Krishna Kecil: Pemberian Air Susu Asura Putana #SrimadBhagavatam

DAMPAK PERGAULAN – Kedekatan fisik, pikiran, atau perasaan dengan orang-orang yang ber-“arus-pendek” adalah penyebab terbakarnya rumah kita.

Kita boleh bertanya, “Apa kesalahanku sehingga rumahku terbakar? Instalasi listrik rumahku cukup baik!” Sebaik apa pun instalasi listrik di rumah kita, keberadaan rumah kita “dekat” rumah yang terbakar itu sudah cukup alasan bagi rumah kita ikut terbakar!

Korsleting yang sedang terjadi dalam gugusan pikiran serta perasaan seorang yang dekat dengan kita adalah berbahaya, bisa fatal! Kita bisa ikut korslet, ikut terbakar.

Pemahkah kita memperhatikan sifat para pekerja di rumah sakit jiwa? Umumnya mereka  “rada-rada” juga, walau mereka tidak menyadari hal itu, atau tidak mau mengaku.

Tidak berarti orang gila tidak boleh dirawat, tidak boleh dilayani. Silakan merawatnya, silakan melayaninya, tapi jagalah “jarak aman”. Jangan terlibat dalam persoalan mereka secara emosional. Kita akan ikut menjadi gila dan malah tidak mampu rnerawat dan melayani mereka yang membutuhkan kita.

Mereka yang senang bercurhat—curhatan dengan menggunakan kedok “bertemu untuk arisan” atau kedok lain mana pun — berada dalam wilayah risiko tinggi menjadi “gila”.

Seseorang yang percaya pada kekuatan curhat tidak percaya diri. Dan “tidak percaya diri” menjauhkan diri kita dari kita sendiri. Kita membiarkan diri kita melemah, sehingga orang lain yang sama lemahnya dapat mengemudikan diri kita.

Setiap kelompok curhat, terdiri dari 2 orang, 200 orang, 2.000 orang, atau lebih — adalah kelompok orang-orang bingung, berjiwa lemah, berkesadaran jasmani saja, dan tidak tahu arah hidup. Mereka semuanya tanpa kecuali dan tidak pernah tidak — saling mencelakakan.

Jadilah Samkhya Yogi. Gunakan matematika kehidupan untuk memilah tindakan-tindakan mana saja yang tepat dan mana yang tidak tepat. Janganlah menanggung konsekuensi atas perbuatan yang tidak tepat melulu. Kita bisa bertindak secara tepat, asal menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kewaspadaan, ke-eling-an. Penjelasan Bhagavad Gita 18:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Kesadaran Kamsa tidak bertahan lama, karena pergaulan Kamsa yang tidak menunjang kesadaran. Manusia selalu terpengaruh oleh pergaulannya. Para pejabat sekeliling Kamsa mengingatkan Kamsa atas peringatan Mahamaya bahwa putra Devaki dan Vasudeva telah lahir dengan selamat. Mereka mengusulkan agar semua bayi yang usianya belum satu tahun semuanya dibunuh, demi kemananan kehidupan Kamsa. Kamsa terpengaruh dan merestuinya.

Rohini telah melahirkan putra setahun sebelumnya, putra yang tampan bersinar seperti putra Yasoda yang baru saja lahir. Dikisahkan, Nanda sangat berbahagia dengan kelahiran anak mereka. Nanda kemudian mengadakan upacara upacara penyucian bernama Jatakarma.

Bumi dibersihkan oleh kala, waktu. Tubuh dibersihkan oleh air. Brahmana dibersihkan oleh persembahan. Kekayaan dibersihkan oleh memberi. Pikiran dibersihkan oleh tapa, pengendalian diri dan anak yang baru lahir dibersihkan dengan Jatakarma.

Setelah selesai mengadakan acara Jatakarma, Nanda segera pergi ke kota untuk membayar upeti kepada bendahara istana. Dan di kota tersebut dia bertemu Vasudeva. Nanda mengungkapkan rasa belasungkawa atas nasib yang diterima Vasudeva ketika keenam putranya telah dibunuh Kamsa sambil mengabarkan bahwa Rohini telah melahirkan seorang putra. Nanda juga mengatakan bahwa Yashoda telah melahirkan seorang putra pula.

Vasudeva mengucapkan selamat dan berkata bahwa sebaiknya Nanda cepat pulang karena dia melihat malapetaka akan datang ke Gokula. Oleh karena itu, lebih baik Nanda cepat pulang agar dekat dengan istri dan anaknya.

 

Dikisahkan bahwa Kamsa memanggil salah seorang penasihatnya bersama istrinya yang bernama Putana. Putana adalah seorang asura perempuan. Dan Kamsa meminta Putana untuk membunuh bayi-bayi yang sedang menyusui yang usianya di bawah satu tahun.

Putana kemudian berkeliling desa dan membunuhi bayi-bayi yang tidak bersalah. Pada suatu saat, sampailah Putana di desa Gokula. Dengan kekuatan mayanya, Putana mengubah dirinya sebagai wanita cantik. Putana masuk ke halaman rumah Nanda dan melihat bayi kecil dalam ayunan. Segera bayi itu dipangkunya, layaknya seorang wanita yang mencintai anak kecil. Orang-orang yang melihatnya agak heran tetapi terkesan dengan kecantikan dan kasih sayang yang ditunjukkan wanita tersebut kepada bayi putra Yashoda.

Putana melonggarkan bajunya dan mulai memberi susu kepada sang bayi. Putana berpikir bahwa bayi tersebut akan segera mati setelah minum air susu beracunnya. Akan tetapi, dia kaget sekali tatkala sang bayi menghisap semua susu yang ada dalam dadanya dengan keras. Dia berteriak-teriak agar tindakan sang bayi tidak dilanjutkan. Akan tetapi, dia terlambat dan dia merasakan nyeri yang tak tertahankan dan kemudian tewas.

Mayat wanita cantik tersebut kemudian berubah wujud menjadi asura perempuan yang tinggi besar dan menyeramkan. Warga Gokula kemudian memotong-motong tubuh dan membakar mayatnya. Pada saat pembakaran mayat tersebut keluar bau harum yang mereka tidak tahu berasal dari mana.

Saat Nanda pulang dari kota dia mendengar cerita tentang kematian seorang asura perempuan. Nanda menceritakan bahwa Vasudeva,sahabatnya, adalah seorang yang dikaruniai kewaskitaan sehingga sudah melihat akan ada kejadian besar di Gokula sehingga dia diminta cepat pulang.

Dikisahkan bahwa Putana dalam kehidupan sebelumnya bernama Ratnamala dan merupakan putri Raja Bali. Saat pertama kali melihat Vamana Avatara, Ratnamala ingin mengambil Vamana sebagai putranya dan ingin menyusuinya. Akan tetapi, tatkala Vamana meminta Raja Bali untuk memenuhi permintaan tiga langkahnya yang membuat Raja Bali takluk, maka Ratnamala berubah pikiran dan ingin membunuh Vamana.

Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/18/vamana-avatara-lahir-dari-kegigihan-ibu-dan-berkah-narayana-srimadbhagavatam/

Dan https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/22/kepasrahan-raja-bali-dan-berkah-narayana-srimadbhagavatam/

 

Sri Krishna memenuhi keinginan Ratnamala dalam kehidupan selanjutnya sebagai Putana. Putana menyusui Avatara Krishna dan berkehendak untuk membunuhnya.

Beruntunglah Putana, sang bayi tidak hanya menyedot air susunya, tetapi juga menyedot semua kesalahannya, sehingga dia menjadi bersih suci kembali. Konon, itulah sebabnya pada saat pembakaran mayatnya keluar bau harum. Memberi makan seorang avatara membawa berkah.

Bagaimana dengan Yashoda dan para Gopi yang memberi Sri Krishna kecil makanan dan  buah-buahan? Para Gopi dan Gopala pun juga akan mengalami moksha.

Bukan suatu kebetulan bahwa para Gopi dalam kehidupannya yang lampau adalah para Gyaani, pertapa bijak yang sudah melakoni hidupnya sesuai Gyaana, pengetahuan tentang kesadaran dan mereka hanya perlu lahir sekali lagi untuk melaksanakan bhakti terhadap Narayana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: