Krishna Kecil: Menjatuhkan Trinavarta Penikmat Materi Ilusif #SrimadBhagavatam

Awan Delusi menyebabkan penglihatan kita tidak jelas. Awan delusi adalah awan jabatan, awan kekuasaan, awan kekayaan – sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Namun, kita percaya pada awan. Kita tidak pernah berupaya untuk melihat di balik awan. Itu sebabnya, kita selalu mengejar konfirmasi dari pihak lain. Pihak lain mengatakan kita baik, kita senang. Pihak lain mengatakan kita jahat, kita gusar. Kita mempercayai apa yang kita dengar, apa yang kita baca tentang diri kita, kita tidak memiliki kepercayaan diri.

Sifat ini Sungguh Melemahkan – Dan, membuat kita tergantung pada dunia benda. Kita makin percaya pada kebendaan, dan makin jauh dari Hakikat-Diri kita sebagai Jiwa.

Lampauilah awan delusi yang membingungkan, temukan diri-sejati, dan lepaskan ketergantungan pada dunia benda yang bersifat ilusif, sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Penjelasan Bhagavad Gita 2:52 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu ketika saat Yashoda selesai memandikan sang bayi di halaman rumahnya, dia merasa sang bayi terasa sangat berat. Melihat sang bayi sedang tertidur nyenyak, maka Yashoda meninggalkan sang bayi di halaman dan masuk ke rumah menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Asura pembunuh suruhan Kamsa bernama Trinavarta datang dan mengambil wujud angin puyuh. Seluruh penduduk Gokula berada dalam kepanikan dan menutup mata dan segera masuk ke rumah, karena debu, daun-daun kering, dan kerikil berterbangan. Tidak berapa lama angin puyuh mereda, dan Yashoda segera lari ke halaman mencari sang bayi. Akan tetapi, sang bayi tidak nampak. Yashoda cemas bahwa sang bayi terbawa oleh angin puyuh.

Asura Trinavarta membawa sang bayi terbang tinggi ke langit dan bermaksud menjatuhkannya, kala dia merasa sang bayi begitu berat, sehingga dia tidak kuat membawanya. Kemudian dalam keadaan setengah sadar dia merasa tangan mungil sang bayi mencekiknya dan tubuhnya jatuh ke bumi. Asura Trinavarta tewas.

Beberapa saat kemudian, penduduk Gokula merasa seperti ada gempa bumi dan mendengar suara seperti bukit runtuh di tepi hutan. Mereka berlari ke sana dan melihat seorang asura yang luar biasa besarnya mati dengan sang bayi yang masih berada dalam pelukannya. Para penduduk tak dapat memperkirakan apa yang terjadi dan hanya bersyukur kepada Narayana yang telah menyelamatkan sang bayi putra Nanda dan Yashoda.

Trinavarta dalam kehidupan sebelumnya (past life) adalah seorang raja yang merupakan seorang bhakta Narayana yang teguh. Pada suatu ketika di Pantai Reva yang indah dia menikmati waktu luang dengan ribuan wanita cantik.

Ketika Muni Durvasa datang, sang raja asyik dengan ribuan wanita cantik, dan tidak memberikan hormat kepada sang muni, sehingga keluarlah kutukan, “Wahai hati yang dipenuhi rasa kenikmatan, jadilah seorang asura penikmat duniawi!”

Ketika sang raja memohon ampun, Muni Durvasa berkata, “Wahai Raja, sentuhan tangan Krishna akan memberimu kebebasan!” Setelah mendapat sentuhan sang bayi avatara, Trinavarta menemui kebebasan.

Trinavarta, asura angin puyuh melambangkan kebanggan palsu seorang penikmati materi yang bersifat ilusif, bagaikan angin.  Kebanggaan palsu tersebut dibuang oleh Sri Krishna Kecil.

 

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, mengharap-harapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan permainan ego, ke-‘aku’-an yang ilusif – meraih kedamaian sejati.” Bhagavad Gita 2:71

 

Tidak lagi mengharap-harapkan, tidak lagi mengejar-ngejar, tidak lagi memburu sesuatu – berarti tidak ada lagi obsesi dalam dirinya. Ia sudah melewati semuanya. Ia sudah mencoba semuanya. Ia sudah merasakan semuanya dan menyadari bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari dunia tidak abadi, tidak langgeng. Kesadaran itu sendiri sudah cukup untuk membuatnya menjadi tenang.

Ia Berpaling kepada Dirinya Sendiri – Ia memperoleh sumber kedamaian dan Kebahagiaan Sejati dalam dirinya sendiri. Begitu ia menemukan dirinya, ia juga menemukan “Sang Aku” yang Universal. Ia mulai menyadari bahwa semuanya, segala sesuatu, hanya merupakan bayangan-bayangan “Sang Aku” yang Sejati itu. Kemudian, pada saat itu juga, ego yang selalu bersandar pada objek-objek duniawi runtuh, gugur. Ia sudah tidak dapat mempertahankan dirinya; dan rasa kepemilikannya yang ilusif terhadap seseorang atau sesuatu. Segala sesuatu adalah milik-Nya. Ia pun milik-Nya. Apa yang harus dimiliki lagi, siapa yang dapat memiliki lagi? Kesadaran-diri seperti inilah yang mendamaikan Jiwa. Penjelasan Bhagavad Gita 2:71 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: