaan yang didalangi  Shakuni untuk menyingkirkan Pandu dan menjadikan Dhrtarasthra yang buta sebagai maharaja dan putranya sebagai putra mahkota. Di setiap kerajaan di dunia hampir terjadi hal yang sama.

Kekacauan dunia ditandai dengan para penguasa dan para manusia yang mengandalkan pikiran dan nafsu mereka. Tindakan mereka mengesampingkan hati nurani, membuat tindakan yang tidak selaras dengan alam.  Ketidakselarasan dengan alam, merusak keseimbangan alam semesta dan melukai hati Bunda Bumi.

 

Rishi Shuka berkata, “Baiklah wahai raja, pada suatu ketika Bunda Bumi terbebani oleh terlalu banyaknya orang yang bertindak penuh kebodohan sehingga adharma merajalela. Bunda Bumi tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan segera mewujud sebagai induk sapi dan pergi kepada Brahma, melaporkan bahwa para raja dan ksatria telah mengotori bumi dan hanya Narayana yang dapat menolongnya.

Brahma, Shiva bersama para dewa memusatkan kesadaran pada Narayana. Dan mereka mendengar sabda Narayana.

“Panas memang sedang membakar bumi. Aku memutuskan untuk mengambil nama dan rupa. Aku akan berada di bumi sampai gangguan terselesaikan. Selama waktu itu, aku ingin kalian para dewa untuk lahir juga di muka bumi. Aku akan dilahirkan sebagai putra Vasudeva dan Devaki. Sedangkan Adhisesa yang tak dapat dipisahkan denganku akan dilahirkan sebagai kakakku. Mahamaya yang kuasanya menenggelamkan seluruh dunia dalam ilusi juga akan dilahirkan. Semua penduduk surga dilahirkan bersama Narayana untuk membersihkan bumi.”

Bunda Bumi terhibur karena dunia akan segera bebas dari rasa sakitnya.  Para ksatria yang baik akan dipandu avatara dan para dewa untuk mengalahkan adharma. Para ksatria akan menghadapi adharma dan menegakkan kebenaran di muka bumi, bukan mengasingkan diri dari dunia mencari ketenangan diri. Bukan mencari ketenangan diri yang semu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: