Kamsa: Residu Potensi Asura Dalam Diri #SrimadBhagavatam

Energi manusia, sesuai dengan tingkat kesadarannya, bekerja dalam tiga range yang berbeda:

  • Range pertama adalah Range Hewani, dimana instink-instink naluri hewani yang bekerja. Mati-matian mengejar harta, nama, kedudukan, melakukan seks, tidak peduli kenyamanan orang lain demi kenyamanan diri, anda berada dalam range ini.
  • Range kedua adalah Range Insani, dimana anda sudah bebas dari instink dan naluri hewani. Bisa jadi anda masih mengejar hal-hal diatas tetapi tidak secara mati-matian.
  • Range ketiga adalah Range Illahi, dimana anda mengikuti nurani, intuisi. Anda tidak mengejar hal-hal di atas, karena sadar tak ada yang langgeng. Cinta anda sudah berubah menjadi kasih, di mana anda akan memberi, memberi dan memberi. Bagimu pengorbanan adalah persembahan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna menjelaskan dalam Bhagavad Gita. Potensi hewan, atau kehewanian, atau lebih sopannya disebut insting-insting dasar, primitif, sesungguhnya tidakpernah mati sepenuhnya, tidak mati total. Dalam diri orang yang sudah tercerahkan pun, residue atau sisa-sisa insting itu masih ada, sehingga kita harus selalu berhati-hati. Kita harus selalu menyadar-nyadarkan diri. Bila tidak, kita bisa saja terseret lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

 

Setelah acara perhelatan perkawinan Devaki dengan Vasudeva selesai dan mereka akan pergi ke rumah Vasudeva, Kamsa sendiri yang bertindak sebagai sais kereta pengantin, yang menujukkan kecintaan Kamsa kepada saudaranya.

Kala kereta mulai berjalan, tiba-tiba ada suara membisiki Kamsa, “Kamu bodoh, Kamsa! Anak kedelapan dari perempuan yang akan kau bawa ke tempat tinggal suaminya itu akan membunuhmu!” Kamsa bergetar dadanya dan langsung turun dari kereta dan menyeret Devaki dan akan membunuhnya.

Kamsa sangat egois, demi kebahagiaannya, tidak peduli membunuh orang yang tidak bersalah. Kamsa masih berada dalam Range Hewani. Potensi raksasa tersisa dari  kehidupan masa lalu Kamsa sebagai Asura Kalanemi masih ada. Kamsa masih terkendali oleh fight or flight mechanism sehingga sangat egois, individualistik.

Celakanya, tidak seorang pun di antara kita yang bisa menganggap berada dalam wilayah aman. Kita semua belum aman. Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanlta, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada ‘pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah behas seperti Bola, dan berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola, masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri. Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Vasudeva mengingatkan Kamsa, “Wahai Kamsa, Engkau adalah seorang pangeran terhormat. Apakah engkau akan merusak nama baikmu dengan membunuh adikmu sendiri? Kematian adalah pasti. Yang lahir pasti mati. Kematian adalah pasti hanya waktu kematian yang bervariasi. Bila cahaya mengenai mangkuk berisi air yang bergoyang, maka yang bergoyang adalah airnya, sedangkan cahaya sendiri tidak bergerak.

“Demikian pula Atman. Pikiran kita tidak menyadari bahwa Atman itu bebas. Yang merasa membunuh dan dibunuh itu pikiran bukan Atman! Wahai Kamsa, langit tidak mengatakan adikmu akan membunuh kamu, biarkan adikmu hidup, langit mengatakan anak kedelapannya yang akan membunuhmu, dan aku akan menyerahkan setiap putraku yang baru saja lahir kepadamu!”

Vasudeva seakan-akan berkata spontan padahal Vasudeva mengikuti suara nuraninya yang yakin bahwa nanti akan ada jalan keluarnya. Kamsa berpikir sebentar dan kemudian menyetujui dan kemudian Vasudeva dan Devaki dibawa ke dalam ruang penjara di istana.

Setelah tiba waktunya, putra Devaki lahir dan dengan berat hati Vasudeva dikawal penjaga penjara menyerahkan sang putra kepada Kamsa. Kamsa berkata, “Aku diberitahu putra kedelapanmu yang akan membunuhku dan ini adalah putra pertama, maka aku tidak takut dengannya, bawalah kembali putramu!”

Setelah Vasudeva kembali ke penjaranya, Rishi Narada datang kepada Kamsa, “Para gembala di Gokula di bawah pimpinan Nanda semuanya adalah para dewa yang lahir ke bumi dengan perintah Narayana. Kemudian aku juga tidak berpikir bahwa kamu puas terhadap para putra Devaki. Berpikirlah sebentar siapa yang dimaksud putra kedelapan? Jika menghitung terbalik dari kedelapan, ketujuh dan seterusnya, maka putra pertama adalah kedelapan, jika menghitung dari yang kedua, ketiga dan seterusnya, maka yang kedelapan adalah putra pertama! Kamsa, kamu tidak ingat bahwa dalam kehidupan sebelum ini kau adalah seorang asura bernama Kalanemi yang matinya dibunuh oleh Narayana.”

Setelah menyebarkan benih keraguan pada diri Kamsa, Rishi Narada pergi. Kamsa semakin takut pada putra Devaki yang merupakan wujud dari Narayana yang lahir untuk membunuhnya.

Bisikan dari langit selaras dengan pikiran Kamsa yang menemukan jalan paling aman bagi kekuasaannya. Devaki yang sudah kawin dengan Vasudeva memang tidak membahayakan kekuasaanny., Namun putra-putra Devaki bisa mengganggunya, karena mereka keturunan Devaka. Sedangkan Mathura, selama Devaka masih hidup, diperintah bersama oleh Ugrasena, ayah Kamsa, dan Devaka, ayah Devaki. Demikian juga, yang peringatan Rishi Narada sesuai dengan pikiran Kamsa yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan segala cara.

Kamsa kemudian membunuh putra pertama Devaki dan selanjutnya Kamsa selalu membunuh putra-putra yang dilahirkan oleh Devaki. Selanjutnya, Kamsa mengurung ayahandanya di dalam penjara dan mengangkat dirinya sebagai Raja Mathura. Raja Jarasandha telah memberikan putrinya sebagai istri Kamsa. Koalisi Kamsa-Jarasandha sangat kuat di antaranya adalah para raja Pralambha, Baka, Chanura, Trinavarta, Aghasura, Mustika, Arista, Dhividha, Ratu Putana, Kesi, Dhenuka. Kecuali Kamsa dan Jarasandha, yang lain adalah para asura.

Banyak orang bertanya kepada Rishi Narada, akibat peringatanmu terhadap Kamsa, maka anak-anak tak berdosa dibunuh oleh Kamsa. Mengapa hal demikian kau lakukan?

Rishi Narada menjawab, “Anak-anak itu sebenarnya sudah mencapai kesadaran tinggi mada kehidupan sebelumnya. Tinggal lahir sekali lagi dan melunasi hutang-piutang karma yang tersisa. Dengan dibunuh Kamsa maka peran mereka di dunia terselesaikan.

Tugas Rishi Narada adalah tugas yang orang lain tidak bisa menyelesaikannya, bukan pemeran utama, tetapi memastikan bahwa sandiwara yang berlangsung sesuai skenario Gusti.

Sumber: berdasarkan buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: