Pengaruh Mahamaya: Devaki dan Vasudeva Dibebaskan Kamsa #SrimadBhagavatam

Resiko maksimum adalah mati

Abhaya, Be Fearless, Do Not Fear, Jangan Takut: jangan takut menghadapi kenyataan hidup. Jangan takut mengahadapi stress berat, jangan takut memikul beban. Jangan melarikan diri. Kendati tidak takut, janganlah bertindak anarkis. Jangan seperti kerbau lepas kendali. Jangan membalas tindakan yang tidak bertanggungjawab dengan tindakan serupa. Pertahankanlah kewarasan serta kesadaran diri! Masih ingat Maximum Risk Theory kan? Mati, kematian adalah resiko maksimum, yang  tak dapat dihindari. Lalu apa yang harus ditakuti? Tetapi, tidak berarti kita “mencari mati”. “Tidak takut mati” tidak membenarkan aksi bunuh diri. Tidak takut mati berarti tidak khawatir akan kematian. Tidak takut mati berarti bekerja sekuat tenaga, menyelesaikan pekerjaan setiap hari, karena barangkali hari ini adalah hari terakhir. Berusahalah untuk tidak meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, karena Anda pula yang kemudian harus menyelesaikannya. Untuk itu, terpaksa Anda harus “kembali”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setelah Mahamaya memberikan peringatan kepada Kamsa, kemudian dia menghilang. Akan tetapi, peristiwa tersebut memberikan pengaruh luar biasa kepada Kamsa. Kamsa menjadi sadar tentang tindakan apa yang telah dilakukannya. Kamsa kemudian melepaskan rantai belenggu Vasudeva dan Devaki.

Kamsa berkata, “Aku menyesal atas perbuatanku kepada kalian, karena ketakutan terhadap kehilangan nyawaku, aku telah bertindak kejam kepada kalian. Aku telah mengingat kehidupan masa laluku sebagai Kalanemi yang dibunuh Narayana. Kemudian aku mengkhawatirkan masa depan saat aku dibunuh oleh anak kalian. Aku larut dalam kehidupan masa lalu dan terbelit dengan bayangan kehidupan masa depan sehingga aku tidak bisa menikmati masa kini dengan penuh kewajaran.

Banyak manusia yang tidak sadar dan bertindak seperti Kamsa. Karena ketakutan akan penderitaan di masa lalu dan ketakutan akan mengalami penderitaan di masa depan, maka dia tidak fokus pada tindakan saat ini, sehingga sering memilih tindakan yang salah yang bahkan akan mengacaukan kehidupannya.

 

Takut mati

Banyak diantara kita hanya “mengaku” tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi “rasa takut” yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita-bahkan “kekitaan” itu sendiri. Dan kalau anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena “ego”. Seolah-olah kalau anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kamsa berkata, “Aku percaya kepada suara dari langit, sehingga aku membunuh putra-putra saudaraku. Sebetulnya itu semua adalah akibat keserakahanku sendiri. Aku merasa bahwa diriku adalah pikiranku. Dan pikiranku selalu mencari keamanan dan keuntungan bagi diriku dan mengabaikan rasa orang lain. Aku masih merasa sebagai asura yang hanya ingin memuaskan keinginan diri tanpa mempedulikan kesusahan orang lain akibat perbuatanku. Aku sadar bahwa badan ini seperti mangkuk dari tembikar. Kala mangkuk ini pecah maka badan ini juga hancur. Akan tetapi, isi dari mangkuk tersebut adalah udara yang tak pernah mati. Kalian berdua mengetahui bahwa seseorang dilahirkan karena karma, perbuatannya di masa silam. Orang bodoh merasa bahwa seseorang membunuh atau dibunuh, akan tetapi kalian tahu bahwa Atman tidak bisa dibunuh. Kejadian memang harus terjadi karena adanya hukum sebab-akibat dan aku tahu aku akan menerima akibat perbuatanku di masa depan. Maafkan aku dan kalian sekarang kubebaskan dari penjara!”

Nampaknya terbit kesadaran dalam diri Kamsa, bahwa jati diri manusia itu kekal abadi. Akan tetapi , sekadar menyadari saja tidak cukup. Kesadaran tersebut harus dilakoni dengan tindakan dalam keseharian.

Jiwa yang Bersemayam di dalam Badan atau, lebih tepatnya, Jiwa yang menggerakkan badan, menghidupinya – tidak ikut mati, tidak pula terurai. Ia tetaplah Abadi sebagaimana sedia kalanya. Jiwa inilah identitas diri kita yang sesungguhnya. Bukan badan, bukan indra, bukan mind atau gugusan pikiran dan perasaan – semua itu entah terurai, atau berubah. Tidak demikian dengan Jiwa, yang adalah hakikat diri kita, hakikat diri setiap makhluk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Vasudeva dan Devaki mengatakan kepada Kamsa bahwa mereka telah melupakan kesalahan Kamsa. Devaki berkata bahwa apa yang Kamsa katakan adalah benar. Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam semesta termasuk diri kita. Dalam diri kita ada alam kebendaan dan benih Jiwa Agung.

……………..

Tantangannya ialah ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sumber: berdasarkan buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: