Krishna Kecil: Merobohkan Pohon Arogansi Kekayaan #SrimadBhagavatam

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.” Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

                Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia. Penjelasan Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Setelah ngobrol dengan para Gopi, Yashoda kembali ke dapur dan para Gopi meninggalkan tempat tersebut. Krishna kecil hanya tersenyum melihat ibunya meninggalkan dia. Pikiran Yashoda masih terikat dengan Krishna. Sambil memasak dan melakukan rumah tangga lainnya, Yashoda selalu ingat pada Krishna kecil yang membahagiakan. Wajah Krishna yang tersenyum dengan jenaka tak dapat lepas dari pikirannya. Yashoda segera menyelesaikan pekerjaan di dapur sambil mengingat-Nya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Yashoda segera kembali kepada-Nya. Ingat selalu kepada-Nya itulah zikir. Yashoda adalah contoh seseorang yang tidak tersibukkan oleh urusan dunia, dia selalu ingat kepada-Nya.

Tidak berapa lama, Yashoda dan para Gopi mendengar ada bunyi pohon besar jatuh dua kali di halaman. Yashoda dan para Gopi berlarian datang dan mereka  menyaksikan Krishna kecil berada di antara dua pohon kembar di halaman rumah yang roboh. Krishna masih terikat dengan tempat penumbuk.

Anak-anak kecil bercerita, bahwa mereka melihat Krishna menarik tempat penumbuk dia diikat ke halaman dan tali pengikat tersebut tersangkut pada salah satu akar pohon, sehingga pohon tersebut menjadi roboh tertarik oleh Krishna. Anak-anak kecil berkata bahwa Krishna masih menarik lagi dan tersangkut pohon lainnya sehingga akhirnya kedua pohon itu roboh. Selanjutnya, anak-anak kecil tersebut menyampaikan bahwa mereka melihat ada dua manusia bercahaya berlutut di hadapan Krishna dan kemudian lenyap.

Akan tetapi, siapa yang percaya dengan cerita anak-anak kecil? Yang penting bagi Yashoda dan para Gopi adalah Krishna selamat dan mereka bersyukur pada Gusti.

Setelah pada kisah sebelumnya atas Kehendak Krishna sendiri, Dia bersedia diikat bhakta, devoti Yashoda, akan tetapi dia tidak mengikuti Kehendak bhakta, devoti-Nya.

 

Kisah dua pohon kembar

Adalah sebuah kisah di balik kedua pohon kembar di depan rumah Nanda. Nalakuvera dan saudaranya Manigriva adalah anak-anak Dewa Kemakmuran Kubera. Sebagai putra-putra seorang kaya mereka suka berfoya-foya. Pada suatu hari Nalakuvera dan saudaranya sedang bermain air dengan gadis-gadis surgawi di sungai tatkala Rishi Narada kebetulan lewat di tempat tersebut.

Ketika gadis-gadis tersebut melihat Rishi Narada, mereka segera berpakaian dan menghormat kepada sang rishi. Akan tetapi, kedua bersaudara putra Kubera tersebut begitu asyik sehingga hanya menoleh sebentar dan melanjutkan kesenangan mereka.

Rishi Narada kecewa dengan Nalakuvera dan Manigriva, yang lupa diri karena kelebihan harta dengan berfoya-foya dengan wanita dan anggur. Bila mereka terus melakukan hal yang demikian tanpa taubat, maka mereka semakin jauh dari jalan ilahi dan mudah tergabung dengan kelompok asura. Rishi Narada kemudian mengutuk mereka menjadi pohon. Selama menjadi pohon, mereka bertapa, tanpa pindah tempat dan berbuat baik dengan melayani kebutuhan manusia.

Pohon memberikan kayu, ranting, buah-buahan dan perlindungan dari teriknya matahari, serta dedaunannya menghasilkan oksigen bagi manusia. Mereka akan kembali ke kahyangan setelah bertemu Krishna, setelah kesalahannya diampuni, setelah sadar bahwa kenyamanan dunia hanya bersifat sementara, setelah sadar bahwa dunia ini hanya bayang-bayang-Nya, setelah sadar untuk memfokuskan diri pada Dia dan tidak memfokuskan diri pada bayang-bayang-Nya.

Ketika Krishna kecil menyeret tempat penumbuk dengan tali dan tersangkut pada kedua pohon tersebut, pohon-pohon tersebut menjadi roboh dan mereka bebas dari hukuman. Keduanya segera bersujud kepada Krishna dan kembali ke kahyangan. Di sini pohon kembar adalah simbol dari arogansi karena memiliki banyak kekayaan. Dan arogansi tersebut dirobohkan oleh Sri Krishna.

 

Akhirnya, kedua putra Dewa Kemakmuran Kubera sadar dan tunduk kepada Sri Krishna. Seperti kutipan dalam buku The Ultimate Learning berikut:

“Wahai Hyang Mahamenawan! Selama ini aku menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginanku, Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra. Gusti, aku tak mampu menggapai-Mu, namun Kau dapat menemukanku. Aku tak berdaya, Engkau Mahadaya. Aku hanyalah debu dibawah kaki suci-Mu, angkatlah diriku dan berkahilah daku dengan kasih-Mu!” Mengapa? Mengapa selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri? Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayangan-Nya saja sudah penuh pesona. Namun alangkah tidak beruntungnya jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini. Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis. Hyang Mahamenawan adalah raja segala raja. Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar dengan-Nya. Sungguh sangat tidak masuk akal. Silakan melayani keluarga. Silakan mencintai kawan dan kerabat. Tetapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri. Kekuasaan apa, kekayaan apa, kedudukan apa, dan ketenaran apa pula yang menjadi ambisimu? Jika kau menyadari hubunganmu dengan Ia Hyang Mahakuasa, dan Mahatenar adanya, saat itu pula derajatmu terangkat dengan sendirinya dari seorang fakir miskin, hina, dan dina menjadi seorang putra raja, seorang raja.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: