Krishna Kecil: Menendang Sakatasura Pembawa Kebiasaan Buruk Masa Lalu #SrimadBhagavatam

Urusan duniawi sering melalaikan kita dari fokus pada Gusti

Orang tua Yesus tahu persis siapa anak mereka. Tetap saja seperti diwartakan dalam Lukas 2:48-9, mereka bisa meninggalkan dia seorang diri di Yerusalem. Sehari kemudian mereka baru sadar bila Yesus kecil tidak bersama mereka. Ini salah siapa? Setelah itu pun, ketika sadar bahwa Yesus tidak bersama mereka, mereka masih bertanya-tanya kepada kawan dan kerabat di dalam rombongan mereka.

Betapa cepatnya kita melupakan Yesus ketika berada dalam frekuensi kesadaran gerombolan. Akhirnya, mereka kembali ke Yerusalem dan menemukan Yesus. Apa kata Yesus? Dia selalu bersama Gusti di Bait Allah – berarti selalu dalam kesadaran kemahahadiran Gusti.

Yang meninggalkan siapa? Yesus meninggalkan kita atau sebaliknya justru karena kita berada di frekuensi rendah materi maka kilauan wajah Yesus tidak tampak lagi? kita jatuh dari gelombang kesadaran kemahahadiran-Nya, maka kehadiran Yesus pun tidak terasa, karena Beliau selalu berada dalam kesadaran kemahahadiran-Nya. Dikutip dari contoh Materi Bapak Anand Krishna dalam Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

 

Putra Nanda dan Yashoda telah berusia tiga bulan. Yashoda sangat berbahagia kala melihat sang bayi sudah mulai bisa tengkurap. Sang bayi memang amat menawan, dan setiap orang selalu mencintainya dengan hati yang tulus. Pada suatu saat sang bayi dimandikan di sungai Yamuna dan kemudian diberikan pakaian yang bagus. Sang bayi nampak mengantuk dan Yashoda meletakkan sang bayi di bawah pedati yang sudah ada di tepi sungai Yamuna. Sekejap Yashoda melupakan sang bayi dan asyik mengobrol dengan para gopi.

Ini adalah pelajaran dari kita bahwa mereka mereka yang dekat dengan Avatara, Wujud Ilahi, kadang-kadang melupakan berkah tersebut dan terlelap dalam permainan dunia, sehingga muncul masalah. Yashoda melupakan sang bayi dan asyik mengobrol dengan para Gopi lainnya. Sita yang sudah bertahun-tahun berjalan bersama Sri Rama, bahkan meminta Sri Rama untuk memperoleh Kijang Kencana. Seperti manusia yang sudah dekat dengan Gusti, yang merupakan tujuan akhir manusia, malah meminta kepada Gusti untuk sesuatu hal yang bersifat duniawi sehingga Sita menjadi terperangkap dalam sandera Rahvana, gambaran ego manusia, dan memerlukan perjuangan panjang untuk dapat kembali menjadi dekat dengan Sri Rama, Dia Yang Berada di Mana-Mana.  Mirip, sudah ketemu Sadguru tetapi yang diminta masih berkaitan dengan kebahagiaan duniawi yang tidak abadi, mohonlah kebahagiaan abadi….

 

Sakatasura, Asura yang mewakili pembawa kebiasaan buruk masa lalu

Tiba-tiba terdengar suara ribut, kereta pedati tersebut jatuh, hancur bersama dengan barang-barang yang berada di atasnya. Yashoda bersama para Gopi segera lari menuju sang bayi. Dan anak-anak kecil bercerita bahwa kaki kecil sang bayi menendang kereta pedati sehingga terjungkal dan rusak. Siapakah yang dapat percaya dengan cerita para anak kecil. Mana mungkin kaki seorang bayi mungil berusia tiga bulan menendang sebuah kereta pedati?

Adalah Kamsa yang menyuruh seorang asura bernama Sakatasura untuk menculik dan membunuh sang bayi putra Nanda dan Yashoda. Kematian Putana mulai meyakinkan diri Kamsa bahwa putra Nanda dan Yashoda sebenarnya adalah putra kedelapan Vasudeva dan Devaki yang telah pindah tempat seperti yang diucapkan oleh Mahamaya. Oleh karena itu, Kamsa mengirimkan “mesin-mesin pembunuh” untuk membunuh putra Nanda dan Yashoda tersebut. Sakatasura mengubah wujudnya sebagai kereta pedati dan bermaksud membawa sang bayi dan melarikannya keluar dan kemudian membunuhnya. Akan tetapi, kaki kecil sang bayi telah menyentuhnya dan Sakatasura meninggal.

Vamana Avatara pernah menggunakan kaki kecilnya untuk menaklukkan Raja Bali dengan tiga langkahnya. Langkah pertama meliputi langit, langkah kedua meliputi bumi, dan langkah ketiga di atas kepala sang raja yang memuliakan Raja Bali.

Varaha Avatara pernah menggunakan kaki celeng raksasa untuk menendang Hiranyaksa sehingga Hiranyaksa meninggal, tugasnya selesai, dan akan lahir lagi sebagai Kumbhakarna nantinya.

Dan kali ini sang bayi menyentuh Sakatasura dan sang asura menjadi terbebaskan. Pada Zaman Satya Yuga, Sakatasura lahir sebagai Utkaca putra dari Hiranyaksa. Utkaca pergi ke pondok Muni Lomasa dan menebang beberapa pohon. Muni adalah rishi yang melakukan pengabdian kepada Gusti dengan cara diam atau sedikit sekali mengucapkan kata-kata. Muni Lomasa kemudian mengutuknya sehingga dia tidak mempunyai wujud. Dan wujud Utkaca yang sangat besar tersebut berubah menjadi udara. Utkaca memohon ampun, dan Muni Lomasa berkata bahwa dalam manvantara berikutnya dia akan disentuh oleh Narayana dan ia akan terbebaskan.

Bila Putana, asura wanita penyihir, adalah simbol dari guru palsu yang harus dilenyapkan oleh Sri Krishna, maka Sakatasura adalah simbol dari kereta pedati yang membawa kebiasaan buruk dari masa kini dan sebelumnya. Sri Krishna menendang belenggu  “kereta pedati kebiasaan buruk” ini dengan menendangnya sampai hancur.

“Tanpa sadar manusia telah terbelenggu oleh kebiasaannya. Terbelenggu oleh obsesi masa lalu yang terungkap dengan sifat genetik tertentu yang dikaruniakan kepada masing-masing manusia. Kemudian manusia juga terbelenggu oleh obsesi dalam kehidupan saat ini. Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan, “Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurung kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita. Ada tiga lapisan utama:

Lapisan Pertama adalah yang diwarisi dari kelahiran sebelum ini, obsesi-obsesi Anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga Anda masih harus lahir kembali.

Lapisan Kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru.

Lapisan Ketiga adalah yang Anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok Anda semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.

Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Anda hidup dalam kurungan yang berlapis-lapis. Anda belum pernah hidup bebas. Hanya seorang Buddha yang hidup bebas. Hanya dialah yang hidup di luar kurungan. Buddha sedang mengundang Anda untuk membebaskan diri dari ‘kurungan’. Tetapi Anda tidak berani. Anda masih ragu-ragu. Anda masih bimbang, ‘Di dalam kurungan, hidup saya sudah cukup nyaman. Cukup terjamin. Sudah bisa makan enak. Sudah bisa jalan-jalan ke mal. Sudah bisa nonton film. Sudah bisa ke diskotik. Di luar sana, semua itu ada nggak? Seorang Yesus sangat persuasif. Seorang Muhammad sangat lembut. Mereka akan memberikan gambaran ‘surga’. Mereka ingin Anda bebas dari kurungan. Dan mereka tahu persis, jika tidak diberikan iming-iming surga, Anda tidak akan berani keluar dari kurungan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: