Krishna Kecil: Persembahan Pedagang Buah bukan Barter #SrimadBhagavatam

Apa maksud Nabi? Salahkah Si Sahabat yang berdoa agar terbebaskan dari penderitaan di akhirat? Lagipula, dia sedang melakukan barter, tukar-menukar, Ya Allah, biarlah aku menderita sekarang, agar nanti tidak menderita lagi.” Dia tidak meminta sesuatu gratis. Oleh Nabi, itu pun dianggap salah. Barter dengan Tuhan, tukar-menukar dengan Allah? Kita memang berjiwa pedagang dan kita anggap Tuhan pun demikian. Maka, berani-beraninya kita berupaya untuk menjalin hubungan dagang dengan Tuhan.

Ada “pedagang” yang sedang melakukan perjalanan suci “untuk” memperoleh pengampunan-Nya. Ada pula “pedagang” yang berdoa agar keinginannya tercapai. Apa pun yang kita lakukan, ada buntutnya. Ada “mau”-nya.

Bermohonlah, supaya yang sulit dipermudah bagimu, supaya Dia menuntunmu sepanjang jalan hidup ini, karena Dia pula yang menjadi tujuan hidupmu. Mohonlah bimbingan-Nya. Nasihat ini sekaligus merupakan teguran agar dia tidak “berdagang” dengan Tuhan. Seorang sahabat harus berupaya agar kesadarannya mendekati kesadaran nabi. Dan kesadaran nabi tidak mengenal “hubungan dagang”. Tidak ada barteran, tukar-menukar, dan lain sebagainya. Seorang nabi, seorang avatar, seorang mesias, seorang buddha tidak akan menjalin hubungan dagang dengan Tuhan, dengan Allah, dengan Keberadaan.

Dia berserah diri sepenuhnya, “Bukan kehendakku, Ya Allah, tetapi terjadilah atas Kehendak-Mu!” Seorang Nabi sedang bicara dengan kerumunan. Ada juga doa-doa berbau “dagang” yang mereka ajarkan. Doa-doa semacam itu diperuntukkan bagi mereka yang masih berjiwa dagang, bukan bagi para “sahabat”. Pilihan ada di tangan kita, mau mempertahankan jiwa dagang atau mau bersahabat dengan nabi. Bila mau bersahabat dengan nabi, kita harus pasrah. Harus menerima Kehendak Ilahi. Jangan mengeluh, jangan menyangsikan kebijakan-Nya.

Sungai Kehidupan mengalir terus. Dan, kita ikut mengalir bersama sungai itu. Tujuannya apa? Menyatu, bersatu dengan Lautan Keberadaan. Tujuan hidup manusia hanya “satu” – menyatu, bersatu dengan Tuhan. Jika memang demikian, doa apa lagi yang harus Anda ucapkan? Tidak bisa lain, permohonan Anda pun harus satu, “Supaya yang sulit dipermudah; supaya Dia menjadi penuntun, karena Dia pula yang menjadi tujuan hidup.” Aku dalam perjalanan menuju Engkau, Ya Allah, Ya Rabb. Aku tidak tahu, bekal apa yang akan kubutuhkan dalam perjalanan ini. Apa yang harus kuminta? Engkau Maha Tahu!” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna dan Rama senang bermain dengan anak-anak sebayanya di halaman rumah dan di jalan. Para Gopi dan Gopala senang dengan anak-anak kecil lucu yang suka menari dan jenaka. Mereka juga senang bermain hujan-hujanan di kala musim hujan tiba. Rohini dan Yashoda sering kewalahan saat mereka bermain lumpur di dekat rumah mereka. Krishna dan Rama pandai bersandiwara, sehingga para orang tua dan remaja di Gokula tidak pernah tahu bahwa mereka berdua adalah para avatara yang mempunyai tugas khusus berbagi kasih dan menegakkan dharma.

Pada suatu hari ada seorang perempuan Nisadha yang sudah tua sebagai pedagang buah datang ke rumah Nanda. Kita masih ingat bahwa Rajarishi Kaushika (Rishi Vishvamitra) pernah mengutuk putra-putra Rishi Vasishtha dan juga kelimapuluh putra raja Kaushika sendiri untuk menjadi orang Nisadha. Orang-orang Nisadha berkehidupan sebagai para pemburu yang sering berpindah-pindah tempat. Para perempuan Nisadha kadang membawa buah-buahan ke desa dan menukarnya dengan butir-butir gandum. Kali ini tinggal beberapa butir buah-buahan yang tersisa dan dia menawarkannya di depan rumah Nanda.

Krishna kecil mendatangi pedagang buah tersebut dan meminta barter buah-buahan yang dibawanya dengan butir-butir gandum dari rumahnya. Sang perempuan pedagang tersenyum dan mengangguk. Krishna kecil masuk ke rumah membawa butir-butir gandum dengan kedua telapak tangannya yang kecil menemui sang pedagang di jalan. Akan tetapi, sepanjang perjalanan, butir-butir gandum tersebut berjatuhan dan tinggal sedikit tersisa di telapak tangan yang diserahkan ke sang pedagang. Sudah bolak-balik Krishna mengambil butir-butir gandum dari rumahnya dan membawanya ke sang pedagang dan selalu saja tercecer di jalan dan tinggal sedikit yang tersisa di telapak tangannya.

Sang pedagang tersenyum penuh kasih kepada Krishna kecil. Butir-butir gandum tersisa diletakkan sang pedagang ke keranjang. Dan kali ini sang pedagang memegang kedua telapak tangan Krishna yang lucu dan kecil. Sang pedagang mengambil seluruh sisa buah yang ada di keranjangnya dan memberikan kepada Krishna kecil yang segera didekapkan ke dada kecil Krishna. Sang perempuan tua pedagang tersenyum bahagia dapat menyenangkan anak kecil yang sangat menawan. Sang pedagang kemudian pamit kepada anak kecil tersebut dan meneruskan perjalanannya. Sudah seharian sang perempuan pedagang berjalan dan dia ingin beristirahat di bawah pohon yang rindang. Kala itu sang perempuan terkesima melihat isi keranjang, ternyata butir-butir gandum yang jumlahnya sedikit yang dibawa anak kecil tersebut berubah menjadi banyak permata yang sangat berharga.

Sang perempuan tua pedagang buah-buahan segera menemui keluarga dan beberapa kerabat dalam kelompoknya. Dia menceritakan kejadian yang menimpanya. Kemudian mereka bersepakat menghentikan kehidupan mereka sebagai pemburu binatang liar yang suka berpindah. Mereka mulai  hidup menetap, bertempat tinggal di pinggir sebuah hutan. Mereka dapat hidup layak dengan banyaknya permata yang didapat perempuan tersebut. Mereka menanam pohon buah-buahan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka hidup berbahagia dan tidak berburu dan makan hewan liar lagi. Dan sang perempuan tua menjadi menjadi wanita bijak yang selalu berdoa kepada Gusti yang telah mengubah penghidupan mereka.

Pedagang perempuan tua dari suku Nisadha menggambarkan keadaan seseorang yang lahir dalam keadaan kurang menguntungkan disebabkan karma-karma kurang baik yang pernah dilakukannya di kehidupan sebelumnya. Akan tetapi, dengan berkesadaran kasih, ia melakukan semua kegiatannya sebagai persembahan kepada Gusti, berkarya untuk Gusti, dengan mudah dia mencapai Kesadaran Tertinggi.

Bhagavan Vyasa menceritakan tentang seorang pedagang kecil. Sang pedagang kecil tidak hanya memikirkan keuntungan pribadinya, akan tetapi dia juga melakukan persembahan kepada Krishna kecil. Dia tidak berjiwa dagang. Dagang adalah pekerjaannya, sehingga setiap hari dia harus berdagang, akan tetapi dia mempunyai hati nurani, tidak semuanya dikalkulasikan dengan untung-rugi. Sang pedagang mendapatkan anugerah sebuah kesempatan untuk mempersembahkan barang dagangannya kepada Krishna secara tulus. Tidak semua orang mendapat kesempatan tersebut, dan sang pedagang tanpa sadar telah menggunakan kesempatan dengan baik. Sang pedagang berhasil karena dia melepaskan kalkulasi untung-rugi dari pikiran dan dia menggunakan hati nuraninya.

Bhagavan Vyasa memberikan nasihat secara tersirat dalam kisah pedagang buah dengan Krishna kecil: Barterlah dengan sesama manusia untuk menghidupimu dan kepada Gusti persembahkan semuanya dengan tulus penuh kasih. Barter, maksudnya berdagang dengan kesetaraan, sama-sama mendapat manfaatnya. Dan kepada Gusti dalam wujud manusia yang memerlukan bantuan lakukanlah persembahan dengan tulus.

Raja Parikhsit tertegun mendengar kisah yang disampaikan oleh Rishi Shuka, “Luar Biasa! Betapa berbahagianya sang perempuan tua bisa melihat dan memegang tangan Sri Krishna. Dan nasib buruk yang menimpanya berubah menjadi kebahagiaan. Terima kasih Guru yang telah memberikan mutiara-mutiara berharga kepada kami. Tanpa wejangan Guru kami belum tahu apa-apa. Bahkan sampai saat ini pun kami merasa bahwa Guru adalah sumber kebijaksanaan yang tak ada habisnya. Namaste!”

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

……………..

Lewat ayat ini, Krsna menghapuskan tradisi perantara antara kita dan Sang Jiwa Agung, Parabrahman, Paramatma, Tuhan. Tidak ada calo. Hubungan kita langsung – direct. Berilah dia.

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan. Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, “Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku”.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan “diri” kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: