Yashoda: Alam Semesta di Dalam Mulut Krshna #SrimadBhagavatam

“Wahai Kurupravira (Arjuna, Pahlawan Wangsa Kuru), kecuali dirimu, tak seorang pun yang pernah melihat wujud ini. Pendalaman kitab-kitab suci (Veda); ritus-ritus keagamaan; amal-saleh atau dana-punia; pun tapa-brata, tiada satu pun di antaranya, yang dapat memperlihatkan wujud ini.” Bhagavad Gita 11:48

Segala tindakan, sebaik apa pun; segala upaya, dan jerih-payah hanya dapat mengantar kita ke pintu gerbang Istana Gusti Pangeran. Sebab itu, tidak berarti semuanya sia-sia. Tidak. Tetapi, terakhir, dibukanya pintu gerbang adalah sepenuhnya, HAK PREROGRATIF GUSTI PANGERAN – Pertemun Agung terjadi karena berkah-Nya. Atas kehendak-Nya semata. Kenapa demikian? Ada alasannya, dan alasan itu pun menyangkut ulah kita sendiri.

Jika kita masih menganggap diri kita — Jiwa Individu — terpisah dari Sang Jiwa Agung, Gusti Pangeran, maka pintu gerbang istana-Nya tetap tertutup bagi kita. Pintu gerbang istana-Nya terbuka lebar ketika kita berhenti menganggap diri kita terpisah dari-Nya. Siraman berkah-Nya terjadi ketika kita melampaui dualitas.

PENDALAMAN KITAB SUCI, AMAL-SALEH, dan sebagainya, mempersiapkan diri kita untuk Pertemuan Agung. Saat melakukan semua itu, dualitas masih ada. Ada yang beramal, ada yang menerima amal perbuatannya.

Sebab itu, adalah penting sekali bahwa kita selalu memperhatikan niat kita. Beramal dengan tujuan tertentu — untuk mendapatkan ketenaran di dunia atau kapling surga di akhirat — tidak berarti banyak. Niat seperti itu menjadi penghalang dalam pertemuan kita dengan Gusti Pangeran.

Lakukan semua dengan semangat panembahan, persembahan kepada Gusti Pangeran, maka kita akan selangkah lebih dekat dengan Istana-Nya. Kita akan selangkah lebih dekat dengan saat yang telah dinanti-nantikan oleh Jiwa – yaitu, Pertemuan Agung, di mana terjadilah peleburan ego secara sampurna. Peleburan identitas palsu. Peleburan identitas Jiwa Pribadi, dan penemuan kembali identitas-hakiki sebagai Sang Jiwa Agung. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu hari, Balarama dan beberapa anak-anak gembala berkata kepada Yashoda, “Wahai bunda, Krishna selalu lapar. Dia makan di rumah dan juga di luar. Akan tetapi, mengapa dia harus makan lumpur?”

Yashoda menegur Krishna, “Krishna, apakah bunda tidak cukup memberimu mentega yang cukup, sehingga kau makan lumpur?”

Krishna yang pada waktu tersebut berusia lima tahun berkata, “Bunda, aku bukan anak kecil dan aku bukan orang sinting!” Krishna secara tersirat mengungkapkan jati dirinya bahwa dia adalah Yang Agung dan Perkasa. Tetapi sangat sedikit yang memahami kata-kata Krishna ini. Krishna kemudian berkata, “Bunda, coba lihat mulut saya!”

Yashoda kemudian melihat di dalam mulut Krishna dengan terpesona. Yashoda melihat seluruh alam semesta. Dia melihat lapisan-lapisan langit dan delapan penjuru angin, tujuh benua dan tujuh samudra. Dia melihat bulan dan bintang-bintang. Dia melihat surga. Dia melihat lima elemen: tanah, air, api, udara, dan ruang yang membentuk bumi. Dia melihat kelahiran alam semesta. Kemudian dia melihat Gokula dan dia melihat dirinya dalam mulut Krishna.

Yashoda tergetar dan berkata, “Inilah Maya Narayana…” Krishna kecil melihat ibunya dan kemudian sang ibu berada kembali dalam keadaan maya dan melupakan penglihatannya. Yashoda telah melihat semuanya di dalam mulut Krishna, akan tetapi dia sendiri masih meragukan. Mengapa demikian? Hal tersebut disebabkan oleh keterikatan bahwa Krishna adalah putranya. Keterikatan fisik inilah yang menyebabkan adanya keraguan. Dalam banyak kehidupan, Yashoda ingin melihat Maya Narayana. Tetapi setelah melihatnya kembali ia ragu, karena Yashoda masih terbelenggu oleh pola pikiran lamanya  bahwa Krishna adalah putranya.

Raja Parikhsit tertegun mendengar kisah Rishi Shuka, dia teringat bahwa di awal perang Bharatayuda kakek Arjuna melihat wujud asli Sri Krishna dan kemudian tunduk dan taat kepada Sri Krishna. Kakek Arjuna kemudian sadar bahwa dirinya hanyalah alat Sri Krishna untuk menghancurkan adharma. Kakek Arjuna kemudian tidak ragu-ragu berperang melawan kerabatnya yang tergabung dalam koalisi Kaurava. Adalah keinginan Sri Krishna menjadikan dirinya alat, tanpa dirinya pun Sri Krishna bisa menyelesaikan sendiri. Semuanya hanya ilusi, maya.

Parikhsit kemudian berkata, “Guru, sesungguhnya Nanda dan Yashoda bahkan jauh lebih beruntung dibandingkan Vasudeva dan Devaki. Brahma pun hanya hanya menyanyikan lagu pujian bersama Narayana. Akan tetapi, sepasang gembala tersebut memiliki-Nya. Yashoda adalah wanita yang paling beruntung karena pernah menyusui Narayana. Wahai Guru, bagaimana Narayana sampai memilih kedua pasangan tersebut untuk menerima anugerah agung tersebut?”

Silakan simak kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: