Krishna Kecil: Bisakah Gusti Diikat? Yashoda Bisa? #SrimadBhagavatam

Kita diikat Gusti, bisakah kita mengikat Gusti?

Adakah sebuah tempat di mana tidak ada Tuhan? Ya, ada. Ya dan tempat itu adalah mind manusia. Mind bisa menerima Tuhan, bisa juga menolaknya. Ia bisa menempatkan Tuhan begitu jauh, bisa pula mendekatkan-Nya. Mind adalah bagian kekuatan Tuhan yang membuatmu statis berada dalam satu tingkat kesadaran. Dan tingkatan itu bisa keduniawian, keilahian, bisa juga bersifat seperti malaikat dan bisa juga bersifat kebinatangan. Mind adalah halangan dari perjalanan. Mind membuatmu berjalan di tempat.

Tapi saya pikir mind itu tidak pernah bisa diam di satu tempat. Ia bergerak sepanjang waktu. Seperti seekor ternak yang diikat pada sebuah pohon. Jika tali ikatannya panjang, ternak itu bisa berlarian ke sana kemari dan menyadari ikatannya. Kebebasan geraknya dibatasi oleh panjang tali ikatannya. Tapi pohon apa yang digunakan untuk mengikat ternak itu? Tuhan. Tapi ia bisa menolak Tuhan. Ya, karena tali pengikatnya panjang dan ia tak bisa melihat pohon di mana ia diikat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Yashoda adalah seorang ibu rumah tangga yang rajin, bila pembantunya sedang sibuk melakukan pekerjaan rumah tangga, maka dia tidak segan-segan bekerja sendiri membantu pembantunya.

Pada suatu hari, saat Yashoda mengaduk susu untuk membuat mentega di luar dapur, Krishna kecil yang merasa lapar mendatanginya. Krishna lama memandang wajah ibunya yang cantik yang sedang sibuk mengaduk susu dalam periuk. Yashoda tersenyum dan kemudian memangku Krishna kecil dan membiarkan tangan kecil Krishna ikut memegang pengaduk susu, kemudian bersama-sama dengan Krishna mengaduk susu dalam periuk. Ada rasa bahagia yang mengalir dalam diri Yashoda. Dia betul-betul merasa bahagia memiliki seorang anak yang menjadi sumber kebahagiaan dirinya. Yashoda walau tidak sadar bahwa dia sedang mengaduk bersama Gusti yang mewujud sebagai anak kecilnya, Yashoda merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

Akan tetapi, rasa bahagia tersebut terhenti, kala dia membaui adanya bau gosong masakan di dalam periuk di dapur. Yashoda segera meninggalkan Krishna kecil dan menengok masakannya di dapur. Setelah beberapa lama, ketika Yashoda balik ke tempat semula, dia melihat periuk sudah pecah dan mentega yang sudah jadi hilang dan Krishna tidak nampak. Yashoda tersenyum sambil berpikir bahwa Krishna telah memecahkan periuk dengan memukulnya memakai pengaduk, kemudian mengambil mentega dan bersembunyi. Yashoda walaupun belum sadar siapa sejatinya Krishna, dia telah mengasihi sepenuh hati.

Sambil membawa kayu pengaduk Yashoda mencari Krishna dan menemukannya sedang duduk di atas batu tempat menumbuk yang terletak di halaman sambil memakan mentega. Ada beberapa kera di depannya yang juga diberi mentega olehnya. Yashoda berpikir Krishna kecil memang nakal dan bila ia dipukul dengan pengaduk, walau pukulan pelan untuk menegur tindakannya, terbit juga rasa kasihan. Anak kecil nakal itu sudah biasa.

Kemudian Yashoda berupaya mendekati Krishna untuk menangkapnya. Tiba-tiba Krishna melihat Yashoda datang dengan kayu pengaduk dan Krishna lari, berpura-pura takut kepada Yashoda.

Dan terjadilah kejar-mengejar antara Yashoda dengan Krishna. Krishna kecil sangat lincah dan cukup sulit bagi Yashoda untuk menangkapnya. Keringat Yashoda bercucuran dan ikatan rambutnya terlepas menambah kecantikannya. Akhirnya, Krishna tersenyum dan membiarkan dirinya dipegang oleh Yashoda.

Yashoda berkata, “Krishna, kamu jangan nakal! Lain kali jangan memecahkan periuk dan mengambil mentega, mintalah padaku akan kuambilkan! Sekarang ibu akan ke dapur lagi, tetapi kau harus kuikat, agar tidak nakal lagi! Nanti setelah dari dapur akan kulepaskan ikatanmu!”

Yashoda kemudian mengambil tali pengikat sekitar 4 depa, mengikat batu penumbuk dan kemudian akan mengikat Krishna. Dalam pikiran Yashoda biarlah Krishna bisa bergerak, tetapi tidak jauh. Akan tetapi, Yashoda kaget karena talinya kurang panjang untuk mengikat badan Krishna. Yashoda menyambung tali tersebut dengan tali lainnya, dan masih kurang panjang juga, sampai seluruh tali di dalam rumah diambilnya tetap kurang panjang juga.

Para Gopi berdatangan melihat kejadian tersebut. Yashoda sampai kewalahan menyambungnya dengan tali-tali lainnya. Krishna kecil hanya tersenyum dan setelah merasa cukup mempermainkan ibunya, Krishna kemudian membiarkan dirinya diikat oleh Yashoda.

Kita melihat pesan yang disampaikan dalam kisah ini bahwa Berkah Gusti memegang peranan pokok. Bisakah kita mengikat Gusti? Bisakah Gusti diikat oleh Bhakta yang mengasihinya? Yashoda pun tidak berhasil mengikat Krishna kecil, kecuali saat Krishna membiarkan dirinya diikat. Walaupun bersedia diikat, apakah Gusti patuh pada yang mengikatnya dan tidak bergerak? Tidak juga! Dia tetap bergerak sesuai kehendak-Nya! Seperti dalam kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya?

 

Bagaimanapun sesungguhnya kita terikat dengan Gusti

“Tiada sesuatu di luar-Ku, Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan). Seperti rangkaian manikam yang terbuat dari benang, dan terikat dengan benang itu sendiri — semuanya terikat pada-Ku, dengan-Ku.” Bhagavad Gita 7:7

Ayat ini sering disalahterjemahkan — kata manikam diterjemahkan sebagai mutiara, “seperti rangkaian mutiara yang terikat dengan benang”. Tidak, maksudnya bukanlah demikian. Mutiara dan benang yang digunakan untuk mengikatnya tetaplah dua hal yang beda – benang adalah benang, dan bersifat beda dari mutiara yang diikatnya untuk menjadi tasbih, japa-mala, rosario, atau ganitri.

Tidak demikian yang dimaksud Krsna. Manikam di sini bukanlah permata atau mutiara — tapi biji-bijian yang terbuat dari knots atau ikatan/simpul tali itu sendiri. Dengan mengikat seutas tali berulang-kali di satu tempat yang sama, kita membuat cluster, gumpalan tali yang memberi kesan seperti biji permata, seperti manikam.

Jadi, alam semesta ini, termasuk badan, indra, pikiran, perasaan, inteligensia — semuanya adalah seperti clusters tali yang terikat dengan tali — adalah bagian dari tali itu sendjri.

CLUSTER INI TAK-TERPISAHKAN DARI TALI. Manikam ini terbuat dari tali yang sama. Dengan pengertian inilah semestinya kita memahami hubungan Gugusan Jiwa atau Purusa dan Prakrti — alam roh, alam energi, dan alam benda, alam materi. Sesungguhnya alam benda atau alam materi adalah “ikatan-ikatan berulang-ulang” — sehingga kita memperoleh kesan seolah cluster yang terbuat dari ikatan-ikatan itu adalah permata, dan hanya dipersatukan oleh seutas tali pengikat.

Tidak, tidak demikian. Kita sesungguhnya terbuat dari-Nya. Kita tidak terpisah. Saat ini berupa cluster atau gumpalan — maka memberi kesan biji permata. Tetapi, jika ikatan ini dibuka — maka tidak ada lagi kesan biji yang terpisah. Gumpalan tali yang terikat-ikat ini, menyatu kembali dengan seutas tali yang mengikatnya. Semuanya adalah permainan Sang Jiwa Agung. Dialah awal, tengah, dan akhir segala sesuatu — baik yang terlihat, maupun yang tidak terlihat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: